bc

LOVE SONG STORY SERIES : #1. TONIGHT I'M GETTING OVER YOU

book_age18+
94
FOLLOW
1K
READ
one-night stand
independent
brave
student
stepbrother
drama
comedy
Girl Power Counterattack
bisexual
small town
like
intro-logo
Blurb

Carly Carter bertemu si sexy bermata hijau zamrud, Green Fassbringer pada sebuah pesta di tempat perkumpulan persaudaraan. Namun Carly justru kabur setelah percintaan satu malam mereka yang hebat. Namun rupanya takdir berkata lain, Carly kembali bertemu Green menjelang hari pernikahan kedua Ibunya.

Mampukah Carly melupakan seluruh perasaan terpendamnya yang semakin lama semakin hebat pada Green, Disisi lain, Green semakin terang-terangan menunjukkan kasih sayangnya dan bermaksud menentang nasib.

Dan untuk kesekian kalinya, sebuah malam hebat penuh petualangan akan menjadi jawaban atas kelanjutan pilihan nasib mereka

chap-preview
Free preview
SATU MALAM
Tubuhku  bergerak hebat  mengikuti hentakan  irama musik Eminem  ft. Ludacriss. Lantai  ruang tamu  dan asrama perkumpulan  para atlet football  telah  dirombak  habis-habisan  layaknya klub bintang  lima ternama di New York. Bola lampu  tiga warna berputar cepat di atasku, menciptakan  warna hijau-merah-kuning pada kulit kecoklatan milikku. Rambut  coklat kayu ikal sepunggungku lengket menempel badan akibat keringat, namun  aroma parfum  J-Lo  yang  kupakai  bisa mengalahkan  segala bau tak sedap  karena kuman.       Aku  berdansa ditengah-tengah  lantai, dikelilingi teman-temanku. Kebanyakan dari  mereka laki-laki, anggota tim football. Kecuali  Lacie, si gadis  pirang, lajang, menggoda. Sobat  kentalku sejak kami masih berada  didalam kandungan Ibu masing-masing. Ibu  kami sepasang sahabat tak terpisahkan sejak  sekolah menengah umum, entah kenapa hal itu kemudian  menurun kepada anak-anaknya. Seperti sebuah keharusan saat orang tuamu bersahabat maka anak-anak mereka juga harus berteman.      Satu sisi kepalaku  sudah mulai terasa  berat, kedua telingaku  rasanya menjadi sarang sekumpulan  keluarga lebah. Berdengung. Otot-otot  lembut pada kedua sisi pelipisku seperti  disentak dari ujung sarafnya. Sepertiga liter  Jack  Daniels  sepertinya  sudah mulai  bereaksi terhadap  tubuhku.      Wajahku  pasti pucat, sebab  Lacie langsung menarikku  keluar dari kerumunan seketika, diikuti  gerutuan serta sorakan kalimat ‘ tak asyik ’  dari  teman-teman  kami lainnya. Aku  menjatuhkan diri pada  satu sisi sofa panjang  yang biasanya berada di tengah  ruang tamu perkumpulan, kini dipindah  ke pojokan. Gema lagu masih menghentak genderang  telingaku, kaki terasa begitu gatal untuk melonjak-lonjak  lagi di atas lantai. Namun aku belum sampai berdiri karena  sentakan keras tangan Lacie membuatku terjatuh lagi ke sofa.         “ Hentikan! Kamu  sudah cukup mabuk  untuk bisa membuat sebuah  kekacauan. Tetaplah disini, aku  akan mencarikan air kelapa muda ( penawar ) untukmu. Aku lihat mereka membawa berliter-liter di dapur tadi. Oke!”  teriak Lacie .Berusaha mengalahkan kencangnya musik. Mimik mukanya begitu serius dan kedua mata biru keperakan  pada tepinya berkilau, memandangi wajahku lama penuh perhitungan.      Otak  jernihku  terlalu penuh  untuk bisa menjawab. Alih-alih  berkata serius, justru ledakan tawa  keluar dari mulutku. Itu karena ekspresi  wajah Lacie sangat lucu. Gadis itu memutar  bola matanya, tampak sangat kesal. Ia bergegas  memutar badan, lalu melangkah menghilang di dalam pendaran  kesuraman cahaya serta kerlip lampu.      Kusandarkan  pundak sambil  menengadahkan kepala  pada sofa, menunggu, menghitung  detik waktu dalam hati. Menyadari  sudah sepuluh menit berlalu dan sahabatku  belum juga kembali, membuatku sedikit kesal. Berbagai  pikiran negatif seperti dia bertemu pemuda keren dan  tergoda untuk menciumnya menyelinap di kepalaku. Terduduk  tegak, aku berdiri untuk mencarinya. Namun baru tiga langkah  aku merasa lututku lemas dan kakiku terselip, keseimbanganku hilang, aku  yakin bakal jatuh diatas lantai keras lalu menjadi bahan tertawaan satu  asrama hingga setidaknya sebulan penuh di kampus. Anehnya hal itu tak pernah  terjadi.      Tidak  ada rasa  sakit menjalar  karena tulang membentur  lantai keramik dingin. Butuh  bermenit-menit lamanya hingga sensor  syarafku menyadari, jika seseorang tengah  menahan tubuhku agar tak terjatuh.      “ Woaaa, Nona, jangan  melecetkan kulit mulusmu  ini....”        Suara  renyah dan  hangat bernada  laki-laki mengejutkanku. Kedua  tangan kokoh berhasil menegakkan  tubuhku kembali.       Setelah  bisa berdiri  tegap, kubalikkan  tubuh untuk mengucapkan  terima kasih.Namun sepasang  iris  sewarna  berlian zamrud  cemerlang kutemukan tengah  memandang balik padaku, sukses  membuat semua kalimat mendadak hilang  dari ujung lidah ini. Aku bagaikan ponsel pintar yang tadinya kehabisan baterai lalu kini dicharge  ulang dan perlahan-lahan.        Sosoknya  muncul dihadapanku, awalnya  buram tapi semakin lama tampak  jelas seiring kedekatan wajahnya padaku. Rahang  persegi. Hidung mancung seperti elang. Rambut coklat  ikal pendeknya berantakan namun justru itulah kesan imut  yang kudapat darinya. Matanya hijau bercahaya, seakan menjadi  sumber terang dalam ruang remang-remang minim sinar selain bola-bola  lampu diskotik.       Aku  merasa  iri pada  sepasang barisan  alis diatas matanya. Coklat  gelap serta lebat. Bibirnya kecil  dibagian atas namun penuh dibawah, sewarna  sup tomat buatan Mom. Betul-betul sangat menggoda. Tanpa  sadar mataku menjelajah bagian bawah tubuhnya. Badan seksinya tampak jelas dibalik kemeja  merah darah lengan pendek serta celana jeans santai dipadu sepasang sepatu sports bermerk  ‘A’ ternama.        “ Hei  Nona, apa  kamu baik-baik  saja?”       Suara  pemuda itu  begitu keras, tepat  diluar daun telingaku. Tersentak  kaget, hal pertama yang kusadari adalah  panas menjalari seluruh muka, otakku memberikan  sinyal rangsangan aneh yang tak pernah terjadi padaku  sebelumnya. Aku sudah sangat sering bertemu pemuda tampan,  namun khusus satu ini, jelas memberikan kesan berbeda dari pandangan  pertama.         Aku  mendongak, mencoba  menatap wajahnya lekat-lekat  dengan segala keburaman penglihatan, ( Sampaikan  terima kasihku ‘secara menyindir’ pada alkohol! ) juga  jarak akibat perbedaan tinggi kami yang menjulang.       “ Hai, namaku  Carly.....” sisi  iblisku tiba-tiba bicara  tanpa basa-basi. Mengulurkan  tangan ke arahnya.Syaraf sialan di bibirku tertarik ke kedua sudut, tak bisa  menahan diri untuk berhenti tertawa.      ‘ Demi  Tuhan! Apa  yang kau lakukan  gadis bodoh!!’  jerit  jiwa malaikatku.      Pemuda  didepanku  mengernyitkan  dahi, tapi tak  ragu membalas jabatanku.  “ Aku  Green. Jelas  kamu sangat mabuk  Carly. Apa kamu kesini  sendirian atau bersama seseorang? Karena  kalau iya aku bisa mencarikan temanmu untuk  memberitahukan kondisimu agar kalian segera pulang. Ide  buruk ketika dirimu sedang mabuk dan tetap berada di tempat  penuh kumpulan karung hormon testosteron” tukasnya. Memberiku tatapan  peduli.      “ Kamu  tahu, sejujurnya  aku tak butuh temanku. Aku  hanya butuh kamu....” ucapan itu  meluncur begitu saja dari mulutku. Dan  detik berikutnya, tanpa bisa dicegah lagi  oleh si malaikat, iblis mengambil alih diriku  sepenuhnya.      Aku  menarik  tangan Green  yang masih dalam  genggamanku. Mengalungkan  kedua tanganku erat pada  lehernya, dan tanpa malu mencium bibirnya  kuat-kuat, dalam dan penuh. Seakan aku adalah  monster gairah yang telah berpuasa berbulan-bulan  lamanya. *****************           Green  membuka  pintu kamar  kami dengan terburu-buru  dan membantingnya saat menutupnya  menggunakan satu tangan. Tangan lainnya  telah sibuk membuka kancing kemeja kerah  pendek merah ketatku satu persatu, sementara  mulutnya sibuk menjelajahi bibirku.       Dia  mendorongku  lembut hingga tubuhku  terjatuh ke atas ranjang. Tangannya  menabrak hiasan meja saat sibuk menggapai-gapai  dinding di dalam kegelapan untuk mencari saklar lampu. Membuatku  terkikik geli. Namun ketika penerangan menyala, aku bisa melihat gairah  telah membakar kedua mata hijaunya. Dan aku sadar kami seperti badai yang  takkan terelakkan lagi.       Green  melepaskan  kemejanya. Terdengar  bunyi sabuk berdenting  ketika aku membantu membuka  celananya. Dalam sekejab kami sudah saling berselibat tanpa sehelai benang pun ditubuh.        “ Ini  salahmu, karena  sudah menggodaku “ bisiknya  menggoda. Membuat semua bulu halusku berdiri seketika.      Aku  menahan  nafas selama  beberapa detik. Mata kami saling berpadu, tatapannya begitu lembut, seakan ia adalah kunang-kunang dan tengah menuntunku menemukan jalan saat tersesat pada hutan gelap.            Di bawah  sinar lampu, tubuh  Green yang telanjang  bagai sebuah pahatan patung  mahakarya indah.Seolah-olah diukir  dengan marmer hidup, setiap bidang dan  sudut menarik mataku untuk terus melihatnya  lebih dan lebih lagi. Rasanya seperti menemukan  jalan ke surga setiap kali memandangi keelokan tubuhnya, bahkan  kekagumanku selalu bertambah seiring waktu.        “ Indah” katanya tulus. Memujiku.       Wajahku merona. Mencoba mengalihkan pandangan dari. Namun jemari Green membawa daguku kembali padanya.          “ Lihat  aku sayang....” ujar  Green lembut.      Aku  membuka  mata, mendapati  sepasang iris hijau  cemerlang tepat menatap  ke dalam diriku. Garis-garis  keperakan yang melingkari pupilnya  melebar. Bukan sekedar nafsu, melainkan  sesuatu seperti sebuah.....kasih sayang....            Wajahnya  mendekatiku. Bibirnya  menemukan ujung bibirku. Memberinya  ciuman lembut. Aku melingkarkan kedua  tanganku disekitar lehernya. Membalas ciumannya. Lidahnya  kemudian menyusup masuk keatas langit-langit mulut, aku memberinya  kebebasan untuk menjelajahinya. Sementara tangan kanannya memelukku, tangan  lainnya memelukku lembut namun ketat. Aku melenguh di dalam cumbuannya.    Malam itu, kami berdua pun beradu. Ketika kulit dan kulit saling bersentuhan, tubuh telanjang kami bergesekan, disertai bunyi derit ranjang.    Sebuah keajaiban. Untuk pertama kalinya kutemukan surga dunia itu bersamanya.    Dengan Green. Kami sama-sama terbuai ke atas awan lalu terjatuh setelah mencapai puncak nirwana dunia tersebut.       Kudengar hentakan lembut detak jantung kami saling berlomba ketika kuletakkan kepalaku di atas dadanya. Kurasakan ciuman panjang Green di atas puncak kepalaku, dan aku sangat menikmatinya.       Dan ditengah ambang batas kesadarannya, aku mendengar bisikan lembutnya ditelingaku ketika berkata.      “ Kurasa, aku  jatuh  cinta padamu, Carly  si gadis  asing”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

UN Perfect Wedding [Indonesia]

read
80.2K
bc

Bukan Cinta Pertama

read
59.0K
bc

Stuck With You

read
75.8K
bc

Secret Marriage

read
949.4K
bc

Bukan Calon Kakak Ipar

read
146.6K
bc

MENGGENGGAM JANJI

read
484.2K
bc

Sweetest Pain || Indonesia

read
77.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook