Hubungan mereka tetap berjalan. Setidaknya, begitulah yang terlihat dari luar. Di media sosial, Marven masih sering membagikan foto makan malam di restoran mewah, sesekali memotret tangan Marsha di atas meja, atau berfoto sebentar di dalam mobil. Orang-orang masih menganggap mereka pasangan yang sempurna dan sering berkata bahwa Marsha sangat beruntung mendapatkan pria sepertinya. Padahal, tidak ada satu pun yang tahu betapa menyakitkannya mencintai seseorang sambil perlahan kehilangan jati diri sendiri.
“Sha, malam ini kita makan malam ya.”
Pesan singkat dari Marven masuk di sore hari. Marsha langsung tersenyum tipis. Sudah hampir seminggu mereka jarang bertemu—Marven selalu terlihat sibuk dengan rapat, urusan bisnis keluarga, atau berkumpul dengan teman-temannya. Entah mengapa, sejak acara keluarga besar itu berlangsung, ada sesuatu yang berubah dalam diri Marven. Ia menjadi lebih dingin, lebih sering mengkritik, dan lebih sering membuat Marsha merasa dirinya tidak cukup baik. Namun, Marsha tetap berusaha memahaminya. Ia masih menyayanginya, tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, dan ia masih percaya bahwa Marven sebenarnya adalah pria yang baik—mungkin saja ia sedang dilanda stres.
Tepat pukul tujuh malam, Marsha sudah duduk menunggu di restoran. Ia sengaja mengenakan blus berwarna krem dan rok sederhana, membiarkan rambutnya tergerai, serta mengoleskan pewarna bibir yang sangat tipis. Bahkan, ia sempat mempelajari cara merias wajah melalui video di media sosial agar terlihat lebih rapi, lebih cantik, dan lebih… pantas.
Ketika Marven tiba, ia langsung duduk di hadapan Marsha tanpa senyum sedikit pun, bahkan tanpa menyapa seperti yang biasa ia lakukan dulu.
“Maaf saya terlambat.”
“Tidak apa-apa.”
Marsha tersenyum tipis. “Kamu terlihat lelah ya?”
“Hm.”
Marven langsung sibuk dengan ponselnya—membalas pesan, memeriksa surel, dan sesekali mengetik dengan cepat. Marsha hanya terdiam menunggu. Dulu, Marven selalu bercerita banyak hal dan menanyakan kabarnya, namun sekarang ia bahkan jarang menatap wajahnya.
“Kamu pesan makanan saja dulu,” ucap Marven tanpa mengangkat kepalanya.
“Baiklah.”
Suasana terasa canggung dan sepi, meski mereka duduk berhadapan satu sama lain. Setelah makanan disajikan, barulah Marven mulai berbicara.
“Sha.”
“Iya?”
Marven menatap wajahnya selama beberapa detik, lalu menghela napas pelan. “Kenapa sih kamu tidak bisa terlihat lebih anggun?”
Gerakan tangan Marsha yang sedang memegang sendok langsung terhenti. “Apa maksudmu?”
“Begini saja…” Marven menunjuk ke arah penampilan Marsha. “Sebenarnya kamu itu cantik, tapi terlihat terlalu biasa saja.”
Marsha menunduk pelan. “Aku sudah berusaha semampuku…”
“Berusaha bagaimana?”
“Aku sudah belajar merias wajah dan berpakaian dengan lebih rapi.”
Marven tertawa kecil, namun suaranya terdengar tidak tulus—lebih terdengar seperti meremehkan. “Riasanmu pun masih terlihat sangat sederhana. Kadang aku merasa bingung. Kekasih teman-temanku semuanya berusaha tampil sebaik mungkin.”
Marsha terdiam. Lagi-lagi ia dibandingkan dengan orang lain, dan lagi-lagi ia dianggap kurang sempurna.
Marven melanjutkan makannya dengan santai. “Kamu pernah mendengar nama Bianca tidak? Dia kekasih Kevin.”
Marsha menggeleng. “Belum.”
“Ia terlihat sangat berkelas. Begitu masuk ke sebuah ruangan, orang-orang langsung tahu bahwa ia berasal dari kalangan terhormat. Teman-temanku pun dengan mudah menerimanya.”
Marsha memaksakan senyum tipis. “Begitu ya…”
“Tapi jangan salah paham dulu,” nada bicara Marven berubah menjadi lembut—nada yang selalu ia gunakan sebelum mengucapkan sesuatu yang menyakitkan. “Aku hanya ingin kamu menjadi pribadi yang lebih baik. Aku kan peduli padamu.”
Peduli. Kata itu lagi. Selalu peduli. Namun mengapa bentuk kepedulian itu selalu terasa menyakiti hatinya?
Setelah selesai makan, mereka berjalan menuju area parkir. Marsha beberapa kali mencoba memulai percakapan.
“Kemarin aku melihat tempat yang menarik—”
“Hm.”
“Atau kalau akhir pekan nanti kita bisa—”
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Ada acara.”
“Baiklah…”
Jawaban yang singkat dan dingin, seolah ia sedang berbicara dengan orang asing. Begitu masuk ke dalam mobil, Marven tiba-tiba berbicara.
“Sha.”
“Iya?”
“Kadang aku merasa lelah harus menjelaskan siapa dirimu kepada teman-temanku.”
Kalimat itu langsung membuat d**a Marsha terasa sesak. “Apa maksud ucapanmu itu?”
Marven tetap menyetir dengan santai. “Begini saja, mereka sering bertanya-tanya. ‘Kenapa kamu memilih gadis yang biasa saja?’ ‘Apakah ia setara denganmu?’”
Marsha terdiam sejenak, lalu mengajukan pertanyaan yang terasa berat untuk diucapkan. “Apakah kamu merasa malu memiliki kekasih sepertiku?”
Marven langsung menghela napas panjang. “Ya ampun, jangan menafsirkannya seperti itu. Aku hanya merasa lelah harus terus menjelaskan hal ini. Karena pada dasarnya, dunia kita memang berbeda.”
Dunia kita berbeda.
Kalimat itu terasa sangat dingin dan menusuk hati. Marsha menoleh ke arah jendela, dan malam itu terasa menjadi lebih sepi dari biasanya.
Hari-hari berikutnya terasa semakin aneh. Marven semakin sibuk, pesan singkatnya semakin pendek, dan telepon dari dirinya semakin jarang. Kadang pesannya baru dibalas setelah berjam-jam, atau hanya berisi kalimat singkat: “Sedang rapat.”, “Sibuk.”, atau “Nanti saja ya.”
Padahal dulu, Marven selalu meluangkan waktu, sekecil apa pun itu, bahkan hanya untuk sekadar bertanya: “Sudah makan belum, Sayang?” Sekarang, segalanya telah berubah. Marsha mulai mempertanyakan dirinya sendiri—apakah ia terlalu membosankan? Apakah ia kurang cantik? Apakah benar ia terlihat terlalu biasa saja?
Suatu sore di kampus, Siska menatap wajah sahabatnya dengan pandangan yang khawatir.
“Kenapa denganmu?”
Marsha berpura-pura tidak mengerti. “Kenapa memangnya?”
“Wajahmu terlihat kusut sekali.”
“Tidak apa-apa kok.”
“Jangan berbohong padaku.” Siska menyandarkan dagunya. “Apakah Marven membuatmu kesal lagi?”
Marsha langsung terdiam.
Siska mendecakkan lidah pelan. “Sudah kuduga. Dia lagi-lagi bersikap aneh ya?”
“Ia hanya sedang sibuk saja.”
“Sha…” Nada bicara Siska menjadi lebih serius. “Aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
Marsha menatap sahabatnya. “Apa?”
“Marsha… apakah kamu benar-benar yakin bahwa ia mencintaimu?”
Pertanyaan itu terasa seperti pisau yang langsung menusuk hatinya. “Apa maksudmu?”
“Aku bicara dengan sungguh-sungguh.” Siska menatapnya dengan tatapan prihatin. “Selama ini aku diam saja, tapi belakangan ini… aku melihatmu tidak terlihat bahagia sama sekali.”
“Aku bahagia kok.”
“Kamu sedang berbohong.”
Marsha tertawa kecil, namun suaranya terdengar dipaksakan. “Dia pria yang baik. Ia hanya sedang sibuk dengan urusannya.”
“Sha…” Siska menatapnya lekat-lekat. “Pria yang benar-benar mencintai tidak akan membuat kekasihnya terus merasa dirinya tidak berharga.”
Kalimat itu membuat Marsha langsung terdiam.
Siska melanjutkan dengan suara yang lembut. “Sejak kapan kamu menjadi kurang percaya diri seperti ini? Dulu kamu adalah gadis yang ceria dan penuh semangat. Sekarang kamu selalu merasa rendah diri, wajahmu terlihat lelah, dan kamu bahkan mulai membandingkan dirimu dengan orang lain.”
Marsha menggigit bibirnya, dan matanya mulai terasa panas. “Aku hanya ingin menjadi pribadi yang lebih baik…”
“Tapi untuk siapa?” tanya Siska.
Pertanyaan itu membuat Marsha terdiam seketika. Untuk siapa? Apakah untuk dirinya sendiri, atau semata-mata untuk membuat Marven merasa bangga?
Malam harinya, Marsha duduk termenung cukup lama di depan cermin kamarnya. Tangannya menyentuh wajahnya sendiri. Apakah ia terlihat buruk? Apakah ia terlalu biasa saja? Apakah keberadaannya benar-benar memalukan?
Ia membuka akun media sosialnya dan melihat foto-foto gadis-gadis yang sering disebut-sebut oleh Marven—mereka memiliki kulit yang mulus, membawa tas-tas bermerek, sering berlibur ke luar negeri, terlihat cantik, anggun, dan berkelas. Marsha secara refleks menatap pantulan dirinya di cermin—mengenakan kaos rumahan yang sederhana, rambutnya diikat asal saja, dan terlihat lingkaran hitam samar di bawah matanya. Entah mengapa, ia tiba-tiba merasa dirinya sangat kecil, tidak cukup baik, tidak pantas, dan tidak seistimewa mereka.
Ponselnya bergetar, menampilkan nama Marven. Marsha segera mengangkatnya.
“Halo?”
“Besok jangan hubungi aku dulu ya.”
“Hah? Kenapa?”
“Aku ada acara keluarga.”
“Baiklah…”
Marsha ragu sejenak, lalu memberanikan diri bertanya. “Ven…”
“Iya?”
“Apakah kamu masih menyayangiku?”
Suara di seberang sana terdiam selama beberapa detik.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Tidak apa-apa… aku hanya ingin memastikan saja.”
Marven terdengar menghela napas panjang.
“Jangan bersikap aneh-aneh. Aku sedang lelah.”
Sambungan telepon terputus begitu saja. Tanpa jawaban yang jelas, tanpa kepastian, dan tanpa sepatah kata pun yang menyatakan perasaannya.
Sore keesokan harinya, Marsha sedang duduk di sebuah kedai kopi sambil mengerjakan tugas kuliah. Tanpa sengaja, ia melihat unggahan cerita dari salah satu sepupu Marven. Terlihat suasana acara keluarga yang diadakan di sebuah hotel mewah dengan banyak tamu undangan. Marven tampak mengenakan jas hitam yang rapi, dan di sampingnya berdiri seorang gadis cantik yang mengenakan gaun putih yang sangat anggun. Gadis itu berdiri tepat di samping ibu Marven sambil tersenyum.
Kemudian muncul sebuah video pendek yang terdengar suara tawa, dan samar-samar terdengar suara seseorang berkata:
“Mereka terlihat sangat serasi ya dengan putra Pak Surya.”
“Kalau sampai menikah, tentu akan memperkuat kerja sama bisnis keluarga mereka.”
Tangan Marsha terasa dingin dan kaku. Unggahan berikutnya muncul, memperlihatkan ibu Marven yang sedang tertawa sambil memegang tangan gadis itu, disertai tulisan:
Calon menantu idaman 😍
Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Marsha segera memperbesar layar ponselnya, dan matanya mulai terasa panas. Tangannya gemetar hebat. Jangan sampai ini benar… jangan sampai… jangan sampai keluarga Marven sedang berusaha menjodohkannya dengan putri seorang pengusaha kaya? Dan yang terasa lebih menyakitkan lagi, Marven tidak pernah menceritakan hal apa pun padanya.