Deal?

1067 Words
Nana memicingkan kedua matanya. "Aku tidak sebodoh itu." Sahutnya tak kalah cepat. Menampakan sifat aslinya tanpa sadar. Ia tidak ingat bahwa pria yang ia sinisi itu adalah mafia yang tadi mengancam mau menembak kepalanya. "Sial! Memory cardnya sudah diambil!" Geram Remi setelah memeriksa slot memory ponsel tersebut. "Kita akan mencarinya di sekitaran sini, bos. Siapa tau dia belum pergi jauh." Anak buahnya berinisiatif, menerima anggukan asal dari Remi. "Kita harus segera pergi dari sini." Ungkap Tora. Nana langsung berbalik badan menghadap kedua pria yang sedang menculiknya itu. "Ada kebun di belakang, kalau kita panjat dinding itu. Kita bisa kabur lewat sana." Ia menunjuk sebuah dinding tidak terlalu tinggi yang ada tidak jauh di belakang mereka di balik deretan jemuran pakaian penghuni kost lain yang cukup panjang. Mereka langsung menuju tembok dengan tinggi sekitar tiga meter itu. Untuk Nana, tembok itu mustahil dipanjat dengan tinggi badannya, tapi bagi dua pria tinggi itu tidak mungkin tak mampu melakukan hal itu. Benar saja, hanya dengan sekali lompatan, Frans sudah berhasil meraih bagian atas tembok dan naik keatas. Lalu ia menarik Nana naik dibantu Tora. Kemudian Frans loncat ke kebun belakang dan menangkap tubuh Nana dengan mudah ketika gadis itu ikut loncat turun dan disusul Tora. Akhirnya mereka berhasil kabur tanpa tercium oleh kelompok Demeter. Mereka berlari ke salah satu lapangan rusak yang agak terpencil. Disana Tora memarkir mobil mereka dan untungnya wilayah tersebut aman dari anggota Demeter. Nana langsung diseret paksa untuk masuk ke dalam mobil dengan dan mereka melaju pergi dengan cepat. Secepat mungkin menjauh dari wilayah itu. "Jadi, dimana memory cardnya? Berikan padaku!" Ucap Frans yang duduk bersebelahan dengan Nana di kursi penumpang. Ia menghadapkan tubuhnya pada gadis yang duduk dengan tegang itu. Nana langsung menatapnya kaku. Diam-diam otaknya terus berputar, ia memikirkan strategi terbaik untuk memberinya keuntungan dan menyelamatkan hidupnya di situasi kacau seperti sekarang ini. Tidak pernah ia sangka akan terlibat hal mematikan seperti sekarang. Ia kira hidupnya akan lurus saja sebatas bekerja keras dan mengisi perut. "A.. Aku akan memberikannya padamu." Jawabnya. Frans mengangguk santai dengan telapak tangan terulur. "Tapi ada syaratnya." Kalimat lanjutan itu membuat kening Frans dan Tora mengkerut. Berani sekali gadis itu. Tidak lama Frans tertawa keras "Syarat? Kau berusaha memerasku? Kau tidak tau siapa kami? Kami ini mafia kelas kakap. Kami bisa saja menghilangkanmu dari muka bumi tanpa satu orang pun di dunia ini bisa menemukan jasadmu." "Meskipun begitu.. Meskipun begitu.. Kalau aku mati, kalian juga tidak akan bisa menemukan memory cardnya, kan?" Sahut Nana. Ia sadar betul memory card tersebut sangat berharga bagi orang-orang ini, entah ada kisah apa di baliknya. Pokonya, Nana bisa menjadikan benda mungil ini sebagai senjata. "Berani juga kau." Frans menepuk-nepuk kepala gadis itu seperti anak kecil sambil menahan geram. Namun di sisi lain, ia merasa lucu juga. "Jadi apa syaratmu? Berapa banyak uang yang kau butuhkan? Aku sudah hafal orang-orang sepertimu." "Maaf, orang-orang sepertiku? Apa maksudmu? Maksudnya orang miskin?" Desis Nana, ia juga sudah sangat hafal dengan pola pikir orang kaya belagu seperti pria ini. Yang Nana katakan itu benar. Namun Frans memutuskan untuk tidak melanjutkannya. "Lupakan. Jadi kalau bukan uang, apa syaratnya?" Nana menjadi cemberut, moodnya yang sudah hancur bagai disiram air panas hingga menjadi bubur. Ia menarik nafas panjang untuk mengatur emosi. "Aku tau kau dan si pembunuh tatoan itu adalah musuh. Di video itu, dia mengatakan akan membunuh siapa saja yang melihat aksi pembunuhannya. Yang artinya sekarang dia pasti mencari diriku untuk dibunuh karena aku yang memegang memory card itu. Rumahku juga sudah diketahui olehnya. Jadi aku hanya meminta perlindungan kalian sampai masalah ini selesai dan hidupku kembali aman. Setidaknya sampai aku mendapatkan tempat tinggal baru yang aman dari pantauan mereka." "Aku bisa lihat, jadi kau benar bukan orang suruhan Demeter." "Ya, jelas bukan! Aku menemukan memory card itu tanpa sengaja di lantai, setelah kalian menabrakku. Aku kira itu memory card pelanggan lain dan tadinya ingin aku gunakan karena tidak ada yang mengaku sebagai pemiliknya. Sumpah! Aku sudah berusaha mencari pemilik benda ini. Aku bukan pencuri." Jelas Nana hingga terengah karena terbawa emosi, tergesa untuk membuktikan bahwa ia adalah orang yang tidak tau apa-apa dan terseret kedalam ombak masalah ini tanpa sengaja. "Kalau begitu kembalikan padaku. Karna memory card itu adalah miliku. Kau bukan pencuri kan?" Balas Frans. Wajah Nana langsung berubah memelas. "Tapi kali ini keadaannya berbeda. Tolong mengertilah.. Kalian tau aku tidak bisa meminta bantuan polisi. Mereka tidak memihak rakyat kecil sepertiku. Aku bukan mencuri, aku hanya meminjam.. sebagai jaminan.." Frans mendesah lelah. Ia menaikkan sebelah alis tebalnya. "Lalu dalam arti lain, aku harus menunggu untuk mendapatkan memory cardku kembali?" Nana mengangguk "Maaf, aku tidak punya pilihan lain." Pria itu bersandar dengan keras sambil menghela berat. Gadis ini cukup pintar dan menyusahkan. Masa ia harus menunggu lagi untuk bisa memeras ketua Demeter? Lalu tiba-tiba terbesit sebuah ide di otaknya. Ia tersenyum. "Baiklah! Aku akan melindungimu dan memberikamu tempat tinggal. Tempat tinggal itu adalah rumahku, kau harus tinggal bersamaku." Ia menyunggingkan senyum nakal yang harusnya bisa dipahami oleh semua makluk indah ciptaan Tuhan, wanita. Nana tercekat. Tinggal bersamanya? Namun ia bisa menangkap permainan pria itu. Frans tidak terlihat seperti orang yang suka mempermainkan wanita. Nana yakin, pria itu hanya menggertak agar ia takut dan memilih mengembalikan memory cardnya sekarang. "Oke!" Bukan jawaban seyakin itu yang diharapkan oleh Frans. Ia kira gadis ini tipe wanita yang tidak langsung terlena pada wajah tampannya. "Tapi tinggal di rumahku tidak gratis. Kau harus.." "Aku akan membantu bebersih. Aku akan masak, mencuci, dan berbenah. DAN! Jangan kira kau bisa menyentuhku! Aku bukan p*****r! Deal?!" Nana menjulurkan tangannya mantap. Namun sebenarnya di dalam hatinya ia sangat ketakutan, ia tau apa niat awal omongan Frans yang tadi ia potong. Karna itu, Nana langsung menimpanya dengan syarat yang masih bisa diterima oleh akal sehatnya. Frans menatap tangan mungil yang terlihat banyak bekerja itu. Warna punggung tangan itu terlihat belang, lebih gelap dibanding lengannya. Ia bisa mengira-ngira sedikit kehidupan macam apa yang gadis ini jalani. Dalam hati ia tersenyum akan kelakuan gadis ini yang tidak dapat ditebak olehnya. "Bagaimana, tuan? Aku sudah banyak mengalah untukmu." Lanjut Nana berdehem. Ia tidak tau seberapa lama lagi bisa menahan agar tangannya tidak gemetaran. Frans tersenyum dan menjabat tangan itu, terasa dingin dan agak kasar, namun tangan kecil itu tenggelam di dalam genggamannya. "Deal!" "Kau tau kita harus kemana, Tora." "Baik." Jawab Tora tersenyum. Ia mendengarkan semua percakapan itu. Suatu hal yang tidak pernah terjadi dalam sejarah. Membuatnya berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD