Tertangkap

1012 Words
Seharusnya hari ini akan menjadi hari yang membosankan bagi Nana. Biasanya Nana selalu sibuk hingga untuk istirahat pun ia tidak akan sempat. Namun hari ini ia terpaksa menganggur karena sedang sakit, maka seharusnya ia sedang terbaring lemah di atas kasur busanya sambil mengipas-ngipas pelan dengan kipas sate yang terbuat dari anyaman bambu yang ia bawa dari panti. Namun sebuah benda hitam kecil menjungkir balikkan semua kondisi yang seharusnya terjadi dan menarik gadis itu ke dalam momen kemelongoan yang tiada ujung. Ia mematung dengan ponsel masih tertempel di telinga kirinya seakan benda itu sudah diberi lem. Seorang pria dengan suara berat dan serak berbicara di ujung sana, instingnya langsung tau pria itu pasti berhubungan dengan video pembunuhan yang tersimpan di dalam memory card yang barusan ia tonton. "Ma.. Maaf. Anda salah sambung." Nana langsung mematikan telponnya. Jantungnya berdegub keras tidak karuan. "Mati aku! Bagaimana ini?!" Cepat-cepat ia mengeluarkan memory card itu dari dalam ponselnya. Ia berdiri lalu melangkah bolak balik seperti setrika. Berusaha memikirkan sebuah rencana dan jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi. Namun otaknya saja tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi sekarang. "Mereka itu siapa? Apa aku buang saja memory cardnya? Tapi kenapa mereka bisa tau nomor telponku? Jangan-jangan mereka tau rumahku juga? Pria pembunuhnya bilang kalau ada yang tau apa yang ia lakukan, maka akan dibunuh juga. Artinya aku akan dibunuh, dong?!" Tok! Tok! Tok! Detik itu juga Nana terpenjat kaget mendengar suara ketukan di pintu kostannya. Ia segera berlari serampangan menuju ke arah pintu ketika mengingat kebiasaan bodohnya yang kerap lupa mengunci pintu di siang hari. Biasa ia membiarkan pintunya terbuka setengah agar udara luar bisa masuk ke dalam kamar kostnya yang pengap. Namun belum juga tangannya sampai meraih kunci, gagang pintu sudah bergerak dan pintu reot itu terbuka, menampakan dua sosok pria tinggi berbalut jas longgar yang dengan satainya melangkah masuk ke dalam dan menutup pintu tersebut lalu menguncinya. Nana terpenjat dan mundur beberapa langkah. Hidupnya benar-benar berada dalam bahaya sekarang. "S.. Si.. Siapa kalian?!" Suaranya bergetar hebat bagai sebuah mesin cuci murahan. Dengkulnya langsung lemah bagai karet gelang pasar ketika salah satu pria berambut hitam yang ditata klimis ke belakang menodongkan sebuah pistol tepat ke arah dahinya. "Jangan kau berani teriak." Nana dengan sigap dan patuh, menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil mengangguk cepat. Keringat mulai membasahi dahinya, ditambah kamar kost yang memang berhawa panas dan berukuran kecil, yang kini mendapat tambahan isi berupa dua orang pria bertubuh besar. "Kau yang mengambil memory card semalam, kan? Kembalikan padaku." Tanya pria satunya yang berwajah tampan yang kelihatannya didapatkan dari persilangan genetik antara orang dalam negri dan orang luar negri. Memberikan tampilan kebarat-baratan pada wajahnya dan warna coklat karamel pada rambutnya. Namun keindahan itu tidak disadari Nana yang hampir mengompol karena ketakutan. Ia bahkan tidak yakin pria itu bertanya atau memerintah. "Me.. Memory card apa? Aku tidak tau. Kau salah orang!" Jawab Nana tidak mau mengaku. Jika ia ketahuan telah menonton video itu, maka sebentar lagi ia akan menjadi seonggok mayat yang mengambang atau nyangkut di pintu kali terdekat. Frans tersenyum geram. Ia sudah biasa pada orang-orang berwajah polos yang adalah suruhan musuhnya untuk berpura-pura bodoh dan tidak tau apa-apa. "Kau kira aku tidak mengingat wajahmu? Meskipun sekarang kau tampak seperti pengemis, tapi wajahmu semalam sudah terekam di kepalaku." Nana akhirnya teringat siapa dua orang ini. Mereka adalah dua pria yang ada di club semalam, yang menabraknya saat sedang membawa keranjang serbet. Seketika kejadian malam itu terputar kembali di otaknya dan segala sesuatu mengenai memory card itu kini menjadi masuk akal. "K.. Kau yang.." Brakk!! Argghhh!! Tiba-tiba suara gaduh beserta teriakan cempreng wanita mengalihkan perhatian mereka. Tora yang berjaga di dekat pintu langsung sigap mengintip melalui jendela untuk mengetahui apa yang terjadi di luar. "Demeter ada disini. Mereka juga mengetahui keberadaan memory cardnya." Ujar Tora. "Kita harus segera pergi. Mereka pasti sudah tau kita kehilangan memory card itu." Frans langsung menarik asal lengan Nana. Gadis itu langsung terhuyung nyaris jatuh karena belum sigap. "Tunggu! Kalian mau membawaku kemana?!" Tanpa sadar ia turut memelankan suaranya. "Diam atau aku tembak kepalamu." Ujar Frans. Membuat Nana bungkam seketika. Dengan perlahan Tora membuka kunci pintu dan memberi isyarat dengan jarinya agar Frans keluar terlebih dahulu setelah ia telah memastikan diluar sudah aman. Dengan cepat mereka melangkah keluar dan bersembunyi di balik tembok satu kamar kost lain. Karena anggota Demeter berada di kamar kost ke dua dari mulut gang depan yang adalah jalan keluar mereka. Anggota mafia kasar itu nampaknya salah masuk kamar karena terkecoh oleh GPS yang eror karena Nana sudah mengeluarkan memory card tadi dari ponselnya dan juga ponselnya sedang dalam keadaan mati sekarang. Tiba-tiba seorang pria yang agak berumur keluar dari dalam kamar tadi, sambil mengamati ponsel di tangannya, diikuti oleh pria cepak penuh tato yang wajahnya langsung dikenali oleh Nana. "Pembunuhnya!" Gadis itu keceplosan dalam posisi sedang mengintip dari balik tembok bersama dua pria yang menahannya. "Jadi kau sudah menonton videonya, ya?" Ucap Frans yang berada di atas kepalanya. Nana meneguk ludah sambil mengutuki mulutnya yang bodoh bagai baskom jebol. Hal itu membuat Frans tanpa sadar tersenyum geli. "Disini. Ini kamar yang benar." Ucap pria yang memegang ponsel tadi yang bernama Remi. Tanpa acang-ancang, Richard si pria berambut cepak itu langsung menendang kuat pintu reot tersebut hingga patah di bagian tengah, padahal pintu tersebut tidak dikunci. Dua orang itu, diikuti oleh dua anggota lainnnya langsung masuk ke dalam dan tidak lama keluar dengan wajah geram nan kecewa. Mereka mendapati kamar itu sudah kosong. "Berengsekk!!" Maki Richard, meninju kaca jendela kamar itu hingga pecah. "Orang itu pasti baru meninggalkan tempat ini. Aku rasa Frans sudah menemukannya lebih dulu. Barang-barangnya masih utuh seperti baru saja dipakai." Jelas Remi. Richard langsung mengutuki nama Frans dengan suara lebih keras dan panjang sambil meninju-ninju tembok sebagai pelampiasan. "Bos!" Salah satu anggota mereka keluar dari kamar. Ia memberikan suatu benda berbentuk kotak pipih pada Remi. "Saya menemukan ponsel yang sepertinya milik orang itu. Kemungkinan tersangkanya adalah seorang wanita muda. Ia tinggal sendirian disini. Kami sudah menggeledah barang-barang di dalam." "Ponsel? Hei! Jangan bilang kau tinggalkan memory cardnya di dalam ponselmu?!" Tanya Frans cepat pada Nana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD