CHAPTER 03 - Romantisme Pelatih dan Penari

3497 Words
Ruang kelas seperti biasa, selalu ramai ketika dosen belum masuk. Benjamin melangkah dan Jacob seperti biasa menyapanya namun kali ini tak bersama Bella atau Hals yang duduk ditempat berbeda.   Jamin melirik ke arah Hals yang membuang pandangannya, ia tahu bahwa semalam mereka seharusnya berbicara namun Jamin sedang berada di surga yang ia buat bersama Nora.   "Kufikir kalian sudah baik-baik saja?", ujar Jacob dan mereka duduk dikursi deret belakang bersama teman-teman lekaki yang lain.   Jamin menggeleng pelan, "aku belum bisa berbicara, banyak hal yang kulakukan".   Jacob memijit pundak Jamin agar temannya tak merasa begitu terganggu, "namanya juga perempuan nanti juga baik lagi. Tenang saja".   Sejujurnya, Jamin merasa sedikit tenang sekarang. Entah kenapa beban dihatinya menghilang begitu saja setelah memberi jarak yang jelas pada Hals setelah malam itu.   Hals memang tak mungkin untuknya karena ia tak pantas untuk wanita smart, gaul, kaya raya dan sempurna seperti Hals.   ...   Satu cup Americano sudah diterima oleh tangan Nora. Teman pas untuk menemani perjalanannya ke kampus. Saat ia berbalik setelah mengucapkan terima kasih, Nora berjengit dan hampir saja minumannya lepas dari tangannya kalau Alex tak menyambarnya dengan cepat.   Nora tak mau ambil pusing, lelaki gila itu bahkan mengikutinya sekarang. Ia mengambil langkah namun tangan Alex menggenggamnya.   "Beri aku lima belas menit Nora, ku mohon".   Nora melihat ke sekitar, beberapa orang menatap ke arah mereka dan Nora merasa lebih aman karena coffee shop ini ramai.   "Bicara disini atau tidak sama sekali?".   "Baiklah".   Mereka berdua sudah duduk berhadapan disalah satu meja yang tak tertutup dan bahkan ada cctv yang mengarah. Nora memainkan buku jarinya, sejujurnya ia gugup dan takut sekarang.   "Aku ingin minta maaf padamu mengenai malam itu dan semua yang telah kulakukan malam itu".   Nora berusaha mengatur nafasnya, maaf setelah ia babak belur. Bukankah itu hal yang jauh lebih menyakitkan? Manik mata Nora merambat menatap kedua mata hijau milik Alex.   "Lalu?".   "Aku ingin kita kembali seperti biasa, banyak barangmu dirumah dan pulanglah".   Tak sengaja Nora berdecih, tangannya langsung mengepal karena Nora tahu bahwa Alex benci diremehkan dan biasanya yang Alex lakukan jika Nora tak sengaja memutar bola matanya karena kesal. Ia akan memberi semacam hukuman pada Nora, tak peduli dimana tempatnya atau memalukan harga diri Nora atau tidak.   "Itu bukan rumahku sedari awal dan aku tak memiliki hasrat untuk terkunci bersamamu didalam ruangan manapun".   "Aku tau aku salah Nora".   "Kau selalu tau itu Alexander dan kau tetap melakukannya", tukas y/n, tangannya terkepal dibawah meja sekarang.   "Kau yang membentuk aku menjadi pria penyuka kekerasan dalam berhubungan intim Nora, apa kau tidak sadar? Kau yang membuatku kecanduan!".   Mata Nora terbuka lebar, seakan Alex membusurkan panah yang menembus dadanya.   "Aku?".   "Karena Ayah tirimu melecehkanmu, kau tidak bisa menikmati hubungan biasa...".   "Alexander cukup!" suara Nora penuh dengan kekecewaan.   "Kau bahkan tak pernah mendesah jika aku menciummu dengan penuh hasrat, kau akan mendesah jika aku menamparmu".   Gelas Americano itu kini sudah terlempar ditubuh Alex dan kemeja serta jasnya basah dan kotor. Mata Nora merah dan wajahnya seperti terbakar.   "Kita sudah selesai!!!!", kata Nora membentak dan ia berlari ke kasir untuk meminta pertolongan.   Alex yang cukup terpandang pasti akan hancur jika kekasih yang disembunyikan itu melapor ke pihak polisi. Ia pun meninggalkan Nora disana.   Nora berterima kasih pada pihak cafe dan ia pun akhirnya berangkat ke kampus dengan semangat yang sudah surut. Ingin rasanya berteriak namun dimana tempat ia bisa melepas semua hal itu.   Cuaca dingin semakin membuat hatinya sakit apalagi mengingat semua ucapan Alex. Benarkah bahwa dirinyalah yang merusak diri Alex? Bahwa dia penyebab dari rasa sakitnya sendiri?   Langkah demi langkah mengantar Nora ke dalam gedung dan ia berpapasan dengan Benjamin yang sedang berjalan dengan lelaki bule yang menjulang tinggi disamping Jamin. Namun entah kenapa Jamin tetap stunning.   Lalu Jamin menghampirinya seakan itu hal yang wajar-wajar saja.   "Bagaimana tidurmu?", sapa Jamin tanpa rasa canggung. Senyum diwajahnya merekah menunjukkan perasaannya di pagi yang dingin ini.   "Hmm seperti biasa, ba... bagaimana denganmu?".   Jamin tersenyum dan memiringkan kepalanya sedikit, menatap Nora dengan seksama, "berbeda ... aku memiliki mimpi indah untuk pertama kalinya".   Cuaca dingin yang sedaritadi menghantui Nora entah mengapa semakin surut. Lalu Jamin menoleh melihat ke arah temannya.   "Aku harus pergi, kita bertemu nanti Coach Nora", ujarnya.   "Benjamin...", Nora menghentikan langkah Jamin.   "Ya?".   "Sepertinya kita harus pulang bersama lagi nanti. Ada hal yang harus kubicarakan padamu. Bagaimana?".   "Kapanpun untukmu", lalu Jamin pergi seakan perkataannya tak meninggalkan bekas untuk Nora.   . . .   Melihat para penari ini berlatih kelenturan mungkin membuat orang yang tak mengerti akan ballerina akan berjengit. Pasalnya mereka seperti tak memiliki tulang. Meliuk kesana kemari, walau penuh rintihan jika mereka tak melakukannya dengan benar.   Walau galak namun Nora peduli pada para muridnya dan Seul Ji cukup tenang karena ia tak lagi sendirian untuk memeriksa bagaimana keadaan tubuh para murid mereka.   Senyuman terus menerus mengembang dibibir Nora saat Jamin menatapnya. Sulit mengontrol karena tatapan Jamin yang mempesona.   "Hentikan tatapanmu", bisik Nora sembari memijit tengkuk Jamin dan mencontohkan gerakan disampingnya.   "Kalau begitu jangan muncul dihadapanku".   Nora memijit tengkuk Jamin lebih keras membuatnya teriak dan mengejutkan orang-orang.   "Tidak perlu merengek Benjamin!".   . . .   Asap mengepul disebuah kedai mie yang terletak dipinggir jalan. Hanya ada satu-satunya karena makanan asia disini cukup langka. Selalu ada makanan berat ataupun manis namun cuaca dingin ini membuat siapapun ingin memakan sesuatu berkuah.   Nora baru pertama kali datang ke kedai mie Korea. Ia diberitahu oleh Benjamin untuk menunggunya disana.   "Apa kau tetap menunggu kekasihmu?", tanya sang penjual membuyarkan lamunan Nora.   "Ah bukan kekasih", jawabnya spontan namun itu bukanlah jawaban yang ditunggu sang pedagang yang hanya tersenyum, "iya aku akan menunggu".   "Baiklah... minum ini dulu", ia memberikan segelas soup dengan isian tahu dan juga teh panas, "wah apa ini? Segar sekali", kata Nora setelah meneguknya perlahan-lahan.   "Ah itu hanya kaldu ikan untuk odeng, fish cake buatan Korea namun aku isi tahu untuk teman menunggu".   "Hebat ini sangat lezat".   Tak lama Benjamin datang dan disambut oleh sang pedang dengan begitu ramah.   "Omo... jadi kau namja chingu dari wanita ini?".   Nora menatap sang pedagang dan Jamin bergantian, mereka memakai bahasa korea yang Nora sama sekali tak paham.   "Ani ahjumma... aku suka padanya, doakan saja", kaya Jamin sembari menggaruk belakang tengkuknya.   "Ahhh aratta, kalian mau makan apa kalau begitu? Ahjumma akan berikan bonus".   "Budae jiggae porsi besar dan dua botol soju".   "Untuk bonusnya kau mau apa?".   "Coach ... apa yang kau mau? Ini", Jamin menunjuk makanan berbumbu merah yang menggiurkan dan juga beberapa fish cake yang ditusuk oleh lidi panjang.   "Kalau ini, pedas tidak?", tanya Nora menunjuk satu nampan makanan berkuah merah dengan asap mengepul.   "Manis", kata Jamin dengan jahil.   "Yasudah ini saja", kata Nora memilih teokbokki yang Jamin tahu rasanya pedas, gurih dan asam.   Tak lama kemudian satu pan berisi mie, daging, tahu, sayuran dengan kuah oranye sudah ada didepan mata. Dilengkapi dengan dua botol hijau yang isinya adalah alkohol asli dari Korea Selatan. Y/n belum pernah mencobanya.   Jamin membukakan botol dan menuang cairan bening itu ke dua gelas loki didekat mereka sembari menunggu budae jiggae mereka matang sempurna. Semangkuk Teokbokki juga tersedia.   Nora tak bisa menggunakan sumpit sehingga ia memakai garpu. Menusuk sebuahh teok dan memasukkannya kedalam mulut namun seketika mukanya memerah dan Jamin tersenyum.   "Hwaa!!! Kau bohong", kata Nora sembari panik. Rasa pedas membuat mentalnya drop seketika, lidahnya seperti terbakar.   Dengan santai Jamin mengambil tissue dan menadahkannya didekat mulut Nora,   "buang cepat hahaha".   Untuk pertama kalinya Nora melihat Jamin tertawa, matanya menghilang jika ia tertawa. Tatapan yang biasa menusuk kini begitu terlihat menggemaskan. Nora tak memakai rasa malu lagi, ia tidak peduli Jamin akan jijik atau tidak. Walau nyatanya saat Nora melepehkan makanan itu Jamin terlihat biasa saja dan membersihkan bibir Nora dengan tissue yang baru lalu membuang bekas makanan Nora.   "Kau harus coba pelan-pelan, lama-lama kau pasti akan suka", kata Jamin sembari menuang air putih, "seperti padaku, kita coba pelan-pelan dan kau pasti akan suka".   Hampir saja Nora tersedak dan lagi-lagi Jamin tertawa lagi.   "Apa kau selalu menyebalkan seperti ini?", tanya Nora.   Jamin mengaduk pan itu, makanan didalamnya mengepulkan asap dan sudah matang. Jamin mengambil mangkuk Nora dan menyisihkan untuknya.   "Tidak ... aku sulit beradaptasi dengan perempuan. Hanya ada Hals dan kau yang kedua".   Nora menekuk alisnya, "kedua? Apa maksudnya? Kau sudah punya kekasih?".   Dengan jelas Jamin mendengar suara kesal dinada bicara Nora, ia memberikan mangkuk itu pada Nora, "apa itu masalah untukmu? Kaukan tidak mau jadi kekasihku".   "Kalau begitu aku selingkuhan?", Nora tidak menerima mangkuk dari tangan Jamin.   Jamin tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Hals adalah temanku, dia menyukaiku tapi ... aku tak bisa berpacaran dengannya".   "Kau menyukainya?".   "Ya aku suka padanya, tapi sejak aku sadar bahwa kita berbeda. Aku menyadari dia hanya temanku".   Nora akhirnya menerima mangkuk yang berisi mie, daging dan sayuran yang menggugah selera. Ia kali ini mencobanya perlahan. Panas, gurih dan sedikit pedas namun masih masuk akal. Ada sedikit rasa asam. Jamin menyeruput mie dengan suara yang membuat Nora terpana.   "Apa? Ayo makan", kata Jamin.   "Bagaimana caranya ber srrrrpppp begitu?".   Jamin terkikik melihat wajah polos pelatihnya ini.   . . .         Makan malam sederhana itu tak hanya membuat perut kenyang namun membuat hati kedua pasang insan yang sedang berjalan dibawah langit gelapnini melambung kesana kemari.   Mereka sudah lama tak merasakan tawa yang lepas tanpa beban seperti ini. Jamin yang biasanya hanya peduli pada tariannya dan juga mendekam didalam kamar. Mengusik sebentar jadwalnya bersama Nora ternyata tak membuatnya menyesal.   Tiba-tiba Nora menelusupkan tangannya dilengan Jamin. Ia menempelkan dirinya, berjalan lebih menempel pada Jamin yang gugup.   "Apa kau senang?", tanya Jamin, suaranya berubah jadi agak serak.   "Sangat .. aku tidak pernah tahu makanan Korea Selatan selezat itu".   "Bukan karenaku?".   "Kalau kau bukan salah satu alasannya, mana mungkin aku bersandar padamu sekarang".   "Jadi apa yang ingin kau bicarakan padaku?", tanya Jamin memberanikan diri.   Nora menghentikan langkahnya, begitu juga Jamin. Mereka saling tatap. Lalu Nora mengalungkan tangannya dipundak Jamin dan mencium bibir lelaki yang lebih muda darinya itu.   "Aku ingin kau bersamaku", kata Nora. Jantungnya berdegup dengan menyenangkan untuk pertama kalinya karena melihat Benjamin yang membuatnya damai. Tatapan lelaki itu tak menakutkan atau menyeramkan.   "Menjadi kekasih?".   "Bisa dibilang begitu tapi kita tetap harus merahasiakannya karena aku tidak bisa berpacaran dengan muridku sendiri".   Jamin mengeratkan y/n, "tapi jangan memancingku untuk membeberkan semuanya. Contohnya, kau tidak boleh berdekatan dengan pria. Mengerti?" Jamin terkejut sendiri dengan ucapan yang ia keluarkan.   Nora mengangguk, "hmmm bisa ku usahakan".   Benjamin mencium bibir Nora, melumatnya kecil lalu mereka kembali berjalan sembari bergandengan tangan.   Sesampainya mereka didepan pintu apartemen Nora, wanita itu menahan Jamin.   "Aku bukan tipe wanita yang akan membiarkanmu pergi hanya mengantarku".   "Apa maksudmu?".   Nora membuka pintu dibelakangnya, "malam ini dingin Min-ah, bisakah kau bermalam disini denganku?".   Rasanya jantung Jamin hendak copot, bagaimana caranya ia menolak. Sel diotaknya seakan lumpuh saat Nora menarik Jamin masuk kedalam.   Nora menyetelkan tv untuk Jamin, memberikannya air hangat. Sedangkan ia pun mandi. Jamin cukup gugup sekarang, ini pertama kalinya ia memiliki kekasih. Jamin tak menonton tv itu sama sekali. Rasanya setiap detik begitu terasa dan saat Nora keluar mengenakan gaun tidur berwarna hitam dengan bahan satin yang memperlihatkan tubuhnya, bulir keringat Jamin semakin bermunculan.   Nora duduk disamping Jamin. Menaruh kepalanya dipundak Jamin. Aroma harum tubuhnya menjamah indera penciuman Benjamin yang semakin gugup.   "Kau cantik sekali", kata Jamin dengan gugup.   "Terima kasih ... kau tidak mau mandi? Aku bisa meminjamkan kaus untukmu dan menginaplah disini".   "Nora ... kau menggodaku? Hm? Kau fikir aku hanya akan tidur disini tanpa melakukan apapun padamu yang memakai gaun seperti ini?".   Nora tersenyum, "hmm ketahuan... jadi bagaimana?".   Jamin langsung beranjak dan bergegas ke kamar mandi. Nora tertawa sendiri melihat kekasihnya sangat menggemaskan.   ...   Jemari Benjamin menelusuri tengkuk y/n sementara bibirnya mengunci pergerakan Nora. Pertama kalinya ia mencium Nora dengan brutal. Tanpa rencana Nora membuat mereka saling memiliki dan Jamin tidak dapat bersikap seperti lelaki lugu nan polos lagi.   Sentuhan serta perlakuan lembut Benjamin membuat Nora mabuk. Kakinya seakan memanjat awan-awan agar bisa naik ke atas singgasana bersama buaian Benjamin.   Perkataaan Alexander salah. Buktinya ia menikmati setiap permainan Jamin yang lembut dan juga perlahan membangun rasa membara didalam d**a Nora. Bibir Jamin yang tebal dan penuh terus bermain pada tubuhnya. Membelai mahkotanya perlahan-lahan.   "Ah kau sexy sekali", kata Jamin dengan suaranya yang semakin dalam dengan tatapan mata yang penuh dengan gelora.   Rasanya begitu hangat dan nyaman didalam tubuh Nora, seakan Benjamin menemukan tempat ternyaman didunia ini.   Tak lama pinggul Nora sudah bergerak, menagih permainan yang Jamin janjikan dengan tubuhnya yang kekar dan sempurna. Jamin maju mundur dengan stabil, membuat Nora bergelinjang.   Bentuk tubuh Jamin memang tak sebesar Alex namun bagi Nora, Jamin sangat sempurna. Ia mampu membuat Nora berada dititik tertinggi dengan permainan polos yang ia berikan.   Malam pertama dengan gaya klasik ini mampu membuat Nora lemah dan ketagihan dalam waktu yang bersamaan. Hatinya merasa senang karena perkataan Alexander mental begitu saja saat ia merasakan Benjamin tak butuh bantuannya untuk mencapai rasa nikmat yang membakar diri mereka.   Melihat wanita seperti itu untuk pertama kalinya, Jamin terlihat begitu penasaran. Ia menatap milik Nora dengan mata membulat, ia mendekatinya.   Benjamin menyesap semua cairan milik Nora dengan hisapan yang membuat Nora menginjak lautan nikmat.   "Ahh kau lezat sekali honey", Jamin membaringkan tubuhnya disamping Nora--- seakan baru saja menghabiskan satu loyang blackforest dengan selai ceri yang melimpah--- yang tersenyum setelah membersihkan dirinya.   Tenaga mereka sudah terkuras habis dan tak lama keduanya jatuh tertidur didalam pelukan masing-masing.   Pertama kalinya bagi Nora merasakan kenikmatan sesungguhnya dengan perlakuan yang sebagaimana mestinya ia dapatkan. Dari seorang lelaki yang tak pernah ia duga kehadirannya. Nora fikir ia selamanya akan berada dikehidupan Alexander dengan segala aturannya yang melimpah.   Jamin baru saja selesai mandi dan ia keluar dari kamar mandi. Tersenyum menatap Nora yang sedang memotong daging sembari menumis sesuatu diatas pan. Nora tahu bahwa perutnya lapar setelah menghabiskan tenaga.   Nora masih mengenakan gaun sexy yang sekarang membuat Jamin kembali berdesir. Ia pun menghampiri y/n, berdiri disampingnya.   Nora langsung masuk kedalam pelukannya, ia menyukai aroma tubuh Jamin. Namun saat ia menyadarinya, Nora melepasnya.   "Kenapa? Apa aroma tubuhku tidak enak?", kata Jamin sembari mengecek tubuhnya.   "Bukan... apa kau nyaman jika aku bersikap seperti itu?", wajah Nora terlihat begitu takut. Bersama Alex, ia tak pernah melakukan hal yang ia inginkan. Alex tak suka jika Nora mendominasi dan mengatur.   Jamin mengacak pucuk kepala Nora dengan jemarinya, "aku suka dengan semua yang kau lakukan padaku? Bahkan saat di kampus kau membentakku, rasanya aku ingin menggigit dan menghisap bibirmu".   Nora mendorong Jamin sedikit sembari tersipu. Ia mengaduk pasta yang ia mulai masukkan kedalam saus putih kental. Jamin membantunya memasak dan mencuci piring.   "Di Apartementku ada seorang perempuan yang baik dan selalu membawakanku sarapan".   "Oh ya? Siapa dia?".   "Namanya Maria, dia hanya meminta aku tersenyum sebagai bayarannya. Baik sekali".   Nora mengambil sebuah centong dan mengetuk kepala Jamin yang langsung terkejut, "baik? Kau bilang itu baik? Itu namanya dia sedang menyukaimu".   Jamin terlihat berfikir keras, "kenapa dia tak bilang? Jangan mengada-ngada, kau saja bilang".   "Apa? Kau menyamakanku dengan perempuan itu? Really?".   Jamin tersenyum hingga matanya tenggelam pada kemanisan yang ia hasilkan, "jadi ini pertengkaran pertama kita?", kata Jamin.   "Terserah, minggir".   "Kau cemburu dengannya?", Jamin terus menerus meledek Nora, menatap wajahnya secara dekat.   Chup ... satu ciuman singkat mendarat di bibi Benjamin. Membuat wajah lelaki itu merah seperti tomat.   "Tidak adil! Kau curang!", teriak Jamin sembari angkat kaki dari dapur karena sudah tak kuasa untuk menahan dirinya yang tersipu akibat Nora.   ***   Setelah sarapan, Nora membereskan rumah sedangkan Jamin tidak tahu harus melakukan apa.   "Apa kau tidak akan kuliah?", tanya Nora.   "Tidak... tidak ada jam kelas, hanya latihan menari nanti. Itupun kaukan tidak mewajibkannya".   "Jangan mentang-mentang kita berpacaran kau jadi malas ya!".   "Hahaha mana mungkin, jauh-jauh aku kemari bukan untuk mencari jodoh tapi karena sudah dapat maka akan ku pertimbangkan".   Nora memutar matanya, "jadi ceritakan bagaimana kau bisa ke negara ini?", pinta Nora sembari ia melap sana sini.   "Tidak ada yang bisa kuceritakan selain aku bangga mendapat beasiswa. Hanya itu".   "Bagaimana dengan orang tuamu?".   "Tidak ada. Entahlah, nenek yang merawatku sudah wafat saat aku masih berumur 10 tahun dan mulai dari sana aku hidup dipanti asuhan pemerintah".   Nora terdiam sembari bersandar ditongkat kain pelnya, "sorry for that", ucap Nora tak enak hati.   Jamin tersenyum dan menekuk kakinya, "bersihkan bagian ini", ucapnya memerintah dan Nora dengan polosnya menurutui.   Namun tangan Jamin dengan cepat menarik Nora agar duduk dipangkuannya.   "Hey ... kau mengejutkanku!".   "Aku sudah menceritakan bagianku, bagaimana denganmu dan mantan kekasihmu itu? Apa tidak ada yang boleh kutahu?".   Nora tercekat, dadanya berdebar tak nyaman jika ia harus mengingat masa-masa dimana ia bersama Alexander.   "Bukannya tidak boleh, hanya saja aku masih belum siap untuk menceritakannya. Terlalu rumit dan sepertinya masih ada luka yang belum kering disini".   Benjamin mengendurkan pelukannya, "apa mungkin kau masih ada rasa padanya?".   Nora langsung menoleh, "belum lama ini aku bertemu dengannya. Jika aku masih mencintainya maka aku akan mengiyakan permintaannya untuk kembali daripada menyatakan perasaanku padamu".   "Jadi kau tidak akan kembali padanya?".   Nora menggeleng dengan kuat, "tidak akan. Walaupun kita tak berjodoh aku tetap tak akan menoleh ke tempat dimana neraka bagiku didunia ini".   Jamin mengangguk kecil dan memeluk Nora lagi, ia tak pernah berfikir bisa membuka dirinya seperti ini apalagi pada seseorang yang belum pernah masuk dalam hidupnya.   "Sebenarnya ... kenapa kita melangkah sejauh ini ya? Kita belum pernah kenal dan bahkan status kita sekarang sangat meragukan", ujar Nora.   "Haha entahlah, aku belum pernah berpacaran jadi saat melihatmu dan menginginkanmu, aku tidak bisa menjauh darimu. Bagaimana denganmu?".   Nora menyandarkan kepalanya dibahu Jamin, "sama ... tapi ada banyak hal yang mungkin tak cocok untukmu jadi aku pun tak berharap banyak. Aku hanya menikmati semuanya denganmu, perlakuan yang tak pernah kudapatkan sebelumnya".   "Kau tak berharap pada hubungan ini?", tanya Jamin memastikan ia tak salah tangkap.   "Iya ... ada banyak hal yang akan membuatmu mungkin akan jijik, benci atau apapun itu".   "Hey ...", Jamin menangkap wajah Nora dengan satu tangannya, "jangan bicara begitu... baiklah, aku juga tak akan membuatmu berharap dan mulai sekarang kita pelajari satu sama lain. Bagaimana?".   Nora tersenyum, harapan memang hanyalah impian baginya. Diam-diam dalam diri Jamin juga mengatakan hal sama. Mereka berada diposisi dimana tak dapat berharap pada apapun selain pada diri mereka sendiri.   Namun hari pertama mereka berkencan adalah hal yang sangat membahagiakan untuk keduanya. Ruang latihan sudah sepi disaat jam menunjukkan sudah terlalu petang. Ada suara ketukkan di pintu yang memecahkan konsetrasi Jamin. Ia hendak memutar namun tak jadi saat ujung matanya menangkap siluet seseorang diambang pintu.   "Hals?", gumam Jamin lalu ia menghampiri Hals, "ada apa?".   "Hmmm hanya ingin menyapa, apa kau masih lama?".   Jamin menggeleng, "tunggu diluar sebentar, aku akan menyusul".   Hals menuruti ucapan Jamin dan ia menunggu diluar ruang latihan. Ia memakai jaket pemberian Jamin dengan gitar yang selalu ia bawa kemana-mana.   Tak lama Jamin datang, rambutnya masih basah karena keringat. Memang sebelum malam itu, keduanya sering pulang bersama karena Hals juga sering berlatih hingga larut malam.   "Jadi bagaimana? Kau masih marah?", tanya Jamin to the point.   "Lebih tepatnya aku malu... kau mengetahui perasaanku sedangkan kau tidak merasakan hal yang sama. Maaf".   "Aku yang seharusnya minta maaf".   "Tidak", Hals sudah menyingkirkan rasa egoisnya, "jika kau meminta maaf, itu tambah memalukan".   "Jadi apa yang harus kulakukan?".   "Bersikap seperti biasa saja".   "Baiklah jika itu maumu. Kau suka jaketnya?".   Hals mengangguk, "tentu... oh ya, wanita yang kau tolong itu adalah pelatihmu?".   "Iya... bagaimana kau tahu?".   "Aku masih ingat wajahnya karena malam itu rasanya aku ingin menjambak kalian berdua".   Jamin sepertinya terlambat karena Nora sudah menunggu hampir setengah jam namun ia belum muncul dikedai. Saat Nora hendak memesan karena perutnya terlalu keroncongan. Lelaki itu datang.   "Maaf, aku membuatmu menunggu?".   Nora mengangguk, "aku sangat lapar dan kau sangat lama. Apa yang kau lakukan?".   Jamin memesan makanan sebentar lalu duduk dan menoleh pada Nora, "ah aku bertemu teman", ucapannya perlahan terhenti.   "Oh begitu, siapa?".   "Namanya Hals".   Nora menaruh gelasnya dan menatap Jamin, "perempuan?".   Jamin mengangguk, "kau marah ya? Kita sudah berteman lama tapi ada masalah baru-baru ini jadi tadi kita menyelesaikannya".   "Tidak ... tapi apa masalahnya?".   Makanan pun datang. Asap mengepul membuat air liur Nora rasanya ingin mengalir. Tak ada rasa cemburu pada dirinya dan itu membuat Jamin terganggu.   "Dia mencintaiku", ucap Jamin.   "Oh begitu ... lalu? Apa masalahnya?", Nora menyeruput udonnya, kuahnya terasa segar dimulut Nora. Ia sengaja tidak makan malam tadi saat teman kerjanya memesan pizza.   "Tidak ada ... tidak ada masalah dan tidak akan ada masalah lagi diantara kami", nada bicara Jamin berubah lalu ia memakan udon miliknya.   Nora yang tak mengerti maksud Jamin sama sekali tak memberi respon apapun. Malah ia memberikan mandu dimangkuk Jamin yang langsung melahapnya dengan sebal.   . . .   Jamin dan Nora baru saja turun dari bis dimana Jamin mengantarkan Nora pulang terlebih dahulu.   "Kau tidak akan menginap?", tanya y/n.   Jamin menggeleng dan tersenyum, "tidak ... banyak yang harus kulakukan malam ini untuk tugasku dan aku tidak akan melakukannya jika bersamamu".   Nora terkekeh, ia melipat kedua tangannya di d**a dan tersenyum melihat Jamin yang menatapnya dengan kikuk, "aku paham... baiklah. Oh ya, mengenai audisi, apa kau akan ikut?".   Jamin menaikkan bahunya, "entahlah, ada sedikit yang salah pada pergelangan kakiku jadi hari dimana Audisi sepertinya aku belum bisa menghadapinya".   "Bagaimana jika aku membantu untuk kau mendapatkan waktu lain?".   "Benarkah? Tapi...".   "Sudahlah, lakukan saja sebisamu dan aku akan membantumu".   Jamin tersenyum dan ia mengecup kening Nora sebagai ucapan selamat malam. Lalu mereka berpisah malam itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD