Kedua tanganku membawa kantong kresek yang cukup berat. Ditambah dengan tasku yang berat membuat pundak dan lenganku pegal. Sepulang dari kampus aku memutuskan untuk belanja bulanan.
“Huh.” Aku meletakkan kantong kresek di trotoar. Setelah itu menggerakkan lengan, lemaskan otot lengan dan pundakku.
Setelah tidak lagi merasa pegal, aku angkat lagi kantong belanjaan itu.
Tak terasa sudah seminggu aku tidak bekerja. Selama libur, aku manfaatkan waktuku untuk menyelesaikan mengerjakan proposal skripsi. Setiap dua hari sekali aku bimbingan, dan setiap hari aku pergi ke perpustakaan untuk mencari buku rujukan.
Hari ini, usahaku membuahkan hasil. Tadi aku telah seminar proposal. Lega rasanya aku bisa melewati seminar proposal. Ditambah proposalku tidak banyak revisi. Akhirnya, sampai di perjuangan terakhir. Yaitu skripsi.
Selama seminggu aku sengaja menyibukkan diri di perpustakaan. Meski sebenarnya pekerjaanku telah selesai, aku masih betah di sana. Zahya yang tahunya aku bekerja di kafe akan curiga jika aku libur selama seminggu.
Jadilah aku pergi ke perpustakaan dan menghabiskan waktu di sana. Saat perpustakaan tutup, aku biasanya duduk di sebelah perpustakaan untuk memanfaatkan wifi yang selalu menyala. Barulah saat pukul sepuluh lewat aku pulang.
Aku meletakkan lagi kedua kantong kresekku di trotoar. Kembali aku menggerakkan leher ke kanan dan ke kiri. Saat menoleh ke kiri aku melihat kafe yang tampak tidak asing. Aku mengernyit mencoba mengingat. Padahal selama ini aku jarang ke kafe, tapi entah kenapa aku merasa pernah tempat itu.
Tak lama, tubuhku menegang. Kini aku ingat kafe di sebelah kiriku. Ingatanku berkelana ke kejadian sebulan lalu, malam di mana aku menyetujui tawaran Avram.
***
Sebulan lalu.
Aku bangkit dari ranjang saat merasa seseorang di sampingku telah terlelap. Segera aku memakai pakaianku lantas mengambil uang yang telah dia siapkan di nakas. Aku memasukkan uang itu ke tasku lalu buru-buru keluar dari hotel.
Saat berada di luar aku bisa bernapas lega. Tatapanku lantas tertuju ke jalan raya yang tampak sepi. Akhirnya aku memutuskan berjalan kaki sambil menunggu angkot yang pastinya sangat lama mengingat hari sudah malam.
Baru dua ratus meter aku melangkah, aku merasakan ada seseorang yang membuntutiku. Aku menoleh ke belakang dengan cepat. Aku mendapati lelaki mengenakan topi dan berkacamata tampak melihat-melihat di etalase toko.
“Ck!” Aku mengangkat bahu, sepertinya hanya perasaanku saja. Aku lalu kembali melangkah.
Baru tiga langkah, aku merasakan lagi ada yang mengikutiku.
Jantungku berdetak cepat, takut memang ada yang membuntuti. Bagaimana kalau teman sekampusku yang mengikuti? Buru-buru aku berjalan cepat. Aku merasakan seseorang di belakangku juga berjalan cepat.
Aku tiba-tiba berhenti, ingin membuktikan lagi apakah seseorang itu benar-benar mengikutiku. Hasilnya membuat jantungku kembali berdetak. Memang ada yang mengikutiku. Aku menoleh dengan cepat, dan mendapati lelaki bertopi dan berkacamata itu buru-buru menoleh ke arah lain.
“Huh....” Aku berbalik dan berlari cepat, takut lelaki itu berbuat macam-macam.
Saat aku berlari aku mendengar derap langkah semakin mendekat. Lalu aku merasakan pergelangan tanganku ditarik.
“Lepas!” Aku memberontak, dan memukul lelaki itu. Tak puas hanya pukulan tangan aku memukulnya dengan tas punggungku.
“Hei! Ini gue!”
Mendengar itu aku berhenti memberontak. Aku menatap lelaki di depanku yang perlahan melepas topinya. Wajahnya tampak tak asing, tapi aku belum bisa mengenalinya karena dia masih mengenakan kacamata.
“Ayo kita ngobrol di dalem.”
Tanganku ditarik oleh lelaki itu. Aku sempat memberontak, tapi tarikannya sungguh kencang. Hingga mau tidak mau aku mengikutinya masuk ke kafe dengan harap-harap cemas.
Sesampainya di kafe, dia memilih duduk di dekat jendela. Aku berdiri kaku, masih was-was jika lelaki di depanku akan macam-macam.
“Duduk. Di sini banyak orang. Lo nggak perlu khawatir.”
Tatapanku beralih ke penjuru kafe. Benar apa yang dia ucapkan, kafe sedang ramai pasti dia tidak akan macam-macam. Aku lalu memilih duduk di depan lelaki itu. Aku melihat dia melepas kacamatanya. Membuat mataku membulat sempurna.
“Av.. Ram,” ucapku terbata.
Avram mengangguk.
Aku mengernyit, heran mengapa dia membuntutiku sampai menarikku masuk ke kafe. Avram adalah mahasiswa jurusan manajemen bisnis satu fakultas denganku. Saat di kampus aku beberapa kali berpapasan dengannya. Aku tahu namanya karena lelaki itu terkenal di kalangan mahasiswi.
“Berhenti dari kerjaan lo!!”
Ucapannya membuatku tak mengerti. Aku menyandarkan punggung di sandaran kursi dan menatapnya dengan pandangan menyelidik.
“Gue tahu lo kerja di kafe dan kerjaan kotor....”
Refleks tubuhku menegang. Bagaimana bisa dia tahu? Gita sahabatku saja tidak tahu, yang tahu pekerjaan sampinganku hanya Kak Linsi. “Lo tahu dari mana?” tanyaku tanpa pikir panjang.
Avram tersenyum miring. Karena senyumannya aku semakin gelisah. Apa anak-anak di kampus tahu pekerjaanku? Kalau iya tamatlah riwayatku.
“Lo nggak perlu takut, di kampus cuma gue yang tahu.”
Mendengar kelanjutan ucapan Avram aku mendesah lega, tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama. Karena yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bisa dia tahu pekerjaanku?
“Lo nggak perlu tahu dari mana gue tahu kerjaan lo,” jawab Avram misterius.
“Gue perlu tahu, Vram.”
Avram menggeleng, membuatku menatapnya tajam. Tapi tatapanku tidak terpangaruh sedikitpun, dia malah tersenyum miring.
“Gue pengen lo kerja sama gue. Cuma sama gue!”
Mataku terbelalak. Apa aku tidak salah dengar? Avram terkenal dengan pribadi yang hangat dan tidak banyak ulah. Bagaimana bisa ia berkata seperti itu?
“Gue serius sama omongan gue. Gue mau nawarin lo kesepakatan.”
“Kesepakatan?” Aku bertanya dengan satu alis terangkat. Aku tidak mau dimanfaatkan oleh Avram. Apalagi jika dia berniat menjebakku.
“Besok, di jam dan tempat yang sama. Kita bahas kesepakatan itu.” Setelah mengucapkan itu Avram pergi bergitu saja.
Aku masih duduk. Terlalu bingung dengan apa yang baru saja aku bicarakan dengan lelaki idola mahasiswi itu.
***
Ini baru hari ke sebelas, tapi Avram sudah menghubungiku. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya sampai dia menghubungiku dan memintaku bertemu di hotel. Ya di hotel, aku juga sempat bingung kenapa dia memilih tempat itu.
Selama sepuluh hari, aku tidak melihat Avram. Dia seperti tidak datang ke kampus untuk bimbingan atau sekadar nongkrong di kantin. Hal itu sempat mengusikku, jujur aku penasaran ke mana perginya lelaki itu.
Kemudian satu jam yang lalu dia menghubungiku, membuatku kaget. Sebagian hatiku senang entah karena apa aku juga tidak tahu. Namun, sebagian hatiku sedih karena malam ini aku harus kembali bekerja.
Aku berdiri di sebuah kamar berpintu putih. Aku melirik nomor 1218 yang tertera di atas pintu. Aku merogoh saku, mencocokan nomor yang ada di depanku dengan nomor yang dikirimkan Avram.
“Bener,” gumamku setelah mengecek nomor itu.
Aku maju selangkah, mengetuk pintunya pelan. Kedua tanganku lalu saling menggenggam. Aku gugup, entah kenapa.
Krek....
Pintu di depanku terbuka. Aku melihat Avram menggerakkan tangan memintaku masuk. Perhatianku lalu tertuju Avram hanya bertelanjang d**a dengan celana kain berwarna hitam. Aku lalu masuk dengan kepala tertunduk. Saat berada di dalam kamar, perlahan aku mengangkat wajah.
Tatapanku tertuju ke Avam yang berdiri memandang jendela. Punggung terlihat tegap. Avram lalu menoleh, membuatku buru-buru membuang muka.
“Sini!”
Mendengar permintaannya, aku mendekat. Aku berdiri di sebelah Avram dan menoleh ke lelaki yang sedang menatap ke luar jendela. Aku mengikuti arah pandangnya, menatap langit malam bertabur bintang. Aku terpesona dengan pemandangan yang disuguhkan. Aku semakin mendekat ke jendela dan menatap ke arah langit.
“Mumpung bagus. Nggak masalahkan kita lihat ini dulu?”
“Nggak masalah. Gue nggak pernah liat bintang sedekat ini,” ucapku apa adanya.
Diam-diam aku melirik Avram yang masih menatap langit. Kemudian aku mengamati alis tebal Avram yang cukup rapi. Aku pernah melihat alis tebal itu hampir bertaut saat dia marah karena aku datang terlambat, waktu itu.
Tatapanku lantas turun ke hidung mancung Avram. Hidung itu beberapa kali tenggelam di surai rambutku, dan menyentuh seluruh wajahku. Tatapanku turun ke bibir tipis Avram. Bibir tipis yang mampu tersenyum hangat, tapi bisa dengan cepat menjadi garis lurus karena mood si pemilik yang cepat berganti.
Aku memejamkan mata menikmati momen ini. Jarang-jarang aku bisa melihat Avram dalam keadaan tenang. Ditambah taburan bintang di luar sana, semakin memperindah suasana.
“Selama gue nggak ada. Lo nggak sama cowok lain, kan?”
Seketika mataku terbuka. Aku menatap Avram yang bersandar di kaca sambil bersedekap. Aku menggeleng tegas, ingat apa yang ada diperjanjian itu dan aku tidak berniat mengingkarinya. “Enggak.”
“Bagus.”
Kedua tangan Avram menarik tanganku. Dengan cepat dia menyambar bibirku dan menciumnya ganas. Aku hampir tersedak karena ciuman tiba-tibanya. Tanganku terangkat ke sisi wajah Avram dan menariknya menjauh.
“Pelan-pelan. Uhuk,” ucapku yang diakhiri dengan sebuah batukan kecil.
Avram mendekat ke kaca. Aku menoleh dan melihatnya menutup gorden hingga tertutup setengah. Setelah itu kembali menghadapku.
Avram menarikku ke arah ranjang. Dia mendorongku hingga aku terduduk. Avram kembali menciumku dan aku membalas ciumannya. Kedua tanganku menggapai punggungnya dan mengusapnya naik turun.
“Lo siap?”
Aku menatap Avram dalam. Aku rasa Avram kembali seperti dulu yang selalu menanyakan apakah aku sudah siap apa belum. Aku tersenyum lalu mengangguk.
***
“Vram bisa pelan-pelan? Gue takut.”
Aku mencengkeram pinggiran motor Avram, takut terjatuh. Bibirku bergerak, membaca doa agar tidak terjadi apa-apa. Aku menutup mata saat motor Avram melaju semakin kencang. Aku mencoba memikirkan hal-hal yang indah agar rasa takutku hilang.
“Udah sampai, kali. Buka mata lo.”
Mendengar kalimat itu, perlahan aku membuka mata. Aku menatap sekeliling yang penuh dengan motor. Aku mendesah lega. Tatapanku lalu tertuju ke Avram.
“Jangan kayak tadi. Gue takut,” lirihku.
Avram turun dari motor. Aku bisa merasakan motor itu agak miring, tapi aku tidak kunjung turun. Kemudian, wajah Arvam mendekat. Setelah itu bibirku merasakan sesuatu yang kenyal.
Aku tersentak saat sadar. Dia tidak pernah menciumku di luar kegiatan, yah, kalian tahulah apa. Namun, barusan dia melakukannya, membuat perutku merasakan ada jutaan kupu-kupu berterbangan.
“Turun!” pintanya.
Perlahan Aku turun dari motor, melepas helm yang masih aku pakai dan meletakkan di atas jok. Tadi aku mendapat pesan dari Avram yang memintaku ke apartemennya. Saat sedang menunggu angkutan, entah kebetulan atau bagaimana Avram lewat dan mengajakku berangkat bersama.
Aku berjalan mengikuti Avram. Diam-diam aku mengamati punggung tegap Avram. Bibirku tertarik menjadi sebuah senyum tipis. Imajinasiku mulai bekerja. Aku membayangkan bagaimana jika punggung itu milikku. Menopangku dan selalu setia tegap untuk menemani langkahku.
“Ayo cepet!”
Pikiranku buyar mendengar teriakan itu. Aku berlari masuk ke lift sebelum Avram menutup pintu itu. Saat sudah berada di dalam lift, aku baru menyadari jika hanya kami berdua.
Entah kenapa aku merasa suasana begitu tegang. Aku menunduk, tidak ingin melirik Avram sedikitpun. Helaan napas Avram terdengar jelas, tapi aku tidak ingin mencari tahu. Jawabannya telah terjawab oleh reaksi tubuh kami.
Tring!
Pintu lift terbuka. Avram menarikku keluar. Kami berdua berjalan cepat menuju apartemen.
“Masuk!” Avram menarikku kencang.
Aku merasakan d**a Avram membentur dadaku. Kejadian selanjutnya berjalan dengan cepat. Bibirnya mulai bergerilya di wajahku. Mencium rahangku hingga mencapai sudut bibir.
“Scar!” panggil Avram serak.
Tring....
Kami hendak memulai, saat terdengar dering ponsel. Aku menatap Avram yang tampak kesal. Dia mundur beberapa langkah dan mengambil ponsel di sakunya.
“Halo. Apa? Oke gue ke sana sekarang!”
“Kenapa?” tanyaku pelan.
Avram diam, tidak menjawab pertanyaanku. Dia berlari keluar dan meninggalkanku tanpa penjelasan. Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga Avram terlihat begitu panik.
Dadaku sakit melihat Avram yang pergi begitu saja. Namun mau bagaimana lagi, aku bukan siapa-siapanya. Tanpa sadar aku terisak, menangisi lelaki yang tidak seharusnya aku tangisi. Bukankah harusnya aku senang karena hari ini tidak bekerja? Tak tahu kenapa, melihat Avram yang pergi tanpa menoleh sedikitpun membuat hatiku sakit.
Gue mulai aneh.