SATU MALAM
Tubuhku bergerak hebat mengikuti hentakan irama musik Eminem ft. Ludacriss. Lantai ruang tamu dan asrama perkumpulan para atlet football telah dirombak habis-habisan layaknya klub bintang lima ternama di New York. Bola lampu tiga warna berputar cepat di atasku, menciptakan warna hijau-merah-kuning pada kulit kecoklatan milikku. Rambut coklat kayu ikal sepunggungku lengket menempel badan akibat keringat, namun aroma parfum J-Lo yang kupakai bisa mengalahkan segala bau tak sedap karena kuman.
Aku berdansa ditengah-tengah lantai, dikelilingi teman-temanku. Kebanyakan dari mereka laki-laki, anggota tim football. Kecuali Lacie, si gadis pirang, lajang, menggoda. Sobat kentalku sejak kami masih berada didalam kandungan Ibu masing-masing. Ibu kami sepasang sahabat tak terpisahkan sejak sekolah menengah umum, entah kenapa hal itu kemudian menurun kepada anak-anaknya. Seperti sebuah keharusan saat orang tuamu bersahabat maka anak-anak mereka juga harus berteman.
Satu sisi kepalaku sudah mulai terasa berat, kedua telingaku rasanya menjadi sarang sekumpulan keluarga lebah. Berdengung. Otot-otot lembut pada kedua sisi pelipisku seperti disentak dari ujung sarafnya. Sepertiga liter Jack Daniels sepertinya sudah mulai bereaksi terhadap tubuhku.
Wajahku pasti pucat, sebab Lacie langsung menarikku keluar dari kerumunan seketika, diikuti gerutuan serta sorakan kalimat ‘ tak asyik ’ dari teman-teman kami lainnya. Aku menjatuhkan diri pada satu sisi sofa panjang yang biasanya berada di tengah ruang tamu perkumpulan, kini dipindah ke pojokan. Gema lagu masih menghentak genderang telingaku, kaki terasa begitu gatal untuk melonjak-lonjak lagi di atas lantai. Namun aku belum sampai berdiri karena sentakan keras tangan Lacie membuatku terjatuh lagi ke sofa.
“ Hentikan! Kamu sudah cukup mabuk untuk bisa membuat sebuah kekacauan. Tetaplah disini, aku akan mencarikan air kelapa muda ( penawar ) untukmu. Aku lihat mereka membawa berliter-liter di dapur tadi. Oke!” teriak Lacie .Berusaha mengalahkan kencangnya musik. Mimik mukanya begitu serius dan kedua mata biru keperakan pada tepinya berkilau, memandangi wajahku lama penuh perhitungan.
Otak jernihku terlalu penuh untuk bisa menjawab. Alih-alih berkata serius, justru ledakan tawa keluar dari mulutku. Itu karena ekspresi wajah Lacie sangat lucu. Gadis itu memutar bola matanya, tampak sangat kesal. Ia bergegas memutar badan, lalu melangkah menghilang di dalam pendaran kesuraman cahaya serta kerlip lampu.
Kusandarkan pundak sambil menengadahkan kepala pada sofa, menunggu, menghitung detik waktu dalam hati. Menyadari sudah sepuluh menit berlalu dan sahabatku belum juga kembali, membuatku sedikit kesal. Berbagai pikiran negatif seperti dia bertemu pemuda keren dan tergoda untuk menciumnya menyelinap di kepalaku. Terduduk tegak, aku berdiri untuk mencarinya. Namun baru tiga langkah aku merasa lututku lemas dan kakiku terselip, keseimbanganku hilang, aku yakin bakal jatuh diatas lantai keras lalu menjadi bahan tertawaan satu asrama hingga setidaknya sebulan penuh di kampus. Anehnya hal itu tak pernah terjadi.
Tidak ada rasa sakit menjalar karena tulang membentur lantai keramik dingin. Butuh bermenit-menit lamanya hingga sensor syarafku menyadari, jika seseorang tengah menahan tubuhku agar tak terjatuh.
“ Woaaa, Nona, jangan melecetkan kulit mulusmu ini....”
Suara renyah dan hangat bernada laki-laki mengejutkanku. Kedua tangan kokoh berhasil menegakkan tubuhku kembali.
Setelah bisa berdiri tegap, kubalikkan tubuh untuk mengucapkan terima kasih.Namun sepasang iris sewarna berlian zamrud cemerlang kutemukan tengah memandang balik padaku, sukses membuat semua kalimat mendadak hilang dari ujung lidah ini. Aku bagaikan ponsel pintar yang tadinya kehabisan baterai lalu kini dicharge ulang dan perlahan-lahan.
Sosoknya muncul dihadapanku, awalnya buram tapi semakin lama tampak jelas seiring kedekatan wajahnya padaku. Rahang persegi. Hidung mancung seperti elang. Rambut coklat ikal pendeknya berantakan namun justru itulah kesan imut yang kudapat darinya. Matanya hijau bercahaya, seakan menjadi sumber terang dalam ruang remang-remang minim sinar selain bola-bola lampu diskotik.
Aku merasa iri pada sepasang barisan alis diatas matanya. Coklat gelap serta lebat. Bibirnya kecil dibagian atas namun penuh dibawah, sewarna sup tomat buatan Mom. Betul-betul sangat menggoda. Tanpa sadar mataku menjelajah bagian bawah tubuhnya. Badan seksinya tampak jelas dibalik kemeja merah darah lengan pendek serta celana jeans santai dipadu sepasang sepatu sports bermerk ‘A’ ternama.
“ Hei Nona, apa kamu baik-baik saja?”
