Sebuah mobil yang membawa tiga orang penumpang itu tiba di sebuah perumahan elite. Gerbang depannya dijaga oleh beberapa scurity yang langsung mengenali mobil tersebut dan membukakan portal. Mobil hitam mengkilap tersebut melaju terus, melewati beberapa rumah megah yang dibangun bertingkat-tingkat yang kebanyakan menunjukan disain mewah. Namun ada satu rumah yang terlihat tidak seperti rumah lain pada umumnya, ia memiliki tebok tinggi dengan gerbang hitam besi yang sama tingginya. Gerbang tersebut agak aneh, bagaikan di balik sana ada sebuah dunia yang berbeda. Bahkan jika kita melewati gerbang itu, kita tidak akan menyangka bahwa itu adalah salah satu rumah diantara deretan rumah di sana.
Tidak perlu waktu lama bagi mobil tadi untuk diam di depan, gerbang hitamnya langsung dibuka secara otomatis oleh satpam yang berjaga di pos di samping dalam gerbang itu. Mobil langsung melaju melewati jalan aspal yang dipinggir kanan dan kirinya berjejer pohon Tanjung yang menghalau panas terik matahari. Tidak jauh ke dalam, akhirnya terlihat sebuah rumah bergaya minimalis didominasi oleh warna abu-abu terang dan gelap penuh kaca jendela yang dibangun agak tinggi diatas gundukan bukit kecil buatan. Karna tidak mungkin juga ada sebuah bukit di tengah-tengah perumahan kota Jakarta.
Mobil harus naik sedikit ke atas bukit itu untuk mencapai teras rumah yang bagian depannya lebih mirip lapangan bola futsal dengan pohon cemara tumbuh berhajar di sepanjang pinggir bukit tersebut bagai sebuah pagar. Mobil itu parkir di dekat pintu masuk dan dua orang pria keluar dari sana.
"Kau mau tinggal di dalam mobil?"
Seorang gadis bermata bulat yang terbingkai bulu mata lebat dan panjang, bernama Nana, terlihat akan menjatuhkan kedua bola matanya akibat keterkejutan dan keterpesonaannya pada keajaiban dunia yang baru saja ia lihat. Maksudnya adalah keajaiban dunianya. Karena dunianya selama ini hanya sebatas nasi panas dan telur balado warteg seharga delapan ribu rupiah. Ternyata ada ya, orang sekaya ini?
Nana tersentak kaget saat pria tadi membuyarkan lamunannya. Tanpa sadar mobil yang ia tumpangi ternyata sudah berhenti dan mesinnya juga telah dimatikan, bahkan semua orang yang ada di dalam sudah keluar, tinggal dirinya sendiri duduk terbengang-bengong di dalam bagai orang bodoh.
"I.. Ini aku memang mau keluar." Katanya sembari membuka pintu mobil. Berusaha terlihat biasa saja.
Frans, si pria yang tadi mengagetkan Nana menggidik bahu lalu berpaling masuk ke dalam rumah sebelum disusul Tora, asistennya.
"Silahkan masuk, Nona." Ucap Tora ramah.
Nana mengerinyit bingung. Pria yang beberapa jam lalu menodongkan pistol ke wajahnya dengan sangar, sekarang malah berlaku sangat sopan dan baik hati. Apakah tempat ini benar-benar dunia yang berbeda?
"Namaku Nana. Panggil aku dengan namaku saja." Pria itu mengangguk paham.
"Ini rumahku. Kau boleh tinggal di sini, terserah mau mulai sejak kapan. Nanti Tora akan tunjukan kamarmu." Ucap Frans asal seraya merebahkan tubuhnya, duduk di sofa ruang tamu.
"Kalau boleh aku akan tinggal mulai hari ini. Karna aku tidak mungkin kembali lagi ke kostanku. Bagaimana?"
Nana merasa tidak enak hati. Sebenarnya ia malu dan tidak suka menjadi parasit seperti ini. Ia tidak biasa bergantung dan meminta bantuan pada orang lain, apa lagi mengemis seperti sekarang. Meskipun miskin, ia sangat mementingkan harga diri.
Frans mengangguk asal "Oke. Tora antarkan dia ke kamar.." Lalu ia nampak berpikir sejenak. "Kamar di samping tangga lantai dua".
"Baik, Bos! Ayo ikut aku, Nana." Ia melangkah menaiki sebuah tangga besar yang berada disamping sebuah piano klasik, diikuti oleh Nana.
Namun tiba-tiba gadis itu berhenti sebentar dan berbalik menghampiri Frans. Ia membungkuk dengan sopan "Terimakasih, aku akan berusaha tidak menggangu dan akan membantu apa pun. Aku pasti akan berusaha berguna di sini."
Frans menyembunyikan senyuman kecilnya yang entah mengapa tiba-tiba ingin memunculkan diri "Ya, yang aku butuhkan hanya memory card yang kau curi."
Kalimat itu membuat Nana menahan nafas dan membungkuk lebih dalam "Maafkan aku. Aku benar-benar terpaksa meminjamnya agak lebih lama. Sekali lagi aku harap kau mengerti."
"Ya. Terserah apa katamu. Cepat, asistenku tidak aku bayar hanya untuk menunggumu di sana." Ia mengarahkan dagu ke arah tangga dimana Tora berdiri memperhatikan mereka.
Nana langsung melangkah kembali mengikuti Tora naik ke lantai dua. Begitu sampai langsung terlihat sebuah pintu coklat di samping tangga itu yang adalah kamar yang tadi dikatakan Frans untuk Nana tempati. Tora membuka pintu itu dan mempersilahkan Nana masuk.
Kamar tersebut tidak terlalu besar, terdapat semua benda yang memang seharusnya ada di dalam kamar seperti tempat tidur, lemari, dan meja rias. Lalu ada sebuah pintu yang sepertinya adalah pintu kamar mandi.
"Apa ada yang bisa aku bantu lagi? Kalau tidak, aku permisi." Tanya Tora pada Nana yang terlihat termenung.
"Ah.. Tidak ada. Trimakasih sudah mengantarku." Ia menggeleng cepat.
"Baiklah kalau begitu. Aku permisi."
"Tu.. Tunggu dulu. Maaf, bisakah kau berbicara santai saja padaku? Karna.. Em.. Lagi pula aku bukan berada di posisi sebagai seorang yang harus dihormati di sini." Nana menyengir kikuk sambil mengusap-usap lengannya.
Tora tersenyum lalu mengangguk "Tentu." Lalu ia pergi menuruni tangga.
Gadis itu menutup pintu dengan pelan dan hati-hati, lalu berbalik badan dan bersandar di sana. Ia menatap takjub sekeliling kamar yang akan ia tempati beberapa hari atau minggu kedepan.
"Wah! Bagus sekali! Ini benar kamar untukku?!"
Ia melangkah menuju sebuah jendela berukuran cukup besar yang berada di samping meja rias yang dari tadi menarik perhatiannya, jendela itu memberikan banyak cahaya untuk menerangi seisi kamar. Pemandangan pepohonan diluar membuat perasaanya sejuk. Baginya kamar ini terlihat sangat luar biasa. Bahkan ranjang berukuran queen size berkali lipat lebih besar dan tentu saja lebih empuk dari kasur busa murahannya di kostan.
Beralih dari jendela, Nana melangkah menuju sebuah pintu coklat gelap dengan ventilasi di bagian bawah. Ternyata benar, itu adalah pintu kamar mandi. Di dalam terdapat sebuah bilik mandi dengan pancuran air, kloset duduk, dan wastafel layaknya kamar mandi biasa. Namun tentu bagi Nana kamar mandi itu teramat luar biasa dibandingkan dengan yang selama ini ia miliki.
Senyuman tidak terasa terukir di bibir merah mudanya. Memang tidak tau diri, namun bisa menikmati beberapa malam di tempat mewah begini siapa yang tidak merasa beruntung? Namun tiba-tiba senyum Nana memudar. Ia baru ingat berbagai hal penting, ia datang tidak membawa apa pun. Ponsel, pakaian, semuanya ada di kostan. Lalu bagaimana caranya ia pergi kerja besok?
"Akhh! Bodoh sekali! Semua barangku ada di kostan." Pekik Nana memegangi kepalanya dengan kedua tangan.