“Kita sudah tiba di rumah. Kau harus segera mandi dan ganti baju agar tidak sakit.” Ucap Frans pelan dengan berlutut di depan Nana yang sedang duduk di pinggir ranjang. Nana mengangguk pelan, “Te.. terima kasih, Frans. Maaf membuatmu kesusahan,” ucapnya. Kelihatannya kewarasan Nana sudah kembali karena mentalnya yang terguncang sudah mereda dalam perjalanan mobil tadi. Ia juga sempat tertidur karena merasa nyaman di dalam pelukan Frans, sekaligus kelelahan parah setelah berjuang menyelamatkan diri tadi. Frans menatap Nana sendu. Ia menyentuh pipi gadis itu dengan jari jempolnya. Rasanya ia ingin kembali ke kebun tadi untuk benar-benar menghabisi nyawa pria-pria sialan itu karena sudah membuat sisi bibir Nana terluka. Ia tidak bisa menerima ini sama sekali. Nana memegang tangan besar Fra