Suara pemuda itu begitu keras, tepat diluar daun telingaku. Tersentak kaget, hal pertama yang kusadari adalah panas menjalari seluruh muka, otakku memberikan sinyal rangsangan aneh yang tak pernah terjadi padaku sebelumnya. Aku sudah sangat sering bertemu pemuda tampan, namun khusus satu ini, jelas memberikan kesan berbeda dari pandangan pertama.
Aku mendongak, mencoba menatap wajahnya lekat-lekat dengan segala keburaman penglihatan, ( Sampaikan terima kasihku ‘secara menyindir’ pada alkohol! ) juga jarak akibat perbedaan tinggi kami yang menjulang.
“ Hai, namaku Carly.....” sisi iblisku tiba-tiba bicara tanpa basa-basi. Mengulurkan tangan ke arahnya.Syaraf sialan di bibirku tertarik ke kedua sudut, tak bisa menahan diri untuk berhenti tertawa.
‘ Demi Tuhan! Apa yang kau lakukan gadis bodoh!!’ jerit jiwa malaikatku.
Pemuda didepanku mengernyitkan dahi, tapi tak ragu membalas jabatanku.
“ Aku Green. Jelas kamu sangat mabuk Carly. Apa kamu kesini sendirian atau bersama seseorang? Karena kalau iya aku bisa mencarikan temanmu untuk memberitahukan kondisimu agar kalian segera pulang. Ide buruk ketika dirimu sedang mabuk dan tetap berada di tempat penuh kumpulan karung hormon testosteron” tukasnya. Memberiku tatapan peduli.
“ Kamu tahu, sejujurnya aku tak butuh temanku. Aku hanya butuh kamu....” ucapan itu meluncur begitu saja dari mulutku. Dan detik berikutnya, tanpa bisa dicegah lagi oleh si malaikat, iblis mengambil alih diriku sepenuhnya.
Aku menarik tangan Green yang masih dalam genggamanku. Mengalungkan kedua tanganku erat pada lehernya, dan tanpa malu mencium bibirnya kuat-kuat, dalam dan penuh. Seakan aku adalah monster gairah yang telah berpuasa berbulan-bulan lamanya.
*****************
Green membuka pintu kamar kami dengan terburu-buru dan membantingnya saat menutupnya menggunakan satu tangan. Tangan lainnya telah sibuk membuka kancing kemeja kerah pendek merah ketatku satu persatu, sementara mulutnya sibuk menjelajahi bibirku.
Dia mendorongku lembut hingga tubuhku terjatuh ke atas ranjang. Tangannya menabrak hiasan meja saat sibuk menggapai-gapai dinding di dalam kegelapan untuk mencari saklar lampu. Membuatku terkikik geli. Namun ketika penerangan menyala, aku bisa melihat gairah telah membakar kedua mata hijaunya. Dan aku sadar kami seperti badai yang takkan terelakkan lagi.
Green melepaskan kemejanya. Terdengar bunyi sabuk berdenting ketika aku membantu membuka celananya. Dalam sekejab kami sudah saling berselibat tanpa sehelai benang pun ditubuh.
“ Ini salahmu, karena sudah menggodaku “ bisiknya menggoda. Membuat semua bulu halusku berdiri seketika.
Aku menahan nafas selama beberapa detik. Mata kami saling berpadu, tatapannya begitu lembut, seakan ia adalah kunang-kunang dan tengah menuntunku menemukan jalan saat tersesat pada hutan gelap.
Di bawah sinar lampu, tubuh Green yang telanjang bagai sebuah pahatan patung mahakarya indah.Seolah-olah diukir dengan marmer hidup, setiap bidang dan sudut menarik mataku untuk terus melihatnya lebih dan lebih lagi. Rasanya seperti menemukan jalan ke surga setiap kali memandangi keelokan tubuhnya, bahkan kekagumanku selalu bertambah seiring waktu.
“ Indah” katanya tulus. Memujiku.
Wajahku merona. Mencoba mengalihkan pandangan dari. Namun jemari Green membawa daguku kembali padanya.
“ Lihat aku sayang....” ujar Green lembut.
Aku membuka mata, mendapati sepasang iris hijau cemerlang tepat menatap ke dalam diriku. Garis-garis keperakan yang melingkari pupilnya melebar. Bukan sekedar nafsu, melainkan sesuatu seperti sebuah.....kasih sayang....
Wajahnya mendekatiku. Bibirnya menemukan ujung bibirku. Memberinya ciuman lembut. Aku melingkarkan kedua tanganku disekitar lehernya. Membalas ciumannya. Lidahnya kemudian menyusup masuk keatas langit-langit mulut, aku memberinya kebebasan untuk menjelajahinya. Sementara tangan kanannya memelukku, tangan lainnya memelukku lembut namun ketat. Aku melenguh di dalam cumbuannya.
Malam itu, kami berdua pun beradu. Ketika kulit dan kulit saling bersentuhan, tubuh telanjang kami bergesekan, disertai bunyi derit ranjang.
Sebuah keajaiban. Untuk pertama kalinya kutemukan surga dunia itu bersamanya.
Dengan Green.
Kami sama-sama terbuai ke atas awan lalu terjatuh setelah mencapai puncak nirwana dunia tersebut.
Kudengar hentakan lembut detak jantung kami saling berlomba ketika kuletakkan kepalaku di atas dadanya. Kurasakan ciuman panjang Green di atas puncak kepalaku, dan aku sangat menikmatinya.
Dan ditengah ambang batas kesadarannya, aku mendengar bisikan lembutnya ditelingaku ketika berkata.
“ Kurasa, aku jatuh cinta padamu, Carly si gadis asing”