Aku berlari ke lobi dengan tangan tertutup di atas kepala. Sedikit perdebatanku dengan Zahya tadi membuatku telat pergi ke apartemen Avram. Jadilah aku telat datang, ditambah sore ini hujan turun deras. Jalanan yang tergenang air membuat laju kendaraan melambat dan menimbulkan kemacetan. Semakin memperlama masa keterlambatanku.
Tet....
Jari telunjukku memencet angka enam setelah aku masuk lift. Kakiku bergerak menunggu benda itu yang membawaku ke tempat tujuan. Sesekali aku melirik arloji yang telah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Aku telat satu jam setengah. Firasatku mengatakan Avram pasti marah. Terbukti dari panggilannya yang baru aku lihat sebelum aku turun dari angkot.
Tring! Pintu lift terbuka.
Segera aku berlari menuju apartemen nomor 0606. Sesampainya di depan pintu aku menarik napas panjang, menyiapkan mental mendapat kemarahan Avram. Saat mulai merasa tenang, aku memencet bel yang berada di sebelah pintu dengan tangan gemetar.
Ceklek....
Selang beberapa detik, pintu terbuka dengan kasar.
Tatapanku dan Avram bertemu. Aku menelan ludah melihat tatapan tajam dengan rahangnya yang mengeras itu. Dia sedang marah. Aku menunduk, dia pasti kesal menungguku.
“Masuk!”
Perlahan aku masuk sambil menggosok kedua lenganku dengan telapak tangan. Saat aku baru melangkah masuk tubuhku terdorong hingga membuat punggungku membentur pintu di belakang.
“Kenapa telat?”
Perlahan aku mendongak, menatap wajah Avram yang terlampau dekat dengan wajahku. Aku kembali menunduk tidak berani menatapnya. “Ma.. cett...”
“Lo nggak bohong, kan?”
Aku menggeleng tegas. Kepalaku terangkat kala merasakan cengeraman di lengan. Aku menatap Avram takut-takut.
“Akhir-akhir ini mood gue buruk. Jadi lo jangan nambah mood gue makin buruk!”
Aku hanya mampu mengangguk. Lidahku kelu. Selama hidup 22 tahun, aku tidak pernah dibuat takut dan dimarahi seperti sekarang. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku mendongak agar air mataku tidak turun di depan Avram.
“Lo tahu gue masih marah?” tanyanya dingin.
“Ya,” jawabku serak. Tenggorokanku terasa sakit karena tangis yang kutahan.
“Lepas baju lo!”
Seketika aku menatap Avram, aku tersentak mendengar perintahnya.
“Gue minta lepas! Anggap ini sebagai hukuman buat lo!”
Mataku kembali berkaca-kaca. Kini aku tidak bisa lagi menahan air mataku. Membuat cairan bening itu lolos lewat sudut mata. Ini risiko kerjaan lo, Scarla! Dalam hati aku menguatkan diri sendiri. Ini memang pekerjaanku dan Avram sangat berhak memintaku seperti apa.
Avram perlahan mendekati. Satu tangannya mencengkeram daguku, membuatku mau tidak mau menatap ke wajah emosinya.
“Kayaknya gue terlalu baik sama lo. Sampai lo manfaatin kebaikan gue,” tuduh Avram.
“Enggak.”
Tidak ada niat sedikitpun untuk memanfaatkan Avram yang bisa dibilang cukup baik. Dia memahamiku saat aku sedang ada bimbingan dan keperluan lain. Namun, sepertinya keterlambatanku membuat Avram merasa aku memanfaatkan kelonggaran itu.
“Perlu lo inget. Lo emang temen seangkatan gue, tapi di luar kampus lo tahu sendiri posisi lo gimana!”
Hatiku sakit mendengar ucapannya. Selama sebulan aku kira Avram memang pribadi yang hangat seperti yang terlihat, tapi nyatanya tidak sehangat yang aku kira setelah aku benar-benar mengenalnya. “Maaf, Vram.”
“Jangan ulangi!”
Aku mengangguk. Tak lama aku merasakan tubuhku melayang. Aku melingkarkan kedua lengan ke leher dan melingkarkan kakiku di sekitar pinggulnya.
“Sekarang lakuin tugas lo!” Bisiknya saat kami sampai di kamar.
Aku dan Avram berdiri berhadapan. Perlahan aku mendekat dan mulai melaksanakan tugasku. Baiklah Scarla saatnya bekerja. Ingat Avram di depanmu bukan teman seangkatamu, tapi pelangganmu.
***
Dengkuran halus menjadi nada pertama yang aku dengar setelah membuka mata. Jari telunjukku mengucek kedua mata. Setelah itu aku menatap ke sekeliling. Ruangan bernuansa putih nan glamor menyambut. Ini bukan kamarku. Hingga aku mulai menyadari, sekarang aku tengah di apartemen Avram.
Semalam aku tidak bisa pulang. Keterlambatanku membuat Avram tidak mengizinkanku pulang. Katanya sebagai hukuman. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena Avramlah yang lebih berkuasa. Perlahan aku menoleh ke belakang, ingin melihat dengkuran halus yang dari tadi terdengar.
Saat berbalik, aku tersentak mendapati wajah Avram tidak jauh dari wajahku. Aku menatap wajah tampannya yang terlihat damai dalam tidur lelapnya. Jika ingat kemarahannya semalam sangat kontras dengan wajah polos yang kini aku lihat.
Sekarang, jam berapa?
Aku menoleh ke nakas melihat jam bergambar kapal yang telah menunjukkan pukul enam pagi. Aku terduduk, hari telah pagi sudah saatnya aku kembali pulang dan semoga Avram menngizinkan. Perlahan aku turun dari ranjang lalu menyisir rambutku dengan jari.
Tring....
Tiba-tiba dering ponsel terdengar. Perhatianku seketika tertuju ke nakas dan melihat benda yang tengah berkedip dan bergetar. Aku mendekati ponsel itu untuk melihat siapa yang pagi-pagi sudah melakukan panggilan.
Tubuhku menegang melihat foto dan caller id yang muncul di layar ponsel Avram. Aku melirik lelaki yang masih terlelap itu. Akhirnya aku mengambil ponsel itu dan kembali mendekati ranjang.
Aku akan membangunkan Avram agar dia bisa menerima panggilan itu. Namun, belum sempat aku membangunkan, Avram lebih dulu bersuara.
“Siapa yang izinin lo pegang ponsel gue?”
Aku menelan ludah, tidak mampu menjawab. Lalu sebuah tarikan kasar membuat kuku Avram menggores punggung tanganku. Terasa perih. “Huh,” aku mengibaskan tanganku untuk menghilangkan rasa perih.
“Halo...”
Tatapanku tertuju ke Avram yang memakai kaus di atas ranjang. Aku melihat raut kemarahan Avram mulai sirna. Senyum hangatnya mulai terbit. Orang yang menghubungi Avram mampu membuat mood-nya naik drastis. Melihat itu entah kenapa aku tidak rela.
Nggak rela? Scarla apa yang lo pikirin? Aku menggeleng, menghilangkan apa yang sempat hinggap di pikiranku.
“Iya, Sayang. Nanti, ya.”
Tubuhku kaku mendengar panggilan itu. Sayang? Avram memanggil sayang? Apa itu pacar Avram?
“Iya nanti. Nanti gue telpon lagi, ya. Bye, Sayang.” Avram mematikan sambungan dan meletakkan ponsel di samping tubuh lalu menatapku tajam. “Siapa yang ngizinin lo pegang ponsel gue?”
Aku menunduk, menatap lantai yang menyejukkan dari pada tatapan amarah Avram. Lihat, beberapa menit dia tersenyum hangat, tapi sekarang kembali marah. “Bukan gitu, Vram. Niatnya mau ngasih tahu lo,” jawabku masih dengan menatap lantai.
“Lo bisa, kan, cuma bangunin gue tanpa sentuh ponsel gue?”
Ucapan Avram ada benarnya. Tidak seharusnya aku tadi memegang ponselnya. Harusnya aku hanya membangunkannya, tidak perlu memegang ponselnya.
“Okelah lupakan.”
Tatapanku kembali ke Avram. Dia turun dari ranjang. Tatapanku mengikuti setiap langkah Avram, hingga lelaki itu masuk kamar mandi. Aku mengembuskan napas lega. Beruntung Avram tidak memarahiku seperti semalam.
***
“Terima kasih, Pak.” Aku mengucapkan terima kasih setelah selesai melakukan bimbingan dengan Pak Bagja.
Saat hendak keluar, aku melewati meja Bu Alia. Beliau sedang menjelaskan sesuatu ke Anjani.
“Scarla, ke mari sebentar.” Bu Alia tiba-tiba memanggilku.
Aku menoleh dan melihat Bu Alia memintaku mendekat dengan gerakan tangan. “Iya, Bu,” kataku kemudian mendekat.
“Tolong kamu bantu Anjani metode kuantitatif. Sepertinya dia kurang paham.”
Aku cukup kaget mendengar permintaan itu. Perlahan aku menatap Anjani yang duduk di sebelahku perlahan berdiri. Anjani tampak mendengus. “Emm.. Baik, Bu,” jawabku ke Bu Alia. Nggak mungkin langsung gue tolak.
“Kalau begitu saya permisi.” Anjani berdiri dan berjalan menjauh. Saat melewatiku, pundaknya menabrak pundakku. Aku tidak tahu dia sengaja atau tidak.
“Kalau begitu saya permisi dulu ya, Bu,” pamitku ke Bu Alia.
Buru-buru aku berjalan keluar ruang dosen untuk mengejar Anjani. “Anjani!” teriakku saat melihatnya berjalan cepat.
Mendengar teriakanku, Anjani menoleh. Aku berlari mendekatinya.
“Apa? Lo mau ngajarin gue metode kuantitatif?” tanya Anjani sedikit ketus, “Gak! Gue bisa belajar sendiri. Kalaupun gue butuh bantuan gue nggak mau minta bantuan lo!”
Ucapan Anjani membuatku terdiam. Lagi-lagi Anjani bersikap kasar. Aku tidak tahu apa salahku sampai teman-temanku menganggapku sebelah mata. Bahkan menganggapku tidak ada. Aku berasumsi, karena aku berbeda dengan mereka. Aku tidak modis. Aku tidak pernah ke tempat hits. Aku tidak asyik untuk seru-seruan. Dan aku, bukan anak berduit.
Ya sudahlah, aku juga tidak bisa memaksa orang yang tidak mau berteman denganku. Aku lantas melanjutkan langkah. Sambil berjalan, tanganku merogoh ponsel di tas.
Tadi aku sempat memberitahu Gita jika sore ini aku di kampus. Mengetahui hal itu Gita mengajakku bertemu sekaligus untuk mengembalikan buku.
Aku berjalan sambil menatap ke layar ponsel. Membaca pesan dari Gita yang mengatakan dia menunggu di kantin.
Bruk!
Aku terdorong ke belakang saat tiba-tiba ada yang menabrakku. Atau justru aku yang menabraknya?
Perlahan aku mengangkat wajah hendak meminta maaf. Namun, saat melihat siapa yang berdiri, aku bungkam. Kata maaf yang hendak aku ucapkan entah ke mana.
“Kalau jalan lihat-lihat, ya. Untung kita nggak jatuh.”
“Hem...” Hanya itu yang keluar dari bibirku. Gadis itu menepuk pundakku lantas melanjutkan langkah. Aku menoleh ke belakang, menatap gadis itu yang berjalan cepat.
Drrrt!!
Getar ponsel di genggaman membuat tatapanku teralih. Aku kembali menatap ponsel, melihat pesan Gita yang mulai kesal karena terlalu lama menunggu. Aku lalu buru-buru ke kantin, takut Gita semakin mengamuk.
Jarak dari ruang dosen ke kantin tidak membutuhkan waktu lama. Tidak sampai dua menit, aku sampai di kantin.
“Sorry lama,” kataku selelah duduk di depan Gita.
“Ke mana aja, Neng? Lama banget.”
“Bimbingan.”
Tatapanku menjelajahi kantin yang tampak sepi, hanya beberapa mahasiswa yang masih nongkrong di luar jam perkuliahan. Lalu tatapanku tertuju ke meja yang sering ditempati Avram dan sahabatnya. Meja itu diisi oleh dua teman Avram, tapi lelaki itu tidak ada di sana.
“Nggak pesen makan?”
Aku menoleh ke Gita. Melihat gadis itu yang menunduk, sibuk dengan ponsel.
“Enggak. Tadi gue udah makan di rumah,” jawabku apa adanya.
“Oh, ya. Ini buku lo.”
Gita mendorong buku yang ada di depannya ke arahku. Aku mengambilnya dan memasukkan ke tas. Aku menatap Gita yang tidak lagi sibuk dengan ponsel, tapi tatapannya tertuju ke arah belakangku. “Ngeliatin apa lo?”
“Eh itu Avram sama siapa? Pacarnya?”
Aku menoleh. Aku melihat Avram duduk dengan gadis yang aku tabrak. Satu tangan Avram melingkar di pundak gadis itu. Tatapanku lalu kembali Gita. “Gue nggak tahu.”
Gita memajukan tubuh. “Gosip-gosipnya, sih, Avram punya pacar. Namanya Relin kalau nggak salah. Apa itu, ya, pacarnya?”
“Mungkin.” Aku menjawab sekenaku. Sebenarnya aku tahu sebelum Gita menyebut nama gadis itu. Aku rasa memang Relin pacar Avram.
“Mereka keliatan cocok, ya. Relinnya cantik Avramnya ganteng.”
Mendengar ucapan Gita aku menoleh ke tempat Avram dan Relin. Ucapan Gita memang benar, mereka terlihat cocok. Aku kembali merasa bersalah karena hadir di antara keduanya. Aku butuh kerjaan dan Avram menawariku dengan bayaran cukup besar.
“Avram yang hangat pasti bikin si Relin jatuh cinta.”
Tatapanku kembali ke Gita. Hangat? Gita belum tahu saja bagaimana mengerikannya Avram. Dia yang terlihat baik-baik nyatanya tak seperti itu. Jika Avram lelaki baik-baik tentu dia tidak menawarkan jasa itu kepadaku, kan? Apalagi sekarang dia punya pacar.
“Scar, lo balik nggak? Bareng gue aja, yuk!”
Aku tersentak. Pikiran tentang Avram putus karena ucapan Gita. Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal. Sebenarnya aku bingung, setelah ini aku bisa pulang atau tidak, tapi sampai saat ini Avram tidak memberiku pesan.
“Pulang nggak?” ulang Gita.
Aku mengangguk. Sepertinya Avram hari ini sibuk dengan Relin. Aku berdiri, lalu menoleh ke tempat Avram. Aku melihat Avram berbincang seru dengan Relin meski di sekitar mereka ada banyak orang. Buru-buru aku mengalihkan pandang sebelum Avram menyadarinya.
***
Darah.
Aku melihat bercak darah. Senyumku mengembang. Selama empat bulan ini aku selalu lega dan senang jika melihat darah menstruasikuku keluar. Ada dua hal yang membuatku senang. Pertama aku bisa berhenti sementara dari pekerjaanku. Yang kedua, jelas kalian tahu apa maksudku.
Tadi saat pulang bersama Gita, aku merasa tidak nyaman karena perutku yang terasa kaku. Tiga jam kemudian, darah itu keluar.
Tiga puluh menit kemudian aku selesai mandi dan ganti baju. Aku duduk di ranjang, mengeluarkan ponsel yang masih ada di tas. Aku harus menghubungi Avram tentang itu
Aku tidak mendapati pesan masuk. Aku membuka aplikasi w******p dan memilih chat teratas. Aku mengetikkan pesan untuk Avram lalu mengirimnya.
Tak lama aku lihat tanda biru muncul. Avram sudah membaca pesan itu, tapi tidak membalasnya. Aku menekan tombol back, hingga ponselku kembali ke tampilan awal.
Drtt!!
Baru saja ponsel itu aku letakkan tapi sudah bergetar. Aku melihat notifikasi dan ternyata dari Avram.
A: Mulai hari ini sampai empat belas hari kedepan lo nggak usah ke apartemen. Gue ngabarin lo kalau gue butuh.
Aku menghela napas panjang membaca pesan itu. Apa dia tidak butuh aku lagi? Apa Arvam lebih memilih Relin? Aku menggeleng. Untuk apa aku memikirkan hal itu? Avram hanya pelangganku sampai dua bulan ke depan. Tidak seharusnya aku mencampuri urusannya.