CHAPTER 05 - Cinta = Pasir

4914 Words
Kau punya jutaan kosakata dalam benakmu tapi semua itu percuma saat tatapan matanya membuatmu lumpuh seketika - CHI ------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Pagi hari ini Nora dibangunkan oleh ketukan pintu yang cepat dan berisik. Ia berjalan dengan lunglai. Tubuhnya sangat lelah karena seminggu ini membantu dua anak didiknya yang lolos dalam audisi untuk pementasan dua bulan lagi. Matanya mengintip dilubang kecil yang ada dipintunya dan kekasihnya menunggu didepan dengan raut wajah tidak sabar, mungkin sedang menahan buang air. Nora buru-buru membuka pintu dan Benjamin langsung memeluknya dengan begitu erat hingga rasanya kepala Nora yang masih pusing karena baru bangun seketika langsung sadar dan enteng. "Ada apa? Kau baik-baik saja?", tanya Nora sangat bingung mengapa Jamin memeluknya dengan begitu erat pagi-pagi begini. Jamin tetap memeluknya dengan erat, tidak melepasnya, "terima kasih, aku tidak sangka aku akan mendapatkan tokoh utama untuk pentas ini". "Apa? tokoh utama? Kau bercanda?" Bukan Nora tak percaya namun ia hanya tidak menyangka bisa membantu Jamin sebegitu besarnya. Jamin akhirnya melepasnya perlahan, mencoba mengontrol dirinya, senyumnya begitu mengembang dan saat Nora perhatikan, lelaki itu hanya memakai hoodie dan celana training seadanya. Sepertinya lelaki itu buru-buru datang tanpa mempedulikan dirinya sendiri. "Baiklah aku percaya, selamat", kata Nora yang ikut senang akhirnya, ia menangkup pipi Jamin, "kau pantas mendapatkannya Min-ah". "Kenapa kau selalu memanggil namaku sih?", air wajah Jamin langsung berubah dengan cepat, "aku selalu memanggilmu honey dan bahkan saat ini kau tetap memanggilku Min-ah". Distraksi yang diberikan Benjamin cukup lucu, "haruskah?". Jamin mengangguk, "dengan kau memanggilku begitu, disini", Jamin menunjuk d**a sebelah kirinya, "selalu berdetak menyenangkan". Melihat Jamin begitu jujur padanya Nora tersenyum, "baiklah... selamat honey". Jamin mengecup bibir Nora, "kau ingin sarapan apa? Akan kumasakkan untukmu sebagai bayarannya?". "Mmmm bisa tidak aku hanya ingin tidur? Aku sangat lelah" Nora tidak berselera untuk memasukkan apapun kedalam mulutnya. Ia berjalan lunglai masuk kedalam. Benjamin merengkuh bahu Nora, "ayo kita tidur, aku akan menemanimu". "Kuliahmu?". Jamin melihat tubuhnya sendiri, "aku tidak mungkin ke kampus seperti ini", Jamin tiba-tiba menggendong Nora dengan gaya bridal style. Tangan Nora otomatis mengalung dileher Jamin. "Ayo kita tidur". Nora sangat cantik tanpa memakai lipstik merah yang membuatnya terlihat galak. Ternyata tanpa hal itu, terlihat sisi dimana Nora bisa diperlakukan dengan manis seperti ini. Tidur disisi seseorang memang hal yang berbeda bagi Nora. Ia selalu menginginkan hal ini terjadi selama ia hidup. Karena bagi Nora dahulu, memiliki seseorang disampingnya adalah hal yang tak mungkin saat Ibunya meninggalkan dirinya bersama Ayah tiri yang saat ia beranjak remaja malah menginginkan tubuhnya. Ketika ia menaruh sebegitu besar rasa percaya pada Alex, yang ia dapatkan hanya hasrat yang tak terbendung. Alex bagaikan memanfaatkan bagian dirinya yang terluka. Nora tak pernah menyadari hingga saat malam itu, lelaki tak diundang membelanya dan mengobati luka kecil baginya. Luka yang biasa ia dapatkan saat Alex marah sehingga itu bukan hal besar namun dimata polos seorang Benjamin, itu hal yang begitu memilukan. Pelukan Jamin pada tubuhnya sungguh membuat pemikiran negative itu kian luntur. Tergantikan aura yang membuat Nora terasa aman untuk kembali tenggelam dalam mimpinya. Rasanya hangat saat kulit mereka saling bersentuhan. Diam-diam Nora mengintip wajah sempurna kekasih rahasianya saat ini. . . Jamin masuk kedalam ruang latihan. Bolos kuliah masih bisa ia lakukan sekali dua kali namun bolos latihan. Ia akan mati walau hanya beberapa menit ia lewatkan. Hal itu bermula dari ia mendapat dengar lagu orkestra saat ia membersihkan ruangan kepala sekolahnya. Ya, Jamin dibiaya sekolah oleh seorang dermawan saat di Korea. Namun sejak mendengar hal itu, ia justru senang melakukan tugas lain yaitu membersihkan dan merapihkan ruangan kepala sekolah secara cuma-cuma agar ia bisa menikmati musik indah itu. Kepala sekolahnya saat itu penyuka hal-hal klasik dan akhirnya Jamin menanyakan satu dua hal mengenai karya-karya klasik yang membuat Jamin semakin tergiur. Jamin hanya anak sekolah menengah pertama yang buta dengan segala hal karena ia hanya tinggal di panti asuhan yang tak memiliki akses apapun namun berkat sang kepala sekolah yang memberitahunya, Jamin rela menempuh perjalanan panjang ke kota setiap akhir pekan untuk meminjam buku-buku bacaan. Ia rela tak membelikan uang sakunya makanan agar bisa naik bus. Dan pada suatu ketika disiang hari yang cukup teduh, Jamin melihat penari jalanan. Penari itu terlihat hebat dengan pakaian ketat dan sebuah biola sederhana ia mainkan sembari melenggok, menari mengikuti gesekan biola. Tidak hanya Jamin yang memang terpukau dengan pertunjukkan tersebut namun banyak orang yang melingkar untuk menonton sang penari. Jamin terdiam ditempatnya sangat lama hingga penonton bubar karena sang penari harus pulang. Ia menatap beberapa uang receh yang tersisa dan memutuskan menahan rasa hausnya untuk memberikan apresiasi pada sang penari. Melihat seorang anak berkaus belel memperhatikannya dengan mata berbinar lalu memberikan beberapa koin didalam kotak yang ia taruh, penari itu tersenyum pada Jamin yang merasa semakin senang karena terasa dinotice. Sejak saat itu selain perpustakaan, Benjamin juga mampir ke taman itu. Mulai dari sana Jamin belajar. Ia menghafal gerakan yang penari itu lakukan, ketukan lagu yang dimainkan. Semua bermain dibenaknya secara spontan. Tentu tidak mudah, Jamin sangat kesal jika ia lupa karena ia tak memiliki akses apapun untuk merekamnya. Setiap kembali, Jamin tidak membiarkan matanya kedip dengan sering. Ia harus menghafal hingga pada bulan ke dua akhirnya Jamin berhasil menghafal setiap ketukan dan juga gerakan yang penari itu lakukan. Tidak ada yang tahu namun Jamin bangga dengan dirinya sendiri. Jadi hal yang menyesakkan baginya jika sekarang ia melewatkan alunan musik dari speaker aktif dan juga ruang latihan yang sudah berada didepan matanya. Jamin tak akan membuang kesempatan apapun itu selagi untuk menari. "Aku mencintai tari" - sampai kapanpun Jamin akan menaruh hatinya sangat dalam disini. Sekarang Jamin sudah siap, ia melakukan pemanasan. Mengatur nafasnya agar bisa melakukan gerakan dengan maksimal hingga seseorang berbisik-bisik namun terdengar di telinganya. "Entah darimana dia dapat kesempatan itu, kufikir dia tak ikut audisi". Jamin menyuri pandang dari ekor matanya sembari tetap melakukan peregangan. "Iya sih tapi dia sangat cocok," puji seorang dengan suara riang. "Aku tahu tapi dengar-dengar penari utamanya sangat kecewa karena direbut posisinya". Sepintas ada rasa takut didiri Jamin saat mendengar kalimat itu namun ia teringat ucapan sang penari jalanan dulu. "Jangan pernah memikirkan hal yang salah tapi berfikirlah tentang hal yang memang harus kau lakukan". Jamin mengalihkan pandangannya ke depan cermin. Ia tak salah, jika ia tak bagus, mana mungkin ia bisa merebut posisi penari itu. Bukankah seharusnya penari itu bisa menerima kenyataan. Miss Seul Ji masuk kedalam ruangan dan menepuk tangannya untuk mengambil perhatian para penari. "Okay .. kali ini beri selamat untuk Benjamin karena ia sudah berhasil menjadi peran utama di penampilan The Nutcracker yang akan menjadi pembukaan untuk liburan semester ini". Tepuk tangan diterima oleh Jamin. Ia tetap berusaha untuk apa adanya dalam menerima pujian karena itu yang selalu ia lakukan. Jamin tak suka dipuji karena baginya pujian adalah malapetaka jika ia terlena. Maka ia hanya tersenyum. ----------- Siang dan malam dihabiskan Jamin untuk latihan karena ia tak ingin salah atau melakukan hal yang tak sesuai saat pertunjukkan nanti. Pengulangan menghasilkan kesempurnaan. Ia percaya akan hal itu. Jamin juga mulai berkenalan dengan penari lain yang mengisi line up pentas kali ini. Panggung yang diberikan cukup megah dengan kursi penonton yang cukup banyak karena diadakan dipusat kota sebagai penyambutan libur akhir tahun. Sangat membanggakan untuk menjadi seorang tokoh utama disini. Ia mampir untuk membeli sandwich dan nenek pemiliknya memberi selamat saat melihat Jamin. Ia tersenyum sangat lebar. "Kau sangat hebat nak, makanlah ini", ujarnya memberikan sekantung apel. "Ah tidak perlu .. aku tinggal sendirian". "Kalau begitu berikan untuk orang yang membantumu", kata sang penjual dengan senyum yang begitu senang. Di Kota ini, pertunjukkan Balet masih diagung-agungkan sehingga siapapun yang menjadi peran utama bisa mendapatkan perhatian yang cukup namun jika gagalkan pun mengemban rasa malu. Orang pertama yang muncul tentu sang kekasih. Sudah hampir tiga minggu mereka jarang berinteraksi selain untuk latihan. Jamin pun melenggang ke ruang pelatih. Ruangan itu tentu masih kosong. Pasti Nora masih tertidur dengan cantik diatas ranjangnya. Teringat bagaimana terakhir Benjamin menemani Nora yang tidur dengan nyenyak disisinya. Itu adalah waktu yang membuat Jamin merasa keindahan benar-benar nyata untuknya. Jamin menaruh beberapa buah apel dimeja Nora, lalu ia mengirim pesan dari handphonenya untuk Nora. Setelah selesai, Jamin pergi ke kelas untuk ikut ujian tengah semester. Apel ditangannya masih ada beberapa. Ia pun membagikannya untuk Hals, Bella dan juga Jacob. . . Apel merah yang diberikan Jamin terlihat begitu menggiurkan namun entah kenapa Nora malah enggan untuk memakannya. Ini pertama kali untuknya seseorang dengan tulus memberikan sesuatu tanpa ingin sesuatu walau ia akui pasti Jamin ingin berterima kasih atas bantuannya. "Beginikah rasanya diberikan terima kasih?", kata Nora bergumam kecil sembari memangkunya dagunya menatap apel tersebut. "Wah kurasa ada yang menyukainya diam-diam ya", goda Seul Ji yang baru saja membuka mantelnya. "Ah tidak, ini dari Benjamin". "Oh? Kenapa dia berikan hanya untukmu?", Seul Ji menelisik. "Haha mana ku tahu, kurasa ini juga harus berbagi, ambillah untuk mengganjal perut sebelum makan siang". Seul Ji mengambil satu buah, "mercie". Nora tersenyum dan menyimpan apel itu didalam kantung untuk nanti. ... Hals hendak menghampiri Jamin, ia membawa minuman isotonik untuk Jamin yang akan berlatih. Saat ia didepan ruang latihannya. Pelatih Jamin baru saja keluar dari ruangan itu, Hals ingat wajah yang ada didepan club saat Jamin menolongnya. "Permisi, boleh bertemu dengan Benjamin?", tanya Hals dengan sopan. "Untuk apa?" nada dingin terlontar dengan tatapan yang cukup tajam. "Ada hal yang ingin saya berikan". Pelatih itu menadahkan tangannya, "titip saja. Dan ucapkan yang ingin kau katakan lewat pesan atau tunggu sampai dia pulang namun ia pulang malam," tentu dengan jelas perempuan didepannya melarang Hals untuk bertemu dengan Benjamin saat ini. Hals terdengar sedikit terganggu dengan nada sang pelatih terutama sorot mata tajamnya, "baiklah, ini. Je vous remercie (terima kasih)". . . Nora melemparkan botol minuman untuk Jamin yang baru saja mengecilkan suara musik. "Untukku?". "Dari fansmu", kata Nora dengan singkat lalu ia beralih ke anak didiknya yang lain. Kebetulan Jamin begitu haus. Ia pun meminumnya hingga habis setengah botol. Tak sadar bahwa dari jauh Nora menatapnya. Jamin tak menyadari bahwa pelatihnya itu cemburu karena saat di kedai Mie tempo hari, Nora berkata bahwa tak ada yang salah mengenainya dengan Hals. "Benjamin ... kau ingin pulang jam berapa?", tanya Miss Seul Ji saat mereka sudah menyelesaikan sesi latihan. "Jam sembilan, aku janji", kata Jamin dengan nada yang takut Seul Ji akan membentaknya lagi. "Tidak... jam 8 atau aku akan tak memberikannya sama sekali". Jamin mendesah, "baiklah", lalu ia mendapatkan kunci ruangan. "Coach Nora, kau tidak pulang?", tanya Seul Ji. Nora mengikat rambutnya dan ia berjalan ke depan ruang latihan, menatap lurus Benjamin yang sedang meluruskan kaki, "Kau duluan saja, aku ingin melihat perkembangan tokoh utama kita." Seul Ji menggelengkan kepalanya, kedua manusia itu sepertinya memang memiliki pikiran yang sama. Ia pun pergi meninggalkan kedua orang diruangan itu. Nora memberi sesi latihan pada Benjamin dengan sangat teliti. Ia menunjuk beberapa sudut yang harus lelaki itu sempurnakan. Nora tidak tersenyum sama sekali dan selalu mengulang part yang Jamin lakukan dengan tidak sempurna. Nora seperti lupa bahwa ini hanya latihan tambahan. Benjamin tetap mengikuti instruksi Nora hingga saat mereka selesa, ia langsung merebahkan tubuhnya dilantai. Dadanya naik turun, ia bisa merasakan cukup nyeri dibeberapa persendian. "Haha sepertinya minuman isotonik itu tak berpengaruh apapun padamu," ucap Nora dengan nada meremehkan. "Tentu, itu hanya minuman." "Haha .. begitukah, kufikir kau sangat bahagia saat meminumnya." "Bahagia?" Jamin tak mengerti ucapan Nora yang terasa janggal, ia menahan pergelangan kaki Nora yang hendak pergi. "Apa?", tanya Nora dengan ketus. "Apa yang salah honey?" Nora masih belum terbiasa dengan panggilan manis seperti itu terlebih mereka sedang diruang latihan dan siapapun bisa mendengar suara Benjamin. Suaranya manis dan menyenangkan menggelitik ditelinga Nora dan berusaha menarik senyuman dibibir Nora. "Hanya ada kita disini jadi ada apa denganmu honey?" Benjamin paham dengan ekspresi panik Nora. "Lupakan! Aku ingin pulang!" Melihat Nora tak meladeninya membuat Jamin heran. Memang mereka sedang tak intens berhubungan namun Nora tak pernah sedingin itu jika mereka sedang berduaan. Ia bangun dari rebahnya dan memutuskan menyudahi latihannya dan bergegas menunggu Nora di halte bus. . . Malam yang menyebalkan hanya karena melihat Jamin meminum minuman dari wanita berambut pink yang selalu tersenyum bahagia saat disamping Jamin. Nora berjalan menuju halte bus yang saat ia dekat, ia terdiam karena Benjamin berada disana. Masih lembab dengan keringat. Ia tersenyum pada Nora tanpa merasa bersalah. Walau Nora tak bisa membalas senyumnya tanpa ia ketahui apa sebabnya. Perempuan itu tetap saja mengunci mulutnya. Bukannya Benjamin tidak peka tapi ini pertama kalinya ia berpacaran dengan perempuan tentu Jamin tidak paham apa yang terjadi dengan kekasihnya ini. Mereka sudah sampai didepan apartement Nora, Benjamin bersih keras mengantarnya sampai didepan pintunya. Ia berharap Nora bersikap normal lagi. "Sampai jumpa", kata Nora yang langsung berbalik menghadap pintu. Namun saat ia membuka, Jamin tak pulang dan malah tetap berada disana. "Kau fikir aku bisa membalas ucapan sampai jumpamu sekarang? Ada apa denganmu?" "Tidak apa... hanya lelah." Jamin menahan pintu Nora kembali, Jamin merasa tak puas dengan jawaban Nora, "aku ingin menginap malam ini." Nora membelalak membuka matanya, "tidak," jawabnya buru-buru namun Jamin menerobos pintu Nora dan sekarang ia sudah berada didalam. "Tidak bisa kau menahanku. Rasanya aneh karena kau terus mengabaikanku malam ini." "Kita memang sedang fokus untuk hal lainkan?". "Memang tapi aku tahu bahwa ada yang salah malam ini jadi...", Jamin maju dan menghapus jarak antaranya dan Nora, "aku akan disini untukmu. Okay?" tangannya mengelus pipi Nora dan Jamin tersenyum. . . Jamin dan Nora sudah diatas ranjang, bersiap untuk tidur. Namun Nora membelakangi Jamin. Dan saat Jamin memeluknya, ia berusaha melepasnya. "Honey," bisik Jamin dibelakang tengkuk Nora. Nafas hangat Benjamin mengganggu ketentraman bulu tubuh Nora yang otomatis meremang. "Hmm." "Jangan seperti ini, apa salahku?" "Tidak ada." Benjamin juga aneh bahwa dirinya bisa sepenasaran ini padahal sebelumnya ia tidak mempedulikan apapun yang dirasakan oleh perempuan-perempuan yang berusaha dekat padanya termasuk Hals tapi sekarang Jamin ingin Nora menumpahkan semuanya, ia mencecar dirinya sendiri dalam keheningan, "Ah apa karena minuman itu? Fans? Atau apa?". "Lupakan!" "Tapi aku tidak bisa melupakannya, dan kurasa aku tidak akan bisa tidur sampai kau menginginkanku," Jamin mulai mendekatkan Nora lagi, mengelus tangannya dari bawah dan saat sampai pundak Jamin mendaratkan ciumannya disana. Respon tubuh Nora berlawanan dengan keinginannya. Nora tak bisa menolak lagi saat bibir Jamin sudah berada dilehernya. Desahan itu menerobos keluar begitu saja. "Mungkinkah kau cemburu?" "Tidak mungkin!" Jamin tersenyum, "akhirnya", ia langsung menelentangkan Nora, menindihnya diatasnya dan menyeringai. Sedangkan Nora berusaha menghindari tatapan matanya. "Akan kutunjukkan padamu bahwa aku hanya milikmu", kata Jamin lalu ia mulai mencumbu Nora, mengantar menuju ke langit yang akan mempersembahkan pemandangan indah dengan melodi yang mereka berdua ciptakan. Benjamin menyentuhnya dengan candu, sensasi yang Nora dapatkan pada Jamin jauh berbeda. Terlalu lembut hingga rasanya mereka akan melumer bersamaan dibawah kenikmatan yang tak dapat dipecahkan oleh rumus fisika, kimia maupun matematika. Hanya sihir dari Benjamin yang bisa menghasilkan gelora dan hasrat yang meronta-ronta. Jamin begitu senang melihat bagaimana Nora begitu cantik berada dibawah dominasinya. Ia menciumi bibir kenyal sang kekasih, Jamin mengurai rambut panjang Nora yang begitu indah dan menambahkan hasratnya karena aroma Nora begitu memabukkan dirinya. Tubuh wanita itu menghapus seluruh rasa lelah Benjamin saat ini. Ia lupa akan semua latihan, Jamin hanya bisa fokus pada apa yang ia pegang dan nikmati sekarang. Nora Clark terlalu membuatnya candu. "Jangan diamkan aku lagi honey atau aku bisa melakukan lebih dari ini," bisik Benjamin ditelinga Nora. Walau lembut tapi ancaman itu cukup membuat Nora untuk memahami Jamin adalah lelaki yang cepat belajar. Walau Nora akan senang hati menerima hukuman selama itu tak seperti yang pernah ia dapatkan dari Alexander. . . Suara berisik dari kitchen set terdengar karena apartemen Nora hanya memiliki satu kamar. Keluar kamar akan disambut ruang tv dengan sofa dan juga dapur mini dimana Nora sibuk membuat sarapan. Wanginya langsung membuat Jamin terbangun karena sudah begitu lama ia tak mencium bau ini didalam rumah. Rambutnya masih mencuat kesana kemari saat Nora melihatnya sedang bersandar diambang pintu kamar. "Joheun anchim (selamat pagi) honey", kata Nora dengan aksen aneh saat berusaha menyapa Jamin dengan bahasa Korea. "Apa yang kau buat?", Jamin lurus bertanya pada Nora, tak merespon sapaan kekasihnya. "Aku mencoba membuat galbitang", Nora mengambil satu sendok kuah dan mendekati Jamin, "coba cicipi apakah rasanya sudah benar? Aku belum pernah mencobanya," Nora hanya mengikuti resep yang ada di internet. Jamin mundur selangkah, hidungnya berkerut dengan aneh seperti menyingkirkan aroma yang berasal dari sendok yang Nora bawa. Dahinya juga sama terlihat tak suka. "Kalau tak pernah coba, kenapa kau harus membuatnya?" "Kufikir ini akan membuatmu senang dan k*****a sup ini bagus untuk staminamu." "Aku ingin mandi", Jamin langsung mengeloyor ke kamar mandi tanpa merespon ucapan Nora lagi. Dadanya terasa panas sekarang. Ia menutup pintu kamar mandi dan menatap dirinya di cermin. Ia tak pernah bersikap sedingin ini sebelumnya pada siapapun terutama pada kekasihnya namun jika orang menyenggol hal berbau negara asalnya. Kenapa ia merasa sulit mengendalikan emosinya. Jamin menyalakan shower dan membuka bajunya, membiarkan air mulai mengalir pada tubuhnya. Rasa hangatnya seperti memijit tubuh Jamin yang lelah karena latihan dan juga pergulatan panasnya dengan Nora semalam. Basuhan air terkadang menjadi solusi terbaik dalam menghapus penat. Diluar pintu kamar mandi, Nora menaruh soup itu didalam wadah diatas meja bar untuk ia sarapan dengan Jamin. Lelaki itu terasa berbeda tadi namun Nora berusaha berfikir, mungkin karena ia baru saja bangun jadi sedikit grumpy. Tak lama Jamin keluar dari kamar sehabis mengenakan baju. Ia membawa tasnya seakan sudah siap untuk pergi. "Apa kelasmu dimulai sangat pagi?", tanya Nora yang baru saja menyendokkan nasi dimangkuk kecil. Jamin merasa semakin terganggu, peletakkan mangkuk, sendok dan bahkan ada sepasang sumpit membuat perut Jamin terasa melilit. "Ya jadi aku harus pulang". Nora menaruh sendok nasi dan menatap Jamin, ia berusaha berfikir denga cepat "akan kubuatkan bekal, tunggu sebentar". "Tidak ... aku hanya bisa memakan sandwich dan apel untuk sarapan". "Ah jadi ... ", Nora menatap masakannya dengan nanar. "Kau tak pernah bertanya jadi aku tidak kefikiran untuk memberitahumu." Nora tidak menjawab ucapan Jamin dan lelaki itu pergi begitu saja. Membiarkan dirinya menghilang dibalik pintu. Sedangkan Nora merasa terganggu sekarang. Apakah meja berbalik begitu saja karena semalam Nora tak berkata apapun? "Kenapa mudah baginya untuk tak menatap usahaku?", gumam Nora, ia pun kehilangan selera makannya. Ia membalikkan kembali nasi ke rice cooker. Mengambil kontainer makanan untuk soup. Daripada ia membuangnya lebih baik ia bagikan di Kampus. . . "Wowww ini lezat sekali, aku tak tahu kau bisa membuatku rindu dengan kampung halamanku", Seul Gi makan dengan sangat lahap. Nora membawakannya sarapan yang selalu ia nantikan. Melihat Seul Ji makan membuat Nora membayangkan seharusnya Jamin yang memuji masakannya namun lelaki itu entah kerasukan apa bisa bersikap mengejutkan begitu. Jamin seperti sebuah kotak dengan kotak lain didalamnya. Nora belum mengetahui semua hal tentang Benjamin. "Coach Nora ... makanlah, jangan melamun terus. Apa sih yang kau fikirkan?", Seul Ji menjumput jjapchae dengan irisan seafood. Ini sarapan yang sangat mewah. "Pernah tidak kau memiliki teman yang menceritakan hubungannya?" "Banyak sekali, ada apa? Kau memiliki pasangan? Heyy ... aku tidak pernah tahu. Apa ini berarti kita bisa lebih dekat lagi?". Tatapan Seul Ji membuat Nora salah tingkah, ia langsung menggelengkan kepalanya, "ck ... justru aku yang dijadikan tempat cerita namun aku tak tahu harus jawab apa," Nora harus tetap menyimpan rahasia hubungannya pada Jamin. Seul Ji menaruh sendoknya dan meminum air putih dibotol stainless miliknya lalu ia merubah tatapannya pada Nora, "baiklah ... mungkin aku bisa membantumu". Nora mulai menceritakan cerita miliknya namun ia tidak bisa menceritakan sejujurnya bahwa kisah ini miliknya pada Seul Ji. Bukan karena tak ingin dekat, tapi Nora dan Jamin tidak ada dalam hubungan yang bisa mudah dipublikasikan. Ia menceritakan mengenai perempuan berambut pink dan juga sikap Jamin tadi pagi. "Katanya ... kekasihnya itu tak pernah bersikap dingin padanya. Apa yang harus temanku lakukan?". Seul Ji mengerti karena ia adalah calon pengantin sebentar lagi, ia dan kekasihnya sudah memutuskan untuk menikah dan permasalahan dalam hubungan bukanlah hal yang mengejutkan baginya. Apalagi cerita Nora sangatlah problem dasar dalam hubungan. "Masa begini saja kau tak tahu, apa kau belum pernah berpacaran?". Pertanyaan Seul Ji membuat y/n bingung, apakah hubungannya dan Alex bisa dikatakan berpacaran? Ia hanya diam. "Jangan meledekku", bisiknya. "Hahaha maaf ... jadi, perempuan dan lelaki pasti memiliki fase. Ada disaat mereka sangat mencintai namun tidak jarang mereka saling benci atau mungkin merasa bosan namun jangan mudah memutuskan, ah kekasihku menyukai wanita lain, jangan seperti itu". "Kenapa begitu?". "Cinta itu seperti pasir. Boleh kau genggam tapi jangan terlalu kuat karena bisa ia pergi dari sela jarimu tapi jangan juga kau buka tanganmu, ia bisa terbang secara perlahan tertiup angin". Nora menegakkan tubuhnya, seketika kepalanya pusing menganalogikan ucapan Seul Ji, "berikan kalimat sederhana, aku bingung." Seul Ji mendesah karena umur sudah segini namun ternyata Coach Nora berfikir terlalu dangkal, "intinya ... coba cari cara lain untuk mencari tau kekasihmu, jangan to the point tapi lakukan perlahan, jika dia tidak suka makanan A maka masakkan makanan B, atau C tapi jika usaha terbaikmu sudah diasingkan, kau harus cari kekasih yang lain," Seul Ji mengedipkan sebelah matanya dengan atraktif. Nora mencoba melumat ucapan Seul Ji. Cari kekasih yang lain? Jamin saja tak terencanakan. . . Perpustakaan terasa begitu sunyi walau banyak mahasiswa didalamnya. Sibuk dengan buku-buku tebal atau ada yang mengambil tempat di ujung dan tertidur disana. Salah satunya Benjamin, ia menumpukkan beberapa buku dan mulai membaca. Mencari referensi sebanyak-banyaknya untuk beberapa tugas yang harus ia selesaikan secepat mungkin agar tidak mengganggu sesi latihannya. Tak lama Hals datang dan membawakan minum untuknya. Minuman yang sama dengan yang 'fans' berikan melalui Nora. "Jadi kau yang berikan minuman padaku?" Hals menaruh tasnya dikursi belakangnya dan mulai melongok bacaan yang Jamin pegang, "iyaa .. ini minuman merk baru dan ku stock dirumah karena beberapa hari ini karena aku sangat lelah. Efeknya bagus dan kufikir kau membutuhkannya." Itu hanya alasan. Jamin tersenyum dan memberikannya pada Hals. Hal itu membuat Halsey menjauhkan tubuhnya dari Jamin. "Untukmu saja... aku tak suka rasanya," tentu Jamin berbohong dan ia lakukan hal itu dengan lembut jadi Hals mengambilnya lagi. Padahal Jamin hanya tidak ingin Nora cemburu dan salah faham lagi. "Besok kita janjian di halte?". Jamin mengangguk, "boleh tapi jam 3 sore ...". "Kau latihan", Hals mencubit hidung Jamin dengan gemas, "aku hafal", ia mulai pergi ke rak buku untuk mengambil beberapa buku yang ia inginkan. Jamin melirik ponselnya, ada dua pesan dari kekasihnya. Mana kau pilih, lasagna atau pizza? - Nora. Pizza dengan banyak keju diatasnya - Jamin. Baiklah tuan, besok akan kubuatkan - Nora. Désolé (maaf), besok aku harus mencari beberapa bahan untuk tugas dengan teman - Jamin Hubungi aku jika kau sudah punya waktu - Nora. Jamin menaruh ponselnya kembali. Ia teringat tadi pagi. Dirinya masih terganggu dengan hal itu. Jamin begitu membenci apapun mengenai negara asalnya. Hanya ada satu orang yang ia hormati yaitu Kepala Sekolah yang memberikan jalan untuknya berada disini namun selebihnya. Jamin akan membayar apapun agar ia tak kembali kesana. Sehingga makanan yang Nora masak tadi membuatnya mual. Sekeluarnya Jamin dari apartemen dia memuntahkan isi perutnya. Tenggorokkannya terasa begitu pahit. Sepertinya asam lambungnya naik karena ia terlalu stress. Namun ia tetap kuliah untuk menghalau fikirannya dan berada disini. Ia juga sudah lebih baik sekarang. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Weekend ini Jamin tak isi dengan olahraga seperti biasa. Tadi pagi ia berjanjian dengan Hals dihalte yang berada ditengah antara arah kostannya dan juga rumah Hals. Mereka menggunakan mobil Halsey, sebenarnya bisa saja Halsey menjemput Jamin namun ia tak pernah tahu alamat rumah Jamin. Lelaki itu tak ingin memberitahunya. Hals kesulitan mendapatkan cerita yang membuat dirinya bergetar. Mereka keluar masuk toko buku. Untungnya Jamin tak terlihat lelah melainkan Hals yang memasang wajah cemberut. "Kau itu memang tak suka baca buku? Semua cerita baguspun kau tolak Hals." Halsey cemberut sendiri, ia juga bingung. Dirinya memang tak menyukai buku sebegitunya. "Duduklah, akan kubelikan minuman." Hals mengangguk. Saat ia hendak berjalan ke salah satu tempat duduk. Ada mini stage yang menarik perhatiannya dan juga stand aksesoris disana. Hals menyukai aksesoris walaupun terkesan rock and roll. Ia tidak akan melewatkan stand itu. Matanya berbinar melihat kilauan kreasi unik-unik distand tersebut. Sembari ditemani musik. Ia memilah-milah. Dan tak sengaja ia bertemu dengan pelatih Jamin. "Bonjour Coach Nora", sapanya dengan senyum. Ia baru tahu bahwa nama pelatih baru itu adalah Nora saat tadi dimobil ia sedikit menanyakan Nora pada Jamin dan lelaki itu dengan senang hati menceritakan tentang sang pelatih. Sepertinya mereka punya hubungan yang baik. Nora sedikit terkejut melihat perempuan si rambut pink didepannya. Ia pun menyapa kembali dan tersenyum. Lalu mereka kembali sibuk. Tak lama kemudian Hals sudah menemukan yang ia inginkan. Ia pun membayarnya dan berpamitan pada Nora untuk pergi lebih dulu. Saat sampai ditempat yang harusnya ia duduki, Jamin sudah disana dengan dua gelas Citron Presse yang sangat segar karena berbasis lemon. "Kusuruh kau duduk malah kau pergi," kata Jamin memberikan satu gelasnya pada Hals. Halsey tersenyum dan memberikan sebuah gelang pada Jamin. Ia menyantelkan gelang tersebut ditangan Jamin. "Wahh cocok sekali... kau suka tidak?" Gelang berbandul angsa itu memang terlihat bersinar dipergelangan tangan Jamin. "Aku tidak suka memakai perhiasan," katanya sembari melihat tangannya. "Bohong! Aku ingat kau bahkan," Hals menarik telinga Jamin, "memiliki tindikan. Aku ingat saat kita pergi ke club waktu itu .... ", rasanya kecanggungan didiri Hals mengusiknya teringat ia hampir saja mencium Jamin disana, "kau memakai anting dan kalung. Kau sangat cocok dengan perhiasan." Jamin memang tadi hanya asal sebut, ia merasa seharusnya tak menerima pemberian Hals namun melihat wanita itu begitu tulus. Jamin tak bisa lebih jahat lagi dengan menolaknya. Ia pun berterima kasih. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Kian hari kesibukkan semakin memeluk Jamin. Membuat dirinya bahkan tak memikirkan untuk sekedar membalas pesan Nora. Wanita itu juga sedang melakukan beberapa riset. Ia membutuhkan informasi untuk perlombaan yang akan dilaksanakan. Noraa tentu ingin anak didiknya tampil sempurna. Nora berada di salah satu company terbesar di Paris. Ia akan berkunjung pada pelatihnya, Madam Anne, yang selalu memberikan lampu hijau untuknya bertukar fikiran. Namun langkah kaki Nora berhenti saat melihat Madam Anne bersama Alexander sedang asik mengobrol. Tentu ia akan menghindar namun terlambat karena wanita berumur sekitar 55 tahun itu melihat kehadirannya. Ia ataupun siapapun memang tak ada yang mengetahui hubungan rahasia antara Nora dan Alexander yang merupakan salah satu penyokong dana untuk setiap pertunjukkan. Keluarga Alex memang membudayakan Balet. Nora kini tak bisa menghindar lagi, ia tak menatap Alex namun Madam Anne yang memiliki etika begitu baik, memperkenalkan keduanya. Nora hanya tersenyum sekilas namun Alex malah ingin menjabat tangannya seakan tak pernah ada yang terjadi diantara mereka berdua. "Sudah lama tidak berjumpa Nona Nora," ujarnya dengan senyum palsu. "Ah kalian saling kenal". Nora dengan terpaksa menyambut tangan Alex. Ia buru-buru melepasnya. "Tentu Madam, Nona Nora adalah rekan kuliah dan kami cukup dekat," lirikan pria itu penuh maksud pada Nora. Ingin rasanya Nora menghilang tertelan bumi, ia benci pada Alexander. Rasa api didadanya semakin membakar dirinya, "Madam, jika kau sibuk aku akan kembali besok." Alex menghentikan ucapan Nora, "tidak perlu, saya akan pergi lebih dulu", ujarnya. Ia pun berpamitan pada Madam Anne. Ia kembali mengulurkan tangannya pada Nora dan dengan tata krama sial, Alex mengecup punggung tangan Nora. Demi Tuhan betapa rasa benci begitu mengalir di pembuluh darah Nora saat Alex mengerlingkan mata padanya. . . "Bon travail (kerja yang bagus)", suara Nora begitu puas saat Jamin dan beberapa penari diatas panggung selesai menarikan sesi terakhir dengan begitu mulus. Walau ada rasa cemas melihat kekasihnya bermesraan dengan peran utama wanita namun Nora harus profesional. Tepuk tangan riuh rendah menyambut semua pemeran di gladi resik hari ini. Jamin turun dari panggung dan menghampiri Nora dan juga Seul Ji. Setelah briefing beberapa saat. Mereka kembali ke ruang ganti. Nora duduk di kursi meja rias. Tak lama Jamin mendekat karena ingin mengambil barang-barangnya. Sebuah gelang perak dengan bandul angsa terjatuh dari tangan Jamin namun ia tak sadar. Nora memungutnya dan ia tahu bahwa gelang ini yang hendak ia ambil namun tak jadi karena, Nora mengerjapkan matanya, ia bertemu dengan si perempuan berambut pink di stand aksesoris. Ia juga melihat wanita itu membayar gelang ini. Itu tandanya perempuan itu mencoba mengambil langkah pada kekasihnya lagi. . . Semuanya berkumpul sebelum pulang. Nora memimpin briefing terakhir. "Jadi aku ingin kalian istirahat hingga hari pentas diselenggarakan minggu depan. Kalian hanya melakukan latihan ringan dan tak ada peminjaman ruangan lagi. Mengerti?". Ketiga muridnya mengangguk. Dan mereka pun berdoa bersama lalu bubar. "Coach Nora, kau ingin makan malam apa?". "Tidak perlu, aku harus pulang buru-buru". "Yah padahal aku ingin mentraktirmu sebagai pengganti sarapan waktu itu". Jamin mencuri pandang dan dengar saat lewat, ia tahu bahwa Coach Seul Ji juga berasal dari Korea Selatan. Pasti sarapan yang ia maksud saat Jamin marah pada Nora karena memasak makanan Korea. "Tak perlu Coach, nanti akan kubuatkan lagi... aku pergi dulu ya", Nora buru-buru angkat kaki karena Jamin sudah berjalan semakin jauh. Nora mengejarnya. Saat sudah jauh dari pandangan orang-orang. Ia meraih mantel Jamin dan menghentikan langkahnya sembari mengatur nafasnya ditambah dengan rasa dingin yang mencekat. "Aku ingin pulang," kata Jamin tanpa nada yang menunjukkan ketertarikan. "Aku ikut." "Tidak," jawab Jamin cepat. Apartemennya begitu memalukan. Ia tidak akan membiarkan siapapun kesana. Walau Maria tahu dirinya disana tapi itu karena mereka bertetangga. "Min-ah ... aku kedinginan, aku ikut." Jamin mau tak mau mengiyakan, melihat Nora gemetar membuatnya tak tega karena memang tempat Jamin jauh lebih dekat. Mereka pun pergi dengan taksi karena Nora tak kuat lagi naik bus. Sesampainya digedung tua itu. Mereka naik ke lantai tiga tanpa bersuara. Namun Jamin tercekat saat barang-barangnya berada diluar dan Maria berlari padanya dengan wajah panik. "Aku sudah berusaha meminta pemilik apartemen untuk menunggumu, maaf Min-ah," Rasa malu menguasai Jamin sekarang didepan hidung kekasihnya ia di usir dari Apartemen kumuh ini. ... Kira-kira apa yang membuat Benjamin diusir ya? Nantikan di Chapter selanjutnya yaa. CHI
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD