bc

THE DARK ORANGE

book_age18+
193
FOLLOW
1.1K
READ
love-triangle
sex
opposites attract
powerful
others
drama
sweet
bxg
campus
coming of age
like
intro-logo
Blurb

Memiliki begitu kenangan buruk membuat seorang Benjamin bertaruh dinegara orang untuk menggapai cita-citanya sebagai penari balet profesional ketika sekelilingnya mengejar Cinta, ia hanya ingin menggapai keinginannya higga pertemuan tak diduga terjadi. Nora Clark, seorang wanita yang begitu membingungkan dan membuatnya mengubah pengamatannya mengenai cinta. Rasa cinta yang akan mengontrol Benjamin dan juga membuat matanya tertutup saat obsesinya perlahan hadir disela hubungannya dengan Nora.

Perjalanan, perlarian bahkan perjuangan akan Benjamin arungi hingga ia menemukan titik sebuah kebohongan yang begitu dalam dengan berlabelkan “pengorbanan”.

chap-preview
Free preview
CHAPTER 01 - BENJAMIN
Rasa dingin bulan Desember selalu begitu menusuk hingga masuk kedalam sela rusuk. Membusukkan sisa makanan yang tak dimasukkan kedalam mangkuk. Selimut lusuh itu membuntal seorang anak laki-laki yang menekukkan tubuhnya menahan rasa dingin didalam rumah reyot. Mana mungkin pemanas, jika sepercik api adalah barang mewah. Kepergian Nenek semata wayangnya membuat anak itu sebatang kara. Menghabiskan sisa daging didalam kulitnya yang semakin layu. Hanya mengharap belas kasih orang-orang disekitar yang terkadang lupa dengan keberadaannya. . . . Suara alarm membangunkan tidur Benjamin ... lelaki berperawakan Korea itu membuka matanya tanpa rasa kantuk. Ia benci kegiatan bernama tidur itu, namun ia bukanlah seorang vampire dinegara dingin ini. Mimpinya selalu seputar masa lalunya yang menyeramkan. Ya ... Benjamin memiliki masa kelam namun siapa didunia ini manusia yang selalu bahagia? Suara ketukan pintu terdengar dari luar, siapa lagi kalau bukan tetangganya yang selalu memberikan koran gratis. Bukan karena baik atau ingin membuat Min-ah -- begitulah ia dipanggil -- tapi agar melihat wajah tampan Min-ah setelah bangun tidur. Jamin membuka pintu dan memasang senyumnya pada Maria yang sudah siap dengan setelan bulunya memberikan koran dan sekotak coklat panas. "Kapan kau akan mencari pekerjaan Min-ah?". Jamin menghela nafas, "secepatnya nona". "The hell ... jangan selalu memanggilku Nona, kita hanya berbeda 3 tahun". Jamin tersenyum singkat lalu melangkah mundur, "have a nice day", ujarnya, ia tak mau memberikan service gratis untuk hari ini. Perasaannya tak begitu baik, apalagi meladeni perempuan berhidung bagaikan tongkat raja firaun itu. Ia membuka korannya diatas tempat tidur yang tak memiliki kerangkanya itu. Lalu tangannya menaruh coklat panas yang didalam gelas beling diatas nakasnya. Mata Jamin menari kesana kemari. Ia harus tahu perkembangan diluar sana, terutama karena ia tak memiliki televisi. Ia sangat miskin dinegara ini tapi setidaknya, mata Jamin menatap dinding, beberapa piagam penghargaan terpampang membanggakan, ia memiliki harapan untuk keluar dari musim dingin. Setelah puas mengisi otaknya dengan informasi, Jamin menyalakan piringan hitamnya dan lagu musik klasik pun memenuhi ruangan. Pelan-pelan ia meregangkan tubuhnya yang lelah karena mimpi buruk. Diputar kepalanya perlahan sembari mengikuti dentingan simfoni yang memompa darahnya dari jantung ke seluruh tubuh dengan aliran yang baik. Otot Jamin tentu terlatih dengan baik, bentuk tubuhnya selalu sempurna. Hingga tak ada yang berfikir bahwa ia hanya penyewa apartemen murah dipinggiran kota Paris. Karena wajah Asianya yang tampan dengan sorot mata tajam yang jika sudah diatas panggung, ialah tokoh utamanya. Pemilik dongeng yang selalu ia perankan. ... Hiruk pikuk kota tak pernah membuat Jamin tak nyaman. Disinilah ia hidup, setelah mendapatkan izin untuk pergi keluar negeri dengan susah payah di Korea. Jamin berhasil masuk kedalam Universitas yang memberikannya beasiswa bagus dengan catatan, ia mengabdi untuk menjadi penari inti di Paris Art Universite. Terutama untuk jurusan seni tari itu memanglah selalu memberikan beasiswa untuk orang diluar kota Paris dan Benjamin adalah salah satu orang yang beruntung. dari sekian peserta yang mendaftar dari belahan dunia. Dikeluarkan beberapa lembar uang untuk membeli roti lapis sebagai pengisi perut dipagi hari yang sangat dingin. Tak lupa dengan bonus apel yang selalu diberikan oleh penjualnya, seorang wanita tua berwajah teduh. Saat pertama kali mendapatkannya Jamin tentu takut bahwa apel itu beracun atau apalah itu namun wanita tua itu hanya tersenyum. "Jika kau sudah sukses menjadi penari maka ingatlah bahwa apel yang kuberikan adalah energi untukmu", kata Nenek yang tak pernah mau menyebutkan namanya saat Jamin iseng bertanya. Ia berjualan di area Universitas pada pagi hari saja. Jika Jamin perhatikan, tak ada satupun orang lain yang mendapatkan kebaikkan si Nenek yang selalu memakai kerudung putih itu. Tapi Jamin masih hidup sampai sekarang jadi ia selalu menerima apel itu setiap sang Nenek memberikannya jika Jamin membeli sandwichnya. Memang Jamin tak selalu membeli sandwich, dia juga sering mendapatkan sarapan dari Maria jadi uang sakunya ia tabung. Saat kakinya melangkah masuk kedalam ruang kelas. "Min-ah!!!", seru beberapa temannya yang sudah menyiapkan kursi untuknya. Jamin tersenyum lalu menghampiri teman-temannya. Hals mengacak pucuk rambutnya, "good morning sweetie", ucapnya. Jamin menahan pergelangan tangan Hals, "jangan perlakukanku seperti anak anjing Hals", geram Jamin. "Lalu maunya bagaimana? Kucium?". Jamin mendekatkan dirinya, "mau kubuat bengkak bibirmu? Hm?". Hals mendorong Jamin dan tertawa. Candaan mereka terkadang memang frontal. Ketiga temannya yang lain sudah biasa melihat keduanya flirting namun sampai sekarang tak ada ikatan apapun. Selain belajar tari dan musik. Mereka harus belajar mata kuliah yang dapat mereka pilih sesuai minat. Jamin memilih ekonomi, itu mengapa ia bisa bertemu dan Hals, Jacob dan juga Bella. Mereka berempat selalu bersama dalam semester ini. "Min-ah ... nanti malam kau kemana?", tanya Hals sembari memangku tangannya di dagunya yang runcing. "Berlatih, apa lagi". "Ahh tak seru... Jacob dan Bella akan hangout, ayolah kita ikut". "Hals... kau bisa melakukannya sendiri tanpaku, kau juga punya banyak teman lelaki", tolak Jamin dengan lembut. "Hey... tak ada yang sepertimu, mereka selalu mengajakku tidur dan aku bosan". Jamin menatap bola mata Hals, "kalau aku yang mengajakmu tidur bagaimana?". Bibir tipis Halsey langsung terkatup beberapa detik kemudian ia mencubit pipi Jamin yang lembut seperti p****t bayi. "Lagi?", kata Jamin dengan kesal diperlakukan seperti anak anjing oleh Halsey. "Sudahlah... percuma memaksamu", kata Halsey lalu ia menidurkan kepalanya diatas mejanya, rasanya sebal. Sangat sulit mengajak Jamin untuk bersenang-senang padahal kota Paris sangatlah menyenangkan dimalam hari. ... Kamar milik Hals sangat menyenangkan dengan interior artistik. Jika Jamin memiliki jurusan seni tari, Hals berasal dari jurusan seni musik, Bella dan Jacob dari perfilman. Tapi Bella dan Jacob sangat asik dan nyambung. Mereka bertiga berada dikamar Hals. Wanita berambut pink nyentrik itu sedang membaca majalah sembari mendengarkan musik. Lalu Bella mengambil perhatiannya dengan melemparkan sebuah dalaman manis berwarna pink. "Pakai ini dan ajak Jamin bersenang-senang", kata Bella dan Jacob menyetujuinya. "Gila! Siapa juga yang mau tidur dengan bocah itu. Aku pun khawatir apa dia menyukai perempuan atau tidak, dia sangat manis, cantik, imut tapi susah sekali untuk didekati". Baru Bella ingin jawab, Ibu Hals masuk dan memanggil anaknya karena temannya berada diluar. Hals dan Bella saling tatap. Hals pun melompat dari kasurnya dan keluar. Beberapa menit kemudian saat Bella menunggu dengan was-was, Hals kembali masuk, mengambil dalaman yang Bella berikan tadi lalu masuk kedalam kamar mandi. Jacob pun tahu siapa yang datang, ia pun keluar dan benar, Benjamin, untuk pertama kalinya menyapanya diluar kampus. "Finally Min-ah", kata Jacob dan mereka pun berhigh five. ... Setelah selesai menandatangani kontrak, Nora Clark resmi menjadi salah satu tim inti pelatih tari untuk salah satu Universitas Seni di kota kelahirannya, Paris. Akhirnya ia lega karena sudah keluar dari tempatnya terdahulu dan sekarang memiliki tempat yang hebat untuk memperkerjakannya. Inilah yang ia nantikan. Walaupun pengalaman dan relasi yang ia miliki tak mungkin ia sepelekan. Ia berjalan menyusuri jalan kampus yang dingin dan menyenangkan. Teringat bagaimana masa-masanya menjadi mahasiswa juga dan membabat habis semua peran dan penghargaan. Gedung tinggi dengan beberapa menara yang memang terlihat kuno tapi jika masuk kedalamnya, maka fasilitas kampus ini lengkap dari juga modern. Suasananya cukup teduh dan nyaman. Akan banyak mahasiswa dan mahasiswa yang berlatih maupun melakukan pertunjukan yang mereka suka disekitar kampus. Semua bebas mengeluarkan ekspresi. Coach Nora, begitulah ia akan dipanggil nantinya oleh para muridnya. Handphonenya berbunyi dan ia segera mengangkatnya. "Yeah babe... hmmm baiklah, kebetulan, aku juga ingin merayakan sesuatu. See you later!". ... Lampu club menyorot kesana kemari. Pertunjukan tarian, DJ dan lantai dansa penuh oleh orang-orang yang bersenang-senang. Mencari hiburan setelah menyelesaikan rasa stress masing-masing. Jamin duduk disamping Hals bersama teman-temannya yang lain. Mereka semua menikmati malam ini kecuali Jamin. Ia hanya diam dan terus minum disamping Hals yang entah mengapa baginya, pakaiannya sangat terbuka malam ini. Tak seperti biasanya. Biasanya Hals hanya memakai sesuatu yang berbau ripped jeans. Ia juga senang memakai eye liner tebal dan membiarkan rambut emasnya diikat tinggi berantakan. Tidak lupa membawa gitar dipunggung dan juga headphone dilehernya. "Kau baik-baik saja?", Hals menaruh tangannya dikening Jamin, "kau panas sekali? Kau mau pulang?". Jamin menahan pergelangan tangan Hals dan menggenggamnya, "tidak... kau lanjutkan saja". Hals terdiam dan hanya menatap Jamin yang sedang minum lagi. Perlahan Hals meraih gelas Jamin, minumannya belum habis dan Halsey meminumnya. Tatapan mata mereka bertemu, Hals menunggu pergerakan Jamin namun lelaki itu malah berdiri dan pergi padahal sedetik sebelumnya Hals tahu betul tatapan Jamin sudah penuh akan dirinya. Ia pun mengejar Jamin yang tak menoleh saat ia panggil. Jamin terus keluar dari club. Namun saat ia keluar, atensinya terambil oleh seorang perempuan yang seakan dipaksa diujung jalan. Wanita itu terus mendorong sang lelaki. Suara perlawanannya jelas terdengar. Jamin berusaha menahan diri namun tepat saat Hals keluar dari club, Jamin sekarang berlari ke arah perempuan yang sudah dijambak rambutnya oleh sang lelaki bertubuh tinggi besar itu. Tendangan Jamin mulus mengenai perut lelaki berkulit putih dengan rambut keemasan yang langsung tersungkur. Alkohol jelas menguasai dirinya. Melihat hal tersebut Hals hanya diam ditempatnya. Jamin menarik perempuan lain didepan matanya tanpa menoleh sedikitpun padanya. Hatinya terasa sakit namun itulah Benjamin, sulit. Hals kembali masuk kedalam club. Tak ada isakan tangis dari perempuan yang dijambak dan bahkan ditampar. Sudut bibir perempuan itu berdarah namun tatapan matanya tetap dalam dan tegas melihat wajah anak lelaki yang mengobatinya didepan sebuah apotik 24 jam. Mata lelaki itu sedikit memerah, pasti ia sedang mabuk. Karena pipinya pun berwarna merah menggemaskan dengan hidung yang sepertinya selain mabuk ia pun kedinginan. Nora menaruh telapak tangannya dipipi lelaki tersebut yang langsung menghentikan aktifitasnya. Gerakan tangannya berhenti pada bibir Nora yang memang sedang ia obati dengan obat merah. "Kau kedinginan", ucap Nora menebak. "Bagaimana kau bisa peduli dengan aku yang kedinginan padahal bibirmu berdarah, rambutmu rontok dan bahkan ada lebam ditanganmu". "Kau perhatian sekali", Nora memiringkan kepalanya, "siapa namamu?". "Haruskah kau tahu?". "Kau tidak ingin tahu?". Tatapan lelaki itu tak bergerak selain memandang mata coklat terang milik Nora. Pipinya semakin bersemu. Nora menaruh tangannya dipundaknya. "Apa yang harus kulakukan agar mengetahui namamu?". Mungkin ini yang dinamakan pandangan pertama pada waktu yang tak tepat. Luka Nora sedikit perih saat lelaki itu menciumnya dibibirnya dan berbisik, "Benjamin".

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.6K
bc

TERNODA

read
203.8K
bc

Kali kedua

read
222.8K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
21.6K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook