Incaran Srigala

1154 Words
Brian berdehem untuk melegakan tenggorokanntmya yang terasa kering bagai gurun sahara. "Ada tiga orang lagi yang belum datang. Mereka masuk shift malam." "Kalau begitu suruh mereka datang sekarang." Timpal Tora. Brian mengangguk lalu menelan ludah susah payah sambil meraih ponsel. Ia tidak tau sebenarnya siapa yang dua orang ini cari. Tapi wanita itu benar-benar membuat semua orang kerepotan. Brian sendiri tidak enak hati jika tiba-tiba harus menyuruh pegawai yang baru saja pulang jam enam pagi tadi untuk datang kembali jam dua belas siang. Frans mendecak tak sabar. "Tidak ada waktu lagi menunggu mereka datang. Kau punya foto mereka? Alamatnya juga." Brian terlihat sedikit lega, setidaknya ia tidak harus menyusahkan semua orang demi satu berandal yang berurusan dengan mafia berbahaya seperti mereka. "Ini foto tiga orang itu." Brian menunjukan tiga amplop coklat panjang berisi keterangan data diri dan foto pemiliknya, setelah ia menyuruh asistennya berlari mengambil dokumen itu dari ruangannya. Itu adalah dokumen lamaran pekerjaan para pegawai. Tora memperhatikan dengan seksama lalu menggeleng sambil berdesah frustasi. Frans mengambil ketiga amplop itu dan melemparkannya dengan kasar ke wajah Brian, membuat seluruh orang di sana ketakutan. "Berengsek! Orang yang kucari tidak ada di semua orang yang kau tunjukan! Apa kau bersekongkol dengan mereka? Menutupinya dariku?!" "Ti.. Tidak pak.. Mereka ini benar sudah semua pegawai kami. Ma.. Maaf, kalau boleh tau kenapa anda mencari salah satu pegawai kami?" Tanya Brian pucat, punggungnya semakin merendah. Rasanya ia ingin menghilang saja dari tempat ini. "Tidak ada urusannya denganmu! Aku hanya perlu kau cari pegawaimu yang semalam membawa keranjang berisi sendok-sendok dan setumpuk kain. Tidak mungkin kau tidak mengenali pegawaimu sendiri kecuali kau menutupinya dariku. Apa si k*****t Jester yang menyuruhmu? Dengar, dengan sekali jentikan jari saja tempat ini dapat aku ambil alih dari bosmu itu. Dan dapat aku pastikan kau akan menjadi gelandangan di pinggir jalan." Ujar Frans geram. "Tu.. Tunggu, pak. Sepertinya anda salah paham. Aku tidak menutupi apa-apa. Mereka ini adalah seluruh pegawai kami, kecuali anak yang bertukar.." Brian terhenti. Ia baru ingat sekarang, pasti gadis itu orangnya. "Tari!" Teriakannya bagai seorang ibu yang menyuruh anaknya masuk ke rumah saat maghrip. Wanita itu tersentak. Ia sudah tau dari tadi siapa orang yang tengah pria-pria itu bahas, namun ia mencoba diam untuk menjauhkan temannya dari masalah. Tapi sepertinya gagal. Ia melangkah mendekati managernya dengan lutut gemetaran. "Iya pak?" "Temanmu itu. Yang menggantikanmu semalam, siapa namanya? Tunjukan fotonya pada pak Earvin." "Na.. Namanya Nana, pak. Tapi saya tidak punya fotonya." Jawabannya membuat Brian melotot hingga bola matanya nyaris melompat keluar. "Tapi sepertinya di foto profil aplikasi messanger ada wajahnya." Lanjutnya menyelamatkan diri dari kehilangan pekerjaan. Bagaimana pun dialah yang membawa Nana masuk ke tempat ini. Apa pun yang Nana perbuat semalam, akan menjadi tanggungjawabnya juga. Ia langsung membuka ponsel dan jejak chatnya dengan Nana. Ternyata benar saja di dalam foto profil orang itu terlihat seorang gadis tengah tersenyum lebar sambil merangkul dua anak kecil di sisi kiri dan kanannya. "Itu orangnya! Kau tau dimana alamat rumahnya? Berikan nomornya padaku." Cecar Tora. "Ta.. Tapi.." Tari tergagap, hendak menolak. Frans langsung menatapnya dengan tajam sambil merogoh saku jasnya, membuat nafas semua orang di tempat itu tercekat. Mereka sudah membayangkan sebuah pistol ditarik keluar untuk menembak kepala Tari. Namun ternyata pria itu mengeluarkan sebuah benda yang adalah sebuah dompet kulit berwarna hitam, semua ngehela lega. Dari sana ia mengeluarkan asal beberapa lembar uang seratus ribu yang sepertinya jumlahnya sebesar tujuh ratus ribu, lalu memberikannya pada wanita itu dengan gerakan kasar. "Jangan korbankan dirimu. Aku tau kau punya keluarga yang harus kau urus." Bisik Frans. Ia adalah orang yang teliti, bengkak di mata wanita itu jelas bukan bawaan lahir, melainkan sisa tangisan akibat beban hidup yang berat. Tari tercekat, membayangkan ayahnya yang terbaring tidak berdaya di rumah sakit. Operasi jantung memerlukan biaya yang sangat besar. Benar, keluarganya membutuhkan dirinya. Lebih baik menyelamatkan diri sendiri dulu dari pada teman alumni SMP yang bahkan bukanlah seorang teman dekat. Tanpa pikir panjang lagi, Tari langsung memberikan kontak Nana pada pria mafia berbahaya itu sambil meminta maaf di dalam hati. Ia tidak tau alamat temannya itu, tapi tidak jadi masalah untuk Frans karena ia bisa melacaknya dari nomor telpon dan GPS ponsel gadis bernama Nana itu. ☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘ Tidak semua bisnis yang dipegang oleh mafia pasti akan berjalan mulus dan sukses. Contohnya perusahaan aparel yang dibagun dengan susah payah dan menghabiskan jutaan dolar untuk modal, akhirnya bisa hancur berantakan karena buruknya managemen perusahaan. Perusahaan aparel terbesar kedua di Indonesia sudah berada diujung tanduk kebangkrutan setelah istri dari presdir menjabat sebagai direktur utama. Kemampunannya sangat meragukan dan terbukti sanggup menghancurkan perusahaan tersebut. "Memang sebaiknya nenek tua sial itu masak saja di rumah!" Geram Richard. Ia tidak menyangka ayahnya sekejam itu, ia tega menjual nama baik dan masa depan anaknya sendiri kepada musuh mereka demi suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan yang hampir hancur karena istri pertamanya. Hidup Richard seakan sebuah pesawat yang jatuh dan terbakar. Orang yang paling ia percayai di dunia ini selain ibunya ternyata selama ini menghianati dirinya. Dan lebih parahnya, ia masih tetap harus bekerja bersama pria sial itu demi menyelamatkan masa depannya. "Benda itu hilang karna kebodohanmu." Desah Remi. Ia tidak lagi menutupi sifat aslinya yang kurang ajar. Sesungguhnya ia juga sudah muak berpura-pura hormat pada bocah ingusan ini. "Kau adalah binatang yang tidak tau malu. Kau yang menjebakku selama ini. Lalu kau berharap aku tidak mencoba membunuhmu setelah tau betapa busuknya dirimu?" Remi tidak menjawab. Meladeni bocah cepak itu sepertinya hanya akan membuang-buang tenaga tanpa guna. Ia tengah berpikir bagaimana cara mendapatkan kembali memory card yang sudah berada di tangan Frans, si pria yang rumornya tidak terkalahkan itu. "Ayahku.. Dan kau, boneka kayunya sama-sama berengsek!.." Richad melanjutkan. Namun sebuah suara 'Bip!' yang berbunyi berulang-ulang mengalihkan perhatiannya. Suara itu berasal dari tubuh Remi. Tangannya dengan cepat meraih saku jas dan mengeluarkan ponsel aneh yang tidak pernah beredar di pasaran. Ponsel berukuran cukup tebal dengan warna layar seadanya, lebih mirip ponsel lawas. Tapi nyatanya ponsel itu lebih canggih dari ponsel-ponsel keluaran terbaru jaman sekarang. Ya, ponsel khusus yang dibuat untuk menunjang tugasnya sebagai mata-mata. "Ketemu! Memory cardnya. Ada yang menekan sinyal yang aku pasang di sana." Richard mendatanginya penasaran. Terdengar seperti kabar baik. "Apa maksudmu?" Remi menunjukan layar ponselnya yang telah menampilkan sebuah peta digital yang terhubung dengan GPS. Ada sebuah titik merah di tengah-tengah gambar radar itu. "Aku memasang aplikasi pelacak di memory card itu. Jika benda itu terpasang di ponsel atau komputer dan logo aplikasinya ditekan maka aplikasinya akan aktif dan langsung mengirimkan sinyal ke ponselku. Selama GPS ponsel orang itu menyala, maka kita bisa terus melacak keberadaannya." Ia tersenyum. "Aku rasa Frans kehilangan benda ini. Tidak mungkin dia dan orangnya terlalu bodoh hingga tidak mengenali aplikasi pelacak yang aku pasang. Pasti seseorang awam yang menemukannya." Lanjut Remi bergegas. "Kalau begitu kita harus cepat. Selagi bukan Frans, maka merebut benda itu kembali adalah hal yang mudah. Aku juga khawatir orang itu menonton videonya, lalu kita harus membunuh orang itu untuk menghilangkan saksi mata." Ujar Richard mengikuti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD