BUAH DARI PERJUANGAN
—Avram
“Gue temenin ya.”
“Gak usah, Vram.”
“Pokoknya gue temenin.”
“Maksa banget, sih, jadi cowok. Serah.”
Relin berlalu dari hadapanku. Aku terkekeh melihat kejutekannya. Relin memang seperti itu. Jutek dan nggak gampang di dekati.
Sejak semester awal aku satu offering dengan Relin. Dulu, Relin tidak mampu membuatku penasaran apalagi berniat mendekatinya. Namun sekarang, Relin membuat jiwa penasaran seorang Avram bangkit.
Beginilah seorang Avam Prambudi. Mudah penasaran, tapi juga mudah bosan. Beberapa kali pacaran, paling lama hanya bertahan hanya dua bulan. Sisanya, tentu saja di bawah itu. Bahkan pernah hanya sehari menjalin hubungan.
Tatapanku tertuju ke Relin yang berbicara dengan Mamang. Gadis itu ingin penelitian di villa milik Opaku. Villa milik Opaku memang cukup unik. Di era modern seperti ini investor berlomba-lomba membuat villa megah. Namun berbeda dengan villa Opaku yang masih mempertahankan bangunan tua khas Belanda.
Dulu, villa ini memang pemiliknya orang Belanda dan dibeli Opaku. Meski bangunan tua, kalian jangan anggap sebelah mata. Villa ini mampu menyaingi villa modern lainnya. Setiap weekend selalu ada saja pengunjung yang menyewa. Bahkan kami sampai menolak pengunjung karena penuhnya permintaan.
“Ya sudah kalau begitu, Mang. Besok saya ke mari.” Relin menjabat tangan Mamang kemudian berjalan ke arahku.
Senyumku mengembang, pasti Relin ingin mengucapkan terima kasih kepadaku. Saat semakin dekat, Relin malah melewatiku begitu saja. Aku menoleh dan melihatnya yang berjalan keluar villa.
Gadis itu apa tidak tahu terima kasih? Tadi pagi saja dia meneleponku dan bertanya tentang villa. Sekarang setelah kuajak ke villa dan aku kenalkan ke penjaganya dia tidak sedikitpun berterima kasih.
Relin ini gadis macam apa? Selain tidak mudah di dekati, gadis ini ternyata juga sombong. Dulu dia tidak gampang di dekati lelaki gara-gara menjaga hati pacarnya yang ada di Singapura. Namun, sekarang gadis itu telah putus dengan pacarnya. Kasihan gadis itu menjaga hati, sedang si lelaki sepertinya tidak.
Tatapanku kembali tertuju ke Relin. Gadis itu berdiri di depan mobil sedang mengobrol dengan seseorang di telepon. Perlahan aku mendekat, penasaran dengan siapa dia berbicara. Tampaknya dia antusias berbicara dengan penelpon. Sangat berbeda saat berbicara denganku.
“Ya sudah, bye.”
Relin menyadari kehadiranku sebelum aku sempat mendengar apa yang diucapkan. Aku berjalan mendekat dan berdiri di depannya.
“Mau pulang? Nggak mau nginep sini aja?” tanyaku.
Bukannya menjawab, gadis itu malah berlalu dan masuk ke mobil. Gadis ini benar-benar mengujiku. Namun tunggu saja, aku pasti bisa menakhlukannya.
“Lo mau pulang?” tanyaku sambil membungkuk di sebelah pintu kemudi.
“Menurut lo?”
“Pulang.”
“Tuh, lo tahu.”
Kedua tanganku terkepal di sisi tubuh. Aku jadi meragukan apa Relin ini cewek atau bukan. Cewek di luar sana banyak yang ingin dekat denganku. Bahkan aku hanya tersenyum saja mereka sudah baper. Sedangkan Relin yang aku dekati malah jual mahal.
“Lo nggak mau ngucapin makasih? Gue udah ngasih lo banyak informasi.”
Relin mendengus. “Iya, makasih,” katanya tak tulus.
“Kok cuma bentar ngomong sama Mamang?” Seingatku tidak sampai sepuluh menit Relin berbincang dengan Mamang.
“Cuma ngasih tahu kalau gue mau penelitian.”
“Terus mulai penelitiannya?”
“Ngapain lo tanya-tanya?”
Refleks aku berdiri tegak. Satu tanganku bersandar di atas mobil, sambil tatapanku tertuju ke arah lain. “Ya, bisa aja gue bilang ke Mamang biar nggak ngasih tahu banyak infomasi. Atau bisa aja lo nggak gue bolehin penelitian di sini.”
“Lo ngancem gue?”
Aku menunduk, melihat Relin yang mengeluarkan kepala dari jendela pintu. “Bukan ngancem kok.”
“Capek ngomong sama lo. Gue penelitian dua minggu dan mulai besok pagi. Udah gue kasih tahu, kan?”
Senyumku mengembang mendengar ucapan Relin. Ini peluang, aku bisa mendekatinya selama gadis itu penelitian di daerah kekuasaanku. Tinggal sebentar lagi Relin akan dekat denganku. Dan say bye ke Relin yang nggak bisa didekati cowok. Karena Avramlah yang pasti berhasil.
“Minggir, Vram. Gue mau balik.”
Aku tersentak mendengar ucapan Relin. Satu alisku lalu terangkat. “Nggak mau nginep sini aja? Ini udah malem, Lin.”
“Enggak!”
Sadap! Ketus sekali gadis ini. Cantik sih, tapi ketusnya itu minta ampun. Aku berjalan menjauh dari mobil Relin. “Yakin nggak mau nginep sini aja? Gue nggak mau lo kenapa-napa, Lin.”
“Gombalan lo basi.” Setelah mengucapkan itu Relin melajukan mobil meninggalkan villa.
Aku terkekeh kecil. Tunggu saja Relin, lo bakal takhluk.
Usai mobil Relin menjauh aku berbalik, berjalan masuk ke dalam villa. Saat hendak melangkah ke undakan, ponselku bergetar. Aku mengambil ponsel di saku dan melihat pesan yang masuk.
35 pesan.
Rata-rata pesan dari cewek-cewek yang gencar mendekatiku, tapi sekalipun tidak aku balas pesan mereka. Tatapanku lantas tertuju ke chat teratas. Scarla.
S: Tamu bulanan gue dateng.
Aku menghela napas berat. Itu artinya aku tidak bisa menghabiskan malam seperti biasanya. Bisa, sih, mencari wanita lain, tapi enggan. Lagi pula aku sedang malas kembali ke pusat kota.
Aku berjalan ke sofa dan menghempaskan tubuhku di sana. Aku membalas pesan dari Scarla, dan memintanya agar tidak ke apartemen sebelum aku menghubungi. Sepertinya aku tidak akan pulang sampai dua minggu ke depan. Lebih baik di villa, sekaligus menemani Relin penelitian.
Banyak orang yang menganggapku lelaki baik-baik. Mereka bilang senyumku hangat dan bersahabat. Bah! Mereka seakan tahu sifatku hanya dari senyumanku. Padahal apa yang diperlihatkan belum tentu benar, kan?
Itu juga terjadi kepada teman sekampusku apalagi yang cewek. Temanku bilang aku orang baik. Nyatanya aku tidak seperti itu. Jika kalian tahu, aku dari SMA mulai mengenal pergaulan bebas dan aku terseret arus itu. Aku terbiasa mabuk, bermalam dan tentu saja berhubungan dengan mereka. Aku juga pernah mengenalkan minuman keras ke adikku, dan itu kesalahan fatal seumur hidupku.
Tidak banyak alasan mengapa aku bisa terseret arus itu. Dari kecil, aku terbiasa hidup mewah dan cukup bebas. Almarhum papaku terlalu sibuk bekerja hingga lupa mengingatkan pergaulanku. Sedangkan mamaku, mama yang begitu sabar sampai aku menyalah gunakan kesabarannya. Aku yakin mamaku tidak akan bisa marah dengan apa yang aku lakukan.
Usai membalas pesan Scarla, aku memejamkan mata. Hawa dingin dan suasana tenang membuat mata enggan terbuka lama. Saat mataku terpejam, ingatan saat aku mengajukan perjanjian ke Scarla menyeruak. Perjanjian spontan dan hanya berdasarkan penasaran.
“Kita akan bermalam di mana?”
“Hotel murahan,” jawabku kepada wanita yang usianya kutafsir tiga tahun di atasku.
Saat hendak masuk ke sebuah hotel aku melihat seorang gadis keluar dari sana. Langkahku seketika terhenti. Dia berhenti sejenak dan tampak bingung. Tak lama dia berjalan dengan cepat.
“Lo masuk dulu, ada yang harus gue urus,” kataku kepada partner-ku malam ini.
“Oke. Jangan lama-lama.”
Aku menjauh saat wanita itu hendak mencium pipiku. Sebenarnya aku risih dicium dengan lipstik tebalnya dan berujung menempel di pipiku. Aku tidak suka saja ada bekas lipstik di pipi. Itu memalukan!
Tatapanku tertuju ke gadis yang mulai menjauh. Aku mengambil topi dan kacamataku lantas memakainya sambil berlari. Aku tidak ingin kehilangan gadis yang beberapa kali aku temui di hotel.
Jika kalian penasaran dengan gadis itu, dia adalah Scarla teman seangkatanku. Aku sering melihatnya di kampus seorang diri. Sedikit aneh karena yang aku lihat dia seperti tidak memiliki teman, padahal tidak ada keanehan sedikitpun dari gadis itu.
Setelah berlari, Scarla berjalan tidak jauh dari tempatku. Aku yakin, dia baru saja bersama seseorang. Aku pernah bertanya ke pelanggannya. Kenyataan jika Scarla memiliki kehidupan gelap cukup membuatku kaget. Dia terlihat polos, tapi di balik itu semua dia buruk juga.
Aku terlalu sibuk dengan pikiranku saat gadis itu menoleh. Buru-buru aku berhenti melangkah. Dalam hati aku mengeram, tidak seharusnya aku ikutan berhenti, dia pasti akan curiga.
Tak lama aku lihat Scarla berlari. Aku lagi-lagi melakukan kesalahan. Aku berjalan cepat mengikutinya membuatnya kembali menoleh.
Buru-buru aku mendekat dan menarik pergelangan tangannya. Dia memukulku dengan tasnya beberapa kali. Hin.ga tanpa sadar aku bersuara, dan itu merupakan kesalahanku lagi.
Aku menatap gadis itu intens. Aku mencium aroma parfum yang bercampur keringat menguar dari tubuhnya. Sudut bibirku tertarik ke atas. Aku tiba-tiba ingin bersamanya, sepertinya asyik. Lagi pula aku mulai lelah mencari.
***
“Oke. Gue ke sana.”
Aku memutuskan sambungan lebih dulu dan buru-buru keluar. Baru saja aku mendapat kabar jika Relin terserempet di depan mall hingga pingsan.
Tring!
Pintu lift terbuka. Buru-buru aku masuk dengan kaki bergerak gelisah. Rasa kesalku ke Relin mendadak hilang mengetahui kabar buruk barusan.
Kesal? Ya! Kalian ingat, kan, Relin penelitian selama dua minggu di tempatku? Nyatanya tidak. Di hari ke sebelas Relin tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Saat itu aku juga ada janji makan malam dengannya, tapi tetap Relin tak bisa dihubungi.
Tepat setelah sejam menunggu, aku melihat Relin mengganti display picture yang berisi foto dirinya dengan mantan pacarnya. Sialan! Ternyata gadis itu malah asyik-asyikan dengan mantannya yang mungkin saja sedang pulang.
Tring!
Pintu lift terbuka membuyarkan lamunan singkatku. Aku berlari menuju basemant sambil merogoh kunci motor yang untungnya masih ada di saku celana. Tanpa membuang waktu lama, aku melajukan motor menuju klinik yang sempat disebutkan si penelpon.
Tidak sampai sepuluh menit, aku sampai klinik dan berlari menuju meja resepsionis. “Pasien bernama Relin di ruang berapa? Korban kecelakaan beberapa menit yang lalu.”
“Ruang lima, Kak.”
Usai mendapat informasi aku segera mencari ruangan itu. Dari kejauhan aku melihat dua cewek sedang mondar-mandir di depan ruang lima. “Relin di dalam?”
Dua cewek itu menoleh. Dia menatapku terkesiap lantas tersenyum. Tidak sabar menunggu jawaban mereka, aku langsung menerobos masuk.
Tatapanku tertuju ke Relin yang menoleh dan menatapku. Dia tampak kaget melihat kehadiranku. Perlahan aku mendekat. Melihat gadis itu yang biasanya sedikit angkuh sedikit tidak percaya sekarang terlihat kacau.
“Lo kenapa, Lin?” tanyaku sambil duduk di kursi sebelah ranjang.
“Kesrempet.”
“Gue tahu. Tapi kenapa lo keliatan pucet banget?”
Relin mengalihkan pandang.
Dari tempatku duduk aku bisa melihat air mata Relin perlahan turun. Aku menyentuh lengannya dan mengusapnya pelan.
“Nggak seharusnya lo ada di sini dan liat gue yang kayak gini, Vram!”
Gadis itu meski menangis tetap saja berkata judes. Hah! Dasar Relin.
“Lo pasti mau ngetawain gue, kan? Gue tahu kok, Vram lo deketin gue karena lo penasaran dan pengen nakhlukin gue.”
Aku tidak kaget dengan ucapan itu. Itu memang tujuanku, dan dia mampu menebak dengan benar. “Udahlah, Lin. Jangan bahas itu. Sekarang gue tanya lo kenapa?”
Relin perlahan menoleh. Kedua tangannya mengusap kedua pipinya yang telah basah. “Cuma nggak fokus.”
Jawaban Relin tidak serta merta membuatku percaya. Relin lebih dari tidak fokus. “Patah hati sama mantan lo itu?”
Relin tersentak mendengar pertanyaanku. Dia kembali mengalihkan tatapannya, bahkan sekarang memungguiku. Bahu Relin bergetar, tak lama aku mendengar isakan.
“Udahlah, Lin. Lupain mantan lo.”
“Relin!”
Aku menoleh mendengar suara yang menginterupsi. Aku mendapati lelaki yang aku tebak adalah papa Relin, berdiri dengan wajah panik. Papa Relin lantas mendekat dan menyentuh pundak anaknya.
“Apa yang terjadi, Lin?”
Relin membenarkan posisinya hingga terduduk lalu memeluk Papanya erat. “Relin nggak apa-apa, Pa.”
Tatapanku dan Papa Relin bertemu. Dia menatapku dengan tatapan menyelidik. Aku tersenyum tipis ke Papa Relin.
“Dia siapa, Relin?”
Relin mendengus alu kembali menatap papanya. “Temen sekelas Relin, Pa.”
Papa Relin manggut-manggut. “Kamu yang tadi nolongin, Relin?”
Aku menggeleng. Bisa saja aku mengaku yang menolong Relin, tapi itu bukan gayaku sama sekali. “Bukan Om. Saya mendapat telepon dari dua cewek yang tadi di depan. Lalu saya ke mari.”
“Saya kira kamu yang nolongin anak saya. Ngomong-ngomong ini pertama kalinya Relin sama cowok setelah putus.”
Senyumku mengembang, merasa ada sinyal baik dari Papa Relin. Gotcha, Relin. Bentar lagi gue bisa deket sama lo.
“Vram. Udah ada papa gue. Mending lo pulang!”
Pengusiran Relin membuat senyumku mendadak pudar. Aku menoleh ke Relin dan mendapatinya menatapku jutek. Sangat kontras dengan wajahnya yang masih pucat.
“Relin yang sopan,” jawab Papa Relin membelaku.
Aku menatap Relin dengan senyum kemenangan. Sekeras lo ngusir, papa lo bakal belain gue, Lin.
Relin mendengus melihatku yang kali ini bisa dikatakan menang. Tinggal sedikit lagi aku bisa dekat dengan Relin, dan say bye ke Relin yang sulit di dekati lelaki.