BERTEMU KELUARGA (02)

963 Words
     Kuliah  berjalan  begitu baik  pada Senin paginya. Aku  mendesah lega karena tak  ada satupun gosip buruk tentangku  tersebar di Fakultas Psikologi. Kuhabiskan satu  minggu awal dengan begitu sibuk. Kuliah, mengerjakan  tugas, berkumpul bersama teman-temanku yang separuhnya anggota  tim football kampus. Beberapa kali aku berusaha mngangkat topik  mengenai Green, namun tak ada satupun dari mereka mengenali sosok  yang sudah kusebutkan.       Bagus, ini  lebih menyedihkan  lagi. Aku telah bersetubuh  secara acak kepada seseorang  yang bahkan bukan mahasiswa kampus. Menurut  analisa Lacie, kemungkinan besar Green kenalan  salah satu anggota tim yang berbeda fakultas dari  kami, sebab undangan untuk tamu acara pesta perkumpulan  atlet football terkenal selalu eksklusif. Aku pun teringat  pada dua bodyguard sewaan berbadan kekar di depan pintu masuk, mereka  bertugas memastikan undangan yang hadir bukanlah ‘ilegal’       Di akhir  pekan, aku sudah  berhenti bertanya-tanya  pada semua orang sebab mereka  mulai curiga. Pada hari Senin berikutnya, pemuda  misterius bermata hijau itu seakan sudah benar-benar  mulai pergi dari ingatanku. Aku dan Lacie terlalu sibuk  mengerjakan semua tugas hingga akhir pekan karena kami berdua  telah mempersiapkan surat ijin untuk tidak masuk sampai hari Jumat.      Selasa  sore, aku  dan Lacie berhasil  menumpuk semua makalah  serta tugas-tugas individu  kepada para Dosen bersangkutan, menyerahkan  surat pada pihak administrasi kemudian bergegas  pulang ke apartemen untuk berkemas. Setelah itu memesan masakan  Korea siap antar dan menghabiskan malam dengan menonton rekaman  tiga episode terakhir Gossip Girls season enam. Membuatku dan Lacie berdebat  tentang kisah siapa lebih romantis. Blair & Chuck vs Serena & Dan. Seperti biasa, aku berhasil memenangkannya. Otomatis, besok  Lacie harus menyentir sepanjang perjalanan pulang ke kampung halaman kami. **************      Kami  tiba di  bandara udara  Hillsboro,Washington  tepat siang  hari. Bibi Jean  Ann, Kakak Ibuku yang  menjemput kami. Beliau satu-satunya  keluarga Mom yang tersisa setelah sebuah  kecelakaan mobil maut merenggut nyawa Nenek, Kakek, serta  kedua Kakak laki-laki tertua Mom. Saat kejadian itu terjadi, Mom  dan Bibi Jeann Ann masih muda. Sejak itu keduanya hidup saling bergotong royong. Hanya ada mereka menghadapi dunia.  Mengandalkan kecerdasan otak dan keberuntungan, Mom dan Bibi Jeann Ann berhasil masuk deretan nama sekolah ternama  serta Universitas Ivy  League dengan  beasiswa penuh.       Selulus  dari Yale, Bibi  Jeann Ann langsung  bekerja di Rumah Sakit  sebagai Dokter Umum, sementara  Mom melanjutkan sekolah Jaksanya secara  gratis, dibiayai penuh oleh negara. Disanalah  Ibuku bertemu Ayahku yang merupakan seniornya  berbeda dua angkatan.      Bibi  Jean Ann  hanya terpaut dua  tahun dari Mom. Secantik  serta selangsing Mom dengan  tulang pipi tinggi, tubuh menjulang  bak model, serta rambut gelap lurus sebahu. Benar-benar  penggambaran sempurna foto model senior daripada seorang Dokter. Kami  berbincang singkat didalam CRV merah berlian miliknya, aku menjelaskan  pada Bibiku jika Lacie akan menginap ditempat kami mengingat kedua orang  tuanya sudah tiga tahun ini ditugaskan ke Clackamas, jadi  rumahnya  pasti kosong.       “ Apa  kita akan  ke rumah baru  Mom?” tanyaku.      Mengingat  pertama kali  ke sana empat  bulan lalu saat  liburan musim panas. Sebuah  bangunan bergaya modern minimalis  jenis desaign tropis dengan lebar 2000 meter², pemberian  Fav sebagai kado pertunangan mereka. Jaraknya dari rumah masa  kecil Mom yang sekarang di tempati Bibiku, hanya berbeda satu blok.       Bibi  Jean Ann  mengangguk. “Mereka  begitu repot saat ini. Ibumu  jengkel pada kelakuan ibu mertuanya  yang ngotot memaksanya memakai gaun pengantin  rancangan Vera Wang. Tapi Jenny bersikeras akan  membatalkan pernikahan ini jika dia tak berdiri di altar  memakai gaun warisan Ibu kami” jawab Bibiku. Kami bertiga tergelak.      “ Apakah  itu gaun yang  sama dipakainya, saat  dia menikahi ayah Carly? “ tanya  Lacie dari jok penumpang tengah.      “ Ya. Dan  seperti biasa, Jenny  selalu memenangkan setiap  pertempuran “ tukas Bibi Jean  Ann memandangku dan Lacie bergantian  dari kaca spion. Kami terbahak-bahak.      Kami memasuki  kawasan perumahan  baru Cotton  Hills, rumah  Mom terletak  tepat di pertigaan  jalan masuk. Pintu pagar  Mom terbuka lebar, sudah ada  beberapa kendaraan terparkir di dalamnya, salah  satu kukenali sebagai sedan ford perak keluaran  2007 milik Fav. Bibi Jean Ann memarkir mobilnya tepat  disamping milik Fav. Kami keluar bersama-sama ketika pintu rumah  mendadak terbuka dari dalam.      Seorang  wanita pertengahan  empat puluh tahun yang  merupakan copycat  dari  Bibi Jean  Ann dalam versi  lebih pendek, serta  memiliki sepasang mata  coklat besar yang tidak  dimiliki Bibiku berlari menghampiriku. Jennifer  Benedicth Carter selalu tampak mempesona seperti biasa.      “ Mom” tukasku.     . Menjatuhkan  ransel coklatku  keatas tanah. Kurentangkan kedua  tanganku saat dia memberiku pelukan.      “ Aku  sangat merindukanmu  sweety”  ujar  Mom melepaskan  pelukannya. Wajahnya  bersinar seperti matahari  pagi yang cerah.        “ Selamat  atas pernikahannya  Mrs. Carter” suara Lacie  mengalihkan pandangannya dariku. Ibuku  tanpa ragu juga memeluk sahabatku yang  memang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.       “ Terima kasih  juga karena sudah  mau datang. Ayo masuk” Mom  menatapku lagi, kali ini menggandengku, membawa  kami bertiga masuk kedalam rumah.       Desain  interiornya  benar-benar menggambarkan  karakter Ibuku. Simpel, elegan, dengan  segala sesuatu  serba abu-abu tua, olive  green, serta  sedikit unsur  coklat muda lembut. Furniturenya  juga tidak seperti kebanyakan rumah, milik  Mom lebih sedikit karena ibuku memiliki cara  berpikir ‘ memiliki  yang hanya  untuk dipakai’.      “ Ini  indah...” puji  Lacie sungguh-sungguh. Ini  pertama kalinya dia kemari.      “ Terima kasih. Aku  mendesainnya ulang, juga  mendapat banyak masukan dari  Kakakku” melirik Bibi Jean Ann  penuh kebanggaan.      Terdengar  bunyi langkah  dari tangga keramik  putih memutar disamping  ruang tamu. Aku melongok, dan  melihat sosok Fav berjalan ke arah  kami sambil tersenyum lebar. “ Ah, akhirnya  tuan Putri datang juga....”       Aku  memberengut  padanya, tahu  paling tak suka  dipanggil demikian. Namun  detik berikutnya, tatapan mataku  terjatuh pada sosok tinggi dibelakangnya  yang mengikuti Fav. Awalnya aku tak bisa  melihat dengan jelas karena siapapun itu pasti  laki-laki dan tengah asyik berbicara dengan seseorang  melaui ponselnya. Dia sendiri tak menyadari kehadiranku. Hingga  mereka berdua mencapai ujung tangga, dan laki-laki itu berdiri di  samping Fav.      Isi  perutku  seakan ditarik  paksa keluar dari  tempatnya. Jantungku berdentum  terlalu cepat hingga rasanya bisa  meledak saat ini juga. Ketika si pemuda  juga menyadari keberadaanku, dia memberikan  ekspresi tak kalah terkejut dariku.      Fav  menatapku  dengan polos  seakan tak menyadari  makna dibalik ketakutan  raut wajahku. “ Ah ya. Carly, perkenalkan. Dia  Green Fassbringer, yang akan menjadi pasa-nganmu  sebagai pendamping mempelai besok. Dia adalah putra  tunggalku.....”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD