BAB XXVII

2361 Words

Sada melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar rumah sakit yang hanya ada aku dan Bang Raka,  dengan napas yang belum sepenuhnya beraturan. Menatapku nanar dan berkaca-kaca. Seragamnya basah oleh keringat, tangannya mengepal sempurna di samping lipatan celana. "Abang keluar dulu ya, Dik? Nanti kalau ada apa-apa telepon Abang aja," pamit Bang Raka memberikan ponselku yang dia bawa sejak semalam. Abang tahu ini bukan waktunya menungguiku. Melangkah pergi mendekati Sada. "Ucapan tidak pernah bisa ditarik tapi bisa diperbaiki. Berpikirlah dua kali sebelum berucap, sebab kamu akan menyesali perkataan tanpa pikiran," katanya di samping Sada. Sekarang tinggal lah kami berdua. Saling memandang satu sama lain tanpa mengucapkan apapun. Garis wajahnya manis, itu yang selalu aku rindukan. Namun ter

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD