"Kok Kakak minum obat? Sakit?"
Air minum yang hampir aku telan sedikit muncrat mendengar pertanyaan itu. Buru-buru aku meletakkan gelas ke atas meja lantas menghapus air yang membasahi pipi. Aku menoleh ke penghubung dapur dengan ruang tengah. Zahya menatapku penasaran.
"Eh. Enggak kok. Kakak baik-baik saja," jawabku sambil menyentuh tengkuk.
"Terus tadi minum apa?"
"Vitamin," jawabku cepat. Aku tersenyum terpaksa ke Zahya agar tidak curiga.
"Oh, gitu. Di luar ada Kak Gita."
"Oh, ya? Kita ke depan, yuk!" Aku mendekati Zahya, memutar kursi roda dan mendorongnya. Saat mencapai ruang tamu, Gita duduk bersandar sambil mengipas wajah dengan kedua tangan. "Hai, Git!"
Gita menoleh. Dia bangkit berdiri dan mendekati. "Hai, Scar."
Aku menjabat tangan Gita saat gadis itu telah berdiri di depanku. "Duduk yuk!"
Gita kembali duduk.
Akudorong kursi roda Zahya ke sebelah sofa single sebelah Gita. Setelah itu aku duduk di sofa depan Gita. "Baru pulang dari kampus?" tanyaku. Tatapanku tertuju ke wajah Gita yang terdapat bintik keringat.
"Iya," jawabnya sambil mengusap peluh di pelipis. "Scar. Gue pinjem catetan lo semester empat dong."
"Oh iya, bentar gue ambilin."
Aku bangkit dan berjalan masuk. Aku melewati kamar dan menuju ke dapur. Aku memang sengaja tidak langsung mencari buku yang akan Gita pinjam dan memilih untuk membuatkan minum. Tidak pantas kalau sebagai tuan rumah tidak menyediakan minum.
Beberapa menit kemudian, aku selesai membuatkan Gita minuman. Aku keluar dapur dengan membawa nampan berisi segelas es teh. Samar-samar aku mendengar suara obrolan. Namun, saat aku datang seketika mereka menghentikan obrolannya.
"Kok diem? Lanjutin aja," ucapku sambil memindahkan segelas es teh dari nampan ke atas meja.
"Kita lagi ngomongin lo. Nggak enak dong ngomongin kalau ada orangnya."
Aku duduk di sofa single berhadapan dengan Gita. Aku menatap Gita dan Zahya bergantian dengan pandangan menyelidik. Apa benar mereka sedang membicarakanku? Tak lama senyum keduanya terbit lalu berganti terbahak.
"Haha. Bercanda, kali. Nggak usah gitu juga natapnya," jawab Gita.
"Kalian ngerjain gue?" Aku menatap Gita dan Zahya yang masih terbahak.
"Scar, catetan lo mana?"
Aku menepuk kening, lupa tidak sekalian membawa catatanku. "Bentar gue ambil dulu," ucapku. Aku bangkit dari sofa dan berjalan ke kamar.
Sesampainya di kamar aku mendekat ke meja belajar. Seingatku buku catatan itu aku letakkan di meja belajar. Aku cari satu persatu buku yang berjajar rapi. Lalu tatapanku tertuju ke buku pink yang berada di pojok meja belajar.
Aku mengambil buku itu dan membuka isinya. Ternyata benar materi perkuliahan tahun lalu. Kubuka bagian akhir. Biasanya saat aku bosan dengan materi kuliah aku membuat coretan di belakang. Entah itu curhatan atau kata-kata penuh semangat.
Saat melihat bagian belakang kosong, aku menutup kembali buku itu dan membawanya keluar kamar.
Tring....
Namun, saat sampai di depan pintu aku mendengar ponselku berbunyi. Aku berbalik dan berjalan ke ranjang. Ada pemberitahuan pesan masuk.
A: Ke apartemen gue jam 6.
Jemariku bergerak membalas pesan balasan untuk Avram. Setelah itu aku beranjak dan kembali ke ruang tamu.
"Ini, Git. Seinget gue nggak lengkap, deh. Kadang gue juga males nulis," kataku sambil mengulurkan buku ke Gita.
"Nggak apa-apa kok. Masih mending lo nulis, gue enggak. Ngandelin ingatan doang. Haha."
Aku geleng-geleng mendengar ucapan Gita. Dia memang memiliki ingatan yang cukup kuat. Meski jarang memiliki catatan, dia selalu masuk lima besar saat SMA.
Aku mengernyit melihat mata Gita yang berbinar. "Kenapa Git?"
"Ini, nih, yang gue cari. Gue pinjem, ya. Nggak lo pakai, kan?"
Aku menggeleng. "Pake aja. Gue belum butuh."
Tatapanku lantas beralih ke Zahya yang menatap Gita dengan wajah murung. Aku tersenyum miris, dia selalu seperti kali melihatku dengan Gita. Dia pernah cerita jika rindu dengan aktivitasnya. Sejak saat itulah aku semakin semangat mencari uang demi kesembuhan Zahya.
"Ya udah gue balik dulu, ya. Gue mau ngerjain tugas dulu." Gita memasukkan buku catatann ke atas. "Kak Gita balik, ya!" pamitnya ke Zahya.
Aku ikut berdiri saat melihat Gita berdiri sambil memakai ransel. Aku berjalan ke Zahya dan mendorong kursi rodanya keluar rumah. Aku dan Zahya berada di depan pintu menatap Gita yang mulai memanasi motor.
"Hati-hati, Git!" teriakku.
"Gue balik dulu, Scar. Za, Kakak balik dulu ya," pamit Gita kepadaku dan Zahya.
"Hati-hati, Kak."
Aku menunduk, melihat Zahya yang melambaikan tangan. Gita dan Zahya cukup dekat. Gita yang mudah bergaul bisa membuat Zahya yang sedikit pemalu sedikit ekspresif.
"Kak. Kok ngelamun?"
Tepukan di lengan membuatku tersadar. Aku menunduk dan melihat Zahya tengah mendongak. Aku menarik kursi roda ke belakang, lalu memutarnya ke dalam rumah. Setelah itu aku mendorong menuju ruang tengah. "Mau nonton?
Aku memposisikan kursi roda di depan sofa ruang tengah. Setelah itu aku berjalan ke depan tv dan menyalakannya. "Kamu cari sendiri. Kakak nggak tahu di nomor berapa," kataku sambil berjalan ke Zahya untuk menyerahkan remot.
"Oh ya, Za. Kakak bentar lagi berangkat kerja," kataku saat ingat pesan Avram.
"Kakak nanti pulang jam berapa?"
Aku menggaruk tengkuk yang tak gatal. Semalam aku pulang larut karena Avram yang kasar. Hari ini aku tidak tahu mood Avram, bisa jadi masih buruk.
"Nggak tahu. Nanti kalau lembur Kakak telepon Mbak Sarti biar nginep sini."
Wajah Zahya tampak kecewa, meski begitu kepalanya mengangguk. Aku tahu Zahya kurang nyaman dengan Mbak Sarti. Dia sering sungkan ke Mbak Sarti jika meminta tolong untuk membantu ke kamar mandi.
"Tetep usahain pulang, ya, Kak. Kalau nggak gitu bilang ke bos Kakak jangan lembur-lembur terus. Hehe."
Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar permintaan itu.
***
"Hiks... Hiks..."
Aku mendengar isak tangis.
"Hiks."
Isak tangis itu semakin terdengar kencang.
Aku memakai tas slempangku lantas keluar kamar. Aku lihat di depan tv Zahya sedang menunduk sambil terisak. Aku berjalan mendekat dan mengusap pundaknya.
"Kenapa nangis, Za?"
Zahya mendongak. Kedua tangannya dengan cepat melingkar ke pinggangku. Zahya terisak hebat di perutku. "Za, ada apa? Cerita sama Kakak."
"Inget Ahmar, Kak. Semalam aku mimpi Ahmar."
Tubuhku menegang mendengar nama lelaki itu. Seketika aku melepas pelukan Zahya dan menatapnnya tajam. "Kamu masih memikirkannya?"
Zahya mengangguk. Aku tersenyum tipis. Zahya mendadak sangat keras kepala jika menyangkut Ahmar—cinta pertamanya.
"Udahlah, Za. Jangan terus memikirkan hal yang sudah berlalu. Semua sudah tenang. Kakak nggak suka kamu mikirin dia terus."
"Kak, kakak masih benci Ahmar?"
Pertanyaan Zahya membuatku tersentak. Benci? Jika digambarkan aku tidak membenci Ahmar. Hanya saja aku masih kecewa dengan lelaki itu.
"Masih! Dia berjanji ke Kakak bisa menjagamu, tapi lihat apa yang dia buktikan," jawabku tidak menutupi rasa kecewaku terhadap Ahmar.
"Jangan membencinya, Kak. Semua nggak kayak yang Kakak pikirkan. Dia nggak seburuk yang Kakak kira."
"Sudahlah jangan ngomongin Ahmar. Kamu tahu sendiri Kakak nggak suka ngomongin dia. Kita selalu bertengkar tiap bahas Ahmar," ucapku menyerah.
Zahya menghapus air matanya. Setelah itu dia menatapku. "Zahya mohon lupain semuanya, Kak. Nggak pantas diungkit lagi keburukannya."
"Dan nggak pantas juga diungkit lagi kenangannya."
"Kenapa Kakak jahat banget, sih? Mau sampai kapan Kakak kecewa ke Ahmar?"
Aku mundur beberapa langkah saat mendengar teriakan Zahya. Sebelumnya dia tidak pernah berteriak seperti ini di depanku. Namun karena membahas Ahmar, dia bisa bertindak seperti itu. Cinta selalu membuat orang mendadak keras kepala.
"Sebelumnya kamu nggak pernah teriak di depan Kakak kayak gini, Za."
Zahya menunduk. Aku menggeleng, masih kaget dengan apa yang tadi Zahya lakukan.
"Zahya cuma pengen Kakak nggak benci Ahmar. Lupain rasa kecewa itu, Kak."
Mataku terpejam setelah mendengar ucapan Zahya. Lupain? Andai melupakan semudah itu. Aku tidak tahu sampai kapan rasa kecewaku terhadap Ahmar akan hilang. Rasa itu tumbuh semata-semata karena aku begitu menyayangi Zahya. Hingga saat lelaki itu mengecewakanku dan membuat Zahya menjadi seperti ini, aku tak terima. Apa itu salah?
"Sudahlah, Za. Kalau dibahas terus nggak bakal selesai kan?" kataku. Aku kembali mendekati Zahya. Aku menunduk dan mencium puncak kepalanya. "Kakak pergi dulu." Setelah itu aku berjalan keluar rumah.
Ucapan Zahya membuatku merenung. Memang tidak sepantasnya aku kecewa sampai detik ini, tapi aku bukan gadis yang mudah melupakan, terlebih jika dikecewakan. "Huh...." Aku menarik napas panjang sambil mencoba melupakan sedikit perdebatanku dengan Zahya.
***
Tiga bulan sebelumnya.
Jarum jam telah sampai di angka dua belas tepat. Tanda waktu semakin malam, bahkan telah berganti hari. Malam semakin larut, tapi tidak membuatku segera menjemput mimpi. Aku berjalan mondar-mandir di ruang tamu sambil mencoba menghubungi Zahya.
Tut... Tut.. Tut....
Terdengar nada sambung terputus. Entah ini sudah panggilan ke berapa, selama dua jam terakhir dan Zahya sama sekali tidak mengangkat panggilanku.
"Zahya! Kamu ke mana, sih?" Aku menghempaskan tubuh ke sofa panjang. Aku lelah sendiri berjalan mondar-mandir di ruang tamu.
Tatapanku tertuju ke jam di ponsel yang telah menunjukkan pukul dua belas lewat lima menit. Aku menoleh ke jendela rumah, melihat halaman rumahku. Belum ada tanda-tanda kepulangan Zahya.
"Ini lebih dari jam sepuluh, Za!"
Hari ini di Zahya ada acara perpisahan dengan teman-temannya di sebuah kelab. Sebelum berangkat, Zahya berjanji akan sampai rumah pukul sepuluh. Ternyata, sampai jam dua belas lebih belum ada tanda-tanda Zahya pulang.
Sebenarnya aku tidak setuju Zahya pergi. Aku khawatir terjadi sesuatu dengan Zahya. Mengingat dia yang begitu polos dan gampang dibujuk, aku hanya tidak ingin adikku kenapa-kenapa.
Apa yang aku khawatirkan sepertinya tidak dimengerti Zahya. Dia memohon agar bisa menghadiri perpisahan itu. Bahkan pacar Zahya yang badboy sampai memohon kepadaku agar aku mengizinkannya pergi. Hingga akhirnya, aku mengizinkan dengan syarat dia tidak boleh pulang lebih dari pukul sepuluh.
Mengingat pacar Zahya, sebenarnya aku kurang srek Lelaki bertindik di telinga itu kurasa tidak baik untuk Zahya. Aku sudah mencoba menasihati, tapi adikku satu itu sedang jatuh cinta ke badboy itu. Bisa kalian tebak, Zahya tidak mendengar nasihatku. Menasihati orang yang jatuh cinta itu percuma.
Berulang kali Ahmar meyakinkanku jika dia adalah lelaki yang terbaik untuk Zahya. Beberapa kali aku hampir tersentuk dengan sikapnya. Namun entah kenapa aku tetap merasa Ahmar bukan lelaki baik-baik.
Drttt....
Ponsel yang aku genggam bergetar. Aku melihat nama Zahya muncul di layar. Rasa kesalku kembali memuncak, karena Zahya ingkar janji dan tidak memberiku kabar. Aku menggeser layar hijau lantas mengangkat panggilan itu dengan rasa kesal. "Kamu ke mana saja? Ini sudah jam dua belas lebih, Za! Cepat pulang!"
"Apa benar ini keluarga Zahya? Saya Banu dari pihak kepolisian."
Seketika aku berdiri mendengar siapa yang berbicara. Kepolisian? Apa yang terjadi sampai polisi menghubungiku dengan nomor Zahya? Jantungku berdetak cepat. Dadaku tiba-tiba sesak entah kenapa.
"Benar, Pak. Saya Scarla kakak Zahya. Ada hal yang terjadi, Pak?"
"Zahya mengalami kecelakaan."
Prak....
Ponsel yang aku pegang meluruh begitu saja. Kalimat Pak Banu membuat sekujur tubuhku kaku. Darah seolah berhenti beberapa saat. Aku tidak bisa bereaksi. Terlalu syok dengan apa yang aku dengar.
Hingga beberapa detik, aku kembali menguasai diriku. Aku membekap mulutku sambil terisak hebat. Zahya. Zahya kecelakaan?
Aku menunduk, dan melihat ponselku yang berada tidak jauh dari kaki. Buru-buru aku mengambil ponsel dan menempelkan ke telinga.
"Halo.. Halo.." Pak Banu kembali memanggil.
"Sekarang Zahya di mana, Pak? Bagaimana keadaannya? Saya ke sana sekarang!"
Seiring dengan kalimatku, aku berlari ke kamar untuk mengambil tas. Setelah itu aku keluar rumah, masih dengan berlari. Aku mendengar Pak Banu memberi tahu, di mana Zahya dirawat.
Aku memasukkan ponsel di saku celana dan berlari cepat di kampung yang telah sepi. Air mataku menetes, dan aku biarkan tetesan itu membasahi pipi. Tidak penting untuk menghapus air mata. Sekarang, yang terpenting aku harus cepat sampai di rumah sakit Zahya.
"Pak! Ojek, Pak!" teriakku ke tukang ojek di pangkalan pertigaan kampung yang untungnya masih ada di tengah malam.
Aku buru-buru naik ojek. Kedua tanganku gemetar, air mataku masih mengalir. Selama menunggu Zahya, aku tidak pernah berpikiran akan terjadi hal buruk seperti ini.
"Hiks."
Aku menutup kedua mataku dengan tangan. Ini ketiga kalinya aku merasakan hal menegangkan dalam hidupku. Pertama saat mengetahui ayahku kecelakaan. Kedua saat mendapat kabar ibuku meninggal. Dan yang ketiga, saat ini.
Kumohon Tuhan, jangan sampai kejadian ketiga seperti kejadian pertama dan kedua. Aku tak ingin kehilangan adikku.
Kini, aku berlari di halaman rumah sakit. Sial! Siapa yang membuat halaman rumah sakit seluas ini? Membuatku membutuhkan waktu untuk sampai ke ruangan Zahya.
"Huh.. Huh.." Deru napasku terdengar putus-putus.
Aku menunduk saat perutku terasa ditusuk. Tak berapa lama, aku paksakan untuk berlari tapi tidak sekencang tadi.
"Mbak, di mana ruangan, Zahya? Korban kecelakaan," tanyaku ke petugas resepsionis.
"Silakan cek di ruang IGD," jawab suster sambil menunjuk ke sebelah kanan.
Aku menoleh dan melihat dua orang polisi berdiri di sana. Tak ingin buang-buang waktu, segera aku dekati dua polisi itu. "Permisi Pak. Apa Zahya adik saya ada di dalam?"
Pertanyaanku membuat dua polisi yang sedang berbincang itu seketika menoleh.
"Mbak yang tadi di telepon?" tanya polisi berkumis.
Banu.
Aku lihat name tag di pakaian dinas polisi itu. Aku mengangguk mantap. "Iya, Pak. Adik saya di dalam? Saya boleh melihatnya?"
"Adik, Anda sedang ditangani dokter. Bersabar sebentar."
Aku menghela napas berat. Sebenarnya aku ingin menerobos masuk dan cepat bertemu Zahya untuk memastikan keadaannya. Beruntung masih ada sisa kewarasanku, sehingga aku tidak melakukan tindakan gegebah itu, yang aku lakukan adalah berjalan ke kursi tunggu yang tersedia di depan ruangan.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Pak?" tanyaku ke Pak Banu, setelah beliau duduk di kursi sebelahku.
"Mobil yang ditumpangi Adik Anda diduga kehilangan keseimbangan hingga bertabrakan dengan truk dari arah berlawanan."
Air mataku yang sempat berhenti kini mulai turun membasahi pipi. Apa yang diucapkan Pak Banu membuat pikiran yang tidak-tidak mulai berkecamuk. Bagaimana dengan kondisinya sekarang? Parahkah? Bagian mana yang terluka?
Aku menoleh ke dua polisi yang menatapku kasihan. "Lalu bagaimana mana dengan si pengemudi, Pak? Apa Zahya bersama lelaki bertindik?"
Aku ingat, Zahya berangkat bersama Ahmar. Dan lelaki itu berjanji kepadaku untuk mengantar Zahya pulang tepat waktu.
"Benar. Dugaan, pengendara dalam pengaruh alkohol."
Mataku melotot mendengar penejelasan itu. Dipengaruhi alkohol? Aku mendengus. Ketidaksukaanku kepada Ahmar terbukti. Dia memang bukan lelaki baik.
Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan Zahyadekat dengan lelaki itu. Dua kali aku dikecewakan oleh janji-janji Ahmar yangkatanya mampu melindungi Zahya. Kenyataannya apa? Dia malah membuat Zahya terluka.