TANPA KABARNYA
Bugh!
Aku terpekik melihat Zahya terjatuh. Aku bergerak hendak mendekati, tapi sebuah tangan menahanku. Aku menatap dokter Intan yang menggeleng.
“Biar dia usaha bangkit.”
Tatapanku tertuju ke Zahya yang duduk di atas matras. Bahunya bergetar. Sejujurnya hatiku sakit melihatnya. Kakiku gatal ingin berlari menghampiri dan merengkuhnya.
“Ayo saya bantu pelan-pelan!” Dokter Intan mengulurkan satu tangannya ke Zahya.
Zahya menerima uluran itu dengan satu tangannya, sedangkan tangan lainnya menggapai besi pinggiran tempat terapi.
“Zahya!” Aku memekik melihatnya yang hampir berdiri, tapi kembali limbung. Beruntung kali ini Dokter Intan menyangga tubuhnya. Aku perlahan mendekat dan melihat Zahya menangis dalam diam.
“Kamu pasti bisa, Za,” ucapku menyemangati.
Zahya menoleh dan mengangguk. Satu tangannya menghapus air mata lalu menoleh ke dokter Intan. Aku melihat ada sebuah tekat besar yang terpancar dari matanya.
“Dok, saya tunggu di luar saja, ya. Saya nggak tega ngeliatnya,” ucapku ke Dokter Intan.
“Iya silakan.”
Aku menatap Zahya sekali lagi. Dia menatapku lantas mengangguk. Aku lega, Zahya sudah bisa aku tinggal sendiri. Setelah itu aku keluar dari ruang.
Siang ini aku membawa Zahya ke rumah sakit untuk terapi. Jadwal Zahya seharusnya seminggu sekali, tapi karena aku yang tidak memiliki uang cukup hanya mampu membawa Zahya dua minggu sekali.
Awal terapi Zahya tidak mau kutinggal sedikitpun, tapi kali ini dia bisa ditinggal. Sepertinya dia mulai nyaman dengan Dokter Intan. Awalnya Dokter Intan terlihat kaku dan sering berteriak ketika Zahya bilang tidak bisa. Aku yakin Dokter Intan tidak ada niat membentak. Ia hanya ingin Zahya tidak gampang menyerah.
“Loh, kok lo keluar?”
Pertanyaan Gita membuatku menoleh. Gadis itu berdiri di depanku dengan gelas plastik berwarna cokelat di tangan.
Aku berjalan ke kursi di sebelah ruang Dokter Intan. “Gue nggak tega sebenernya Git, tapi ini yang harus gue lakuin. Gue pengen Zahya bisa jalan lagi.”
Ada sebuah genggaman di tangan kananku. Aku menatap tangan Gita yang melingkupi tanganku. Tatapanku lalu tertuju ke Gita dan melihat senyum tulus darinya.
“Ini semua demi kebaikan Zahya juga, kan? Kalau lo nggak tega tunggu di luar aja. Dari pada ganggu.”
Aku mengangguk Aku juga sempat berpikiran seperti itu. “Oh, ya, lo ada kuliah jam berapa? Kalau nggak keburu balik duluan nggak apa-apa.”
“Tenang aja. Gue bolos.”
“Bolos terus, Git?”
Gita terkekeh.
Aku merogoh ponsel di saku, tidak ada pesan masuk. Aku membuka w******p, melihat chat Avram yang dikirim seminggu lalu. Aku menekan tombol back dan memasukkan ponsel kembali ke saku.
Seminggu Avram menghilang tanpa kabar. Jika sebelumnya dia masih memberitahuku, kali ini tidak sama sekali. Masih teringat jelas saat Avram meninggalkanku begitu saja.
“Lo tahu gosip baru nggak?”
Perlahan aku menoleh ke Gita, menatapnya yang sibuk dengan ponsel. “Gosip apa?”
“Coba lo lihat. Avram tunangan.”
Tubuhku menegang. Tatapanku tertuju ke layar ponsel Gita yang menampilkan foto Avram bersama Relin. Avram terlihat tampan dengan batik cokelat dan Relin terlihat cantik dengan kebaya berwarna kuning. Latar penggambilan foto itu seperti di sebuah acara besar. Mereka tersenyum lebar dengan tangan Avram yang melingkar ke pinggang Relin dan tangan Relin menyentuh d**a Avram. Terlihat Relin mengenakan cincin di jari manisnya.
