Hai .... aku Chi, salam kenal semuanya. Bagaimana 3 Chapter pertama?
Semoga kalian suka sama cerita The Dark Orange.
Aku berharap cerita ini akan beri banyak kalian pengalaman dari segi apapun. Jadi diambil baiknya dan dibuang jeleknya ya.
° • FOLLOW, LOVE AND COMMENT • °
Ketiga itu sangat berarti untuk aku meneruskan setiap karyaku.
BORAHAE
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Menjadi pelatih tari tentu membuat gairah Nora Clark selalu berpacu terutama saat melihat para muridnya yang dapat mengikuti instruksinya dengan baik. Perlahan namun pasti improvement mereka meningkat.
Setelah membuat jadwal ketat bersama rekannya Coach Seul Ji, Nora mulai mengedukasi para anak didiknya mengenai gizi, dan juga latihan fisik yang harus mereka lakukan untuk menunjang performance mereka.
Nora bahkan membawa timbangan dan meminta satu-satu muridnya untuk mengecek berat badan mereka sebelum latihan sehingga . Mereka harus memiliki berat ideal agar mereka tak kesulitan saat melakukan gerakan-gerakan balet yang tentunya harus lincah, gemulai namun penuh power. Kelenturan juga menjadi hal dasar dalam setiap gerakan. Tak jarang banyak penari balet profesional yang sering cidera, terluka hanya untuk mendapat gerakan yang sempurna.
Beberapa murid mendapatkan notes yang harus mereka penuhi terutama akan ada audisi sebentar lagi disalah satu acara dimana audisi itu terbuka untuk para club tari sehingga ini pertama kalinya bagi Nora untuk membawa anak muridnya lolos dalam audisi.
Nora tentu sangat telit namun hasil timbangan beberapa murid tentu tak sesuai dan itu membuat Nora merasa kesal. Bagaimana seorang ballerina tak memperhatikan berat badan, itu mengganggu Nora yang sejak menekuni bidang ini selalu menerapkan diet ketat pada dirinya sendiri. Apalagi sebelum ia menjadi penari, Nora bahkan harus mendapatkan perawatan intensif karena ia pernah kekurangan gizi. Nora tidak mau anak muridnya memakan makanan seperti babi ternak. Jika ingin kesempurnaan maka ada pengorbanan.
"Apa kalian itu babi? Yang makan apa saja tanpa menghitung kalori? Ha?!", Nora memukul dinding dibelakangnya dengan papan yang ia pegang setelah mencatat semua hasil berat badan muridnya.
Seul Ji sudah mulai terbiasa dengan sikap keras Nora namun memang masalah berat badan selalu menjadi hal tersulit.
"Mulai besok, kalian harus makan siang didepan saya! Saya akan melihat makanan yang kalian masukkan kedalam perut kalian. Tidak usah bermimpi menjadi peran pendukung apalagi peran utama. Faham?!".
Semuanya menjawab serentak dan mereka pun diizinkan pulang karena memang jam latihan sudah selesai.
Nora dan Seul Ji sudah keluar dari ruang latihan. Beberapa orang mendesah berat, mereka merasa semakin terbebani dengan sikap Nora yang keras.
"Difikir memangnya mudah ya melakukan diet", ucap seseorang.
"Ck! Entahlah, mungkin dia anoreksia sehingga tubuhnya selalu memiliki berat badan sempurna".
Brak! Sebuah suara mengalihkan pandangan mereka semua yang sedang mengumpat. Jamin menatap mereka.
"Jika kalian tidak bersungguh-sungguh, tak perlu menyusahkan diri untuk kemari dan menjelek-jelekkan pelatih kalian yang hanya ingin yang terbaik", ujar Jamin lalu ia keluar dari ruang latihan.
Saat ia keluar, ternyata Nora masih ada didepan. Wajahnya terlihat seperti ia mendengar semuanya. Namun ia berlalu begitu saja seakan ia tidak peduli dengan ucapan-ucapan mengenai dirinya atau pembelaan yang diberikan Jamin.
Nora tak ambil pusing dengan apapun yang dikatakan orang-orang padanya. Ia masih ingat jelas bagaimana dulu dirinya selalu menghabiskan dua belas jam untuk berlatih, ia bahkan sering menginap di studio dimana hanya disana ia merasa aman daripada bersama Ayah tirinya dirumah. Mulai dari sana Nora jadi terbiasa untuk melakukan semuanya diatas maksimalnya manusia rata-rata hingga akhirnya ia dipercayakan menjadi pelatih karena ia menguasai semua. Tak hanya teori tapi ia juga bisa mengaplikasikanya dengan sempurna.
Entah sudah banyak piagam dan penghargaan yang ia miliki namun sekarang semua terasa tak berguna karena lagi-lagi ia dibuang oleh orang yang ia percaya. Walaupun sekarang ada Benjamin di sisinya tapi rasa sakit akan Alexander masih bersarang didalam dadanya.
Nora duduk dikursi tempatnya, mencoba mengusir pikiran-pikiran tak berguna. Seul Ji mencoba mendekatinya.
"Kurasa kau butuh sedikit cafein atau karbohidrat Coach," Seul Ji tersenyum, walau Nora masih menggambar garis jelas antara mereka tapi Seul Ji memang tak bisa bersikap seolah ia tak kenal Nora selama mereka masih menjadi partner kerja.
"Kebanyakan karbohidrat akan membuat otak kita melemah Coach," tukas Nora lalu ia membuka buku dan mulai membaca kata perkata dibuku itu.
---------------------------------------------------------------
Waktu audisi yang dinantikan telah digelar. Deretan antrian sudah ada sejak pagi tadi. Suasana kampus jadi terasa semakin ramai dan juga sibuk karena audisi terbuka untuk publik sehingga tak hanya mahasiswa kampus ini yang berpartisipasi.
Para pelatih dari beberapa tim yang ada di club kampus ini terlihat agak sibuk untuk memberikan arahan dan juga memotivasi para anak didik mereka. Tak terkecuali Nora Clark dan juga Seul Ji yang sekarang memakai kaus hitam dengan tulisan coach dipunggung belakang.
Rambut Nora ia gelung tinggi dan rapih, ia juga memakai celana hitam ketat. Ia memang terlihat berbeda dari pelatih lainnya yang memakai celana bahan atau bahkan santai dengan jeans.
Nora juga memberikan beberapa jenis gerakan sebagai pengingat untuk muridnya. Ia terlihat memiliki kekuatan optimis yang tinggi dalam memberikan motivasi.
Matanya bagaikan mengilatkan api-api yang bergelora didalam sana. Benjamin tentu menjadi pengamat utama yang menperhatikan setiap gerak-gerik kekasih rahasianya ini. Beberapa kali ia berusaha menahan senyum. Ia memang tak ikut audisi ini karena performa kakinya yang tak bagus jika dipaksakan. Ia tak mau sampai cedera karena ada satu audisi besar yang menarik perhatian Jamin.
Suara yang tak asing terdengar ditelinga Jamin memanggil namanya. Itu Hals, Bella dan Jacob. Jamin pun menghampiri teman-temannya. Tak sadar bahwa pandangan Nora diam-diam mengikuti terutama saat Hals mengusap kepala Jamin. Kedua alis Nora menekuk terasa gerakan itu mengganggunya.
"Coach ... apa ada yang salah?", Seul Ji menyadarkan pandangan Nora.
"Ah tidak ... sampai mana kita tadi?".
Pikiran Nora jadi tak bisa fokus, mungkinkan wanita bersambut pink itu adalah yang diceritakan Jamin tempo hari dikedai Mie? Ada rasa mengganjal yang Nora sendiri tak paham karena selama ia berhubungan dengan Alex, ia tak pernah merasakan hal ini. Saat ia melihat Alex selingkuh, ia hanya marah dan ingin putus karena merasa begitu tidak adil Karena Alex dengan enteng akan memukulnya jika ia berteman dengan lelaki yang ia tidak suka. Tentu Nora juga ingin diperlakukan adil walau ternyata tetap saja Alex akan memukulnya walau dirinya yang salah.
Namun rasa ini berbeda, Nora merasa tak nyaman. Marah tapi tertahankan. Ia menggigit kukunya.
...
Jamin duduk bersama Hals, Bella dan Jacob dikantin. Mereka membahas tugas literasi kali ini. Jamin sudah memiliki buku yang ia akan bahas. Buku ini menceritakan tentang seorang ballerina yang memiliki dua kepribadian.
"Wah keren ... kau memang hebat", kata Hals memuji buku pilihan Jamin.
"Trims. Bagaimana dengan kalian?", tanya Jamin, ia menaruh buku bersampul hitam dengan ukiran sayap berwarna emas dan bulu hitam diatas covernya.
Bella memilih buku karya Stephanie Mayer yang bercerita tentang manusia penghisap darah, sedangkan Jacob memilih cerita tentang Grim dan Hals masih belum menentukan pilihan. Ia tak begitu tertarik dengan literasi walaupun ia sering sekali ditekan masalah ini untuk menunjang musiknya. Literasi hal yang bisa memban siapapun menunjang keahlian mereka namun tidak semua orang suka berlama-lama bergumul dengan ribuat kata yang terkadang memiliki makna tersirat.
"Kau tahukan, aku payah dalam membaca buku ahhh pusing", kata Hals mengeluh, "Min-ah ... temani aku akhir minggu ini mencari buku, Bella dan Jacob akan berpergian huh," mungkin dengan bantuin Benjamin, Hals jadi lebih sedikit terbantu dan semangat.
Bella tersenyum dan menggelendoti bahu kekar kekasihnya, "anniversarry kami, jadi jangan ganggu, okay?" tekannya, sebenarnya Bella juga ingin membantu Hals untuk lebih dekat dengan Benjamin.
Jamin tersenyum dan bertos dengan Jacob, "good luck bro", kata Jamin sambil mengedipkan satu matanya untuk menggoda Jacob.
"Hey ... jangan merencanakan hal yang aneh-aneh", potong Hals, ia menatap Bella, "gunakan kondom!", tukasnya.
Semburat merah di pipi Bella langsung kentara, Jacob mencium pipinya dengan mesra. Kedua pasangan ini memang dalam mode romantis.
"Jangan gila untuk berhubungan tanpa kondom, paham?", Halsey menekankan pada Jacob.
Jamin terkikik, "untuk pertama biarlah rasakan kenikmatannya lebih dulu".
"Wahh Benjamin sudah dewasa ternyata", kata Jacob menyahut, "kau hampir tak pernah berbicara tentang s*x bro!".
Jamin terlihat kikuk sekarang, ia menggaruk tengkuknya.
"Apa kau sudah pernah melakukannya?", tembak Bella sembari tertawa namun sekejap kemudian ia menatap Hals yang membenarkan duduknya dengan canggung.
Jacob dan Benjamin saling bertukar pandang seperti berkontak batin namun sepertinya di meja ini hanya Bella yang paham lalu Hals berdiri dan berkata akan membeli camilan. Bella pun langsung menyusul sembari menertawakan Benjamin.
"Hal ... maafkan aku", ujar Bella dengan nada yang tak enak hati.
Hals mengambil beberapa camilan dari rak. Ia tahu bahwa Jamin menyukai wafer ini. Ia hendak mengambil namun tangannya tertahan.
"Tak masalah, hanya aku yang bodoh", Hals menatap Bella, "apa mungkin ia menolakku karena memiliki kekasih?".
"Hals .. kau tahu, Jamin begitu terobsesi dengan karirnya sebagai ballerina, tidak mungkin. Dia juga mahasiswa beasiswa disini, kerja paruh waktu saja tak dia ambil demi karirnya bagaimana dengan kekasih".
Hals mengangguk, meyakinkan dirinya bahwa memang bukan Jamin tak menyukainya hanya saja waktu sekarang sangatlah tidak tepat. Dadanya terasa ditekan mengingat bagaimana tadi Benjamin menatap Jacob seakan dirinya sudah melakukan hal itu walau memang mungkin saja.
"Maaf Bell, aku terbawa suasana".
Bella mengusap pundak sahabatnya itu, "sudahlah ... akhir minggu nanti nikmati waktumu dengan Jamin, ia pasti membantu jika urusan kuliahkan".
Halsey mengangguk, "thanks." Ada harapan yang lain tumbuh ketika Benjamin mau bersama Hals walau hanya untuk urusan kuliah. Mereka sudah berteman cukup lama. Benjamin hanya baik pada Hals dari sekian banyak perempuan yang mendekatinya. Bukan hal yang aneh jika lama kelamaan Hals merasa adanya getaran setiap mereka berinteraksi apalagi berkontak fisik walau hanya dalam sebatas teman.
Benjamin tersenyum menerima wafer dari Hals, "kau memang tahu yang kusuka Hals. Thanks!"
.
.
.
Benjamin menyampirkan tas dibahunya dan bergegas ke ruang latihan. Saat dilorong, langkahnya terhenti saat melihat Nora dan seorang pria sedang bersalaman. Nora terlihat sopan dan saat mereka sudah berpisah, Nora pun melihat Jamin dari ujung sana. Ia menghampiri Jamin.
"Hai ... bagaimana kuliahmu?", tanya Nora yang sekarang berjalan disamping Jamin.
"Baik... kau kelihatan sangat lelah Coach", kata Jamin dengan nada sedikit menggoda saat menyebut Nora dengan panggilan Coach.
"Begitulah ... hmm mengenai hal yang kubilang, kau bisa ikut audisi kapanpun yang kau mau yang jelas jangan seminggu menjelang pentas".
Jamin berhenti dan menghadap Nora, "apa benar? Kau sungguh-sungguh?".
Nora tersenyum, ia mengangguk dan Jamin terlihat begitu senang sekarang. Jamin menoleh kesana kemari dan kampus memang sudah sepi karena hari sudah petang. Jamin menggenggam pergelangan tangan y/n dan menariknya ke ruang ganti pria.
"Hey apa yang...",
Jamin menutup mulut Nora dengan mulutnya yang melumat bibir Nora dengan begitu penuh gelora. Ia terus membiarkan mereka melangkah hingga ke sebuah bilik dan memojokkan Nora yang sekarang berusaha melepas Jamin namun tak bisa dipungkiri ia berhasil terpancing. Ini memang ide yang cukup gila, make out didalam gedung kampus. Ada sensasi takut tapi justru itu yang membuat Nora semakin menikmati setiap sentuhan Benjamin.
Tangan Jamin mulai mengeksplore bagian sensitive Nora dimulai dari tengkuk perempuan itu. Candu, itu yang Jamin rasakan.
"Min-ah ... kita masih dikampus", desis Nora disela ciumannya.
"Kalau begitu, tahan suaramu atau kau mau kita ketahuan? Hm?".
Tangan Jamin membelai pusat inti kehidupan Nora yang terangsang yang Jamin berikan. Kini Nora sudah berdiri membelakangi Benjamin yang melucuti rok spannya yang ia kenakan. Nora menggigit bibirnya, menahan desah nafasnya saat Benjamin mulai menantang dirinya.
Lantai kamar mandi ini sangat dingin saat Nora berlutut untuk memberikan kenikmatan untuk Benjamin. Waktu mereka semakin menipis namun permainan tegang ini berhasil menciptakan ledakan yang membuat keduanya semakin semangat untuk memuaskan diri satu sama lain.
"Kau bilang kita dikampus tapi siapa sekarang yang begitu nikmat hm?", bisik Jamin ditelinga Nora.
"Kau benar-benar tak sopan Min-ah".
"shut up honey!".
Akhirnya Benjamin dan Nora berhasil menyentuh garis finish bersama. Jamin menarik wajah Nora agar ia bisa mencium bibirnya untuk meninggalkan rasa kasih yang merebak dalam dadanya. Jamin dan Nora sama-sama merapihkan diri.
Saat Nora ingin pergi, Jamin menahan lengan Nora. Ia mengecup punggung tangan si perempuan yang hanya bisa mengulum senyumnya. Tatapan mereka saling mengunci menciptakan ruang rindu dalam diri mereka berdua.
"Bisakah ini sebagai rasa terima kasihku?" kata Jamin menggoda, jelas ia tahu bahwa Nora sangat menikmati permainan mereka tadi.
Nora mengulum senyumnya, tangannya masih terpaut dengan Jamin dan Nora mengangguk. Ia harus pergi sebelum ada yang memergoki mereka berdua. Untuk beberapa alasan harusnya Nora marah tapi jujur, ia tak bisa marah apalagi tatapan Jamin terlihat tulus walau kelakuannya nakal. Ia belajar dengan cepat dan tak segan mempraktekkannya.
Nora keluar dari kamar mandi, merapihkan rambutnya yang panjang bergelombang.
...
Siapkan diri kalian untuk Chapter selanjutnya :)
CHI