BAB XXIX

2264 Words

Shandi duduk memandangiku dan Sada bergantian, sesekali dia menghela napas serta menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia seperti orang tua yang akan menyidang kedua anaknya, kedua anak yang kiranya melakukan salah. Tapi kami merasa tak melakukan apa-apa menyangkut Shandi. Ya, aku, Shandi, Mukti dan Sada memang sedang makan malam bersama. Sekadar mengobati kerinduan Sada pada adik semata wayangnya sebenarnya, tapi si Mukti ikut juga dengan alasan gabut di asrama. Klasik. Sementara aku harus ikut sebagai kekasih Sada. Aduh, bahagia rasanya sudah menyandang kembali status itu. Melewati banyak hal yang menakutkan. "Mas Mukti, kok aku benci banget ya lihat Mas Sada sama Mbak Kanya," celetuk Shandi setelah hanya menggunakan matanya sejak pertama kami saling duduk menghadap. "Wajah mereka memang m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD