Setelah beberapa hari berada di rumah sakit akhirnya Xavier tiba di kediaman keluarga Stephen. Mulai saat ini rumah besar dan mewah itu akan menjadi tempat tinggalnya.
“Selamat datang, Tuan Muda,” sambut seluruh pelayan di rumah itu.
Xavier tiba dengan kikuk. Meskipun dulunya ia memang seorang pangeran di kerajaan Minerva, ia belum pernah mendapatkan perlakuan istimewa layaknya pangeran. Identitasnya disembunyikan oleh ayahnya sendiri, kaisar Philip. Kemudian ia dibuang ke dunia manusia dengan alasan keamanan.
“Akhirnya kau sadar. Aku sangat merindukanmu, Tuan,” ucap seorang gadis berpakaian pelayan sambil memeluk Xavier. Hampir saja George menghalau gadis itu dengan kekuatannya. Beruntung Xavier memberinya kode agar membiarkan gadis itu.
“Anda dilarang bersentuhan dengan perempuan yang bukan istri,” Samuel mengingatkan.
“Aku mengerti. Lihat aku tak menyentuhnya sama sekali.” Bisik Xavier.
Xavier ingat gadis itu adalah pengasuhnya. Namanya Mimi, ia bekerja bersama ibunya sebagai pembantu di rumah ini. Mimi sangat baik, meskipun pemilik tubuh asli memiliki keterbelakangan ia selalu menjaga dan menyayanginya.
“Jangan sedih, aku baik-baik saja,” ucap Xavier.
Mimi langsung mundur tiga langkah. Ia menatap Xavier dengan mata lebar. Suara Xavier tidak lagi seperti anak kecil. Suaranya terdengar berat, rendah dan dalam.
“Mimi, kau pasti terkejut. Mulai sekarang kau tak perlu lagi menemani Xavier tidur. Usia kalian kan sama dan Xavier sudah normal sekarang. Jadi kau boleh tetap bersamanya namun dalam batasan wajar. Dia sudah menjadi remaja normal,” ucap Maria lembut sambil menepuk pundak Mimi.
“Pantas saja, Tuan Xavier jadi tampan dan wibawa.” Mimi menatap Xavier dengan kagum.
Xavier segera ke kamarnya ditemani George. Ia memeriksa semua barang di sana. Banyak sekali mainan dan buku pelajaran sekolah dasar berserakan di meja. Ia ingat jika pemilik tubuh asli masih bersekolah di sekolah dasar.
“Aku akan menyingkirkan mainan ini, Tuan. Dan segera mendekorasi kamar ini sesuai selera anda,” ucap George.
“Baiklah. Sembari menunggu aku akan jalan-jalan di sekitar rumah ini,” ucap Xavier. Ia bangkit, turun dari tangga menuju halaman.
Tampaknya, Maria senang berkebun. Selain bunga, ada beberapa macam buah yang ditanam di sekitar rumah. Xavier suka buah. Selama ini ia tidak pernah melihat pohon buah yang sesungguhnya. Jadi sejak tiba di rumah itu ia langsung tertarik kepada tanaman-tanaman itu. Ada strawbery, jeruk, hingga apel.
Tiba-tiba gerbang rumah di depan terbuka otomatis. Mobil hitam masuk dan tak lama turunlah seorang lelaki dan perempuan yang nampak tidak asing di mata Xavier.
“Mengapa mereka ke sini,” ucapnya sambil mengunyah strawberry yang baru dipetiknya.
Xavier memilih tidak peduli. Ia kembali sibuk memetik buah berri lainnya. Sementara itu di dalam rumah Maria menyambut tamunya.
“Silahkan duduk Smith. Apakah ini tunanganmu?” tanya Maria begitu melihat Christine.
“Betul,” jawab.
“Cantik sekali. Maafkan aku karena sibuk mengurusi Xavier jadi tidak bisa hadir ke pesta pertunanganmu.”
“Tidak apa Tante. Apalagi ini berkaitan dengan kesehatan Xavier. Ngomong-ngomong dimana dia?” tanya Smith.
"Owh iya, kamu belum pernah bertemu dengannya. Padahal kalau secara kekeluargaan harusnya kamu memanggilnya kakak sepupu," ucap Maria pada Smith.
"Betul," jawab Smith. Lebih tepatnya ia yang selalu menghindar untuk bertemu apalagi berteman dengan Xavier yang seperti anak-anak meskipun umurnya sudah remaja. Andai saja tidak dipaksa oleh papanya untuk mengantarkan undangan pernikahan dan memberikan bingkisan pada Xavier, mungkin Smith tak akan pernah mau menginjakkan kakinya di rumah itu.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggilnya," ucap Maria. Ia segera bangkit dan pergi ke tempat Xavier berada.
"Ada apa, Mom?"
"Sepupumu datang. Kau ingat Smith. Dulu kau selalu merengek ingin bermain dengannya, sayangnya waktu itu Smith kurang menyukaimu. Namun anakku sekarang kan sudah normal, dia pasti mau jadi temanmu," ucap Maria.
"Tapi sekarang aku yang tidak mau jadi temannya. Jadi, Mom. Aku akan pura-pura seperti dulu. "
"Ha?" Maria kebingungan. Namun ia diam saja saat Xavier bertingkah seperti anak kecil yang manja. Xavier memeluk lengan Maria dan bersembunyi di belakangnya. Mereka berdua berjalan menuju ruang tamu.
Smith dan Christina yang sudah menunggu lama, hanya duduk dalam diam. Keduanya tidak berbicara. Pikiran Christina dipenuhi bayangan Raymond. Sejak pemuda itu dibunuh, ia tidak pernah bisa tidur tenang. Rasa bersalah terus menghantuinya. Andai waktu bisa diulang kembali ia akan menikah saat itu juga dengan Raymond, apapun yang terjadi. Daripada harus menjadi istri Smith yang terkenal kasar, kejam dan suka bermain perempuan.
"Maaf menunggu lama. Kenalkan ini Xavier," ucap Maria begitu tiba.
Smith dan Christina mendongak. Seorang pemuda yang bersembunyi di belakang Maria mengintip malu-malu.
"Hai," ucap Xavier. Ia berdiri dan bertingkah layaknya anak polos. Namun Smith dan Christina hampir terkena serangan jantung. Mereka berdua seperti melihat jelmaan Raymond. Akan tetapi fakta bahwa Raymond sudah tewas dan tak mungkin tiba-tiba menjadi anak Maria adalah hal yang mustahil.
"Kenapa kalian? anakku memang pemalu. Ia tidak seperti usianya. Meski dewasa namun tingkahnya dan pikirannya masih anak-anak," ucap Maria yang terjebak dalam drama yang dimainkan Xavier.
Maria meminta Xavier duduk di sampingnya. "Ini sepupumu, namanya Smith. Ingat kan?"
Xavier mengangguk.
"Yang perempuan adik ipar kamu. Tunangan Smith. Mereka berdua sebentar lagi menikah," ucap Maria.
"Menikah itu apa?" tanya Xavier.
"Menikah itu hubungan yang sama seperti Dad dan Mom," ucap Maria.
Xavier melirik ke arah Smith dan Christina yang masih membeku di tempatnya. Kemudian menunduk lagi.
"Ini beneran anak Tante? tidak tertukar dengan anak lain kan?" tanya Smith.
"Kamu bicara apa? tentu saja ini anakku. Sejak kecil ia tidak pernah kemana-mana. Lihat semua fotonya." tunjuk Maria ke dinding dekat tempat mereka duduk.
Di sana terpampang foto Xavier dari kecil hingga remaja. Melihat itu Smith baru percaya jika wajah mirip itu memang ada. Akan tetapi kemiripan Raymond dan Xavier sangat terlalu mirip.
"Apa Xavier ada saudara kembar yang hilang begitu?" tanya Smith memastikan.
"Kau ini bercanda ya. Om dan Tante hanya punya satu anak, Xavier. Tidak ada lagi." Maria tertawa.
Akhirnya Smith percaya jika Raymond dan Xavier adalah orang yang berbeda. Namun untuk kembali meyakinkan dirinya hanya ada satu cara, yakni membongkar makam Raymond.
"Ini kiriman dari Papa," ucap Smith sambil menyerahkan kotak yang masih dibungkus kepada Xavier.
"Terima kasih," ucap Xavier sopan.
Smith mengangguk. Tiba-tiba Handphone nya berbunyi. Smith segera bangkit dan pamit keluar untuk menelpon. Sementara Maria segera pamit ke dapur untuk melihat persiapan makan siang. Jadi di ruangan itu hanya tinggal Christina dan Xavier saja.
Wajah dan perawakan Xavier yang sangat mirip dengan Raymond membuat pikiran Christina menjadi terganggu dan semakin tidak bisa melupakan Raymond. Tanpa sadar ia mendekat ke tempat duduk Xavier. Ketika tangan Christina hendak menyentuh dagu Xavier, pemuda itu langsung menghindar.
"Kata Mom, Xavier tidak boleh menyentuh wanita yang bukan istrinya," ucap Xavier.
Christina terkejut. Sikap Xavier Persis dengan Raymond.
"Tapi Xavier kan sudah dibeli tiga miliar dolar. Jadi Xavier adalah milikku."
Mendengar ucapan itu Xavier langsung berdiri. "Xavier adalah seorang pangeran. Kamu tidak pantas," ucap Xavier sambil menunjuk ke wajah Christina.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Smith begitu tiba dan melihat keduanya.
"Aku menawarkan diri membuka kotaknya. Tapi dia bilang aku tidak pantas, karena dia seorang pangeran," ucap Christina sambil kembali ke tempat duduknya.
"Anak kecil kau ladeni. Tapi julukan Pangeran memang benar sih." Smith duduk dan ingat jika suatu hari kecerdasan Xavier kembali maka dia lah yang berdiri di atas puncak.
Xavier juga duduk kembali dan sibuk membuka kotaknya. Tepat pada saat itu Maria datang dan mengajak semuanya ke ruang makan.
"Mom, ini apa?" tanya Xavier menunjukkan isi kotak yang berisi benda aneh.
"Sini biar Mom simpan. Kalian bertiga makan," ucap Maria mengambil kotak.
"Maaf Tante, aku tak bisa lama. Ada masalah di perusahaan. Biar Christina yang makan siang di sini. Nanti setelah urusan di perusahaan selesai akan aku jemput." Smith pamit.
"Baiklah, hati-hati di jalan," ucap Maria.
Akhirnya mereka bertiga duduk di ruang makan dan menyantap hidangan. Xavier makan tanpa bicara meski dalam hati ia berharap Christina segera pulang.
"Xavier, sampai kapan kamu akan bertingkah seperti anak kecil. Smith sudah pergi," ucap Maria.
Christina tidak mengerti maksud ucapan Maria. Namun begitu melihat Xavier tertawa, ia mulai paham jika tingkah kekanakan Xavier hanya pura-pura.
"Setengah bulan yang lalu Xavier mengalami cedera kepala dan sempat dikabarkan meninggal, namun syukurnya ia selamat dan tidak mengalami keterbelakangan mental lagi. Ia sudah bersikap dan.berpikir sesuai usianya." Maria menjelaskan.
"Maaf, Chris. Aku sengaja membalas Smith. Dia tidak pernah mau bertemu dan berteman denganku. Jadi ya..." Xavier mencoba menjelaskan.
"Baiklah, aku bisa mengerti," ucap Christina.
Setelah makan Maria pamit untuk menghadiri acara ke luar kota. Jadi di rumah itu hanya tinggal Xavier, Christina dan beberapa asisten rumah tangga.
"Kapan Smith akan menjemput mu?" tanya Xavier.
"Kenapa tanya itu? Apa kau tak suka aku di sini?"
"Kita baru kenal. Takutnya kau merasa tidak nyaman di sini."
"Tidak juga. Aku pernah mencintai seorang lelaki yang wajahnya mirip denganmu," ucap Christina menunggu reaksi Xavier.
"Benarkah? Lalu kenapa tidak menikah dengan pria itu?" tanya Xavier tanpa respon yang diharapkan Christina.
"Itulah kesalahanku. Aku membelinya tiga miliar dolar untuk menjadi suamiku namun malah membuatnya pergi dari hidupku selamanya."
"Apa? Jadi itu alasannya barusan kau berkata telah membeliku tiga miliar," kejut Xavier.
"Benar. Bagaimana kalau kau juga kubeli tiga miliar untuk jadi suamiku."
"Kau gila. Apa menurutmu aku lelaki yang kekurangan uang?" tanya Xavier.
Christina terkejut. Dilihat dari manapun kekayaan Christina tidak sebanding dengan kekayaan yang dimiliki keluarga Xavier. Jadi ia harus sadar. Meskipun Xavier sangat mirip, ia tetap bukan Raymond yang ia kenal.
Tiba-tiba Xavier merasa dunianya berputar. Ia merasa kesakitan di kepalanya.
"Kau kenapa?" tanya Christina.
Xavier tidak bisa berkata apapun. Ia langsung pingsan.