1-Di Balik Sifat Hangat

1923 Words
Buku tebal di depan d**a aku peluk erat sambil berlari menuju ruang dosen. Pagi ini aku ada janji bimbingan dengan Pak Bagja—dosen pembimbingku, tapi aku malah terlambat tiga puluh menit. Bukan tanpa alasan aku terlambat, aku bangun kesiangan dan harus mengurus Zahya—adikku. "Maaf Pak saya terlambat." Sesampainya di hadapan Pak Bagja aku segera menunduk sebagai rasa hormat sekaligus permintaan maaf. Pak Bagja salah satu profesor di jurusan Pendidikan Ekonomi tempatku menimba ilmu. Jadi bisa kalian bayangkan, kan, betapa susahnya menemui beliau? Dan aku malah menyiakan kesempatan itu. "Saya kira kamu tidak datang, Scarla," ucap Pak Bagja sambil membenarkan posisi duduknya menjadi tegap. "Silakan duduk." "Huh.... "Aku menghela napas berat. Aku sempat berpikiran buruk kalau Pak Bagja tak mau membimbing karena keterlambatanku, tapi ternyata beliau tidak setega itu. "Saya ingin menyerahkan proposal saya, Pak. Sebelumnya saya sudah bimbingan dengan Bu Alia. Ini proposal saya," ucapku sambil menyerahkan proposal yang tadi aku selipkan di antara dua buku tebal. "Rencananya mau mengambil metode kuantitatif atau kualitatif?" tanya Pak Bagja sambil membaca proposalku bagian latar belakang. Aku lalu menjawab pertanyaan itu. "Saya menggunakan kuantitatif Pak, atas saran Bu Alia." Pak Bagja mengangkat wajah, menatapku ragu. Dalam hati aku harap-harap cemas, takut beliau tak menyetujui metode yang aku gunakan. Pak Bagja adalah dosen pembimbing satu, jadi beliau berhak tidak menyetujui apa yang aku rencanakan. "Kalau menggunakan kuantitatif pastikan ada teorinya. Kebanyakan mahasiswa gagal karena tidak bisa mengungkapkan teori yang kongkret." "Baik, Pak. Saya sudah mencari teori yang sesuai dengan variabel yang saya gunakan." Pak Bagja kembali membuka proposalku dan membacanya. Aku duduk dengan kedua tangan saling menggenggam di atas paha. Saat menunduk, dari ekor mataku aku melihat seorang lelaki tengah menarik kursi lalu duduk di sana. Aku menoleh dan tubuhku seketika kaku. "Scarla. Kamu dengar apa yang saya katakan?" Suara Pak Bagja membuatku mengalihkan pandang. Aku melihat Pak Bagja menatapku dengan pandangan menyelidik. "Maaf, Pak," ucapku lalu menggigit bibir. Pak Bagja menghela napas berat. Ah Scarla! Dalam hati aku memaki diri sendiri. Bagaimana bisa aku bertindak ceroboh dua kali? "Begini, Scarla. Saya rasa untuk bagian populasi, jelaskan secara real sesuai data di lapangan. Untuk bagian sampel cukup kamu isi dengan teknik sampling beserta alasannya. Oke?" Aku mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan lalu mencatatnya di buku agar tidak lupa dengan saran beliau. Diam-diam aku melirik ke dua meja dari meja Pak Bagja. Lelaki itu tampak serius berbicara dengan Pak Yunus yang sepertinya dosen pembimbingnya. Tanpa sadar aku tersenyum. Ternyata lelaki itu rajin juga. Aku kira dia tipe lelaki kaya yang menganggap semua bisa terselesaikan dengan uang. Aku kira dia kuliah hanya untuk nongkrong seperti yang sering terlihat, tapi ternyata tidak. Lelaki itu sangat tak bisa ditebak. "Ada yang perlu kamu tanyakan lagi?" "Eh!" Aku tergagap mendengar pertanyaan Pak Bagja. Pak Bagja duduk dengan kedua tangan terlipat di atas meja, mungkin sudah muak dengan tingkahku. Perhatianku lalu tertuju ke proposal skripsiku yang sudah ada di hadapan. Kapan Pak Bagja selesai ngoreksi? Ah lagi-lagi aku berbuat salah. "Emm.. Sepertinya tidak, Pak." Pikiranku blank. Pertanyaan yang telah tesusun rapi di otakku sedari semalam buyar karena aku terlalu memikirkan lelaki tadi. "Terima kasih Pak untuk bimbingan hari ini. Mohon maaf jika saya tadi datang terlambat dan banyak melamun." Perlahan aku bangkit seraya mengambil proposalku yang masih tergeletak di meja dan aku selipkan di antara dua buku tebal. "Nggak apa-apa. Bukan hal baru lagi ada mahasiswa melamun saat bimbingan." Mendengar ucapan Pak Bagja tidak membuatku tenang meski aku bukan satu-satunya mahasiswa yang melamun saat bimbingan. Aku lantas membungkuk untuk mencium tangannya. "Saya permisi, Pak. Terima kasih atas waktunya." "Sama-sama. Cepat kerjakan proposalmu!" Aku mengangguk, setelah itu berbalik. Saat itulah tatapanku langsung tertuju ke lelaki itu yang sedang berbicara dengan kedua tangannya bergerak. Sepertinya sia sedang menerangkan sesuatu ke Pak Yunus. Sebelum dia memergokiku, aku buru-buru berjalan keluar dari ruang dosen. Saat hendak mencapai pintu, aku berpapasan dengan Anjani, Laili dan Fika. Aku tersenyum saat tatapanku bertemu dengan Anjani. "Hai," sapaku kepada tiga teman satu offering-ku. Tidak ada respons berarti dari mereka, hanya melirik, melengos lantas berjalan masuk ke ruang dosen. Mendapati respons itu aku hanya bisa menarik napas panjang. Jangan dimasukin hati, Scarla. Bukannya itu udah biasa? *** "Scar! Ada Avram!" "Uhuk!" Aku yang sedang memakan batagor seketika tersedak mendengar nama lelaki itu disebut oleh Gita—sahabatku. Aku mengambil air mineral dan menegaknya agak kasar. "Gita. Gue sampe tersedak tahu!" Gita diam tidak menggubris ucapanku. Dia malah senyum-senyum sambil menatap ke arah kiri. Aku mengikuti arah pandang Gita. Hingga aku melihat tiga lelaki yang sedang bercanda. Pandanganku lantas tertuju ke lelaki berkemeja biru kotak-kotak yang tersenyum tipis. Tanpa sadar aku mengamati lelaki yang tadi aku temui di ruang dosen. Dia terlihat menyimak cerita sahabatnya yang mengenakan topi. Sudut bibirku tertarik ke atas, Avram memang terlihat hangat dan bersahabat, tapi siapa sangka lelaki itu bisa berubah seratus delapan puluh derajat dengan cepat. Tidak disangka Avram dengan tiba-tiba menoleh ke arahku. Buru-buru aku membuang muka, tidak ingin dia yang sedang terlihat bersahabat menjadi emosi karena aku menatapnya. Lantas aku melanjutkan kegiatan makanku yang sempat tertunda. "Scar. Avram manis banget, ya, kalau senyum. Pantes banyak cewek yang ngejar-ngejar dia." Gita kembali bersuara. Iya, Git. Aku melirik Gita yang tidak lagi menatap Avram, tapi menatapku dengan kedua tangan menyatu dan dagu bersandar di atas tangan. Aku diam tidak menggubris ucapannya meski dalam hati aku mengiakan. "Setelah ini lo ke mana? Kalau mau balik bareng gue aja." Aku mengunyah batagor terakhir lalu menelannya sebelum menjawab pertanyaan itu. "Ke perpus dulu. Mau belajar teknik sampling." "Yah gue kira lo pulang. Gimana proposal lo?" tanya Gita yang tampak penasaran. "Baru aja dicek Pak Bagja. Ya gitu, ada yang harus gue benerin." "Semangat, ya!" Aku mengangguk. Gita sahabatku dari SMA, tapi sekarang dia satu tingkat di bawahku. Setelah lulus SMA dia tidak langsung kuliah, melainkan mencari kerja. Penasaran, itu yang Gita bilang saat aku tanya alasan memilih bekerja. Namun, setahun kemudian Gita memilih kuliah, katanya, sih, lelah dianggap sebelah mata oleh karyawan tempatnya bekerja karena hanya lulusan SMA. "Oh, ya, gimana kabar adik lo?" Perlahan aku mengangkat wajah. Gita menatapku dengan kedua tangan terlipat di atas meja. "Baik. Yah meski sering murung," jawabku sedikit lesu dikata terakhir. "Tapi setidaknya nggak kayak tiga bulan yang lalu, kan?" "Iya. Udah agak mendingan." Aku tersenyum tipis. Membahas Zahya membuatku ingat dengan kehidupan berat yang kualami dan adikku satu-satunya. Aku duduk bersandar lalu tatapanku tertuju ke lantai dengan pandangan menerawang. Aku tidak tahu, kehidupan berat ini sampai kapan akan berakhir. "Kok muka lo jadi murung gitu?" Aku tersentak mendengar suara Gita. Aku kembali menatapnya. Ternyata dia menatapku khawatir. Aku menggeleng dengan senyuman yang aku paksakan. "Nggak kok." "Gue kira lo inget kejadian tiga bulan lalu. Jangan terlalu dipikirin. Nanti lo nggak bakal gendut." Bibirku mengerucut mendengar dukungan sekaligus menjatuhkan dari Gita. "Itu hinaan atau pujian?" "Hinaanlah. Masa lo nggak bisa bedain mana pujian mana hinaan. Hahaha." "Salah terus, ya, Git ngomong sama lo." "Haha.... " Gita terbahak mendengar ucapanku. Begitulah Gita. Dia selalu bisa menghiburku dengan caranya sendiri. Mendengar candaan sederhananya membuat hidupku yang tegang menjadi sedikit berwarna. Inilah yang aku butuhkan dari sahabat, yang bisa membuatku melupakan sejenak semua permasalahanku. "Lo mau ke mana, Git?" tanyaku saat melihat Gita memakai tasnya. "Balik, udah sore. Beneran lo nggak mau bareng?" Aku menggeleng. "Makasih, Git. Tapi gue mau ke perpus dulu." Gita berdiri di seberang meja. Dia membenarkan rambutnya yang diikat kuda setelah itu mengulurkan tangan. Aku pun berdiri dan membalas jabatan itu. "Kalau gitu gue balik dulu. Hati-hati lo!" "Lo juga hati-hati, Git. Jangan ngebut." Terlihat anggukan dan dua jempol yang diangkat oleh Gita. Setelah itu Gita meninggalkanku di meja kantin seorang diri. Aku kembali duduk dan meminum air mineral. Lebih baik aku segera pergi ke perpustakaan dan bisa segera pulang. Aku ambil tas punggung yang tadi tergeletak kursi sebelah. Saat aku hendak berdiri ponselku di atas meja bergetar. A: Gue tunggu di apartemen! Gue butuh lo. Refleks Aku menoleh ke tempat Avram, lelaki itu tidak ada di sana. Aku menghela napas panjang. Rencanaku ke perpustakaan gagal karena panggilan itu. Aku berdiri dan berjalan cepat keluar kantin. *** Sebuah kecupan bibir pertanda permainan kali ini telah selesai. Tak lama tubuh yang menimpaku bangkit dan berguling ke samping. Aku bangkit dari posisiku dan menarik selimut biru laut untuk menutupi tubuhku. "Kenapa lo pakai selimut? Nggak panas emang?" Aku menoleh sekilas ke Avram. Lelaki itu turun dari ranjang, sepertinya mencari pakaian yang tadi dia buang asal. "Nggak panas kok. AC lo kenceng," bohongku. "Tadi bimbingan sama Pak Bagja?" Mendengar dia kembali berbicara aku menoleh. Kini Avram duduk menghadapku dengan bantal di atas paha. Dia terlihat penasaran menunggu jawabanku. "Ya. Gue bimbingan sama Pak Bagja," jawabku. "Oh ya, Pak Yunus dosen pembimbing lo? Kok bisa sama Pak Yunus. Beliau, kan, dosen jurusan ekonomi. Sedangkan lo...." "Pak Yunus, kan, juga dosen manajemen." "Oh gitu. Gue baru tahu." Tatapanku lalu tertuju ke lantai. Aku tidak melihat tanda-tanda pakaianku berserakan di sekitar ranjang. Lelaki itu membuangnya ke mana sih? "Nyari pakaian? Bentar gue ambilin." Aku menoleh dan Avram turun dari ranjang. Usai turun dari ranjang, dia bertolak pinggang. Sedetik kemudian dia berjalan beberapa langkah dan menunduk. Sepertinya dia telah menemukan pakaianku. "Nih." Avram melemparnya ke ranjang. "Makasih, Vram." Segera aku mengeratkan selimut yang menutupi tubuh. Sedangkan satu tanganku bergerak memakai pakaian. "Gue ke dapur. Kalau udah nyusul ke sana." Aku menganggung. Setelah mendapat respons, Avram berbalik dan berjalan keluar kamar. "Huh.... "Aku menghela napas lega karena lelaki itu telah keluar. Aku langsung turun dari ranjang. Meski di kamar sendiri, aku tidak melepas lilitan selimut itu. Hanya sekadar antisipasi, jika lelaki itu tiba-tiba masuk.. Tak sampai lima menit, aku kembali berpakaian. Aku menyisir rambutku yang pasti berantakan dengan kedua tangan. Setelah itu menuju dapur, sesuai permintaannya. Saat keluar kamar, aroma kopi menguar. Perlahan aku berjalan ke dapur. Avram duduk di kursi makan sedang menyeduh secangkir kopi yang masih mengepul. Bibirku terbuka ingin menyapa, tapi tertutup lagi. Rasa canggung itu selalu muncul. Sudah berkali-kali aku mencoba mengatasi, tapi selalu tidak bisa. "Huh...." Aku mengusap d**a kemudian semakin mendekat. "Vram." Avram mendongak. Dia memintaku mendekat lewat gerakan tangannya. Aku mendekat lantas duduk di depannya. "Gue udah buatin teh, buat lo." Tatapanku tertuju ke gelas bening berisi teh di depanku. Tanpa sadar aku tersenyum, dia sedikit perhatian. Aku menarik gelas itu dan mengangkatnya hingga ke depan bibir. "Lo bikin ini buat gue?" "Menurut lo?" Senyumku pudar mendengar kalimat Avram yang diucapkan dengan datar. Baru saja dia terlihat manis, tapi selanjutnya menyebalkan. "Bayaran lo udah gue transfer setengah. Sisanya akhir bulan." Aku yang sedang meminum teh mendadak berhenti mendengar ucapan Avram. Aku menatap Avram yang menyandarkan tubuh dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. "Makasih, Vram." "Hem.." Kali ini senyumku tidak lagi pudar mendengar ucapannya. Aku senang, bayaran minggu ini telah cair. "Keliatannya lo seneng banget." Avram tersenyum samar. "Ya begitulah." "Hemm.." Aku menoleh ke jam dinding di atas kulkas. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Aku tersentak, ternyata hari sudah semakin malam. Aku menatap Avram dengan menggigit bibir. "Vram. Gue bisa pergi?" Satu alis Avram terangkat. Aku menunduk, takut dia tidak mengizinkaa. Aku ingat dengan perjanjian yang telah kami sepakati, bahwa aku boleh pergi atas persetujuannya. "Nggak mau di sini dulu?" Aku tersenyum tipis. "Gue mau balik. Itupun kalau lo ngizinin." Aku tadi sempat merencanakan akan ke perpustakaan setelah dari apartemen Avram. Namun, melihat waktu telah berjalan cepat rencanaku gagal, lagi pula perpustakaan sudah pasti tutup. "Ya udah lo boleh pergi." Mendengar izin dari Avram aku tersenyum lebar. Aku menatap Avram yang perlahan berdiri dan berjalan menuju wastafel. "Makasih, Vram." Aku menghabiskan teh buatannya dan buru-buru berdiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD