Kecupan itu masih terasa begitu hangat dibibir lembut milik Benjamin. Didalam kamarnya ia menerawang langit-langit. Mengapa degup jantungnya sampai sekarang masih tak karuan.
Jendela disampingnya masih terbuka dengan sepoi-sepoi angin dingin masuk dan itu sama sekali tak mengganggu Jamin yang masih merasa kehangatan disekitar bibir dan turun ke jantungnya.
Perempuan yang ia tak tahu namanya siapa itu memberikannya kejutan yang menyalakan kembang api di hatinya. Jamin langsung terduduk ketika ia ingat bahwa ada seseorang yang seharusnya menunggunya.
"Hals?", desisnya tapi ia melihat bulan dilangit luar, "ck! Sudahlah", keputusan yang buruk memang mengikuti pergaulan wanita itu.
Jamin harus menahan malu karena ia tak bisa mengeluarkan uang selembarpun saat ia mendapat dengar harga satu minuman saja bisa menguras hampir setengah uang sakunya selama sebulan.
Namun lagi-lagi fikirannya teralihkan oleh perempuan itu. Tidak adil memang saat wanita itu mendapatkan namanya tapi ia malah lupa saat ia beradu gila, menyentuh bibirnya.
Bukannya mendorong atau menampar Jamin, ia malah mengeratkan ciuman mereka dengan menarik kerah Jamin. Memang ciuman itu tak mengarah ke lainnya, itu hanya ucapan terima kasih dan Jamin pun mengantarnya naik taxi.
Lalu ia baru ingat bahwa ia tidak tahu asal usul perempuan itu. Sekarang Jamin menyesal dan berharap ada keajaiban untuknya.
***
Sebuah meja kerja dan kunci loker diberikan sebagai tanda bahwa Coach Nora Clark sudah resmi menjadi tim pelatih di Universitas ini. Ia menerimanya dengan senyum mengembang lalu mulai menduduki mejanya.
Beberapa menit lagi ia akan melakukan briefing pertama kalinya dan mengetahui jadwal kelas yang akan ia isi.
Nora sungguh tidak sabar. Ia mengganti bajunya di toilet, ia berhenti melihat papan bertulisan "khusus pengajar", hatinya melambung dan ia masuk kedalam.
Setelah selesai berganti baju untuk latihan, satu set baju yang melekat ditubuhnya berwarna hitam. Ia sangat antusias mengenai hari ini karena ini penghapus ingatan menyakitkannya tentang malam tadi.
Pyhsical abuse yang selalu ia dapatkan dari mantan kekasihnya tak membuat Nora takut itu mengapa mantannya itu semakin menggila. Ia meminta Nora untuk kembali bersamanya tapi untuk kali ini Nora angkat tangan.
Bukan sekali dua kali ia dipukuli jika ia melakukan salah. Nora terima. Tapi yang Nora tidak bisa terima saat jelas-jelas Alex ketahuan berselingkuh semalam di club. Dihari dimana Nora ingin berbahagia, ia berkata tak bisa, itu mengapa Nora mentraktir teman-temannya namun yang ia dapatkan.
Melihat Alex sedang bergoyang dengan dua wanita berpakaian minim dengan minuman ditangannya seakan-akan ia adalah penguasa club malam itu.
Bukannya meminta maaf, karena Nora pergi setelah memergokinya, Alex justru menggila hanya agar Nora bersuara. Namun Nora tak mampu, menangis saja sudah tak bisa setelah air matanya sudah kering karena lelaki b******n yang membuatnya seperti sapi perah.
Walau terkadang lutut Nora masih bergetar namun saat kakinya melangkah masuk kedalam gedung ini. Ia mantap. Hidupnya tak akan pernah bergantung dengan Alex. Ia memilih mati daripada kembali kedalam neraka.
Setelah briefing dan mendapatkan jadwal tetap Nora berpartner dengan seorang perempuan yang berasal dari asia namanya Jang Seul Ji. Wanita bermata sipit itu memiliki tatapan tajam namun saat sudah bicara, suaranya bergetar hangat menyambut kedatangan Nora.
"Oh ya ... kelompok kita ini dipenuhi oleh anak-anak yang sangat kompetitif jadi jangan heran terutama dengan Benjamin", jelas Seul Ji, ia menjelaskan apapun yang ada di kampus ini dengan detail.
"Benjamin terkadang over practice, aku pernah menghukumnya karena ia memakai ruangan hingga pagi karena sebuah audisi".
"Bukankah itu hal yang wajar? Kenapa harus dihukum?", Nora yang sedari
tadi diam akhirnya membuka suara karena ia pun juga akan melakukan hal itu untuk audisi.
Seul Ji menatap Nora, "hmmm aku tak memiliki target seperti itu untuk anak didikku, kuharap kau dan aku bisa bersama saling mendukung bukan menekan hingga tak mempedulikan fisik mereka".
"Aku bisa bekerja sama tapi untuk menentang ambisi seseorang, aku tak bisa hanya memberikan ucapan semangat".
"Coach Nora, aku tahu tapi ...".
"Sudah cukup Miss Seul Ji, aku sudah memahami semuanya. Sekarang bolehkah kita melakukan pekerjaan kita masing-masing? Karena banyak yang harus ku pelajari terlebih dahulu".
Seul Ji mengangguk dan ia pun kembali ke mejanya. Menatap partner barunya, ia berharap mereka bisa bekerja sama walaupun sepertinya akan banyak perdebatan melihat mata Nora yang membara saat menentang dirinya.
.
.
.
Benjamin mendatangi Hals yang sedang asik mengobrol dengan teman-teman jurusannya. Hals menatapnya sedikit malas berbicara dengan Jamin namun apa boleh buat, ia tidak mungkin mengacanginya didepan seluruh orang.
"Ada apa?", tanya Hals dengan nada dingin saat mereka sudah berada berduaan di lorong.
"Untukmu", Jamin memberikan sebuah bingkisan.
"Apa ini?", Hals mengintipnya sebentar namun menurunkan paper bag itu, "aku tidak bisa menerimanya jika ini permintaan maaf karena kau meninggalkanku, membuatku keluar tanpa mantelku tapi kau malah berjalan bersama perempuan lain", semuanya keluar begitu saja.
Jamin tidak melawannya karena memang benar itu permintaan maaf, ia menggunakan uang simpanannya untuk membeli sebuah jaket kulit untuk Hals.
"Setidaknya terima ... aku memberikannya tulus untukmu".
"Tulus? Ketulusanmu sama sekali tak membuatku bahagia".
"Karena memang benar aku tak bisa membuatmu bahagia".
"Benjamin cukup!", tatapan Hals sungguh dipenuhi kekecewaan, "apa ini penolakan darimu untukku?".
Hals menahan air matanya namun wajah Jamin sangat datar, menatapnya dengan lurus. Itu sudah jelas bagi Hals sekarang.
"Baiklah akan ku terima ini tapi jangan menggangguku untuk sekarang. Kumohon", Hals pun berjalan meninggalkan Jamin yang bahkan tak ada menahannya. Air mata yang sudah ia tahan akhirnya mengalir dengan rasa sakit dihatinya.
Dikelilingi dengan rasa dingin, Hals berusaha menerima bahwa ia dan Jamin memang hanya sebatas teman. Tidak lebih walaupun ia sering menangkap Jamin yang memperlakukannya dengan manis atau tatapannya yang teduh, atau perkataannya yang bisa menjadi inspirasi bagi Hals membuat musik tapi itu hanya dirinya sendiri. Tidak untuk Jamin.
.
.
.
Jamin berjalan dengan lunglai. Hari ini melelahkan. Pertama karena presentasinya tidak berjalan sesuai harapan karena partnernya tak masuk sehingga Jamin harus membuat presentasi dengan ngebut.
Sementara permintaan maafnya malah menjadi ajang penolakan terhadap Hals. Jamin lelah. Tapi kakinya tidak bisa melawan otaknya, ia tetap melangkah menuju ruang club.
Melihat Hals memunggungi terus menerus seharian membuat Jamin sedikit merasa linglung. Ia terbiasa mengandalkan perempuan itu dikelas. Ia selalu bersama Hals. Tawanya, candaannya semuanya Jamin menyukai Hals tapi memacarinya? Mungkin dia sudah gila.
Siapa Jamin? Berdiri didepan rumah Hals yang besar saja ia gugup. Apartement murah menunggunya. Jamin tentu tidak mungkin memacarinya, tak peduli bagaimana rasa sukanya pada Hals.
Apalagi jika diingat saat Jamin dulu beberapa kali membelikan sandwich, Hals terlihat tersiksa memakannya. Mungkin karena murah dan juga lebih banyak sayuran ketimbang daging.
Sudahlah, Jamin membuka pintu ruang club. Untuk pertama kalinya ia datang terlambat. Disaat semua sedang melakukan pemanasan.
"Benjamin! Terlambat?", kata Miss Seul JI yang benci keterlambatan walaupun ini pertama kalinya untuk Jamin, "ganti bajumu sekarang! Apa yang harus kubilang pada pelatih baru ketika aku membanggakanmu!".
Jamin membungkukkan tubuhnya lalu ia segera pergi ke toilet. Setelah selesai ia keluar. Ia menoleh pada seorang wanita yang juga menoleh padanya.
Mereka berdua berhenti seakan dunia juga berhenti. Tatapan mereka tertuju pada outfit yang mereka berdua gunakan.
"Kau...", kata Jamin namun perempuan itu berbalik dan berjalan tanpa mempedulikannya seakan tatapan mereka tadi bukanlah apa-apa.
Jamin hendak menyusulnya namun Hals lewat dan ia masih merasa bersalah dengan perempuan yang sedang membawa gitar tersebut. Perempuan itu mengenakan jaket yang Jamin berikan tadi.
"Min-ah", panggil Hals saat ia berbalik menghadap Jamin.
"Ya?".
"Bisa nanti malam ku telfon? Ada yang ingin kubicarakan".
Jamin mengangguk lalu Hals pun pamit dan kembali menyampirkan tas gitarnya dipundak sedangkan Jamin kehilangan jejak perempuan itu. Ia bergegas ke ruang latihan daripada dimaki oleh Coach Seul Ji.
.
.
.
Setiap ketuk hitungan diikuti beberapa murid yang mengikuti gerakan Nora selama pemanasan. Wajahnya menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja walaupun jantungnya berdetak tak karuan.
Bukan karena gugup ini hari pertama tapi karena tatapan lelaki yang pernah ia cium itu selalu menghujamnya sedari awal lelaki itu masuk. Ternyata lelaki itu adalah mahasiswa disini.
Bodoh memang kalau Nora lupa bisikan namanya. Benjamin, ah kenapa hanya ada satu Benjamin dihidupnya.
Setelah pemanasan usai, Coach Seul Ji mulai melatih fisik para member. Nora bertugas membenarkan gerakan. Ia mencek satu per satu dan sampailah langkahnya pada anak lelaki yang terang-terangan menatapnya dengan lekat.
Sepertinya ia sengaja menaruh letak kakinya salah sehingga Nor harus membenarkannya dan sekejap ia melihat Benjamin menyeringai kecil.
Nora tetap tak mempedulikannya namun harus ia akui bahwa gerakan Jamin harus diakui. Pantas ambisinya sangat besar, itu semua setimpal dengan usaha dan hasilnya. Nora takjub melihat Jamin.
Para member tim A ini melatih gerakan part mereka masing-masing. Nora membenarkan semuanya dan tak jarang ia sudah mengeluarkan sifat aslinya.
Kegalakkannya jauh berbeda dengan Coach Seul Ji yang paling tidak hanya menghempaskan nafas kasar. Nora sanggup untuk mengeluarkan unek-uneknya.
"Kau fikir dengan tempomu, posisimu akan selamat? Kau harus setiap detik mendengarkan lagi ini, jika besok kau masih begini, lupakan saja. saya akan mengulang posisi kalian", Nora menatap Seul Ji yang ternganga namun Seul Ji tak bisa melawannya karena memang benar apa yang Nora katakan.
Sekarang tiba giliran Benjamin. Ia sedikit melakukan pemanasan sembari berjalan menuju tengah ruangan. Lalu suara musik mulai dinyalakan dan Jamin mulai menggerakkan kakinya, berjinjit lalu turun mengikuti alunan musik dengan sesuai. Tangannya mulai merenggang seakan ia ingin meraih udara. Seluruh tubuhnya mampu mengikuti dentingan lagu dan juga ketukan yang keluar dari mulut Nora.
Tak ada detail yang terlewat, tubuhnya berputar sempurna bahkan rambut Jamin bergerak dengan indah. Nora spontan bertepuk tangan lalu sedetik kemudian wajahnya berubah lagi. Ia memberikan tempat pada Seul Ji yang akan memimpin latihan disesi terakhir.
Rasanya segar setelah mandi. Nora mengeringkan rambutnya dengan hair dryer didepan cermin besar yang sederet dengan westafel. Lalu Seul Ji keluar dari salah satu bilik mandi dan melakukan hal yang sama.
"Bagaimana? Benjamin hebat bukan?".
"Jangan membesar-besarkan".
"Hey Coach Nora, yang bertepuk tangan sesuai lagu selesai siapa? Kau tak ingat?".
Nora terdiam, tak menanggapi ucapan Seul Ji. Ia hanya bersikap jujur. Siapa yang bisa menghalau bakat seperti itu tapi untuk bersikap keluar dari batas saat latihan. Nora tak akan melakukannya, tidak pada lelaki yang ia cium malam itu.
.
.
.
Akhirnya wanita yang ditunggu keluar dari gedung seni tari. Dengan cepat Jamin menyambar tangan Nora dan menuntunnya keluar dari area gedung.
"Lepaskan", kata Nora berusaha melepaskan tangannya dari Jamin.
"Kau bahkan belum berterima kasih Nona".
"Apa? Aku ini pelatihmu! Bersikaplah yang sopan!" Tukas Nora, ia harus tahu dimana kakinya berdiri.
"Kau yang tidak sopan, menciumku sebagai tanda terima kasih, apa maksudnya?".
"Bisa tidak kau lupakan hal itu?".
Jamin menggelengkan kepalanya, "tidak bisa apalagi sekarang aku harus melihatmu. Bagaimana caranya?".
"Apa itu ciuman pertamamu?".
"Ya .. memang ciuman pertamaku! Jadi kau harus tanggung jawab!"
Tatapan mata Jamin benar-benar membuat Nora ak bisa melawannya lagi.
"Ben...".
"Min-ah..., panggil aku Min-ah", Jamin tersenyum menatap Nora. Ia tak pernah merasa begitu senang bertemu seseorang seperti sekarang.
Dua cup kopi menemani tangan Nora dan Benjamin masing-masing saat mereka memutuskan untuk berjalan bersama dan kebetulan mereka memiliki jalur pulang yang sama.
"Kau tidak perlu khawatir Nora, aku tidak akan memacarimu, kondisiku tak memungkinkan".
Nora terkekeh, "aku tidak khawatir itu. Aku juga baru saja putus dari kekasihku yang kau pukuli waktu itu".
"Ah.. maaf".
"Kau penyelematku, jadi tak perlu meminta maaf. Mungkin tanpamu, aku akan masuk rumah sakit".
Jamin begitu khawatir dan menoleh memeriksa ekspresi wajah Nora, "kau sering diperlakukan seperti itu?".
"Min-ah... jangan sedekat ini", jarak wajah mereka kurang dari satu jengkal.
"Kenapa? Aku terlalu tampan?".
"Iya dan ... aku berbeda jadi kau harus berdiri setidaknya segini", Nora melangkah mundur namun dengan cekatan Jamin menarik tangannya dan membuatnya jatuh kedalam pelukan Jamin.
"Mana bisa ... ".
Jantung Nora verpacu dengan cepat, aliran darahnya mendidih. Nora mengepalkan tangannya. Ia kesal pada dirinya sendiri yang sekarang tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Benjamin.
...
Pintu apartemen Nora terbuka, dan dibiarkan menutup otomatis sementara kedua insan itu dimabuk perasaan yang datang sangat membara. Terutama Jamin yang tak pernah merasakan hal ini selain pada dirinya sendiri.
Menyentuh Nora seperti suatu hal yang berbeda, keinginan yang lebih dan lebih. Ia tak membiarkan Nora bergerak sedikit pun darinya. Melumat bibir Nora dengan begitu lekat. Mereka saling memeluk satu sama lain, bahkan ruangan masih gelap.
Nora berusaha mengontrol dirinya namun sentuhan Jamin padanya membuatnya semakin panas. "Min-ahh ... apa yang kau tunggu".
Jamin tak bisa melakukan apa-apa selain berciuman jadi sedari tadi hanya itu yang ia lakukan. Bibir Nora terasa nyeri karena terus-terusan dilumat.
Posisi mereka sudah sangat pas, Nora menjauhkan pundak Jamin, "apa kau tidak pernah melakukan? Ah itu ciuman pertamamu, kalau begitu ini kedua kalinya?"
Jamin mengangguk dengan wajah merasa bersalah. Namun Nora mengusap kepalanya dan tersenyum.
"Jangan dipaksakan okay?", kata Nora lalu ia mengecup bibir Jamin yang memerah dan bulat. Ia pun berusaha beranjak dan Jamin dengan pasrah membiarkan Nora pergi dari kungkungannya. Menyalakan lampu.
"Aku juga bisa menjadi pelatihmu dalam hal ini tapi kau tahu bukan? Kita tak dalam kondisi bisa berpacaran?", ucap Nora meyakinkan.
Nora mengambil botol minuman dari lemari dan dua gelas.
Jamin duduk dengan posisi kurang nyaman setelah Nora menegaskan hubungan mereka.
"Kenapa tidak bisa berpacaran?".
"Tak ada gunanya jadi jika kau tidak ingin melanjutkan, silahkan pergi".
Jamin beranjak dari sofa dan mendekat pada Nora, selangkah dua langkah dan mereka sudah sangat dekat. Jamin menaruh tangannya dipinggang Nora.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Apapun yang kau inginkan, akan kuturuti".
"Benarkah?".
Nora begitu berdegup sekarang, lalu Jamin mengangguk. Hasrat yang sedari tadi tertahan kini kembali mendidih didalam tubuh Nora. Ia memberikan gelas minuman untuk Benjamin.
Sensasi kali ini sangat berbeda dengan hubungannya dengan Alex yang selalu penuh rasa nyeri dan sakit walaupun ia tetap nikmat tapi ini membuat Nora
menikmati semuanya walau sedikit gemas.
"Min-ah ... jika kau bermain, fikirkan aku, jangan hanya memuaskanmu sendiri. Aku bisa cepat bosan jika kau tak pintar mengaturnya".
"Ah begitukah?".
Nora mengangguk, "sekarang giliranku".
Benjamin merasa gugup saat mereka bertukar posisi. Jantungnya berpacu cepat hanya karena melihat Nora merambat diatas tubuhnya semakin lama semakin turun.
Tatapan mata Nora ke atas melihat Jamin, membuat Jamin menahan nafasnya. Lalu tangan cantik itu membuka kancing dan resleting celana Jamin. Bahkan walau tangannya belum menyentuh, nafas Jamin sudah terasa semakin berat. Sensasi yang ia rasakan membuatnya tak sabar untuk pertama kalinya.
Dengan sabar Nora mengajarkan apa saja yang harus Benjamin lakukan. Nora tak berfikir bahwa ia akan melakukan hal ini pada muridnya sendirinya.
Namun anehnya, Nora begitu penasaran dengan apapun yang Jamin bisa lakukan padanya.
...
Alexander Basile adalah seorang pebisnis yang cukup terkenal dan juga sukses. Ia juga pimpinan dari Basile Corp, perusahaan yang terkenal di Kota paris dalam segala jenis bidang. Perekonomian, seni dan bahkan properti. Namun setelah keputusan Nora Clark untuk mengakhiri hubungan mereka, ini membuat semuanya terganggu. Bagi Alex, Nora adalah segalanya. Wanita itu bisa ia gunakan dalam hal apapun.
Ia cantik, manis, pintar dan sangat hebat diranjang. Sudah berapa perempuan yang bermalam bersamanya sejak malam dimana Alex memukulinya karena ketahuan selingkuh. Tak ada satupun wanita yang membuat dirinya puas.
Alex membenarkan letak dasinya sembari melihat ke jendela besar diruang kantornya. Otaknya bekerja untuk mendapatkan solusi. Rasanya setiap hari ia dipenuhi amarah karena Nora membuangnya setelah semua yang ia lakukan untuk wanita malang itu.
Ia teringat bagaimana Alex membuat Nora jatuh kedalam pelukannya. Saat itu Nora dan Alex yang merupakan teman kuliah selalu curiga karena Nora selalu bersikap aneh ketika lelaki mendekatinya, ia takut dan juga memilih untuk membentak. Namun pada Alex ia mempercayainya begitu dalam.
Alex mencari tahu apa penyebabnya dan ternyata keluarga Nora yang menjadi masalah. Ia jelas-jelas melihat bagaimana Ayah tirinya menatapnya dengan tatapan penuh nafsu saat Alex menjemput Nora.
Pada malam itu Alex berusaha mengulik hingga akhirnya Nora menceritakan semuanya. Rasanya hancur melihat Nora diperlakukan seperti itu dan ia meyakinkan Noda untuk bersamanya daripada bersama Ayah tiri yang tak mungkin bisa memberikan kehidupan.
Dengan susah payah, Nora keluar dari rumah mengerikan itu dan mengikuti Alex hingga akhirnya Alex ingin menjadi kekasihnya dan Noea menyetujuinya. Pada saat mereka bercinta, Alex menyadari bahwa Nora memiliki birahi tinggi yang sangat sulit diterobos hingga membuatnya marah.
Karena Nora terlalu mendominasinya dan saat Alex berada dalam suasana hati yang buruk ia melakukan kekasaran yang ternyata mampu membuat Noea berada dipuncaknya untuk pertama kali. Melihat tersebut, Alex akhirnya selalu melakukan beberapa hal.
Mengikat tangan Nora, menutup matanya, menutup mulutnya, atau menggunakan beberapa alat. Alex menemukan kenikmatan tersendiri hingga akhirnya semua berlarut-larut.
Nora yang membuatnya jatuh kedalam lubang hitam dan sekarang wanita itu ingin bebas? Alex menggenggam kaleng beernya dengan rasa kesal yang begitu membuncah.
.
.
.
Rasa gugup yang menemani Nora semakin berbeda sekarang. Ia semalam melakukan blow job pada muridnya sendiri. Dan apa yang ia harus lakukan untuk hari ini?
Matanya menatap langit kamar dimana Jamin semalam berada dibawah sini bersamanya. Nora tiba-tiba teringat Alexander. Kebengisannya yang selalu melihat Nora yang kesakitan dengan hasrat yang tinggi.
Rasanya begitu menyakitkan sekarang, kenapa ia mau mengikuti pria iblis itu walaupun sempat menjadi malaikat penyelamatnya. Nora merasa bersalah pada dirinya sendiri dan sesak.
Ia beranjak dari ranjangnya. Untuk pertama kalinya seorang lelaki masuk kedalam apartemen barunya ini. Ia menghela nafasnya. Entah apa yang akan terjadi setelah ini namun tak bisa dipungkiri bahwa Nora menikmati semuanya.
Benjamin ... nama yang selalu menari di otaknya, ia sangat sulit untuk ditolak.