Dari kejauhan aku melihat rumah tua yang sangat kontras dengan rumah di sebelahnya. Pagarnya tampak mengganggu pemandangan jika dibandingkan dengan pagar besi berukir milik tetangga. Namun rumah tua itu, amatlah berarti bagiku.
Di rumah itu aku tumbuh dengan limpahan kasih sayang dari kedua orangtuaku. Di rumah tua itu, aku saling berbagi kebahagiaan, pengorbanan, perjuangan dan kesedihan. Sekaligus, rumah yang begitu hangat.
Krek!
Bunyi engsel pagar kayu selalu terdengar kala pagar itu terbuka. Aku berjalan masuk, tak lupa menutup kembali pagar kayu yang hampir reot. Usai menutup pagar, aku berbalik. Tatapanku tertuju ke halaman luas khas rumah kuno.
Dua pohon mangga berada di tengah halaman luas itu. Tampak asri? Tidak! Kondisi halaman sangatlah buruk. Tanah kering terlihat jelas meski saat ini sudah malam dan minim penerangan. Tatapanku lantas tertuju ke dua pohon mangga yang tersisa batang pohon tanpa daun. Rumahku buruk? Mungkin bagi sebagian orang iya. Tapi bagiku, rumahku tetap yang terbaik.
Aku berjalan masuk menginjak paving yang membelah tanah kering sampai ke teras rumah. Dari kejauhan aku melihat lampu ruang tamu masih menyala.
Ceklek!
Aku mendorong pintu dengan pelan. Tatapanku seketika tertuju ke sofa. Senyumku terbit melihat seseorang tengah tidur meringkuk. Tampak pulas meski panjang sofa itu tidak bisa menampung keseluruhan tubuhnya.
Perlahan aku mendekati seseorang yang sedang beradu dengan mimpi itu. Aku menyentuh lengan kurusnya, dan mengguncangnya pelan. "Mbak...."
"Ehm..." Tak lama kelopak mata itu bergerak, dan sepenuhnya terbuka. "Scarla! Udah pulang? Aduh maaf, ya, Mbak ketiduran," ujarnya sambil bangkit duduk.
"Nggak apa-apa kok, Mbak." Aku duduk di sofa yang tadi menjadi ranjang Mbak Sarti. Perhatianku tertuju ke mata Mbak Sarti yang memerah. Dia pasti sangat lelah. "Oh ya, ini ada nasi goreng," kataku sambil menyodorkan kresek putih yang masih aku pegang.
"Aduh, Scar. Nggak usah repot-repot. Buat kamu aja. Kamu pasti belum makan, kan?"
Lihatlah, wanita itu masih memikirkanku. Membuatku terharu. "Aku udah makan kok, Mbak. Ini buat Mbak Sarti sama anak-anak."
Dia terlihat mulai bimbang. "Ini, Mbak. Buat anak-anak," bujukku.
"Makasih ya, Scar."
"Sama-sama. Kalau Mbak Sarti mau pulang nggak papa kok. Kasihan anak-anak di rumah, pasti udah nungguin."
Mbak Sarti menggenggam tanganku dan mengusapnya pelan. "Makasih ya Scar. Mbak pulang dulu kalau gitu."
"Iya, Mbak. Terima kasih bantuannya."
Mbak Sarti mengangguk sebelum keluar rumah. Aku berdiri, berjalan menuju pintu dan menguncinya dari dalam. Aku bersandar di daun pintu lalu mengusap wajah.
Mbak Sarti adalah pembantu di rumahku. Bukannya aku sok karena punya pembantu dengan kondisi ekonomi yang sulit. Aku meminta jasa Mbak Sarti, untuk membantu Zahya selama aku tidak ada. Mbak Sarti janda dua anak yang dari dulu selalu perhatian denganku dan Zahya. Saat Ibuku meninggal, Mbak Sartilah yang selalu menguatkan. Aku tak lagi punya siapa-siapa ayah, ibu, kakek dan nenek juga telah tiada. Sanak saudara lainnya, mereka sibuk sendiri demi menyambung nasib.
Zahya.
Buru-buru aku berjalan masuk saat ingat dengan adikku. Aku membuka pintu kamar Zahya dengan pelan dan menengok ke dalam. Seorang gadis tampak terlelap dengan selimut yang hanya menutupi kaki.
Perlahan aku masuk dan mendekatinya. Aku menarik selimut Zahya hingga sebatas d**a. Setelah itu aku duduk di pinggir ranjang dan menatapnya yang terlelap.
Aku mengusap keningnya lembut. Saat ini, hanya Zahya satu-satunya harta berharga yang aku punya dan aku sangat menyayanginya. Tatapanku lantas tertuju ke kursi roda yang berada di dekat jendela. Kepalaku langsung tertunduk. Tiga bulan ini, Zahya hidup dengan bantuan kursi roda.
Tes.
Tanpa sadar air mataku menetes membasahi pipi. Melihat adik yang aku sayangi hidupnya tidak bebas lagi membuatku sakit. Aku mengangkat wajah, dan saat itulah tatapanku tertuju ke bingkai foto yang menempel di dinding.
Melihat wajah lelaki dengan tindik di telinga yang ada di bingkai itu membuat emosiku memuncak. Lelaki itu membuatku sangat kecewa. Bahkan sampai saat ini.
***
Puk... Puk....
Aku menyapukan bedak di wajah Zahya. Dia tersenyum setelah aku menepukkan tanganku ke pipinya. Zahya sangatlah cantik. Kulit putih warisan ibu ditambah dengan mata cokelatnya yang berbinar. Berbeda denganku yang mewarisi gen ayah. Kulitku tidak seputih Zahya dan warna mataku lebih gelap.
"Semalem Kakak pulang jam berapa?"
"Jam berapa, ya? Lupa." Tentu saja aku berbohong.
"Zahya nungguin Kakak, tapi nggak dateng-dateng."
Aku bersimpuh di depan Zahya. Aku menatap Zahya yang kecewa karena semalam aku tak kunjung datang. Aku menyentuh rambutnya dan membelainya pelan. "Maaf ya."
"Zahya yang harusnya minta maaf. Harusnya Zahya lebih kuat lagi nunggu. Bukan malah ketiduran."
Lihat, adikku baik bukan? Meski kami lahir dari rahim yang sama, sifat kami sangatlah berbeda. Zahya memiliki hati yang tulus. Hal yang mungkin tidak ada dalam diriku.
"Kak. Malah ngelamun, sih?"
Aku tergagap. Zahya mencebikkan. Aku mencubit hidung mancungnya karena gemas. "Siapa yang melamun, sih? Enggak!"
Zahya mengusap hidungnya yang pasti berdenyut karena cubitanku. Aku terkekeh pelan.
"Kemarin di rumah ngapain aja?"
Rutinitasku saat pagi hari adalah menanyakan aktivitas Zahya. Meski aku tidak bisa menemaninya seharian, aku selalu memantau kesehariannya. Baik itu tanya ke Zahya langsung atau bertanya ke Mbak Sarti.
"Kemarin nonton sinetron India, sih, sama Mbak Sarti. Tahu sendiri Mbak Sarti suka banget nonton itu. Terus ngajarin Omar ngerjain PR."
Akhirnya ada kegiatan bermanfaat yang bisa dilakukan Zahya. Setidaknya melihatnya berinteraksi dengan orang lain membuatku sangat senang. "Oh ya? Seru, ya, ngajarin Omar. Kalau Opam nggak kamu ajarin juga?" tanyaku. Omar dan Opam adalah anak Mbak Sarti yang sering datang usai pulang sekolah.
"Opam kemarin nggak ke sini. Ikut neneknya jualan di pasar."
"Oh gitu. Kurang seru kalau nggak ada Opam." Tatapanku lalu tertuju ke bedak yang tergeletak di pinggir ranjang. Lantas memindahnya ke lemari kecil sebelah ranjang.
"Kalau hari Kak Scarla gimana? Ada hal seru nggak waktu kerja?"
Gerakanku yang menutup pintu seketika terhenti mendengar pertanyaan itu. Hal seru? Bahkan pekerjaanku tidak ada seru-serunya. Aku berbalik, melihat satu alis Zahya tertarik ke atas. Sepertinya dia penasaran dengan keseharianku.
"Biasa aja kok," jawabku sambil mengibaskan tangan. "Za, kakak udah masak nasi goreng."
"Bener?"
"Bener. Sarapan dulu yuk." Aku berjalan ke balik kursi roda Zahya dan mendorongnya keluar kamar. Maafin kakak, Za. Kakak nggak mau kamu tahu pekerjaan kotor kakak. Aku menarik napas panjang dan mencoba menghilangkan rasa bersalah yang sempat mengganjal.
Sesampainya di meja makan, aku mengambil balok kayu dan memasangnya di depan Zahya. Dia kesulitan jika makan di meja makan yang cukup tinggi. Maka dari itu aku berinisiatif, membelinya balok yang aku letakkan membentang ke tangan kursi roda. Dengan cara seperti itu Zahya bisa makan tanpa kesusahan.
Bisa saja aku membantu Zahya untuk pindah ke meja makan. Namun, Zahya selalu menolak. Alasannya karena dia tidak ingin terlalu merepotiku. Padahal, aku tidak akan pernah merasa direpoti jika itu menyangkut Zahya.
"Ini nasi gorengnya." Aku meletakkan nasi goreng di atas balok kayu itu lalu menunduk menyejajarkan wajah dengan Zahya. Melihat mata itu kembali berbinar, rasa lelahku selama ini terbayar. Jika mengingat tiga bulan yang lalu, rasanya aku hampir putus asa. Takut tidak bisa melihat binar di mata Zahya.
"Kak. Kakak nggak makan?"
"Eh..." Aku tersentak. Aku berdiri tegak lantas berjalan ke meja makan. "Ini mau makan," jawabku dengan cengiran.
Zahya kembali melanjutkan makannya. Melihat Zahya yang begitu lahap, membuatku ikutan lapar. Aku mengalihkan pandang dan mulai menyantap nasi goreng super sederhana buatanku.
***
Aku membuka mataku perlahan, rasa kantuk masih terasa membuat mataku sebenarnya enggan terbuka. Sekarang jam berapa? Aku mencoba memaksakan mata untuk terbuka lalu bangkit duduk. Tubuhku terkena angin, dengan cepat menarik selimut yang menggantung di pinggang dan menariknya sampai bawah leher.
Pandanganku menjelajah kamar yang tidak seperti kamarku. Lalu, tatapanku tertuju ke lelaki yang terlelap memunggungiku. Seketika aku tersadar sedang berada di kamar siapa. Aku ingat, semalam dia berbuat kasar kepadaku. Entah apa yang sedang dia alami hingga melampiaskan kekesalannya kepadaku. Tatapan hangat yang selalu ada di mata Avram semalam lenyap berganti tatapan amarah. Aku tidak berani bertanya, aku merasa tidak berhak menanyakan itu.
Perlahan aku turun dari ranjang lantas mengambil pakian yang berceceran di lantai. Aku buru-buru memakainya agar bisa segera pulang. Aku ingat dengan Zahya, pasti dia semalam bingung karena aku tidak pulang. Maafkan kakakmu ini.
Usai berganti pakaian aku menuju pintu. Aku membuka pintu pelan lalu menelusup keluar. Saat menutup pintu aku menyempatkan diri menatap Avram. Dia tampak damai dalam tidurnya. Setelah itu menutup pintu aku berjalan ke ruang tamu, mengambil tas ransel yang di atas sofa lalu keluar dari apartemen.
Saat di luar, aku amati nomor pintu apartemen. 0606, apartemen yang selama sebulan ini aku kunjungi. Aku menarik napas panjang sambil balik menjauh. Aku berjalan ke arah lift dengan pikiran berkelana sebelum aku melakukan perjanjian dengan Avram. Sebelumnya hampir setiap malam aku berganti lelaki, mencari yang kaya setiap malamnya agar bayaranku cukup tinggi.
Aku mengenal dunia ini karena dikenalkan Kak Linsi temanku di kafe dulu. Kak Linsi sudah setahun bekerja sampingan, sama sepertiku. Awalnya Kak Linsi yang mencarikan lelaki untukku, tapi sejak aku mulai tahu di mana aku bisa mencari lelaki, aku mulai bekerja sendiri.
Rata-rata aku bersama karyawan kantoran. Ada juga mahasiswa, tapi aku hanya mau sekali saja. Karena aku takut kedokku akan terbongkar di kalangan teman-temanku.
Berbeda dengan Avram, aku memiliki perjanjian hitam di atas putih dengannya. Aku memintanya agar tidak membocorkan pekerjaan sampinganku.
"Scarla!"
Saat sedang di lobi aku mendengar ada yang memanggilku. Aku menoleh ke belakang dan menemukan wanita yang tadi sempat hinggap di pikiranku. "Hai, Kak," sapaku saat Kak Linsi sudah berdiri di depanku.
"Hai, Scar. Ada kerjaan di sini?"
Aku tersenyum seraya mengangguk. "Iya. Kakak sendiri?"
"Sama. Gimana? Lo baik-baik aja, kan?"
Aku mengalihkan pandang. Baik-baik saja? Jika mau jawaban jujur aku akan menjawab tidak baik-baik saja, tapi aku tidak mungkin menjawab seperti itu. "Baik-baik aja kok, Kak."
Raut Kak Linsi berubah sedih. Dia menarik tanganku dan menggenggamnya erat. "Maafin gue, ya. Harusnya gue nggak nawarin kerjaan ini ke lo."
"Udahlah, Kak jangan mikir yang aneh-aneh."
"Lo sering minum pil, kan? Jangan sampai lupa, loh."
Aku mengangguk.
"Scar, kenapa lo berhenti kerja di kafe? Gue nggak punya temen curhat."
"Capek, Kak. Apalagi bentar lagi skripsi, mau fokus dulu."
Aku tentu tidak akan menjawab jujur kalau sebenarnya Avram yang melarangku. Apalagi di perjanjian itu aku harus siap sedia jika Avram memintaku sewaktu-waktu.
"Semoga setelah lo lulus dapat kerjaan yang enak, deh. Jangan lanjutin kerjaan ini."
"Iya, Kak, semoga," kataku. Aku dan Kak Linsi lalu keluar dari lobi.
Aku dan Kak Linsi bernasib sama. Sama-sama bekerja demi menyembuhkan orang yang kami cintai. Bedanya aku mengobati adikku sedangkan Kak Linsi menyembuhkan suaminya. Aku berharap aku dan Kak Linsi suatu saat nanti bisa berhenti dari kerjaan kotor ini.