Istana Iblis?

1573 Words
"A.. Anu. Maaf mengganggu. Aku pamit sebentar ke kostan karena aku lupa semua barangku ada di sana." Ucap Nana dengan gerakan canggung. "Kau yakin mau kembali lagi ke tempat itu?" Frans menaikan sebelah alisnya. Nana mengangguk polos. "Richard tidak mungkin menyerah hanya karena ia tidak menemukanmu di sana tadi siang. Kemungkinan besar, ia akan datang lagi untuk memastikan kalau saja kau sudah kembali ke rumahmu." Jelas Tora, membuat Nana berpikir ulang. Wajah gadis itu seketika memelas, "Tapi semua barangku ada di sana. Pakaian, ponsel, dan perlengkapan rumahku. Yah.. aku tau itu tidak seberapa bagi kalian. Tapi, aku bekerja keras untuk membeli itu semua. Lagi pula, aku juga harus bekerja besok. Aku tidak mungkin menggunakan satu pakaian berhari-hari." "Kalau dipikir, kau cukup bodoh untuk seseorang yang bisa memerasku." Frans mengambil ponselnya dan sibuk mengetik sesuatu di sana. "Untuk pakaian, kau tidak perlu khawatir. Jangan kembali lagi ke tempat itu. Kalau kau sampai tertangkap, maka aku akan kehilangan memory cardku lagi. Pergilah kembali ke kamarmu." Lanjut pria bermata coklat terang itu. Nana tidak dapat membantah, karena ucapan Frans memang benar. Saat ini, Nana sedang menawan sebuah benda berharga milik Frans. Ia melakukan itu untuk menyelamatkan hidupnya sendiri dari para penjahat. Karena itu, ia harus tau diri dan menjaga diri sendiri agar tidak tertangkap. Akhirnya, gadis itu menurut saja dan kembali ke kamarnya. Begitu masuk ke dalam kamar yang memiliki ukuran tiga kali lebih besar dari kamar kostnya, Nana menarik kursi meja rias dan duduk di depan jendela. Kedua iris hitam jernihnya menatap langit sore yang berawan sambil mencerna ulang semua kejadian yang terjadi dari kemarin malam hingga saat ini. Nana bukanlah seorang gadis yang religius. Karena hidupnya begitu berat dan minim teman, membuat ia lebih mengandalkan kekuatannya sendiri dan logika otaknya. Selama ini ia terlalu mandiri dan menganggap yang bisa menolongnya ya hanya dirinya sendiri. Namun hal itu tidak mencegah dirinya untuk mempertanyakan kepada Tuhan, mengapa jalan hidup yang harus ia lalui begitu sulit dan kian memberatkan? Setitik air mata jatuh di pipinya dan segera ia usap. Ia menarik nafas panjang sembari menepuk ringan kedua pipinya beberapa kali. Lalu ia tersenyum pada pantulan bayangan tipis dirinya sendiri di kaca jendela yang menghadap pada hamparan lahan lapang luas dengan banyak pohon cemara. "Nana, kau itu kuat. Kau harus ingat, apa saja yang sudah berhasil kau lalui selama hidupmu. Hal ini bukan apa-apa. Aku yakin kau bisa melaluinya, seperti masalah-masalah sebelumnya. Jangan biarkan senyum cantikmu menghilang." *** Frans mengetuk-ngetuk permukaan meja kerjanya dengan jari telunjuk. Hari ini ia mendapat berbagai kejutan yang tidak pernah ia alami atau bayangkan selama menjalani pekerjaan bayangannya sebagai pemimpin sebuah kelompok mafia. Ketua Demeter berhutang jutaan dolar padanya. Memang sesungguhnya, masalah uang adalah perkara kecil bagi Frans. Seumur hidup, uang tidak pernah menjadi masalah baginya. Jika benda itu menghilang, Frans akan dengan sangat mudah mendapatkannya lagi. Nominal jutaan dolar itu juga bukan nominal yang terlalu besar bagi seorang pria yang hartanya melimpah ruah yang seakan tidak akan habis tujuh turunan. Namun, ada satu hal besar yang Frans permasalahkan. Itu adalah masalah harga dirinya dan nama Vargnatt. Nominal uang yang bagi Frans hanya seperti uang recehan adalah nominal yang besar bagi banyak orang atau kelompok mafia lain. Frans yang meminjamkan uang kepada Demeter sudah menjadi perbincangan di dunia mafia. Awalnya, Frans sengaja meminjamkan uang itu agar ia bisa menyetir Demeter dan sekalian menunjukkan kepada semua kelompok lainnya, bahwa Vargnatt adalah sebuah kelompok yang sangat besar dan sukses. Dengan meminjamkan uang dalam jumlah besar secara mudah, menandakan bahwa Vargnatt memiliki keuangan luar biasa. Namun Frans memang tidak menyangka bahwa Demeter malah berlaku curang. Mereka tidak mau membayar hutang itu dan malah berencana untuk menyerang Vargnatt. Sesungguhnya, itu adalah hal yang tercela di dalam dunia mafia. Kelihatannya, kakek tua yang memimpin Demeter itu sudah tidak memperdulikan harga diri kelompoknya di mata dunia. Ia bagaikan anjing yang menggigit tangan majikannya sendiri. Ia hendak menusuk orang yang sudah menolongnya. Frans sangat marah dan ingin membalas Demeter. Namun ia harus ingat bahwa uangnya harus dikembalikan. Karena, jika ia tidak mendapatkan uangnya kembali, maka Vargnatt akan ditertawakan oleh semua kelompok lain karena mereka sudah menjadi korban penipuan yang gagal mendapat uangnya kembali. "Kita tidak bisa semata-mata menunggu gadis itu mengembalikan memory cardnya secara sukarela. Semakin lama, bisa-bisa rumor tentang aku yang meminjamkan uang dan gagal menagih pada si bapak tua sialan itu, tersebar luas ke kelompok-kelompok lain." Ucap Frans sermbari mengusap dagunya dengan jari. "Apa kita rebut saja memory cardnya? Ancam gadis itu?" Tanya Tora. Frans menggeleng, "Aku rasa, ia bukan tipe yang mudah menyerah dengan ancaman. Kalau kita melakukan itu, kumungkinan ia malah akan semakin menahan memory cardnya karena tidak percaya pada kita. Kita harus berpikir matang-matang karena ada banyak resiko." Tora mengangguk paham. Sebenarnya ia agak heran juga pada bosnya ini. Frans tidak perduli pada uang yang dipinjam oleh ketua Demeter. Namun, ia hanya takut dirinya dikira terlalu baik dan lunak oleh mafia lain. Frans takut citra dirinya yang menakutkan akan hancur karena ketahuan meminjamkan dana jutaan dolar secara cuma-cuma kepada sebuah kelompok yang bisnisnya hampir hancur. Padahal, Frans memang memiliki niatan lain dalam melakukan itu, namun rencananya malah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. "Aku ada ide!" Ucap Frans, membuat Tora langsung menatap terkejut kepadanya. Frans tersenyum lebar sambil celingak-celinguk ke arah tangga. Ia menyondongkan tubuhnya mendekat kepada Tora dan berbicara dengan suara pelan, "Coba kau dekati dia. Ambil hatinya, buat ia suka padamu. Setelah itu, kau bisa meminta memory cardnya dengan mudah. Tidak ada wanita yang bisa menolak wajahmu itu." Tora mengerutkan dahinya. Ide macam apa itu? "Aku tau, cara ini tidak mungkin seratus persen berhasil. Tapi, apa salahnya mencoba? Sembari kita mencari jalan keluar lainnya. Tidak akan ada yang dirugikan di sini." Tambah Frans menyadari mimik wajah asistennya yang nampak bingung itu. “Sepertinya ada yang dirugikan nanti. Orang itu adalah gadis itu, Nana.” Jawab Tora, dengan suara yang ikut mengecil. Frans tertawa kecil, “Hei, kau kira aku perduli padanya? Ia hanya akan patah hati saja setelah itu. Itu bukanlah sebuah hal yang besar. Perasaannya akan kembali pulih seiring berjalannya waktu. Paling, ia hanya akan membenci kita, itu saja. Dan aku tidak perduli pada pandangannya itu. Setelah kejadian ini beres, kita tidak akan memiliki hubungan dengannya lagi.” jelas pria itu panjang lebar untuk meyakinkan sang asisten. "Baiklah, akan aku coba." Angguk Tora. Setelah mendengar penjelasan Frans, sepertinya itu ada benarnya. Ia jadi tidak merasa terlalu keberatan dengan rencana ini. Lagi pula, menurutnya gadis bernama Nana itu cukup manis. "Aku tetap akan memata-matai Demeter. Aku yakin masih ada hal lain yang bisa kita gunakan selain video itu." Ucap Tora dengan volume suara yang sudah kembali normal. Frans mengangguk setuju. Kemudian Tora pamit pergi untuk melakukan beberapa pekerjaan lain yang mengharuskannya untuk terjun langsung ke lapangan. Tidak lama, seorang wanita berbalut blouse dan celana bahan berwarna hitam datang, diikuti dua orang pria yang menenteng beberapa kantung belanjaan besar. "Selamat sore, Pak. Ini barang-barang yang anda minta." Ucap wanita itu. Sebelumnya, ia menerima pesan dari Frans untuk membeli pakaian wanita dan apa pun yang perlu digunakan seorang wanita untuk kehidupan sehari-hari. "Letakkan di sofa." Perintah Frans asal. Mereka langsung meletakan semua barang itu di sana, sesuai perintah Frans dan pamit pergi lagi. Pria itu melangkah ke atas tangga dan berhenti di depan sebuah pintu dan mengetuknya dua kali. Tidak lama, pintu tersebut terbuka dengan Nana di baliknya. "Ya? Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Nana dengan suara canggung. "Ikut aku turun." Ucap Frans sebelum melangkah pergi. Sampai di bawah, Frans menunjuk kantung belanjaan tadi, "Itu pakaian untukmu." Nana menatapnya tidak percaya. Ia menunjuk dadanya sendiri, "Untukku?" "Tadi aku bilang jangan khawatir tentang pakaian, kan?" Nana melangkah dan mengintip sedikit ke dalam kantung belanjaan itu. Ia terkesima dan menatap Frans penuh rasa berterimakasih, "Trimakasih banyak. Aku akan membantu apa pun di sini, katakan saja apa yang harus aku kerjakan." "Tentu." Frans melangkah ke arah TV dan menekan bel kecil yang menempel pada tembok di sebelahnya. Tidak lama, seorang wanita paruh baya muncul dari arah dapur mengampiri mereka, "Iya, Pak?" "Bu Rosma, kenalkan dia.." Frans berhenti, "Siapa namamu?" "Nama saya Nana, Bu." Ia menjabat hangat tangan wanita yang terlihat ramah itu. "Oke.” Frans menunjuk wanita di depannya sekilas, Dia Bu Rosma, kepala ART di rumah ini. Kau bisa membantunya melakukan pekerjaan rumah." Lalu Frans kembali menatap Bu Rosma, "Gadis ini akan menetap selama beberapa lama di rumah ini. Ia akan membantu pekerjaan rumah. Kau bisa minta bantuannya jika ada perlu." "Maaf, biasanya aku bekerja di hari biasa dari pagi hingga malam. Setelah pulang kerja, aku akan langsung membantu di sini. Bu Rosma, jika ada yang perlu dikerjakan tolong panggil aku yah." Jelas Nana. "Baik, Mba Nana." Angguknya. "Kalian atur saja sesuka kalian. Yang penting jangan menggangguku." Frans melangkah naik ke tangga meninggalkan mereka menuju ke kamarnya. "Mbak Nana temannya Pak Frans?" Tanya bu Rosma pelan. Nana menggeleng, "Bukan, Bu. Ceritanya panjang, sih. Tapi aku sekarang akan bantu-bantu di sini." "Oh begitu.. Mba sudah tau kan, Pak Frans seperti apa orangnya? Maaf mba, mudah-mudahan Mba betah disini." "Loh? Memangnya kenapa, Bu?" Matanya membesar dengan suara mengecil. "Yah.. Nanti Mba Nana bisa lihat sendiri." "Maksudnya bagaimana, Bu?" "Sudah.. Nanti Mba Nana bisa lihat sendiri." Ia mengulang kalimatnya dengan penekanan. "Pokoknya di sini itu ibarat kandang iblis." Lanjutnya sambil melirik kantung belanjaan di sofa. "Ayuk Mba, aku bantu bawakan barangnya ke atas." "I.. Iya. Trimakasih." Ucapan Bu Rosma membuat Nana kepikiran. Kandang iblis? Memang pria bernama Frans itu sekejam apa? Sebenarnya apa yang akan ia hadapi di rumah ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD