Biani, Laith wangi sekali, aku telah membelikannya parfum dengan wangi yang aku suka. Wangi bergamot dan tonka, dia seketika menjadi pria dewasa. Aku duduk di sebelahnya. Dia sejak tadi sibuk menatap ponsel. "Males sekolah," kataku. Laith hanya bergumam, sejak kejadian di UKS dia sedikit menurut, dia tampaknya kasihan kalau rahasiaku tersebar. Baik juga Laith, menjaga rahasia perempuan. Aku mengambil ponselnya tiba-tiba. Dia mengeluh. Kemudian aku cek, apa? Kenapa banyak pesan dari cewek-cewek?! Tanya PR, ujian, alasan saja! "Kenapa banyak pesan? Aku kan bilang cuma aku yang boleh menghubungi kamu." "Ya sudah, kamu ambil kembali saja ponselnya, aku tak membutuhkannya," sahut Laith. Eh dia kenapa sih? "Kenapa begitu?" "Ya aku susah. Setiap kamu kirim pesan aku harus segera balas, jad

