bc

Terhina Menjadi Terdepan

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
HE
kickass heroine
heir/heiress
drama
tragedy
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Marsha hanyalah perempuan sederhana yang percaya bahwa cinta tidak memandang status. Selama tiga tahun, ia bertahan bersama Marven—pria tampan dari keluarga kaya raya yang selalu ia cintai sepenuh hati.Namun kenyataan tak seindah harapannya.Di balik hubungan mereka, Marsha harus menelan pahitnya hinaan. Pakaiannya dianggap murahan. Kehidupannya dipandang rendah. Bahkan keluarganya tak pernah dianggap layak oleh keluarga Marven.Yang paling menyakitkan?Marven lelaki yang ia perjuangkan lebih sering diam daripada membela.Hingga malam itu tiba.Di hadapan keluarga besar Marven, harga dirinya dihancurkan tanpa belas kasihan. Dan untuk pertama kalinya, Marsha memilih pergi.Dengan satu janji dalam hati:Suatu hari nanti, aku akan berdiri di tempat yang bahkan tak bisa kalian sentuh.Bertahun-tahun kemudian, Marsha kembali.Bukan lagi perempuan sederhana yang dulu mudah dihina.Kini ia sukses, kaya, cantik, dan menjadi sosok yang disegani banyak orang.Saat Marven kembali hadir dengan penyesalan yang terlambat, satu pertanyaan muncul Apakah hati yang pernah dihancurkan masih mampu memberi kesempatan kedua?Atau… kali ini Marsha akan memilih dirinya sendiri?

chap-preview
Free preview
Perfect
“Kalian masih awet saja ya?” Pertanyaan itu terdengar lagi saat Marsha baru saja duduk di meja kantin kampus. Siska langsung menyenggol pelan bahunya sambil menyeringai. “Aduh, sudah tiga tahun lho. Luar biasa. Kalau aku jadi kamu, pasti sudah pamer setiap hari.” Marsha hanya terkekeh pelan. “Tidak segitunya, Sis.” “Tidak segitunya?” Siska melotot. “Marsha, pacarmu itu Marven lho!” Marsha menghela napas kecil. Nama itu memang selalu mampu menarik perhatian siapa saja. Marven Adhyaksa—pria bertubuh tinggi, tampan, memiliki mobil mewah, berasal dari keluarga kaya, dan meski terlihat dingin di depan orang lain, ia bisa bersikap sangat romantis saat bersama kekasihnya. Banyak gadis di kampus yang dulu mengaguminya, dan sampai sekarang masih ada yang merasa iri karena justru Marsha yang berhasil mendapatkan hatinya. Padahal Marsha bukanlah anak orang berada. Ayahnya seorang pensiunan guru, sedangkan ibunya memiliki usaha kecil-kecilan membuat kue di rumah. Ia juga bukan tipe gadis yang gemar bergaya—berpakaian sederhana, riasan wajah yang tipis, dan membawa tas yang biasa saja. Namun, entah mengapa tiga tahun lalu Marven memilihnya. Dan sejak saat itu, orang-orang selalu mengatakan bahwa mereka adalah pasangan yang sempurna. “Eh, itu dia,” bisik Siska tiba-tiba. Marsha secara refleks menoleh. Di area parkiran kampus, Marven baru saja turun dari mobil hitamnya. Ia mengenakan kaos putih polos, terlihat rapi dengan jam tangan mahal di pergelangan tangannya, dan rambutnya sedikit berantakan terkena angin. Memang tidak bisa dipungkiri, pria itu memiliki daya tarik yang membuat orang-orang di sekitar tidak bisa mengalihkan pandangan. Beberapa gadis di dekat sana pun mencuri-curi pandang. “Benar-benar tampan,” gumam Siska pelan. Marsha hanya tersenyum tipis. Ia sudah terbiasa melihat pemandangan seperti itu. Marven berjalan mendekat, dan pandangannya langsung tertuju pada Marsha. Seperti biasa, raut wajahnya yang tadinya datar perlahan melunak. “Sudah mau makan?” tanyanya. Marsha mengangguk. “Baru mau mulai.” Marven menarik kursi di sampingnya dan duduk. Tangannya bergerak secara otomatis untuk merapikan helai rambut Marsha yang tertiup angin—gerakan kecil yang sederhana, namun membuat beberapa orang di meja sebelah memandang mereka dengan tatapan iri. “Sangat romantis ya,” bisik seseorang. Marven menatap Marsha. “Mau pesan apa?” “Aku sudah membawa bekal dari rumah.” Marven terdiam sesaat, lalu melirik kotak makan berwarna merah muda yang tergeletak di depan Marsha. “Oh.” Nada bicaranya terdengar datar. “Kenapa? Ada yang salah?” “Tidak apa-apa.” Marsha membuka kotak bekalnya—berisi nasi, telur balado, dan tumisan sayuran buatan ibunya. Namun, sebelum ia sempat mengambil sendok, Marven tiba-tiba berbicara. “Sha.” “Iya?” “Kalau kita makan di luar lain kali, tolong jangan bawa bekal lagi ya.” Gerakan tangan Marsha terhenti. “Kenapa begitu?” Marven menghela napas pelan, berusaha terdengar lembut. “Ya… rasanya agak kurang pantas saja.” Marsha tersenyum tipis, meski hatinya terasa sedikit perih. “Kurang pantas?” “Bukan begitu maksudku,” jawab Marven buru-buru. “Hanya saja…” Ia melirik sekilas ke sekeliling mereka. “Teman-temanku kadang melihat.” Marsha terdiam. “Aku takut mereka berpikir aku pelit, tidak mau mentraktir pacarku makan di tempat yang layak.” “Begitu ya…” Hanya itu yang bisa diucapkan Marsha, padahal dalam hatinya ia merasa sedikit terluka—bekal itu dibuatkan ibunya sejak subuh tadi dengan penuh perhatian. Namun, lagi-lagi ia memilih untuk tidak membantah. Marven meraih tangan Marsha dengan lembut. “Jangan marah ya.” “Aku tidak marah.” “Kamu pasti marah.” Ia tersenyum tipis. “Aku kan hanya peduli padamu.” Marsha akhirnya membalas senyumannya. Mungkin memang benar, Marven hanya bermaksud baik. Mungkin dirinyalah yang terlalu peka. Sore harinya, Marsha duduk di kursi penumpang mobil Marven dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan. Seperti biasa, ini adalah waktu kencan mereka—sederhana menurut standar Marsha, namun selalu harus terlihat sempurna menurut standar Marven. “Sha.” “Iya?” Marven meliriknya sekilas. “Kulitmu belakangan ini terlihat agak kusam ya.” Marsha secara refleks menyentuh pipinya sendiri. “Benarkah?” “Sedikit saja.” Ia kembali memusatkan perhatian pada jalan raya. “Tidak apa-apa sih, tapi cobalah untuk lebih merawatnya lagi.” Marsha terdiam sejenak. “Baiklah.” “Tadi aku melihat seorang gadis di kedai kopi,” lanjut Marven. “Dia terlihat sangat cantik.” Marsha tersenyum tipis. “Benarkah?” “Iya. Kulitnya halus dan terawat sekali. Membuatnya terlihat berkelas.” Marsha hanya menatap ke luar jendela. Kalimat-kalimat itu terdengar biasa saja, namun entah mengapa selalu berhasil membuatnya merasa dirinya kurang berharga. Marven kembali menoleh. “Jangan salah paham ya. Aku hanya ingin kamu terlihat lebih baik saja. Aku kan peduli padamu.” Kalimat itu lagi. Peduli. Selalu peduli. Marsha mengangguk pelan. “Iya, aku mengerti.” Suasana di pusat perbelanjaan cukup ramai sore itu. Mereka memutuskan untuk makan di sebuah restoran masakan Jepang. Saat Marsha sedang asyik menyantap makanannya, Marven tiba-tiba berbicara lagi. “Sha.” “Iya?” “Kalau nanti kita bertemu dengan teman-temanku…” Marsha mengangkat wajahnya. “Ya?” “Tolong jangan memakai pakaian yang terlalu sederhana seperti ini lagi ya.” Sendok di tangannya berhenti bergerak. “Maksudnya bagaimana?” Marven segera tersenyum. “Jangan marah dulu. Aku hanya memberi saran saja.” Ia menunjuk penampilan Marsha—kemeja polos, celana jeans biasa, dan tas yang terlihat sederhana. “Kadang kamu terlihat terlalu biasa saja. Aku takut nanti mereka akan berbicara yang tidak-tidak.” Marsha menunduk sejenak. “Begitu ya.” “Nanti aku yang malu,” lanjut Marven sambil terus makan. “Pacar-pacar temanku semuanya berpakaian dengan gaya yang menarik. Tapi bukan berarti aku memintamu berubah total, ya. Cukup sedikit ditingkatkan saja.” Lagi-lagi, disampaikan dengan nada lembut namun tetap terasa menusuk hati. Marsha memaksakan senyum tipis. “Baiklah.” Padahal, selera makannya seketika hilang. Malam harinya, Marsha diajak pulang ke rumah Marven. Rumah yang besar, dengan pagar tinggi dan lampu taman yang terlihat mewah—tempat yang selalu membuat Marsha merasa dirinya terlalu kecil untuk berada di sana. Begitu masuk, terdengar suara Marven memanggil, “Mama.” Seorang wanita yang tampak sangat anggun dan berkelas muncul dari ruang tengah. Itu adalah ibunya Marven. Wanita yang selalu terlihat rapi, dengan tatapan yang tajam dan senyum yang terasa dipaksakan. “Oh, Marsha.” “Selamat malam, Tante.” Ibunya Marven hanya mengangguk pelan. Pandangannya bergerak meneliti Marsha dari atas hingga ke bawah, persis seperti yang selalu ia lakukan setiap kali bertemu. “Baru pulang dari kampus ya?” “Iya, Tante.” “Hmm…” Pandangannya berhenti pada sepatu yang dikenakan Marsha. “Masih suka memakai sepatu yang modelnya sederhana ya?” Marsha tersenyum tipis. “Iya, Tante.” Ibunya Marven tertawa kecil. “Anak muda zaman sekarang biasanya lebih suka mengikuti tren mode. Mungkin memang Marsha tipe orang yang nyaman dengan kesederhanaan ya.” Entah mengapa, kalimat itu terdengar seperti pujian, namun sekaligus terasa menyakitkan. Marven yang duduk santai di sofa segera menyahut, “Mama…” Ibunya tersenyum tipis. “Mama hanya berbicara apa adanya. Lingkungan pergaulan Marven kan cukup tinggi, terkadang seorang wanita juga perlu menyesuaikan diri.” Marsha menundukkan kepalanya sedikit. “Iya, Tante.” Ibunya menatap putranya. “Kamu ini tampan dan berasal dari keluarga yang baik. Banyak wanita yang juga memiliki latar belakang yang bagus.” Ia menoleh lagi ke arah Marsha sambil tersenyum tipis. “Untung saja kamu tidak memilih orang yang aneh-aneh.” Marsha membalas senyum itu, meski dadanya terasa sesak. Marven malah tertawa kecil. “Mama bisa saja. Nanti Marsha merasa tidak percaya diri lho.” “Mama hanya bercanda saja.” Selalu bercanda. Namun kenapa rasanya terasa begitu menyakitkan? Di perjalanan pulang, Marven menyetir dengan santai. “Kamu diam saja dari tadi.” Marsha menggeleng. “Tidak apa-apa.” “Masih memikirkan ucapan Mama ya?” Marsha segera tersenyum. “Tidak kok.” Marven meraih dan menggenggam tangannya sebentar. “Memang sifat Mama seperti itu. Tapi hatinya sebenarnya baik. Jangan terlalu dipikirkan ya.” Marsha mengangguk. “Iya.” Padahal dalam hatinya, ia merasa lelah. Sedikit saja. Sangat sedikit, namun cukup untuk membuat dadanya terasa sesak. Terkadang ia bertanya-tanya dalam hati—mengapa setiap kali berada di dekat Marven, ia justru merasa dirinya selalu kurang? Kurang cantik, kurang pantas, kurang berkelas, kurang segalanya. Dua hari kemudian, Marven tiba-tiba datang menemui Marsha di kampus. “Ada acara di akhir pekan?” tanya Marsha sambil tersenyum. “Tidak ada rencana khusus,” jawabnya santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Tapi minggu depan akan ada acara keluarga besar. Kamu ikut serta ya.” Mata Marsha membulat terkejut. “Benarkah?” “Iya. Kenapa terkejut begitu?” Marsha tersenyum lebar secara spontan. Selama tiga tahun berpacaran, sangat jarang Marven mengajaknya menghadiri acara keluarga yang besar seperti ini. Biasanya ia hanya diajak makan malam biasa atau sekadar berkunjung sebentar. “Benarkah aku boleh ikut?” Marven mengangguk. “Iya. Mama juga akan hadir, serta semua paman, bibi, dan sepupu-sepupuku.” Jantung Marsha berdebar kencang. Entah mengapa, ia justru merasa senang. Mungkin ini adalah tanda bahwa ia mulai diterima? Mungkin segala sesuatunya akan menjadi lebih baik? “Pakaiannya harus yang bagus ya,” tiba-tiba suara Marven terdengar. “Jangan terlalu sederhana. Kalau perlu, aku bisa mentransferkan uang untuk membelinya.” Marsha segera menggeleng. “Tidak perlu. Aku punya kok.” Marven tersenyum tipis. “Baguslah.” Namun tanpa sadar, ia menambahkan, “Jangan sampai membuatku malu saja nantinya.” Kalimat itu diucapkan dengan nada ringan, seolah hanya bercanda, namun cukup membuat senyum di wajah Marsha sedikit goyah. Meski begitu, ia tetap berusaha tersenyum dan berharap. Mungkin acara itu nanti akan berbeda. Mungkin ibunya Marven akan mulai menerimanya. Mungkin… hubungan mereka memang sedang menuju ke arah yang lebih serius. Marsha menatap langit sore yang mulai memerah sambil tersenyum tipis. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa acara keluarga itulah yang nantinya akan menjadi awal dari sesuatu yang perlahan-lahan akan menghancurkan hatinya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
723.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
959.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
347.2K
bc

Not just, the Beta

read
342.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook