Stephen dan Maria sangat bahagia mengetahui putranya berhasil melewati masa kritis. Mereka menunggu Xavier sadar. Namun delapan jam sudah berlalu, belum ada tanda-tanda Xavier akan membuka mata.
“Apakah kau yakin putra kita akan segera bangun?” tanya Maria cemas.
“Jangan khawatir. Dokter yang menangani semua dokter terbaik. Percaya kepada mereka.”
Maria mengangguk. Tiba-tiba tangan Xavier bergerak, tak lama kemudian sepasang mata indahnya pun terbuka perlahan.
“Lihat! Putra kita sudah bangun,” ucap Stephen bahagia. Ia segera bergegas memanggil dokter. Sebab mereka meminta jika Xavier sadar untuk segera memanggil salah satu dokter.
Xavier menatap sekeliling perlahan namun tiba-tiba ingatan pemilik tubuh asli sebelumnya melintas dalam ingatannya. Telinganya sampai berdengung. Ia kesakitan.
“Xavier, kau kenapa?” tanya Maria khawatir. Beruntung Stephen dan seorang dokter segera tiba. Pemeriksaan intensif segera dilakukan, terutama ingatan Xavier.
“Apa kau kenal mereka berdua?” Tunjuk dokter pada Stephen dan Maria.
Xavier mengangguk. “Mereka ayah dan ibuku,” jawab Xavier.
Stephen dan Maria terkejut, perilaku Xavier terlihat normal. Padahal anak mereka sebelumnya memiliki gangguan perkembangan sehingga meski usianya sudah remaja namun tingkah lakunya seperti anak kecil.
“Dokter, apa keadaannya baik-baik saja?” Maria khawatir.
Dokter terdiam. “Apa kamu ingat mengapa kau mengalami cedera di kepala?”
Xavier terdiam. Sebenarnya ia ingat semua yang terjadi pada kejadian pemilik tubuh sebelumnya, namun ia tak bisa mengatakannya. Jadi Xavier hanya menggeleng lemah.
“Baiklah, kau harus banyak istirahat sampai kondisi tubuhmu membaik. Aku ingin berbicara dengan ayah dan ibumu. Oke?” tanya dokter Damian.
“Baik. Terima kasih dokter,” ucap Xavier.
Stephen dan Maria segera mengikuti Damian ke ruangannya. Mereka memiliki banyak pertanyaan tentang Xavier. Terutama kenapa anak mereka tidak seperti dulu. Meskipun kondisi normal seperti itu yang keduanya inginkan namun mereka takut hal itu justru merupakan keadaan yang berbahaya.
“Bagaimana kondisinya Dok? Mengapa tiba-tiba ia tidak seperti anak kecil lagi. Apakah kondisi ini mengancam nyawanya?” Tanya Maria. Ia rela Xavier seperti dulu asalkan anak itu berumur panjang.
“Dilihat dari kondisi fisiknya semua aman. Tidak ada tanda-tanda serius yang mengancam nyawa. Namun mengenai kenapa setelah mengalami cedera kepala yang cukup serius ia menjadi normal sesuai usianya, ada kemungkinan karena rangsangan otak yang terjadi. Entah itu karena tekanan dan cedera itu sendiri membuka perkembangan otak yang dulunya terganggu kini malah jadi membaik. Atau ada faktor lain kami masih perlu mengawasi perkembangannya. Jadi, sementara ini jangan beri dia rangsangan yang menganggu mentalnya. Upayakan membuatnya nyaman hingga sembuh total dan selama proses penyembuhan kami akan terus memantau dan melakukan pemeriksaan.”
“Baiklah, Dok. Kami percaya padamu. Lakukan apapun yang perlu dilakukan. Mengenai biaya kau tak perlu khawatir,” ucap Stephen.
Sementara itu di ruang perawatan kelas VIP. Xavier menatap langit-langit kamarnya. Dalam hati ia tahu jika pemilik sebelumnya telah meninggal dan tubuhnya yang memilik bentuk, rupa, dan nama yang sama telah ia tempati dan kini menjadi miliknya seutuhnya. Semua identitasnya kini menjadi miliknya. Dan sebagai gantinya Pangeran Xavier akan membalaskan semua perbuatan orang-orang yang telah berbuat jahat dan telah menjadi sebab kematian pemilik tubuh asli.
Pintu terbuka, Stephen dan Maria masuk. Keduanya tampak bahagia.
“Apakah kau ingin minum s**u kesukaanmu?” tanya Maria.
Xavier mengangguk. Maria segera mengambil kotak s**u melon yang telah ia siapkan di atas nakas. s**u itu memang kesukaan Xavier sejak kecil.
“Minumlah,” Maria segera memberikan s**u tersebut yang langsung habis dalam hitungan menit.
Tomy sekretaris pribadi Stephen memasuki ruangan. Di belakangnya menyusul tiga orang pria yang terlihat kuat berdiri di belakangnya.
“Tuan, tiga orang ini memenuhi kriteria. Silahkan pilih untuk menjadi sekretaris pribadi Pangeran Xavier.”
Setelah kejadian mengerikan yang menimpa putranya tentu Stephen tidak ingin kejadian buruk datang menimpa kembali. Oleh karena itu, ia menugaskan Tomy untuk mencarikan sekretaris yang tidak hanya kompeten dari segi kemampuan otak tetapi juga kemampuan fisik yang manpu melindungi Xavier dari hal yang mengancam nyawa. Ibaratnya sekretaris Xavier harus seseorang yang bisa merawat, menjaga keamanan dan mengelola segalanya.
Tomy segera menyerahkan data ketiga orang tersebut. Stephen segera memeriksanya. Setelah dilihat memang semuanya sesuai kriterianya, bahkan salah satunya pernah bekerja sebagai anggota rahasia keamanan negara. Namun karena mereka akan bekerja dengan Xavier, alangkah baiknya jika anak itu sendiri yang memilih. Lagipula siapapun yang dipilih sama saja, tidak ada yang mengecewakan.
“Xavier, pilihlah salah satu dari mereka untuk menjadi teman, saudara, penjaga dan pelayanmu. Kau tinggal tunjuk,” ucap Stephen.
Xavier melihat ketiganya. Ia menatap salah satu orang yang memang sudah ia tunggu sejak lama, George. Tanpa ragu Xavier langsung menunjuknya. Secara umur George lebih tua darinya sekitar sepuluh tahun dunia manusia. Meski sebenarnya Xavier sudah berumur ratusan tahun lebih tua dari George.
“Baiklah, mulai sekarang George akan menjadi asisten pribadimu yang mengurus segalanya dan akan selalu ada di sisimu. Lagipula dia tidaj memiliki keluarga jadi aku yakin ia tidak keberatan bersamamu. Bagaimana George?” tanya Stephen.
George tiba-tiba berlutut. “Saya akan selalu mengabdikan diri kepada Pangeran Xavier,” ucapnya.
Stephen tertawa. Meskipun mereka keturunan kerajaan tetapi masa kerajaan sudah berlalu. Dan status Pangeran Xavier adalah julukan dari para pebisnis dan penggemarnya. Karena keluarga mereka memang keluarga terkaya saat ini yang menguasai bisnis.
“Baiklah, aku bisa tenang bekerja. Dan kau mulai bisa mengabdi pada pangeranmu,” ucap Stephen sambil menepuk pundak George. “Kalian berdua akan memiliki tugas lain. Tomy ayo kita ke perusahaan,” ucap Stephen. Sebelum pergi ia mengecup kening Xavier dan pamit kepada Maria.
Di ruangan itu, kini tinggal Maria dan George. Maria secara telaten menjelaskan semua kebiasaan Xavier kepada George meskipun sebenarnya George lebih paham dari Maria. Karena kini yang berada di hadapan Maria bukan lagi anak mereka yang biasa tetapi benar-benar seorang pangeran abadi yang lebih berkuasa dari mereka.
“George, lama tidak bertemu,” ucap Xavier.
“Pangeran jangan bercanda. Aku selalu di sisimu,” ucap George cemberut.
“Baiklah. Karena kita menjadi bagian dari manusia panggil aku Tuan saja. Bagaimana?”
“Baiklah, Tuan Muda.” Ucap George.
Xavier tersenyum. Akhirnya ia memiliki kehidupan yang tak jauh berbeda dengan kerajaannya. Tidak ada lagi ibu tiri yang jahat dan wanita yang akan memaksanya untuk menanamkan benih di rahimnya. Setidaknya ia kini akan menjalani hidup di dalam keluarga yang berkuasa. Di dunia manusia, uang adalah kekuatan yang sesungguhnya.