Marsha berdiri cukup lama di depan cermin kamarnya. Tangannya merapikan ujung gaun berwarna merah muda pucat yang jatuh anggun hingga di bawah lutut. Gaun itu terlihat sangat indah—bahannya terbuat dari kain satin yang lembut, potongannya pas di badan, dan ada hiasan kecil di bagian pinggang yang membuat tubuhnya terlihat lebih ramping. Marsha sendiri pun hampir tidak percaya saat gaun itu dibelikan oleh Marven dua hari yang lalu.
“Pakai ini saja nanti,” ujarnya waktu itu. “Supaya cocok dengan suasana acara keluarga.”
Saat itu, untuk pertama kalinya, Marsha merasa mungkin Marven benar-benar serius ingin memperkenalkannya secara resmi kepada seluruh keluarga besarnya. Mungkin segala sesuatunya akan berubah menjadi lebih baik. Mungkin ibu Marven mulai bisa menerimanya. Mungkin… hubungan mereka yang telah berjalan selama tiga tahun ini akhirnya menuju ke arah yang lebih serius.
“Subhanallah, kamu terlihat sangat cantik, Nak,” suara ibunya membuat Marsha menoleh. Wanita itu tersenyum sambil berdiri di ambang pintu kamar.
“Benarkah terlihat cocok?”
“Sangat cocok malah,” jawab ibunya sambil merapikan sedikit rambut putrinya. “Pasti Marven akan merasa bangga melihatmu.”
Marsha tersenyum malu. Namun, entah mengapa, ada rasa gugup yang menyelimuti hatinya—perasaan takut bercampur harapan yang membuat perutnya terasa tidak nyaman.
Ponselnya bergetar di atas meja. Nama Marven tertera di layar. Marsha segera mengangkatnya.
“Halo?”
“Sudah siap?”
“Sudah.”
“Aku sudah ada di depan rumah.”
“Lho, datangnya cepat sekali.”
“Masa aku datang terlambat untuk menjemput kekasihku sendiri.”
Marsha terkekeh pelan. Terkadang, ucapan Marven masih mampu membuat hatinya terasa hangat.
“Baiklah, sebentar lagi aku keluar.”
“Jangan lama-lama ya.”
“Dasar cerewet.”
“Kalau yang cantik, pasti ditunggu kapan saja.”
Kalimat sederhana itu berhasil membuat pipi Marsha terasa memanas.
Begitu ia melangkah keluar dari rumah, mobil hitam milik Marven sudah terparkir rapi di halaman. Pria itu berdiri di samping pintu mobilnya, mengenakan setelan jas hitam yang dipadukan dengan kemeja putih bersih, rambutnya tertata rapi—seperti biasa, penampilannya terlalu sempurna untuk dipandang. Marsha bahkan sempat melihat tetangga dari rumah sebelah mengintip dari balik pagar.
Marven menatapnya selama beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Cukup bagus.”
Marsha mengedipkan matanya bingung. “Hah?”
Marven membukakan pintu mobil untuknya. “Terlihat bagus. Tapi aku kira kamu akan berusaha lebih keras lagi.”
Senyum tipis di wajah Marsha perlahan memudar. “Oh…”
“Tidak apa-apa,” lanjut Marven dengan cepat. “Masih terlihat baik-baik saja kok.”
Masih terlihat baik-baik saja.
Marsha masuk ke dalam mobil sambil menggenggam ujung gaunnya erat-erat. Padahal tadi, ia sempat merasa dirinya terlihat cantik.
Perjalanan menuju tempat tujuan memakan waktu sekitar empat puluh menit. Semakin jauh mereka melaju, semakin besar dan megah rumah-rumah yang terlihat di sepanjang jalan—bukan sekadar rumah biasa, melainkan lebih mirip istana. Akhirnya, mobil itu berhenti di depan gerbang tinggi berwarna hitam yang dijaga dengan ketat. Mata Marsha terbelalak tak percaya. Ini adalah kediaman keluarga besar Marven. Atau lebih tepatnya, sebuah istana.
Dari luar sudah terlihat lampu gantung yang besar, halaman yang sangat luas, dan deretan mobil-mobil mewah yang terparkir rapi. Suara musik lembut samar-samar terdengar dari dalam bangunan. Marsha secara refleks merapikan kembali gaunnya.
“Ven…”
“Iya?”
“Aku merasa takut.”
Marven malah tertawa kecil. “Untuk apa takut?”
“Semua anggota keluargamu pasti hadir di sana…”
“Memang begitu.”
Marsha menelan ludah. “Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku?”
Marven terdiam sesaat, lalu menjawab dengan nada santai. “Kalau begitu, buatlah mereka menyukaimu.”
Begitu mudahnya ia mengucapkannya, padahal hati Marsha sudah berdebar kencang.
Begitu masuk ke dalam, Marsha langsung merasa seolah berada di tempat yang salah. Langit-langit ruangan terlihat sangat tinggi, lampu kristal yang besar dan indah tergantung di tengahnya, dan setiap orang yang ada di sana tampak begitu berkelas—berpakaian gaun dan jas yang mewah, membawa tas bermerek terkenal, serta mengenakan perhiasan yang berkilauan. Di sisi lain, Marsha tiba-tiba merasa dirinya terlihat sangat kecil dan tidak berarti.
Beberapa orang mulai melirik ke arahnya—tatapan yang cepat, penuh rasa ingin tahu, dan seolah sedang menilai.
“Marven!”
Seorang wanita paruh baya mendekat sambil tersenyum lebar, namun senyumnya perlahan memudar saat matanya tertuju pada Marsha. “Oh…”
Tatapannya berubah menjadi penuh penilaian. “Ini Marsha ya?”
Itu adalah Ranti, ibu Marven.
Marsha segera tersenyum sopan. “Selamat malam, Tante.”
Namun, Ranti tidak langsung membalas sapaan itu. Pandangannya bergerak perlahan, meneliti dari ujung rambut, wajah, gaun yang dikenakan, sepatu, hingga tas yang dibawa Marsha, lalu kembali menatap wajahnya. “Oh…” ucapnya dengan senyum yang sangat tipis. “Terlihat sangat sederhana.”
Jantung Marsha terasa seperti berhenti berdetak sejenak. Padahal gaun ini dibelikan sendiri oleh Marven, dan ia bahkan telah berusaha mempelajari cara merias wajah dari video agar terlihat lebih rapi malam ini.
“Benarkah terlihat begitu, Tante?” tanya Marsha dengan suara yang mulai melemah.
Ranti tersenyum kecil. “Bukan berarti jelek. Hanya saja…” pandangannya bergerak sekali lagi, “terlihat sederhana.”
Seolah kata itu memiliki makna lain—kurang, tidak cukup, dan tidak sebanding.
Marsha memaksakan senyum tipis. “Baiklah, Tante…”
Sementara itu, Marven hanya berdiri diam di sampingnya. Ia tidak mengatakan apa-apa, tidak membela, dan juga tidak menyangkal ucapan ibunya. Dan anehnya, sikap itu justru terasa jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata yang diucapkan.
Belum sempat rasa sakit itu hilang, seorang wanita lain datang menghampiri—bibi dari pihak ayah Marven. Ia mengenakan gaun hitam yang sangat mewah dengan kalung berlian yang mencolok di lehernya.
“Jadi ini kekasih Marven ya?” tanyanya dengan tatapan yang sama—menilai dari atas hingga ke bawah. Ia terkekeh pelan. “Anak muda zaman sekarang memang memiliki selera yang unik ya…” Ia melirik sekilas ke arah Ranti. “Pria yang berasal dari keluarga kaya justru memilih wanita yang biasa saja.”
Beberapa orang yang berdiri di dekat mereka ikut tersenyum tipis. Ada yang berpura-pura tidak mendengar, namun ada juga yang terlihat menikmati situasi itu. Marsha segera menundukkan kepalanya, wajahnya terasa memanas dan telapak tangannya menjadi dingin.
Ranti terkekeh pelan. “Sudahlah… namanya juga anak muda. Terkadang mereka merasa penasaran dengan hal-hal yang sederhana.”
Penasaran. Bukan karena cinta.
Kalimat itu terasa seperti tamparan keras di wajah Marsha. Ia menoleh ke arah Marven, berharap—setidaknya sedikit saja—ia akan mengatakan sesuatu, membela dirinya, atau sekadar berkata bahwa Marsha adalah orang yang berharga baginya. Namun, Marven justru sibuk memainkan ponselnya, seolah segala hal yang terjadi adalah hal yang biasa saja.
Makan malam pun dimulai. Marsha duduk di ujung meja makan yang sangat panjang. Semua orang di sana saling berbicara mengenai bisnis, liburan ke luar negeri, mobil-mobil terbaru, dan berbagai hal mengenai investasi—topik-topik yang bahkan sulit untuk dipahami oleh Marsha. Ia hanya terdiam sesekali sambil memaksakan senyum tipis.
Hingga suara Ranti terdengar lagi. “Marsha, kamu bekerja di mana sekarang?”
“Oh… saya masih kuliah, Tante.”
“Begitu ya.” Nada bicaranya terdengar biasa saja, namun terasa menusuk. “Tapi nanti pasti akan bekerja juga kan?”
“Tentu saja, Tante.”
“Baguslah kalau begitu,” ucap Ranti sambil tersenyum kecil. “Karena seorang wanita juga harus memiliki kualitas diri yang baik. Apalagi jika ingin masuk ke dalam lingkungan keluarga tertentu.”
Suasana di meja makan seketika menjadi sedikit hening. Marsha menggenggam kuat ujung gaunnya. Wanita yang tadi menyahut juga ikut berbicara. “Yang penting tidak bergantung sepenuhnya kepada pria. Namun ya…” ia tertawa kecil, “kita juga harus menjadi orang yang realistis. Dunia orang kaya tidaklah semudah yang dibayangkan.”
Semua orang seolah berbicara dengan nada biasa, namun sangat jelas bahwa mereka sedang membicarakan dirinya—dengan cara yang halus, pelan, namun sangat menyakitkan. Marsha hanya menunduk dan menjawab pelan, “Baiklah…” hingga suaranya hampir tidak terdengar.
Ketika akhirnya ia bisa berdiri, Marsha segera berjalan menuju balkon di bagian belakang rumah. Dadanya terasa sangat sesak. Angin malam menerpa wajahnya, namun tidak mampu membuat perasaannya menjadi lebih lega.
“Sha.”
Suara Marven terdengar dari belakang. Marsha segera menyeka sudut matanya dengan cepat.
“Kenapa kamu diam saja di sini?”
“Tidak apa-apa.”
“Sejak tadi sikapmu terlihat aneh.”
Marsha menatap wajahnya. “Ven… apakah ibumu memang tidak menyukaiku?”
Marven menghela napas panjang. “Ya ampun… bukan begitu maksudnya.”
“Tapi mereka berbicara seperti itu…”
“Sha,” nada bicara Marven mulai berubah. “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan.”
Kalimat itu lagi. Selalu kalimat yang sama.
“Mereka hanya berbicara apa adanya saja.”
“Tapi rasanya menyakitkan…”
Marven mulai terlihat kesal. “Kamu ini terlalu peka sekali. Memang begitulah cara mereka bercanda.”
Marsha menatapnya dalam beberapa detik, berusaha mencari sedikit saja rasa pembelaan atau kasih sayang di wajahnya. Namun, ia tidak menemukan apa-apa. Yang ada hanyalah rasa lelah yang mulai menyelimuti hatinya.
“Kalau kamu melihat aku diperlakukan seperti tadi…” suara Marsha terdengar semakin pelan, “apakah kamu tidak merasakan apa-apa?”
Marven terdiam sejenak, lalu justru berkata, “Itulah sebabnya aku selalu mengingatkanmu… cobalah untuk memperbaiki diri dan penampilanmu sedikit. Supaya mereka tidak sembarangan berbicara seperti itu.”
Hancur.
Hati Marsha terasa benar-benar hancur seketika. Ia hanya mengangguk pelan. “Begitu ya…”
Jadi, kesalahan ada pada dirinya? Karena terlihat terlalu sederhana? Karena belum dianggap cukup pantas?
Beberapa menit kemudian, Marsha masuk ke dalam kamar mandi. Begitu pintu terkunci rapat, ia berdiri diam di depan cermin. Pandangannya tertuju pada pantulan dirinya sendiri—gaun yang indah, rambut yang tertata rapi, dan riasan wajah yang sudah ia usahakan sebaik mungkin. Namun ternyata, semua itu tetap tidak cukup.
Bibirnya mulai bergetar, dan tanpa sadar air matanya mulai menetes—satu, dua, lalu semakin banyak. Marsha segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan agar isak tangisnya tidak terdengar. Mengapa rasanya begitu menyakitkan? Mengapa berada di sisi orang yang dicintai justru membuatnya merasa dirinya tidak layak untuk dicintai?
Di luar sana, suara tawa dan obrolan keluarga Marven masih terdengar jelas. Mereka terlihat bahagia, sementara Marsha hanya bisa menangis sendirian di dalam kamar mandi yang luas dan mewah itu diam-diam, seolah keberadaannya memang tidak pantas untuk dilihat orang lain.