Pagi itu aku dibangunkan oleh seberkas cahaya matahari menelusup masuk di antara celah-celah sempit gorden, mengenai wajah dan separuh kulit telanjangku. Aku tertidur dalam posisi miring ke samping kanan, dan sebuah tekanan berat terasa di atas tubuhku. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari apa yang baru saja terjadi ( atau lebih tepatnya telah terjadi ) semalam. Mungkin aku memang mabuk, tapi cukup sadar untuk bisa mengingat segalanya.
Memoriku memutar keseluruhan ingatan atas kejadian semalam. Peristiwa mabukku. Pertemuanku dengan pemuda asing bermata hijau. Seketika wajahku terasa panas ketika mengingat apa yang telah kulakukan bersamanya.
Kini pemuda asing yang mengaku bernama Green ( Atau entah siapa nama aslinya) tengah terbaring nyenyak disampingku. Memeluk tubuhku teramat erat. Aku nyaris mengalah pada aroma seksinya sesudah percintaan kami, dan tergoda untuk bergelung pada kehangatan tubuh indahnya. Namun alarm tanda bahaya segera menyala dalam diriku.
Menguatkan hati, aku bergerak amat perlahan hingga bisa melepaskan diri darinya. Sempat terduduk di atas kasur selama bermenit-menit lamanya, memandangi kulit coklat keemasan yang terpapar indah bagai perhiasan terlantar siap kucuri. Kugelengkan kepala kuat-kuat, aku mendekat pelan kemudian mengecup dahinya lama. Perasaan emosional aneh bergejolak dalam diriku saat ini, meski secara rasional tak masuk akal.
Bagaimana aku bisa mendapatkan ikatan batin dengan seseorang yang baru kukenal tak kurang dari 24 jam.
Cepat-cepat memakai pakaian dan sepatu, aku mem-buka kunci kamar dalam satu tarikan cepat, melesat keluar pintu.
Perasaan lega menerjangku setelah berada diluar kamar. Kulirik jam dinding yang tergantung di atas dinding, sekarang masih pukul 06.00 pagi.
Bagus. Batinku.
Kepalaku masih berdenging kencang, dan leherku terasa amat pegal. Meski lututku lemas namun kupaksakan diri semampuku untuk terus berjalan, melewati kesunyian sepanjang lorong lantai dua kamar asrama para atlet football Universitas.
Aku betul-betul bersyukur sebab suasana masih sangat sepi. Setibanya di lantai bawah, kulihat seluruh ruangan telah berubah menjadi tempat pembuangan sampah dengan bau bir serta rokok menyebar, banyak ceceran bir bertebaran dimana- mana. Beberapa boneka Donald bebek raksasa, maskot wajib tim olahraga Universitas Oregon menjadi gantungan pakaian dalam mendadak, serta masih banyak lagi hal menjijikkan lain yang tak mau kusebutkan.
Aku merasa kasihan pada junior yang harus membersihkannya nanti, mereka akan bekerja sangat keras untuk membereskan segala kekacauan ini.
Kemudian aku mendengar suara ‘klik’ pintu kamar dibuka dari lantai atas. Terdorong rasa panik berlebihan, aku berlari keluar dari rumah perkumpulan sambil berdoa dalam hati itu bukan Green yang sedang mencariku, meskipun kemungkinannya 0 banding 10.
Setibanya di parkiran aku bergegas mencari VW kuning milikku, yang semalam kuparkir dibawah pepohonan maple. Aku melesat masuk, mengeluarkan kunci kontak dari saku jeansku dan bergegas menstater kendaraanku. Dalam hitungan menit, aku telah meluncur meninggalkan rumah perkumpulan para atlet football tanpa menoleh untuk kedua kalinya.
***************
Lacie sudah berada di apartemen. Ketika membukakan pintu kamar untukku, tubuhnya masih memakai kimono hijau terusan selutut, rambut pirangnya berantakan dan wajahnya sekusut pakaian tak pernah di setrika. Dia sudah siap meledakkan gunung berapinya.
“ Demi Tuhan Carly!! Sebenarnya apa yang terjadi padamu semalam! Aku hanya keluar sesaat untuk mencarikanmu air kelapa atau sesuatu yang bisa menjernihkan otakmu kembali, tahu-tahu kamu sudah menghilang! Aku sangat panik tahu tidak, mobilmu masih ada dan kupikir kamu dibawa oleh satu anggota perkumpulan lalu diculik! Hampir saja aku menghubungi polisi pagi ini”
Lacie menceramahiku, mengikuti dibelakang yang melenggang masuk dan terduduk lemas diatas sofa beledu hitam. Aku menunggu hingga larvanya benar-benar menghilang, setelah itu dimulai dari permintaan maaf ( Yang harus bertubi-tubi) dan baru menceritakan kegilaanku semalam. Lacie mendengarkanku dengan mulut ternganga, dan aku tak menyembunyikan satu detail kecilpun darinya.
“ Dan kamu langsung pergi begitu saja....Pagi ini tanpa mengatakan apapun pada si seksi bermata hijau itu??” tanyanya terheran-heran.
Menghela nafas panjang, kusandarkan leherku pada punggung sofa, setengah menengadah separuh menerawang aku menjawabnya. “Aku terlalu takut pada reaksi yang akan kudapatkan sesudahnya. Bagaimana jika dia menjadikanku bahan ejekan, mentertawakanku bersama teman-temannya, lalu di kampus akan tersebar gosip tidak-tidak lagi tentangku. Aku tak bisa Lace, aku tak sanggup lagi mengalaminya!”
Semua keraguan serta ketidak percayaan diri itu menumpuk jadi satu membuat dadaku sesak. Aku memejamkan mata. Berusaha keras mengusir semua bayangan buruk serta kata-kata kejam yang pernah kudengarkan di masa lalu untukku dari semua orang. Mereka dengan kejamnya menilaiku tanpa melihat kebenaran terlebih dulu.
Lacie terlalu memahamiku hingga tahu apa yang ada pada isi hatiku sekarang. Kedua tangan Lacie menarik bahuku hingga aku duduk tegak, terpaksa menghadapinya. Sepasang iris turqoise lembut miliknya seakan membentakku.
“ Hentikan Carly. Tidak semua pria menjadi b******k seperti Brian! Aku bisa memahami traumamu akan hubungan, dan itu bukan hal yang mudah. Aku tahu dan kita telah mengalaminya bersama-sama, namun sampai kapan kamu akan melepaskan cengkramanmu dari bayangan buruk lalu melanjutkan hidup. Sadarlah, ini sudah dua tahun! Hidup terus berjalan. Pilihanmu hanya dua, berada dalam bayangan selamanya atau melangkah maju!”
Aku tertegun mendengar kebenaran dalam tiap ucapan Lacie meski begitu mengatakan jauh lebih gampang dari pada berbuat. Kedua retinaku memantulkan bayangan seorang gadis pirang cantik memandangku penuh tekad. Hatiku menyesap setiap petuahnya dalam-dalam.
“Trims sist’ aku tak tahu bagaimana diriku tanpamu”. Aku mencoba tersenyum.
Lacie tertawa, jemarinya mengacak rambut gelapku yang memang sudah berantakan. “ Itulah gunanya sahabat. Oke, jadi apa rencanamu selanjutnya dengan pemuda ini. Si mata hijau ini pasti hebat sekali semalam hingga bisa membuatmu seperti ini....” Godanya, mengerling nakal padaku.
Wajahku terasa panas mendengar ucapannya. Kupukul mukanya dengan bantal sofa yang dengan cekatan berhasil dia tangkap sebelum sempat mengenai wajahnya. Lacie terbahak keras.
“ Hentikan itu! Aku sudah sangat malu tahu, Ya Tuhan. Hanya DIA yang paling tahu apa yang bisa kulakukan jika bertemu Green lagi nanti” ujarku putus asa. Menutup kedua wajah dengan tanganku.
Lacie duduk disampingku sekarang, tangannya menepuk-nepuk punggungku lembut. “ Jadi kamu takkan melakukan apapun ya”
Ucapnya. Lebih seperti penegasan.
Aku mengangguk, masih dalam posisi wajah tertangkut tangan. “ Untuk kali ini biarkan campur tangan Tuhan yang bermain....” kataku lemah.
Aku terlalu hafal sahabatku untuk tahu jika dia masih ingin menyampaikan sesuatu. Untungnya, dering kecang lagu ‘ Tonight I’m Getting Over You’ nya Carly Rae Japsen
( Entah kenapa judul lagunya sangat mirip dengan kondisiku saat ini ) tanda adanya panggilan telpon dari ponselku, membantuku keluar dari obrolan ‘membingungkan bersama Lacie’ sehingga tak harus mendengarkan Lacie lagi.
Aku mengeluarkannya dari saku kiri jeansku, segera memencet tombol penerima setelah menyadari nomor Mom, tertera pada layarnya. Aku menerimanya dalam posisi duduk, di sampingku wajah Lacie tampak begitu penasaran.
Ibuku bukanlah orang yang suka berbasa-basi. Tanpa perlu menanyakan kondisiku dia langsung menyampaikan inti utama alasannya menelponku. Dengan suara seceria nyanyian burung gereja di pagi hari Mom menyampaikan kabar gembira perihal ren-cana pernikahan yang akan segera diselengarakkannya bersama Favreau ‘ Fav’ Fassbringer. Sahabat, partner kerja, sekaligus tunangan Mom selama dua tahun terakhir. Seketika berita dari Mom langsung menceriakan suasana hatiku.
Aku begitu gembira mendengarnya. Ibuku pantas berbahagia. Beliau adalah istri yang setia, menjadi janda karena ditinggal pergi oleh ayahku untuk selamanya akibat kanker darah yang telah dideritanya sejak masih remaja. Mom bekerja keras seorang diri. Semua usahanya tak sia-sia, ia berhasil menjadi seorang Jaksa hebat di Washington, Ibukota Portland wilayah negara bagian Oregon.
Fav awalnya rekan kerja Mom, pindahan dari Pusat Oregon, mereka menangani kasus penyuapan bersama-sama dan setelah itu segalanya berjalan seperti aliran air bagi keduanya. Setahun lalu mereka memutuskan untuk menjadi lebih serius dan bertunangan.
Fav bercerai dengan istri pertamanya karena masalah prinsip, kudengar putra tunggalnya tinggal bersama istrinya. Sayangnya Fav jarang sekali membahas mereka sebab Istri pertama Fav tampak menjaga jarak dengan pindah dari Oregon ke ujung utara Fordshire, Inggris bersama putra mereka. Aku hanya pernah ditunjukkan foto anaknya saat masih kecil, itupun cuma sebentar. Tapi kuyakin dia pasti setampan ayahnya.
“ Jadi, bagaimana sweety, kamu bersedia kan menjadi pengiring pengantinku?” tanya Mom penuh harap. Diakhir perbincangan.
“ Tentu saja, aku bahkan tak sabar menunggu!” jawabku sungguh-sungguh.
Mom mendesah sangat lega. “ Syukurlah, tadinya kami sudah cemas jika kamu menolak. Kamu boleh mengajak Lacie jika mau”
Aku melirik Lacie disampingku, yang sejak tadi mendapat akses penuh mendengarkan. Tersenyum lebar, memberiku tatapan ala-anak-anjing-memohonnya.
Mendengus, aku pun menjawab lagi. “ Tentu saja. Gadis itu mana mungkin mau melewatkan acara pesta begitu saja”
Membuat Lacie langsung memelukku sebagai tanda terima kasihnya.
“ Baiklah, kalau begitu kutunggu hari Rabu dua pekan depan. Sangat merindukanmu sweety...bye, have a nice day” tukas Mom.
Dan tanpa menungguku untuk bicara lagi beliau langsung mematikan sambungannya. Seperti biasa.
Aku menggerutu. Berdiri dari atas sofa lalu berjalan gontai menuju kamarku diikuti Lacie dibelakangku. Bahkan kabar gembira tentang pernikahan Ibuku tak bisa langsung menghapus memori Green dari dalam kepalaku.