Segera aku mengalihkan pandang. Dadaku sesak melihat foto itu. Pantas Avram meninggalkanku tanpa kabar, ternyata dia bertunangan dengan Relin.
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Aku bingung sekarang. Jika masih tetap bekerja dengan Avram aku sangat menghargai posisi Relin sebagai tunangannya, aku tak ingin gadis itu sakit hati dengan apa yang aku lakukan. Namun jika aku memilih mundur, nanti aku bekerja apa? Apalagi perjanjian masih beberapa bulan lagi.
***
Tak....
Aku menutup wadah gula dengan tangan kiri. Aku menghela napas saat kebutuhan dapur mulai habis. Bulan ini aku memang belum belanja. Tentu saja karena tidak ada uang.
Beberapa menit kemudian, aku membawa segelas teh yang telah aku buat ke ruang tamu. Siang ini Mbak Sarti main ke rumah untuk menjenguk Zahya. Sebenarnya aku kasihan dengan Mbak Sarti yang terpaksa harus aku liburkan sementara karena aku tidak bekerja.
“Di minum dulu, Mbak,” kataku setelah meletakkan segelas teh di depan Mbak Sarti.
“Aduh. Mbak berasa tamu.”
“Nggak apa-apalah, Mbak.”
Tatapanku teralih ke Zahya yang duduk di kursi roda sebelah Mbak Sarti. Dia tampak memikirkan sesuatu, entah apa.
“Gimana kemarin terapinya Zahya?”
Aku kembali menatap Mbak Sarti. Dia menatap ke Zahya dengan senyum tulusnya. “Zahya udah bisa berdiri, Mbak. Yah meski nggak lama, tapi aku bersyukur banget.”
Aku menatap Zahya kagum. Tekat kuat yang ada di dirinya membuat Zahya mulai bisa menggerakkan kakinya kembali. Dokter Intan sampai kaget dengan perubahan Zahya yang begitu cepat.
“Syukurlah. Mbak doain Zahya cepet bisa jalan, ya.”
“Makasih, Mbak,” jawab Zahya lalu tersenyum manis.
“Ya udah kalau gitu. Mbak balik dulu, ya. Kayaknya si kecil udah pulang sekolah.”
Aku berdiri saat Mbak Sarti berdiri hendak pulang. “Kok cepet-cepet, Mbak? Nggak mau di sini dulu?”
“Kasihan anak-anak. Mereka nggak tahu kalau Mbak ke sini.”
Aku mengantar Mbak Sarti sampai depan rumah. “Makasih, ya, Mbak udah mau main ke sini.”
Aku berdiri di depan pintu dan melihat Mbak Sarti yang berjalan keluar. Aku menghela napas, dalam hati kasihan dengan Mbak Sarti yang tidak mendapat pemasukan dariku. Tapi mau bagaimana lagi keuanganku juga pas-pasan.
Uang hasil kerja dari Avram telah habis untuk terapi Zahya. Uang yang aku pegang saat ini hanya tersisa tiga ratus ribu dan harus aku manfaatkan sampai aku dapat kerjaan. Semalam aku bertekat akan mencari pekerjaan lain.
Aku menggaruk kepala dan berjalan masuk dengan gontai.
“Kak, pembalut Zahya habis.”
Perlahan aku menoleh. Adikku menatapku tak enak. Aku berjalan ke Zahya dan berjongkok di depannya. “Kakak masih punya. Pakai punya Kakak aja gimana? Nggak apa-apa, kan?”
Zahya menatapku sendu lalu air matanya turun membasahi pipi. Tanganku terulur ke pipinya dan menghapus air mata dengan ibu jariku. “Kenapa nangis?
“Maafin Zahya, Kak, ngerepotin Kakak terus.”
Aku menggeleng tegas. Tidak setuju dengan apa yang diucapkan. “Kamu nggak ngerepotin Kakak. Kamu tanggung jawab Kakak sejak ayah sama ibu nggak ada. Jadi jangan berpikiran kayak gitu, ya, Sayang.”
Ucapanku membuat tangis Zahya semakin kencang. Aku tidak tahu dari ucapanku adakah yang menyakiti hatinya? Aku lalu memeluk Zahya dan mengusap punggungnya menenangkan.
“Zahya janji bakal semangat terapi. Biar Kak Scarla nggak sia-sia ngobatin.”
Aku merenggangkan pelukan. Aku menatap Zahya yang masih berlinang air mata. Apa Zahya memiliki tekat besar karena tidak ingin usahaku sia-sia? Mataku berkaca-kaca, terharu dengan apa yang diucapkan.
“Kak, Kakak udah nggak kerja lagi?”
“Huh....” Aku menghela napas berat mendengar pertanyaannya. Sampai saat ini aku belum memberitahunya jika berhenti dari kafe. Mungkin dia berpikiran seperti itu karena dua minggu ini aku di rumah. Aku tidak lagi mengasingkan diri di perpustakaan. Karena untuk pergi ke perpustakaan aku membutuhkan uang untuk naik angkutan, sayang mengeluarkan uang yang tidak begitu penting.
“Kakak nanti cari kerjaan lain. Doain Kakak dapet kerjaan, ya.”
Tubuhku tertarik ke depan karena tarikan Zahya. Aku menyandarkan kepala di pundaknya. Hanya Zahya yang selalu menguatkanku dan membuatku kembali bersemangat. Nanti, aku harus mencari kerjaan lain. Jika menunggu Avram menghubungiku, aku takut kehabisan uang. Tak peduli Avram akan marah atau tidak.
***
“Coba balik ke kafe aja.”
Aku mendengar saran Kak Linsi. Aku menimbang-nimbang sarannya. Sebenarnya aku sempat kepikiran untuk kembali melamar kerja di kafe, tapi tidak enak dengan pemiliknya. Aku mengundurkan diri, tapi sekarang ingin bekerja lagi.
“Nggak enak, Kak. Nanti dikira gue main-main. Keluar masuk seenaknya.”
Kak Linsi mengangguk, seperti memahami apa yang akan terjadi jika aku kembali ke kafe. Kak Linsi lalu membuka ponsel, jemarinya bergerak cepat di layar
“Kalau kerja di kelab mau?”
Aku menatap layar ponsel Kak Linsi Aku mengambil ponsel itu dan membaca gambar poster yang berisi lowongan kerja. “Ini cuma jadi pelayan aja kan, Kak?”
Aku tahu banyak pekerjaan terselubung. Aku tidak ingin masuk ke lubang itu dan membuatku sulit untuk keluar, terlebih aku masih terikat dengan Avram. Jika dia menginginkanku lagi akan ribet urusannya.
“Tenang aja.”
Senyumku mengembang mendengar jawaban itu. “Gue mau, Kak,” kataku bersemangat.
“Besok malem, deh, coba lo ke sana. Gue kirim gambarnya ke lo, ya.”
Kak Linsi mengambil ponselnya kembali. Tak lama aku merasakan getar ponsel di saku celana. Aku mengambil ponsel, membuka chat dari Kak Linsi dan menyimpan gambarnya.
“Ya udah. Gue balik dulu, ya, udah waktunya.”
Aku ikut berdiri. Aku juga harus segera pulang karena di rumah Zahya sendirian. “Makasih ya, Kak!”
Setelah itu kami keluar kafe. Aku belok ke kanan sedangkan Kak Linsi berjalan ke sebuah mobil yang menunggu di depan kafe.
Aku bersyukur Kak Linsi tadi tidak banyak tanya mengapa aku mencari pekerjaan lain. Padahal aku sudah memikirkan alasan untuk Kak Linsi.
Tak sampai lima belas menit, aku sampai di perkampungan rumahku. Aku sengaja meminta ketemuan di kafe tidak jauh dari rumah. Alasannya agar aku tidak banyak mengeluarkan uang.
Aku berjalan di kampungku yang sepi. Terkadang aku bersyukur hidup di kota besar. Di mana keegoisan sangat tinggi. Tidak akan ada orang yang peduli dengan hidupku seperti apa. Tapi ada satu sisi yang membuatku takut. Jika salah sedikit saja dan orang-orang itu tahu, bisa dibayangkan seumur hidup terasa memiliki mata-mata yang siap menjadi bahan penilaian mereka.
Tak terasa aku sampai di depan rumah. Aku mengernyit melihat pagar yang terbuka lebar. Saat memasuki halaman, langkahku terhenti. Tatapanku tertuju ke sebuah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari tempatku berdiri. Tiba-tiba perasaanku tak enak.
“Zahya!”
Aku ingat dengan adikku yang ada di dalam rumah. Aku berlari untuk memastikan Zahya baik-baik saja dengan tamu bermobil hitam itu.
Saat sampai di depan pintu, aku berdiri kaku. Aku melihat Zahya mengobrol dengan seorang lelaki. “Ngapain lo di rumah gue?”