Kuliah berjalan begitu baik pada Senin paginya. Aku mendesah lega karena tak ada satupun gosip buruk tentangku tersebar di Fakultas Psikologi. Kuhabiskan satu minggu awal dengan begitu sibuk. Kuliah, mengerjakan tugas, berkumpul bersama teman-temanku yang separuhnya anggota tim football kampus. Beberapa kali aku berusaha mngangkat topik mengenai Green, namun tak ada satupun dari mereka mengenali sosok yang sudah kusebutkan.
Bagus, ini lebih menyedihkan lagi. Aku telah bersetubuh secara acak kepada seseorang yang bahkan bukan mahasiswa kampus. Menurut analisa Lacie, kemungkinan besar Green kenalan salah satu anggota tim yang berbeda fakultas dari kami, sebab undangan untuk tamu acara pesta perkumpulan atlet football terkenal selalu eksklusif. Aku pun teringat pada dua bodyguard sewaan berbadan kekar di depan pintu masuk, mereka bertugas memastikan undangan yang hadir bukanlah ‘ilegal’
Di akhir pekan, aku sudah berhenti bertanya-tanya pada semua orang sebab mereka mulai curiga. Pada hari Senin berikutnya, pemuda misterius bermata hijau itu seakan sudah benar-benar mulai pergi dari ingatanku. Aku dan Lacie terlalu sibuk mengerjakan semua tugas hingga akhir pekan karena kami berdua telah mempersiapkan surat ijin untuk tidak masuk sampai hari Jumat.
Selasa sore, aku dan Lacie berhasil menumpuk semua makalah serta tugas-tugas individu kepada para Dosen bersangkutan, menyerahkan surat pada pihak administrasi kemudian bergegas pulang ke apartemen untuk berkemas. Setelah itu memesan masakan Korea siap antar dan menghabiskan malam dengan menonton rekaman tiga episode terakhir Gossip Girls season enam. Membuatku dan Lacie berdebat tentang kisah siapa lebih romantis. Blair & Chuck vs Serena & Dan. Seperti biasa, aku berhasil memenangkannya. Otomatis, besok Lacie harus menyentir sepanjang perjalanan pulang ke kampung halaman kami.
**************
Kami tiba di bandara udara Hillsboro,Washington tepat siang hari. Bibi Jean Ann, Kakak Ibuku yang menjemput kami. Beliau satu-satunya keluarga Mom yang tersisa setelah sebuah kecelakaan mobil maut merenggut nyawa Nenek, Kakek, serta kedua Kakak laki-laki tertua Mom. Saat kejadian itu terjadi, Mom dan Bibi Jeann Ann masih muda. Sejak itu keduanya hidup saling bergotong royong. Hanya ada mereka menghadapi dunia. Mengandalkan kecerdasan otak dan keberuntungan, Mom dan Bibi Jeann Ann berhasil masuk deretan nama sekolah ternama serta Universitas Ivy League dengan beasiswa penuh.
Selulus dari Yale, Bibi Jeann Ann langsung bekerja di Rumah Sakit sebagai Dokter Umum, sementara Mom melanjutkan sekolah Jaksanya secara gratis, dibiayai penuh oleh negara. Disanalah Ibuku bertemu Ayahku yang merupakan seniornya berbeda dua angkatan.
Bibi Jean Ann hanya terpaut dua tahun dari Mom. Secantik serta selangsing Mom dengan tulang pipi tinggi, tubuh menjulang bak model, serta rambut gelap lurus sebahu. Benar-benar penggambaran sempurna foto model senior daripada seorang Dokter. Kami berbincang singkat didalam CRV merah berlian miliknya, aku menjelaskan pada Bibiku jika Lacie akan menginap ditempat kami mengingat kedua orang tuanya sudah tiga tahun ini ditugaskan ke Clackamas, jadi rumahnya pasti kosong.
“ Apa kita akan ke rumah baru Mom?” tanyaku.
Mengingat pertama kali ke sana empat bulan lalu saat liburan musim panas. Sebuah bangunan bergaya modern minimalis jenis desaign tropis dengan lebar 2000 meter², pemberian Fav sebagai kado pertunangan mereka. Jaraknya dari rumah masa kecil Mom yang sekarang di tempati Bibiku, hanya berbeda satu blok.
Bibi Jean Ann mengangguk. “Mereka begitu repot saat ini. Ibumu jengkel pada kelakuan ibu mertuanya yang ngotot memaksanya memakai gaun pengantin rancangan Vera Wang. Tapi Jenny bersikeras akan membatalkan pernikahan ini jika dia tak berdiri di altar memakai gaun warisan Ibu kami” jawab Bibiku. Kami bertiga tergelak.
“ Apakah itu gaun yang sama dipakainya, saat dia menikahi ayah Carly? “ tanya Lacie dari jok penumpang tengah.
“ Ya. Dan seperti biasa, Jenny selalu memenangkan setiap pertempuran “ tukas Bibi Jean Ann memandangku dan Lacie bergantian dari kaca spion. Kami terbahak-bahak.
Kami memasuki kawasan perumahan baru Cotton Hills, rumah Mom terletak tepat di pertigaan jalan masuk. Pintu pagar Mom terbuka lebar, sudah ada beberapa kendaraan terparkir di dalamnya, salah satu kukenali sebagai sedan ford perak keluaran 2007 milik Fav. Bibi Jean Ann memarkir mobilnya tepat disamping milik Fav. Kami keluar bersama-sama ketika pintu rumah mendadak terbuka dari dalam.
Seorang wanita pertengahan empat puluh tahun yang merupakan copycat dari Bibi Jean Ann dalam versi lebih pendek, serta memiliki sepasang mata coklat besar yang tidak dimiliki Bibiku berlari menghampiriku. Jennifer Benedicth Carter selalu tampak mempesona seperti biasa.
“ Mom” tukasku.
. Menjatuhkan ransel coklatku keatas tanah. Kurentangkan kedua tanganku saat dia memberiku pelukan.
“ Aku sangat merindukanmu sweety” ujar Mom melepaskan pelukannya. Wajahnya bersinar seperti matahari pagi yang cerah.
“ Selamat atas pernikahannya Mrs. Carter” suara Lacie mengalihkan pandangannya dariku. Ibuku tanpa ragu juga memeluk sahabatku yang memang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
“ Terima kasih juga karena sudah mau datang. Ayo masuk” Mom menatapku lagi, kali ini menggandengku, membawa kami bertiga masuk kedalam rumah.
Desain interiornya benar-benar menggambarkan karakter Ibuku. Simpel, elegan, dengan segala sesuatu serba abu-abu tua, olive green, serta sedikit unsur coklat muda lembut. Furniturenya juga tidak seperti kebanyakan rumah, milik Mom lebih sedikit karena ibuku memiliki cara berpikir ‘ memiliki yang hanya untuk dipakai’.
“ Ini indah...” puji Lacie sungguh-sungguh. Ini pertama kalinya dia kemari.
“ Terima kasih. Aku mendesainnya ulang, juga mendapat banyak masukan dari Kakakku” melirik Bibi Jean Ann penuh kebanggaan.
Terdengar bunyi langkah dari tangga keramik putih memutar disamping ruang tamu. Aku melongok, dan melihat sosok Fav berjalan ke arah kami sambil tersenyum lebar. “ Ah, akhirnya tuan Putri datang juga....”
Aku memberengut padanya, tahu paling tak suka dipanggil demikian. Namun detik berikutnya, tatapan mataku terjatuh pada sosok tinggi dibelakangnya yang mengikuti Fav. Awalnya aku tak bisa melihat dengan jelas karena siapapun itu pasti laki-laki dan tengah asyik berbicara dengan seseorang melaui ponselnya. Dia sendiri tak menyadari kehadiranku. Hingga mereka berdua mencapai ujung tangga, dan laki-laki itu berdiri di samping Fav.
Isi perutku seakan ditarik paksa keluar dari tempatnya. Jantungku berdentum terlalu cepat hingga rasanya bisa meledak saat ini juga. Ketika si pemuda juga menyadari keberadaanku, dia memberikan ekspresi tak kalah terkejut dariku.
Fav menatapku dengan polos seakan tak menyadari makna dibalik ketakutan raut wajahku. “ Ah ya. Carly, perkenalkan. Dia Green Fassbringer, yang akan menjadi pasa-nganmu sebagai pendamping mempelai besok. Dia adalah putra tunggalku.....”