BERTEMU KELUARGA (01)

1344 Words
                               Pagi  itu aku  dibangunkan  oleh seberkas  cahaya matahari  menelusup masuk di antara  celah-celah sempit gorden, mengenai  wajah dan separuh kulit telanjangku. Aku  tertidur dalam posisi miring ke samping kanan, dan  sebuah tekanan berat terasa di atas tubuhku. Tak butuh  waktu lama bagiku untuk menyadari apa yang baru saja terjadi ( atau  lebih tepatnya telah terjadi ) semalam. Mungkin aku memang mabuk, tapi cukup  sadar untuk bisa mengingat segalanya.      Memoriku  memutar keseluruhan  ingatan atas kejadian  semalam. Peristiwa mabukku. Pertemuanku  dengan pemuda asing bermata hijau. Seketika wajahku terasa panas ketika mengingat apa yang telah kulakukan bersamanya.       Kini  pemuda  asing yang  mengaku bernama  Green ( Atau entah  siapa nama aslinya) tengah  terbaring nyenyak disampingku. Memeluk  tubuhku teramat erat. Aku nyaris mengalah  pada aroma seksinya sesudah percintaan kami, dan  tergoda untuk bergelung pada kehangatan tubuh indahnya. Namun  alarm tanda bahaya segera menyala dalam diriku.       Menguatkan  hati, aku bergerak  amat perlahan hingga  bisa melepaskan diri darinya. Sempat  terduduk di atas kasur selama bermenit-menit  lamanya, memandangi kulit coklat keemasan yang terpapar  indah bagai perhiasan terlantar siap kucuri. Kugelengkan  kepala kuat-kuat, aku mendekat pelan kemudian mengecup dahinya  lama. Perasaan emosional aneh bergejolak dalam diriku saat ini, meski  secara rasional tak masuk akal.    Bagaimana  aku bisa mendapatkan  ikatan batin dengan seseorang  yang baru kukenal tak kurang dari 24  jam.       Cepat-cepat  memakai pakaian  dan sepatu, aku mem-buka  kunci kamar dalam satu tarikan  cepat, melesat keluar pintu.      Perasaan  lega menerjangku  setelah berada diluar  kamar. Kulirik jam dinding  yang tergantung di atas dinding, sekarang  masih pukul 06.00 pagi.      Bagus. Batinku.     Kepalaku  masih berdenging  kencang, dan leherku  terasa amat pegal. Meski  lututku lemas namun kupaksakan  diri semampuku untuk terus berjalan, melewati  kesunyian sepanjang lorong lantai dua kamar asrama  para atlet football  Universitas.       Aku  betul-betul  bersyukur sebab  suasana masih sangat  sepi. Setibanya di lantai  bawah, kulihat seluruh ruangan  telah berubah menjadi tempat pembuangan  sampah dengan bau bir serta rokok menyebar, banyak ceceran  bir bertebaran dimana- mana. Beberapa boneka Donald bebek raksasa, maskot  wajib tim olahraga Universitas Oregon menjadi gantungan pakaian dalam mendadak, serta  masih banyak lagi hal menjijikkan lain yang tak mau kusebutkan.       Aku  merasa  kasihan pada  junior yang harus  membersihkannya nanti, mereka  akan bekerja sangat keras untuk  membereskan segala kekacauan ini.       Kemudian  aku mendengar  suara ‘klik’ pintu  kamar dibuka dari lantai  atas. Terdorong rasa panik berlebihan, aku  berlari keluar dari rumah perkumpulan sambil  berdoa dalam hati itu bukan Green yang sedang  mencariku, meskipun kemungkinannya 0 banding 10.       Setibanya  di parkiran  aku bergegas  mencari VW kuning  milikku, yang semalam kuparkir dibawah  pepohonan maple. Aku melesat masuk, mengeluarkan  kunci kontak dari saku jeansku dan bergegas menstater  kendaraanku. Dalam hitungan menit, aku telah meluncur meninggalkan  rumah perkumpulan para atlet football tanpa menoleh untuk kedua kalinya. ***************      Lacie  sudah berada  di apartemen. Ketika membukakan pintu  kamar untukku, tubuhnya masih memakai kimono  hijau terusan selutut, rambut pirangnya berantakan  dan wajahnya sekusut pakaian tak pernah di setrika. Dia  sudah siap meledakkan gunung berapinya.     “ Demi  Tuhan Carly!! Sebenarnya  apa yang terjadi padamu semalam! Aku  hanya keluar sesaat untuk mencarikanmu  air kelapa atau sesuatu yang bisa menjernihkan  otakmu kembali, tahu-tahu kamu sudah menghilang! Aku  sangat panik tahu tidak, mobilmu masih ada dan kupikir  kamu dibawa oleh satu anggota perkumpulan lalu diculik! Hampir  saja aku menghubungi polisi pagi ini”       Lacie  menceramahiku, mengikuti  dibelakang yang melenggang  masuk dan terduduk lemas diatas  sofa beledu hitam. Aku menunggu hingga  larvanya benar-benar menghilang, setelah itu  dimulai dari permintaan maaf ( Yang harus bertubi-tubi) dan  baru menceritakan kegilaanku semalam. Lacie mendengarkanku dengan  mulut ternganga, dan aku tak menyembunyikan satu detail kecilpun darinya.      “ Dan  kamu langsung  pergi begitu saja....Pagi  ini tanpa mengatakan apapun  pada si seksi bermata hijau itu??” tanyanya  terheran-heran.      Menghela  nafas panjang, kusandarkan  leherku pada punggung sofa, setengah  menengadah separuh menerawang aku menjawabnya. “Aku  terlalu takut pada reaksi yang akan kudapatkan sesudahnya. Bagaimana  jika dia menjadikanku bahan ejekan, mentertawakanku bersama teman-temannya, lalu  di kampus akan tersebar gosip tidak-tidak lagi tentangku. Aku tak bisa Lace, aku  tak sanggup lagi mengalaminya!”        Semua  keraguan  serta ketidak  percayaan diri itu  menumpuk jadi satu membuat  dadaku sesak. Aku memejamkan mata. Berusaha  keras mengusir semua bayangan buruk serta kata-kata  kejam yang pernah kudengarkan di masa lalu untukku dari  semua orang. Mereka dengan kejamnya menilaiku tanpa melihat kebenaran  terlebih dulu.      Lacie  terlalu  memahamiku  hingga tahu  apa yang ada pada isi hatiku sekarang. Kedua  tangan Lacie menarik bahuku hingga aku duduk  tegak, terpaksa menghadapinya. Sepasang iris turqoise  lembut  miliknya  seakan membentakku.       “ Hentikan  Carly. Tidak  semua pria menjadi  b******k seperti Brian! Aku  bisa memahami traumamu akan hubungan, dan  itu bukan hal yang mudah. Aku tahu dan kita telah mengalaminya  bersama-sama, namun sampai kapan kamu akan melepaskan cengkramanmu  dari bayangan buruk lalu melanjutkan hidup. Sadarlah, ini sudah dua tahun! Hidup  terus berjalan. Pilihanmu hanya dua, berada dalam bayangan selamanya atau melangkah  maju!”      Aku  tertegun  mendengar kebenaran  dalam tiap ucapan Lacie  meski begitu mengatakan jauh  lebih gampang dari pada berbuat. Kedua  retinaku memantulkan bayangan seorang gadis  pirang cantik memandangku penuh tekad. Hatiku  menyesap setiap petuahnya dalam-dalam.     “Trims  sist’ aku  tak tahu  bagaimana diriku  tanpamu”. Aku mencoba  tersenyum.      Lacie  tertawa, jemarinya  mengacak rambut gelapku  yang memang sudah berantakan. “ Itulah  gunanya sahabat. Oke, jadi apa rencanamu  selanjutnya dengan pemuda ini. Si mata hijau  ini pasti hebat sekali semalam hingga bisa membuatmu  seperti ini....” Godanya, mengerling nakal padaku.           Wajahku  terasa panas  mendengar ucapannya. Kupukul  mukanya dengan bantal sofa yang  dengan cekatan berhasil dia tangkap  sebelum sempat mengenai wajahnya. Lacie terbahak  keras.      “ Hentikan  itu! Aku sudah  sangat malu tahu, Ya  Tuhan. Hanya DIA yang paling  tahu apa yang bisa kulakukan jika  bertemu Green lagi nanti” ujarku putus  asa. Menutup kedua wajah dengan tanganku.      Lacie duduk disampingku sekarang, tangannya menepuk-nepuk  punggungku lembut. “ Jadi kamu takkan melakukan apapun  ya”  Ucapnya. Lebih  seperti penegasan.      Aku  mengangguk, masih dalam  posisi wajah tertangkut  tangan. “ Untuk kali ini biarkan  campur tangan Tuhan yang bermain....” kataku  lemah.       Aku  terlalu  hafal sahabatku  untuk tahu jika dia  masih ingin menyampaikan  sesuatu. Untungnya, dering kecang  lagu ‘ Tonight  I’m Getting  Over You’ nya  Carly  Rae Japsen  ( Entah  kenapa judul lagunya  sangat mirip dengan kondisiku  saat ini ) tanda adanya panggilan telpon dari  ponselku, membantuku keluar dari obrolan ‘membingungkan bersama Lacie’ sehingga  tak harus mendengarkan Lacie lagi.       Aku  mengeluarkannya  dari saku kiri jeansku, segera  memencet tombol penerima setelah  menyadari nomor Mom, tertera pada layarnya. Aku  menerimanya dalam posisi duduk, di sampingku wajah  Lacie tampak begitu penasaran.       Ibuku  bukanlah  orang yang  suka berbasa-basi. Tanpa  perlu menanyakan kondisiku  dia langsung menyampaikan inti  utama alasannya menelponku. Dengan  suara seceria nyanyian burung gereja  di pagi hari Mom menyampaikan kabar gembira  perihal ren-cana pernikahan yang akan segera diselengarakkannya  bersama Favreau ‘ Fav’ Fassbringer. Sahabat, partner kerja, sekaligus  tunangan Mom selama dua tahun terakhir. Seketika berita dari Mom langsung menceriakan  suasana hatiku.      Aku  begitu  gembira mendengarnya. Ibuku  pantas berbahagia. Beliau adalah  istri yang setia, menjadi janda karena  ditinggal pergi oleh ayahku untuk selamanya  akibat kanker darah yang telah dideritanya sejak  masih remaja. Mom bekerja keras seorang diri. Semua usahanya tak sia-sia, ia berhasil  menjadi seorang Jaksa hebat di Washington, Ibukota Portland wilayah negara bagian Oregon.       Fav  awalnya  rekan kerja  Mom, pindahan dari  Pusat Oregon, mereka  menangani kasus penyuapan  bersama-sama dan setelah itu  segalanya berjalan seperti aliran  air bagi keduanya. Setahun lalu mereka  memutuskan untuk menjadi lebih serius dan  bertunangan.        Fav  bercerai  dengan istri  pertamanya karena  masalah prinsip, kudengar  putra tunggalnya tinggal bersama  istrinya. Sayangnya Fav jarang sekali  membahas mereka sebab Istri pertama Fav  tampak menjaga jarak dengan pindah dari Oregon  ke ujung utara Fordshire, Inggris bersama putra mereka. Aku  hanya pernah ditunjukkan foto anaknya saat masih kecil, itupun  cuma sebentar. Tapi kuyakin dia pasti setampan ayahnya.      “ Jadi, bagaimana  sweety, kamu  bersedia  kan menjadi  pengiring pengantinku?” tanya  Mom penuh harap. Diakhir perbincangan.      “ Tentu saja, aku  bahkan tak sabar menunggu!” jawabku  sungguh-sungguh.      Mom  mendesah  sangat lega. “ Syukurlah, tadinya  kami sudah cemas jika kamu menolak. Kamu  boleh mengajak Lacie jika mau”       Aku  melirik  Lacie disampingku, yang  sejak tadi mendapat akses  penuh mendengarkan. Tersenyum  lebar, memberiku tatapan ala-anak-anjing-memohonnya.       Mendengus, aku pun  menjawab lagi. “ Tentu  saja. Gadis itu mana mungkin  mau melewatkan acara pesta begitu  saja”      Membuat  Lacie langsung  memelukku sebagai  tanda terima kasihnya.      “ Baiklah, kalau  begitu kutunggu hari Rabu dua pekan depan. Sangat  merindukanmu sweety...bye, have  a nice  day” tukas Mom.     Dan  tanpa  menungguku  untuk bicara lagi  beliau langsung mematikan  sambungannya. Seperti biasa.       Aku  menggerutu. Berdiri dari  atas sofa lalu berjalan  gontai menuju kamarku diikuti  Lacie dibelakangku. Bahkan kabar  gembira tentang pernikahan Ibuku tak  bisa langsung menghapus memori Green dari  dalam kepalaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD