8-Mereka

2181 Words
Tatapanku tertuju ke lelaki yang tersenyum tipis itu. Jantungku berpacu cepat, tubuhku panas menahan amarah. Tatapanku lalu tertuju ke Zahya yang menatapku penuh selidik. Kemudian aku mendekat. “Zahya kamu ke kamar, ya. Sudah malam.” “Kak, ada apa?” Aku diam dan hanya mendorong kursi rodanya. Sesampainya di kamar Zahya aku membantunya pindah ke ranjang. Aku menarik selimut hingga sampai ke d**a Zahya. Kemudian duduk di pinggir ranjang dengan satu tangan mengusap puncak kepalanya. “Lain kali kalau ada orang yang nggak dikenal jangan dibukain pintu, ya.” Zahya mengernyit, terlihat penasaran dengan ucapanku. “Istirahat.” Setelah itu aku berjalan kembali ke ruang tamu. Aku mendapati lelaki itu masuk duduk di sofa. Aku mengalihkan pandang saat lelaki itu membalas tatapanku. Aku berjalan keluar lalu duduk di bangku kayu di depan rumah. Dap... Dap.... Sedetik kemudian, aku mendengar derap langkah mendekat. Aku menarik napas panjang dan aku embuskan perlahan. “Ngapain lo ke sini?” tanyaku tanpa menatapnya. Ada tangan besar yang mengenggam tanganku, dengan cepat aku menyentak. Aku bergeser ke sudut bangku, tidak ingin duduk terlalu dekat dengan lelaki yang pernah menorehkan bahagia dan luka di hatiku. “Gimana kabar lo?” “Baik,” jawabku sekenanya. “Huh....” Helaan napas panjang terdengar. Perlahan aku menoleh. Lelaki itu tengah mengusap wajah dengan kedua tangan. “Scar. Gue ke sini pengen mulai lagi.” Aku memutar tubuh hingga menatapnya. Aku memperhatikan lelaki yang wajahnya hampir sama dengan masa putih abu-abu dulu. Wajahnya tetap muda, hanya kumis tipis yang sedikit membuatnya terlihat lebih dewasa. “Memulai? Apanya yang dimulai? Bahkan kita belum memulai apapun, Darna!” Lelaki itu tersenyum kecut. Mataku mulai berkaca-kaca karena pergulatan emosi yang kurasakan. “Scar, maaf. Dulu gue nggak bisa mertahanin lo.” Kedua tangannya menarik tanganku dan mengenggamnya erat. Aku memalingkan wajah, tidak ingin dia tahu jika sekarang aku tengah menangis. “Gue di posisi sulit, Scar. Antara milih lo atau ibu gue.” Aku menoleh ke Darna, tampak jelas raut penyesalan. Menyesali karena dulu tidak bisa memertahankanku, bahkan sebelum kami memulai. Masih tergambar jelas saat penerimaan raport Darna mengenalkanku ke ibunya, tapi ibunya menjelekkanku dan tidak setuju jika Darna dekat denganku. Awal tahun ajaran baru, Darna menghindariku. Aku berusaha mendekat dan memulai percakapan, tapi dia memintaku menjauh dan pura-pura tak kenal. Saat itu aku masih berusaha memperbaiki hubunganku dengannya, tapi yang kudapat dia tidak mengizinkanku untuk berteman lagi dengannya. Dia mengikuti ucapan Ibunya, untuk menjauh dariku. Sejak saat itu aku mulai membunuh perasaanku untuk Darna. “Scar. Bisa kita memulai lagi?” Pikiran tentang kejadian masa lalu seketika terputus mendengar pertanyaan itu. Aku menatapnya tak yakin. Aku tidak ingin membuat Darna membantah ucapan ibunya. Aku juga tidak ingin merasakan sakit hati lagi. “Nggak bisa, Dar. Semua sudah berakhir sebelum kita memulai.” Aku beranjak dari posisi dudukku dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Air mataku kembali lolos. Buru-buru aku menghapus sebelum semakin turun deras. “Gue cinta sama lo, Scar!” Tubuhku menegang merasakan Darna memelukku dari belakang. Mataku terpejam, berusaha agar aku tidak berbalik dan memeluknya balik. Ini semua sudah berakhir. Jika Darna mencintaiku kenapa baru sekarang dia kembali? Di saat hatiku mulai tertata. “Stop, Darna! Gue minta lo pergi dari rumah gue!” Aku menyentak pelukan Darna dan menjauh dari. Darna terlihat karena teriakanku, tapi aku tidak peduli. Aku lalu berjalan masuk, menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Tubuhku bersandar di daun pintu. Air mata yang sempat aku tahan kini aku biarkan turun. Kenapa dia kembali, Tuhan? Aku terisak hingga dadaku sesak. Brum.... Perlahan aku mengintip ke jendela, mobil Darna perlahan keluar dari halaman. Aku menghapus air mata yang telah membasahi pipi bahkan dagu. Kedatangannya sungguh tidak bisa ditebak. Dia selalu seperti itu, begitu saja datang ke hidupku membuatku terbang ke awan, tak lama dihempas ke jurang dan dia begitu saja meninggalkanku dalam sebuah pengharapan palsu. Aku memang tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Darna. Benar apa yang Darna katakan, dia memang berada di posisi sulit, tapi yang membuatku kecewa adalah karena dia sama sekali tak mencoba berjuang mempertahankan. *** Aku menatap pantulan dari kaca, wig sebahu dan kacamata tebal. Aku membenarkan letak wig itu agar terlihat seperti rambut asli. Lalu aku benarkan letak kacamataku. “Lo lebih cantik tanpa wig dan kacamata itu.” Aku menatap Kak Nala—teman Kak Linsi—dari cermin. Dia berdiri beberapa langkah di belakangku. Barulah aku berbalik. “Makasih, Kak. Tapi gue harus kayak gini, biar nggak ada yang godain.” Kak Nala berjalan mendekat. Dia membenarkan letak kacamataku agak ke atas. “Iya Scar, bahaya kalau lelaki lain godain lo.” “Iya, Kak!”. “Udah yuk keluar. Udah buka.” “Huh....” Aku menarik napas panjang, sebelum keluar dari ruang ganti. Malam ini hari pertamaku bekerja. Dua hari yang lalu aku melamar dan tadi siang mendapat panggilan kerja. Suara dentuman musik menyambutku saat aku melangkah dari pintu khusus pegawai. Mendengar suara musik yang memekakan telinga mendadak membuatku pusing. Ini kali pertama aku ke kelab, ternyata rasanya seperti ini. Aku bingung kenapa orang-orang bisa betah. Kalau aku mending di rumah, dengan suasana tenang. Aku berjalan mendekati meja bartender. Aku memutuskan berdiri di sudut meja. Sedangkan kak Nala, entahlah. Sepertinya mendekati meja pengunjung. “Ck!” geramku sambil memijat pelipis dengan kedua tangan. Kepalaku semakin pusing, seiring musik yang semakin keras. “Meja nomor empat.” Tatapanku tertuju ke Zac bartender yang menyerahkan nampan berisi gelas dan dua botol minuman. Aku merapikan wig yang tidak nyaman, lalu mendekat ke Zac. “Oke,” jawabku sambil menerima nampan. Tatapan mulai menjelajah area meja yang berjajar. Hingga akhirnya aku melihat meja yang kucari. Aku berjalan ke arah meja nomor empat yang berada di pojok ruangan. Dari kejauhan terlihat tiga lelaki duduk. Semakin dekat dengan meja tujuan, mulai terlihat jelas siapa yang duduk di sana. Tubuhku tersentak melihat teman Avram yang duduk di meja empat. Kemudian aku menatap satu persatu lelaki yang duduk di sana, aku mendesah lega menyadari tidak ada Avram. Perlahan aku mendekati mereka dengan sedikit menunduk. Aku tidak ingin mereka menyadari keberadaanku. Sebenarnya mereka tidak begitu tahu tentangku, yah, aku kan bukan anak hits. Tapi berjaga-jaga tetap boleh, kan? Setelah mengantar gelas, aku buru-buru pergi. Aku lega saat mereka tidak ada yang mengenaliku. “Huh.” Aku menghela napas lega saat kembali ke meja bartender. Tatapanku tertuju ke jam yang menggantung yang telah menunjukkan pukul dua dini hari. Aku memijit belakang leherku. Masih kurang satu jam lagi waktuku untuk pulang. “Meja empat.” Aku berbalik dan mengernyit, mendengar Zac menyebut meja nomor empat. “Baru aja gue nganter meja empat.” “Mereka pesen lagi. Udah anter aja.” Sebenarnya aku bingung, kapan mereka pesan? Entahlah, mungkin aku tak tahu. Aku mengangguk lalu menarik nampan di depanku. Dari sekian banyak meja mengapa aku harus mengantarkan minuman ke meja nomor empat sampai dua kali? Aku berjalan dengan tangan sedikit gemetar. Saat tinggal beberapa langkah dari meja empat aku berhenti berjalan. Aku melihat meja nomor empat dengan delapan kursi yang ditempati lelaki. Berbeda saat aku mengantarkan minum yang pertama. Tatapanku lalu tertuju ke lelaki yang menegak minuman langsung dari botolnya. Avram. Aku melihat botol yang di pegang Avram ditarik menjauh. Terlihat wajahnya tampak marah karena hal itu. Tatapanku tertuju ke lelaki yang duduk di sebelah Avram. Tubuhku menegang. Bagaimana bisa mereka saling mengenal? “Itu pesanan untuk kami?” Tubuhku tersentak mendengar teriakan dari meja empat. Aku tersadar dengan apa yang aku lakukan barusan. Aku kembali melanjutkan langkah dengan tangan bergetar. Saat sampai di meja empat buru-buru aku meletakkan botol dan gelas yang aku bawa. Diam-diam aku melirik Avram yang tampak kacau. Wajahnya tampak lelah. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? “Kenapa lo ngeliatin dia kayak gitu?” Aku tersadar dengan apa yang aku lakukan. Tatapanku lantas teralih ke Darna yang menatapku tajam. Darna tampak berpikir. Aku yang takut Darna menyadariku buru-buru berbalik dan menjauh. Sesampainya di meja bar, aku menyentuh jantungku yang berdetak kencang. Aku menoleh ke meja nomor empat, masih penasaran mengapa Darna dan Avram bisa saling mengenal. Tiba-tiba hatiku merasa tidak enak, entahlah aku merasa ada hal buruk yang nanti pasti akan terjadi. *** Guncangan di tubuhku membuat tidurku terganggu, tapi aku enggan membuka mata. Aku tadi sampai rumah jam lima pagi, setelah itu membantu Zahya mandi dan bersih-bersih rumah. Pukul enam aku baru bisa tidur, dan sekarang ada yang mengguncangkan tubuhku. Oh aku lelah sekali. “Kak. Ada lelaki yang kemarin.” Samar-samar aku mendengar suara Zahya. Perlahan aku membuka mata dan menemukan Zahya di sebelah ranjang. Kepalaku terasa berat karena kantukku, aku kembali memejamkan mata. “Kak. Lelaki itu dari tadi ketok pintu terus!” Mendengar Zahya menyebut lelaki seketika mataku terbuka. Aku menatap Zahya yang ketakutan. “Siapa? Darna?” Zahya mengangguk. “Iya, Kak. Dia dari pagi di depan. Duduk di bangku, tapi sejak dua puluh menit yang lalu dia ketok pintu.” Aku memijit pelipis. Apa, sih, mau lelaki itu pagi-pagi sudah di rumah? Aku tersentak. Takut Darna semalam menyadari kalau pelayan itu adalah aku. Tapi masa iya? “Huh....” Aku menarik napas panjang. Aku tak boleh ketakutan, nanti malah curiga. Perlahan aku beranjak turun dari ranjang. Aku menyisir rambut sebentar lalu keluar untuk menemui Darna. Tok. Tok. Tok Benar apa yang dikatakan Zahya, lelaki itu mengetuk pintu. Aku berjalan ke pintu dan membukanya. “Ada apa?” tanyaku ketus. “Gue bawa ini buat lo sarapan.” “Makasih! Tapi nggak perlu!” Saat hendak menutup pintu, tangan Darna menahan. Aku menatap Darna kesal. Tidak tahukah aku sedang mengantuk? “Apalagi sih, Dar!” Darna yang melirik ke belakangku. Aku menoleh dan menemukan Zahya yang sedang menatapku dan Darna. “Terima makanan ini, Scar. Adik lo keliatan suka sama apa yang gue bawa.” Tatapanku masih tertuju ke Zahya. Matanya memang berbinar. Apa dia lapar? Aku menarik napas pelan, bagaimana bisa aku melupakan Zahya hanya karena aku mengantuk. Sudah pasti dia kelaparan. “Gue bisa beli sarapan sendiri,” kataku ke Darna dan hendak menutup pintu kembali. “Scar, please. Kalau lo nggak mau nerima ini, bisa kasih ke adik lo. Adik lo keliatannya kelaperan, Scar. Lo tega ngeliat dia kayak gitu?” Aku berpikir sejenak. Mungkin menerima pemberian Darna bisa membuatnya segera pergi. Aku perlahan mengangguk. Darna mengulurkan kotak makanan itu dan aku menerimanya. “Udah gue terima, kan? Sekarang lo pergi. Gue masih banyak urusan!” Tangan kananku hendak mendorong pintu, tapi dengan cepat Darna menarik dan mengenggamnya. Aku menatap lelaki itu marah, tapi itu tidak memberikan pengaruh apapun. Lelaki itu malah tersenyum manis. “Kapan kita bisa bicara berdua?” Aku mengalihkan pandang. Darna kembali mengingatkan hal itu, membuat dadaku kembali sesak. “Udah nggak ada yang perlu dibicarain, Dar.” “Please, Scarla. Kasih gue kesempatan.” Lelaki ini kenapa baru sekarang gencar memperjuangkan seperti ini? Perlahan aku tatap matanya. Sudut bibirku tertarik ke atas, membuat senyum Darna lebih lebar. Aku menarik tanganku dari genggaman tangannya. “Kapan-kapan! Sekarang lo pergi!” Setelah mengucapkan itu kutup pintu dan menguncinya. Aku berbalik, tubuhku tersentak melihat Zahya masih di posisinya. “Dia pacar Kakak?” Aku berjalan mendekati Zahya lalu mendorong kursi rodanya. “Bukan.” “Mantan?” “Bahkan kami belum memulai apapun, Zahya.” Adikku menatapku sedih. Aku mengacak rambutnya gemas. “Jangan terlalu dipikirin itu masa lalu.” *** Pukul tiga dini hari, kelab tutup. Para pegawai tampak bersih-bersih sebelum meninggalkan tempat. Seperti diriku, aku sedang menyapu lantai luar yang penuh terdapat beberapa abu rokok. Malam ini, Avram tidak terlihat. Justru Darna yang terlihat bersama teman-temannya. Aku penasaran, apa yang terjadi dengan Avram. Aku ingat kejadian saat Avram meninggalkanku begitu saja di apartemennya. Saat itu dia terlihat begitu panik. Tak lama setelah kejadian itu ada gosip jika Avram dan Relin bertunangan. Harusnya saat ini Avram sedang bahagia, tapi kemarin malam dia tidak terlihat bahagia. Malah terlihat frustrasi. Ah mungkin Avram sedang bertengkar dengan Relin. “Scar!” Duk! Sapu yang aku pegang terjatuh ke lantai. Aku kaget karena ada yang berteriak dan memukul lenganku. Aku menoleh untuk mencari tahu siapa pelakunya. “Kak Nala,” kataku saat mendapati Kak Nala berdiri di depanku. “Sini, biar gue yang kerjain. Lo balik aja.” Aku menatap Kak Nala tak enak yang dibalas dengan senyum manis. Kak Nala satu-satunya orang yang tahu latar belakang hidupku, tentu saja dia tahu dariku dan sedikit cerita dari Kak Linsi. “Ya sudah Kak, gue balik dulu, ya.” “Ya. Hati-hati. Salam buat adek lo.” Aku mengangguk. Setelah itu aku berjalan ke ruang ganti. Aku melepas kacamata dan wigku dan memasukkannya ke tas. Lalu aku melepas gulungan rambutku, menyisir rambutku yang kusut dan aku biarkan tergerai. Setelah itu aku berganti pakaian. Aku tidak ingin pulang dengan rok mini ini, terlalu bahaya. Lima belas menit kemudian aku keluar. Aku berjalan ke arah pertigaan untuk mencari angkutan umum. Pagi hari angkutan umum mulai beroperasi, yah, meski aku harus berdesakan dengan pedagang pasar yang hendak berangkat, tapi itu tak masalah buatku. Yang terpenting aku bisa segera sampai rumah. “Jadi dugaan gue bener, kalau cewek berkacamata dan berambut pendek itu emang lo, Scarla.” Kemudian, kalimat itu mengejutkanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD