CHAPTER 07 - HANYA MILIKKU

4200 Words
Kecantikan pemeran utama, Aurora, yang menjadi tokoh Clara dalam cerita The Nucracker tentu dapat menghipnotis siapapun yang menikmati pertunjukan ini. Ia menari dengan begitu anggun bersama penari latar yang lain. Keahliannya tidak perlu diragukan dalam soal melenggokkan tubuh maupun berputar. Berbagai tari dipertunjukkan sebagai pembukaan pentas. Lalu semua berhenti karena tokoh seorang Paman dari Clara datang dan memberikan kedua kemenakkannya hadiah. Clara mendapatkan sebuah boneka penghancur kacang. Ia sangat bahagia karena boneka kayu itu terlihat gagah dan juga hebat. Ia bisa menghancurkan kacang. Clara menari kesana kemari bersama sang boneka hingga sampai dimana Kakaknya merusak boneka tersebut hingga tergeletak dilantai. Rasa sakit sangat terlihat saat Clara meraung melihat boneka kesayangannya hancur ditengah panggung. Tirai tertutup dan musik mulai mengalun, menggetarkan seluruh aula dengan kesan menyedihkan. Lalu malam pun datang, Clara bersiap tidur. Seluruh pementasan tentu disuguhkan dengan tarian. Bukan hanya cerita namun tarian yang memberikan penonton cerita. Semua dekorasi menjadi gelap dan dunia yang berbeda pun telah dimulai. Dunia dimana dikuasai oleh raja tikus yang jahat. Clara begitu ketakutan, gerakannya penuh dengan gemetar saat para tikus-tikus mengganggunya. Suasana begitu mencekam. Saat Clara sudah putus asa, suara mengejutkan mulai menggelegar. Clara ingat bahwa ini mainan milik Kakaknya yaitu tentara yang dipimpin oleh boneka kayu miliknya. Mereka berusaha merebut Clara dari pasukan tikus. Konflik mulai terjadi, mereka bertarung memperebutkan Clara yang dibawa kesana kemari oleh para pasukan tikus yang jahat. Pedang dihunuskan tanpa rasa takut hingga akhirnya sang Nutcracker dapat merebut Clara dan tiba-tiba lampu panggung gelap gulita. Nafas penonton tertahan seketika. Kemudian ... sebuah lampu sorot menyala dengan tiba-tiba. Seorang pria begitu tampan, pakaiannya berubah menunjukkan kegagahan dalam seni tari balet. Benjamin ... Seorang prajurit Nutcracker menunjukkan aura yang hebat. Tatapan matanya tajam namun dengan senyum yang ramah yang hanya tertuju pada Clara. Disebuah tempat duduk, Nora Clark terhenyak melihat kekasihnya berdiri dengan tegap. Ia begitu tampan dan memancarkan kharisma yang sangat kuat. Nora mencengkram ujung roknya saat melihat bagaimana hebatnya seorang Benjamin menari bersama perempuan lain. Tangannya dengan pasti berada disetiap posisi dimana tubuh Clara yang terlihat serasi bersamanya Nora mencoba mengusir jauh-jauh fikiran negative namun pandangannya tak lepas dari bagaimana Jamin menyentuh lawan mainnya. Ia seperti kerasukan cinta karena begitu menjiwai. Senyum Jamin terumbar dengan gerakannya yang juga sangat indah. Mereka sangat serasi seakan-akan sudah biasa menari bersama. The Nutcracker mengangkat tubuh Clara, memutarnya seakan tak ada makhluk lain yang indah selain wanita ditangannya. Panggung diselimuti dengan adegan penuh cinta dan kasih sayang yang begitu memabukkan para penonton malam itu. Namun rasanya begitu tidak nyaman didalam lubuk hati Nora. Perasaan yang harusnya tak ia miliki sebagai seorang pelatih. . . Beberapa rangkaian bunga diterima oleh Aurora, sang pemeran Clara. Wajahnya berseri-seri mendapat beberapa pujian saat para pemain dan kru pementasan mengadakan makan malam bersama dua hari setelahnya. Memang tak dapat dipungkiri Aurora berhasil menampilkan sosok Clara padahal ini adalah debutnya sebagai pemeran utama. Sekarang ia duduk di samping Benjamin. Mereka terlihat cocok disaat beberapa orang meminta foto bersama. Jamin tersenyum saja, biasanya ia tak terlalu mencolok namun Aurora selalu merendengnya kesana kemari saat ia sedang dipuji seakan pujian itu harus menciprat untuk pasangannya juga. Walau sebenarnya Jamin tak begitu mengharapkannya karena sejak awal pementasan ini bukanlah tujuannya namun karena tawaran Nora menggiurkan dan juga tak menyulitkannya sehingga Jamin dengan percaya diri untuk ikut. "Aku sangat berharap bisa menjadi pasanganmu dan akhirnya terwujud," Aurora menuangkan minuman didalam gelas Benjamin yang kosong, "aku pernah beberapa kali melihatmu pentas diacara kampusmu dan kau sangat keren." Benjamin menerima gelas dan menyesapnya, "Kau juga hebat. Aku juga beruntung menjadi pasanganmu." Mata Jamin mulai mencari sang pujaan hati, Jamin merindukannya dan ia menemukannya, rasanya suara Aurora menjadi jauh saat tatapan keduanya bertemu namun tak ada yang bisa dilakukan untuk saa ini. Jamin agak terkejut saat Aurora mulai mengaitkan tangannya dilengan Jamin. Pandangannya dengan Nora harus ia putuskan karena ia reflek. Tak pernah ada perempuan yang menempel dengannya seperti Aurora didepan publik begini. . . Air dari keran mengalir membasahi kedua tangan Nora yang baru saja keluar dari bilik toilet. Tak lama kemudian, wanita yang semalaman ini selalu berada disisi Jamin muncul. Ia menyapa Nora dengan sopan karena Aurora tahu bahwa Nora adalah pelatih dari Benjamin. "Bagaimana?", Nora buka suara dengan nada dingin dan datar tanpa memandang balik Aurora namun jelas ia sadar bahwa Aurora terlihat kebingungan dengan pertanyaannya. "Bagaimana? Ahh ... iya Jamin sangat hebat Coach." "Lalu?" Aurora mematikan keran airnya, "hmmm," ia bingung dan hanya bergumam. Nora mengambil tissue dan melap tangannya yang basah, memunggungi Aurora. "Lalu kenapa kau masih tak lepas dari sosok Clara?", setelah berbicara dengan begitu dingin, Nora berbalik dan menatap lurus Aurora, "kau tahu apa maksudku bukan?", ia memberikan penekanan pada kalimatnya sebelum ia berlalu, sedikit menabrak ujung bahu Aurora dengan sengaja, "Jika kau tidak paham, akan kubuat pelatihmu paham dan mengajarimu dengan benar," tambah Nora dengan ucapan mengancam dan ia pun keluar dari toilet. Nora mengangkat dagunya dengan perasaan tinggi, seringaian berkembang diujung bibirnya. Kali ini Nora tidak akan mudah memberikan apa yang ia miliki, apalagi Benjamin. Aurora menatap cermin didepannya, ia kesal sekarang. Pelatih itu menjatuhkan harga dirinya hanya karena ia berbaik hati dengan Benjamin. Ia mengambil clutch yang bermanik-manik itu lalu kembali ke dalam restaurant. Memang benar ia mengagumi lelaki itu tapi bukan seperti yang pelatihnya maksud. Aurora juga masih ingin fokus dengan karirnya. Saat melihat Jamin, ia membuang pandangannya. Aurora tidak pernah berfikir akan serendah itu untuk menggoda penari lain hanya karena mereka berciuman diatas panggung. Walau ini debutnya tapi ia cukup profesional walaupun ia akui Benjamin memang tampan. Saat Aurora berjalan keluar masih dengan emosi, suara Jamin menghentikan langkahnya karena lelaki polos itu memanggilnya. "Ada apa Ben?", tanya Aurora berusaha bersikap biasa. "Bukannya harusnya aku yang bertanya denganmu ada apa? Kau sangat menikmati acara ini, kenapa kau pulang tanpa pamit? Apa kau merasa sakit?" Jamin terlihat sangat khawatir. Aurora paham, selama mereka berlatih bersama dan mengenal untuk acara ini. Benjamin memang bukan tipikal partner yang akan menyia-nyiakan teman seperjuangannya. Ia baik dengan semua orang, bukan hanya pada Aurora. Pelatihnya pasti begitu takut lelaki ini dimanfaatkan orang lain. Aurora langsung menghentikan langkah Jamin yang ingin mendekat, "Benjamin ... jangan bersikap seperti ini dengan semua perempuan, mereka pasti akan salah faham dan kau bukanlah orang yang mudah diajak berkencan. Ingat itu, fikirkan karirmu dan perasaan orang yang berusaha untukmu". Ucapan Aurora membuat Jamin terbius sesaat lalu mereka benar-benar berpisah. Mata Jamin memandang langit malam. Awan kelabu menutupi cahaya bulan dengan serpihan salju yang turun. Ia merapatkan kembali jasnya dan kembali ke dalam restaurant sembari mencoba mengerti ucapan Aurora. . . Sinar rembulan yang kebetulan cukup terang walau malam ini semakin dingin. Salju berserakan namun membuat tatanan kota semakin terlihat indah. Benjamin melewati sebuah toko kue dan ia pun berhenti. Kebetulan ia mendapatkan uang saku saat tadi acara makan malam. Tanpa ragu Benjamin masuk kedalam toko kue yang disambut suara dering lonceng diatas pintu. Harum aroma panggangan kue tercium semerbak ditambah ornamen toko yang mengesankan natal akan segera tiba. Belum lagi pajangan-pajangan gemas. Baru kali ini Benjamin merasa sejuk melihat itu semua. Biasanya ia akan mengacuhkan semuanya. Benjamin tak menikmati liburan karena itu berarti kegiatan club juga harus libur dan ia benci itu. Seorang pelayan menyambut Benjamin, ia terlihat jauh lebih muda darinya. Ada ulasan tepung dipipinya, ia terlihat menggemaskan saat menyambut Benjamin. "Apa yang anda ingin pesan? Maaf karena Ibuku sedang keluar sebentar tapi aku bisa melayanimu tuan." Benjamin tidak bisa menahan senyumannya, "Baiklah, tolong kue dengan strawberry diatasnya itu. Terlihat lezat dan cantik sepertimu." "benarkah?" anak perempuan itu bangun dari duduknya dan ia mengambil sebuah tongkat untuk berjalan mendekati rak kue yang Jamin tunjuk. Hati Benjamin tersentuh karena anak itu ternyata berkebutuhan khusus tapi dengan semangat ia melayani Benjamin. Suara lonceng berbunyi dan seorang wanita dewasa datang menyapanya dengan ramah. Ia sama cantiknya dengan anaknya. "Clara, sudah Ibu bilang untuk tunggu. Maaf yaa," ujarnya pada Benjamin lalu ia langsung sibuk mengemas kue untuk Benjamin. Jamin melihat anak bernama Clara itu agak cemberut. Ia pun berdiri dimeja kasir dan tidak lama sang ibu datang, "Anakku sudah menuliskan pesannya untukmu. Apakah tidak apa-apa?" "Tidak masalah, kalau boleh tahu memangnya adakah yang bermasalah dengan itu?" Wanita itu tersenyum dan mengangguk, tangannya sembari sibuk menekan tuts mesin kasir. Jamin membayarnya dan ia memberikan pesanan Benjamin, "Begitulah menjadi seseorang yang tidak sempurna di mata orang lain. Terima kasih karena tidak masalah dengan Clara." Benjamin melihat Clara yang sudah tersenyum lagi sembari mengerjakan sesuatu, "Anakmu cantik sekali. Kelak dia pasti akan menjadi orang yang hebat asal kau mendukungnya dan jangan pernah meninggalkannya," ujar Benjamin dan ia pun berpamitan. Benjamin melambaikan tangannya pada Clara, malam ini terasa semakin sempurna. Ia akan menikmati kue ini bersama Nora dan kalau memang Nora mau, ia ingin menghabiskan sisa hari dengannya. . . Mata Nora menatap pintu apartemennya yang tertutup rapat. Ia baru sadar dari mabuknya dan sekarang waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Setahunya Jamin sudah pulang sedari jam 9 malam tapi tidak dengannya. Ia menghabiskan waktu bersama para pelatih lain dan bertemu dengan seseorang yang telah memberikan kesempatan untuk Jamin. Semalaman Nora menemaninya untuk minum sebagai rasa terima kasih. Ia mulai memijit password namun tiba-tiba pintu terbuka dari dalam. Wajah Jamin nampak begitu menahan sesuatu. Tangannya langsung mencengkram lengan Nora dan membawanya masuk kedalam. Jamin mendorong Nora ke atas sofa. Membuat wanita berpipi sangat merah itu terhenyak saat melihat rambut Jamin berantakan dan kantung matanya terlihat menggelap. Mungkin ia lelah tapi tak dapat tidur dan dilihat dari bagaimana ia mondar-mandir sekarang, ia pasti marah pada Nora. "Seberapa banyak kau minum?!", suara Jamin mulai keluar namun dengan intonasi menyeramkan. Jamin tidak pernah begini padanya. "Ti... tidak banyak." "Apa kau bisa lihat jam berapa ini?" Jamin begitu tersulut sekarang dengan rasa kecewa, "apa begini caramu hidup? Minum dengan semua orang padahal kekasihmu menunggumu dirumah." "Maaf Min-ah, aku tidak bisa pulang cepat". "Kenapa? ha?" Nora menelan alasannya, ia berdiri dan mendekati Jamin. Tangannya mulai menyentuh Jamin. "Aku tahu kau marah tapi begitulah para pelatih ... mengertilah untukku. Aku baik-baik saja." Jamin menangkap tangan Nora dan memeluknya, hanya dengan sentuhan perempuan itu rasanya kebakaran yang ada didalam dirinya langsung padam begitu saja, "aku rindu denganmu dan kufikir setelah semuanya kau akan menyelamatiku dan merayakannya denganku tapi kemana saja kau", ia menyusupkan wajahnya dipundak Nora. Jamin tak suka aroma ditubuh Nora, entah kenapa terasa begitu asing unktuknya, "mandilah, akan ku siapkan air hangat untukmu. Maaf aku terlalu emosi". Nora mengangguk, ia memberikan kecupan pada bibir Jamin dengan singkat dan lelaki itu benar-benar mengurusnya. Setalah air hangat siap, ia menuangkan sabun beraroma vanilla dan menyalakan lilin aroma terapi disudut westafel. Benjamin menghampiri Nora yang sedang menghapus make up dari wajahnya, "ayo kita bersihkan aroma buruk ini," kata Jamin lalu ia menggendong Nora. "Min-ah, aku bisa jalan sendiri," Nora tak bisa menahan senyumnya dan ia merasa bersalah pada Benjamin malam ini. Lelaki itu benar-benar begitu tulus padanya. Nora teringat apa saja yang ia lakukan tadi demi menyenangkan seorang panitia yang memberikan kesempatan untuk Benjamin. Nora harus menemaninya minum, sesekali lelaki itu menyentuh Nora walau hanya dibagian pinggang. Nora belum gila untuk bersedia berciuman. Tapi rasa malu yang tadi ia rasakan langsung menguap dengan perlakuan Benjamin yang begitu menyanjungnya sekarang. Benjamin membuka baju Nora satu persatu, ia menatap keindahan yang ada didepan matanya. Membiarkan Nora masuk kedalam bath up. "woah, nyaman sekali." Benjamin mengusap punggung Nora, ia merasa begitu buruk setelah tadi memarahi Nora, "apa kau suka ini?" Jamin memberikan pijitan dibaru sang wanita. "Tentu, aku sangat lelah," Nora melemaskan lehernya sembari memejamkan matanya. Nora terlihat begitu menawan, bohong jika tidak ada yang tergoda pada perempuan ini. Semua yang ada pada dirinya begitu sempurna, Nora mengangkat rambutnya agar Jamin lebih mudah memijitnya. Tangan Benjamin terus melemaskan otot-ototnya, Jamin tak tahu ia memiliki keahlian ini hingga Nora bergumam merasa begitu nyaman. Namun yang timbul didalam Jamin berbeda. Benjamin mengecup punggung Nora, kini aroma tubuh wanitanya sudah kembali merangsan Benjamin. Nora tidak bermasalah bibir Benjamin berada dibahunya, ia menikmatinya. Lampu hijau ternyata menyala, Nora menyandarkan kepalanya pada Jamin yang sekarang semakin intens menjelajar pada tengkuk Nora. Tangan Nora meraih kepala Benjamin dan ia menolehkan wajahnya. Memberikan signal agar Benjamin bergabung bersamanya. Harumnya lilin aroma terapi semakin menambah suasana pas pada kegiatan yang Benjamin dan Nora lakukan. Sentuhan mereka membuat keduanya sama-sama relaks. Nora duduk diantara kedua kaki Benjamin. "Aku ingin dengar sendiri, apakah pelatihku puas dengan penampilanku hari ini?" Nora tersenyum, ia ingat bagaimana dirinya cemburu jadi sudah pasti Benjamin berhasil, "Aku tidak pernah merasa cerita begitu nyata seperti tadi kau memainkannya." "Betulkah? Aku juga ingin menari seperti itu denganmu." Nora tersenyum, ia membalikkan tubuhnya menghadap Jamin, "Kita mungkin tak bisa menari tapi kita bisa melakukan hal lebih dari itukan?" . . Basah, permainan kali ini tidak hanya panas namun basah. Ucapan terbaik dari Nora tidak akan pernah Jamin bisa lupakan. Mereka memang tak mungkin menari bersama diatas panggung tapi diatas ranjang justru adalah hal yang terbaik. ------- Benjamin membuatkan soup keesokkan paginya agar pengar Nora hilang. "Min-ah, ini apa?" sudah ada peralatan makan lengkap diatas meja dan Nora tidak pernah melihat soup yang berada didalam mangkuknya. "Entahlah ... makan saja, tidak beracun". Nora terkikik, ia menyendok kuah dan menyeruputnya, "wow ... ini sangat lezat", Nora terpukau sekarang. Jamin berdiri dan mengambil semangkuk nasi. Mereka hampir tak pernah makan nasi sebenarnya apalagi Nora, selain di Kedai Mie namun melihat Jamin memasak nasi membuat Nora terkesan melihat butir-butir putih yang kekat. Hal-hal ini semakin membuat rasa cintanya bertumbuh kuat. Jamin mengambil mangkuk milik Nora dan menuang nasi panas dari atas penanak kedalam mangkuk, "setahuku, begini cara makannya," Benjamin menuang soup itu ke atas nari Nora. "Ahh ini semakin lezat ckck ... bagaimana bisa, apakah ini makanan---", Nora langsung terdiam dengan sendok masih didalam mulut, ia melihat Jamin, "kau bilang kau benci makanan Korea didalam rumah?" Itulah pertanyaan yang Jamin hindari sedaritadi. Itu yang ia fikirkan selagi memasak namun tak ada lagi yang bisa ia masak selain masakan Korea. Itu kenapa selama ini ia hanya makan di luar. Jamin menyuap nasi banyak-banyak kedalam mulutnya lalu menggedikkan bahunya. Nora mengulum senyumnya, akukah pengecualinnya? . . Akhirnya liburan musim dingin telah dimulai. Banyak tempat hiburan yang semakin ramai, taman-taman juga semakin banyak dikunjungi oleh para keluarga. Orang-orang mulai mempersiapkan malam natal dan tahun baru dengan begitu suka cita. Malam penuh cinta akhirnya meliputi semua orang di dunia. Namun tidak dengan Benjamin, setiap liburan apapun itu rasanya ia begitu kosong. Seperti terjerembab disebuah lubang yang tak memiliki celah untuk keluar. Itu kenapa Jamin tetap berlatih. Rasanya seperti membuang waktu jika tubuhnya tidak bergerak. Ditemani Nora, mereka berlari untuk pemanasan ditaman Apartemen lalu setelahnya mulai berlatih dispot yang agak sepi. Beruntung tak ada lagi bau lembab seperti biasanya Benjamin berlatih diloteng gedung apartemen kumuh miliknya dulu jika ia kampus sedang tutup. Disini jauh lebih segar. Mereka melakukan beberapa gerakan sederhana, melatih kelenturan tubuh juga. Lalu Nora memberitahu sebuah pertunjukkan yang ia sukai. Namun ia tak bisa melakukannya saat ia masih berkuliah dulu. "Baguskan? Aku sangat suka pertunjukkan ini walaupun ceritanya hanya karangan seorang mahasiswa tapi ini sangat hebat". Jamin mencuri pandang wajah Nora disampingnya yang sangat semangat menceritakan semuanya pada Jamin. Jantungnya terasa seakan terbakar sekarang. Nora sangat cantik dengan keringat yang mengalir pada sekujur tubuhnya yang sempurna. Terutama saat ia tersenyum, rasanya seperti jantung Benjamin tersengat tegangan listrik. Ia langsung berdiri dengan wajah agak panik setelah menyadari sesuatu. "Ada apa?" "Kompor! Belum dimatikan!" jawabnya asal, wajah Benjamin langsung memerah dan ia menutupinya. Nora tak mengerti apa yang Jamin ucapkan karena lelaki itu langsung kabur begitu saja. Setelahnya Jamin begitu aneh, ia salah tingkah setiap melihat Nora saat di apartemen dan ia juga menyibukkan dirinya agar bisa menghindari Nora. Saat ia sedang dikamar mandi, Benjamin menatap refleksi dirinya sejenak. Ia tidak mengerti mengapa sulit baginya untuk menahan diri sekarang padahal sebelumnya ia sangat tak peduli masalah seperti ini. Namun rasanya Nora seperti memporak porandakan benteng yang selama ini kokoh mengelilingi Benjamin. . . Jamin baru saja pulang dari supermarket. Entah apa yang ia beli, ia pun tidak tahu. Saat ia masuk kedalam kama, Nora sedang berbaring diatas ranjang, membaca sebuah buku yang ia miliki. Namun yang membuat Jamin terdiam adalah baju yang sedang Nora gunakan. Ia hanya memakai Lingeri lace kimono berwarna merah dengan brukat transparan dan wanita itu membiarkan kimono itu terbuka begitu saja. Rambut panjangnya sedikit berantakan saat ia beranjak dari baringnya, menutup buku milik Jamin dan menghampiri Jamin yang berdiri diambang pintu. "Apa kau masih mau menghindariku? Hmmm?", Nora menatap Benjamin dengan sangat dalam. Membuka kunci gerbang sang pria. Nora menggigit bibir bawahnya dan ia mengikat rambutnya ke atas lalu Nora menghampiri Benjamin. Nora meraih tangannya dan memainkan jemari mungil Benjamin. Namun bukannya imut tapi Nora malah terkesan erotis dan sangat sexy. Tanpa basa-basi lagi, Jamin meraih wajah Nora dan memberikan lumatan pada bibir polos Nora yang tanpa make up. Jemarinya mulai turun ke rahang Nora, tak membiarkan Nora bergerak seincipun. Benjamin ingin mengontrol semua pergerakan Nora sekarang. Nafas Jamin terasa begitu berat, ia membawa Nora ke atas ranjang dan sang wanita sudah tidak dapat berkutik. Rasanya ia ingin meremukkan leher Nora karena ia begitu kuat sekarang. Nora pun sampai kehabisan nafas karena ciuman Jamin yang tak membiarkannya membalas. Nora merasakan Benjamin semakin menguasai permainan. Sudah tak ada lelaki polos pada sentuhannya. Benjamin belajar terlalu cepat dan menimbulkan sedikit rasa takut didalam diri Nora yang sekarang dengan kuat menandaskan kuku-kukunya dikulit Benjamin karena lelaki itu melesak masuk kedalam pusaranya. "Inikan yang kau maksud?" Jamin menyeringai lalu ia menghisap dengan kencang buah d**a kekasihnya yang terlalu mempesona. Nora bagaikan lampu hijau untuk Jamin yang skarang sudah merusak lampu merah miliknya. Nora sudah tak berbenang, ia mendesahkan nama Benjamin dengan peluh. Disela nafas memburunya, Nora teringat bagaimana panas hatinya saat melihat Jamin berciuman dengan Aurora tapi lihat, untuk siapa lelaki ini sekarang. Nora menyeringai sedangkan tubuhnya otomatis membentuk ritme yang Jamin inginkan. "Kau fikir untukku menunggumu yang sedang bersenang-senang!" Tone suara Jamin berubah begitu berat sekarang. Entah seberapa hasrat yang terkumpul walau Nora sudah berusaha menggantinya. Anehnya semakin lama Nora semakin menikmati setiap gerakan yang Jamin lakukan padanya. Rasa takut itu tergeser oleh cakrawala yang terbentuk karena penyatuan yang mereka lakukan. Nora meracau tidak jelas. Setelah puas membuat Nora terlantung dilututnya, Jamin berbaring dengan miliknya yang masih tegak maksimal. "Tebus semua kesalahanmu kemarin honey!" Perintahnya membuat Nora terhipnotis dan menuruti yang Jamin inginkan. Siapa yang bisa menolak dengan wajah malaikat namun terisi iblis didalam matanya yang membakar setiap sudut ruang Nor dengan euphoria yang tak tergambarkan. Jalan ini seakan tak berujung, Nora dan Benjamin bertaut begitu lekat seakan jarum jam tidak berfungsi bagi keduanya. . . Untuk mencegah kejadian yang entah bagaimana bisa dibilang lebih gila lagi, Jamin membantu Nora membersihkan diri karena wanita itu seperti tidak memiliki tulang dan tertidur dengan piyami berkancing milik Benjamin yang menutupi seluruh bagian tubuhnya. Jamin mendaratkan kecupan pada hidung kekasihnha dan lanjut diatas kening, berdiam sejenak disana sembari berbisik, "je suis désolé (maafkan aku)." Pria bodoh yang berkata bahwa ia tidak menikmati permainan hebat bersama wanita yang ia cintai namun Jamin merasa sedikit janggal. Beberapa kali Jamin melihat Nora mengubah ekspresi dengan cepat. Mungkin lelaki lain tak bisa sadar namun Benjamin yang sering mengamati gerakan dengan detail cukup menangkap jelws ekspresi aneh Nora. Nora mungkin sudah berada dialam mimpi. Benjamin merapihkan baju mereka yang tercecer. Beer dan cemilan yang ia beli tadi juga berantakan dilantai. Jamin merapihkan semuanya dan segera mandi. Rasanya Jamin sangat segar, moodnya melonjak naik. Ia membuka pintu lemari, mencari baju namun sesuatu terjatuh dan Benjamin merasa agak aneh karena gelang dari Hals ketemu. Ia tak memikirkan apapun dan langsung memakainya kembali. Ia merasa tidak enak dengan Hals. Menolak perasaannya pasti sudah membuatnya menderita. ---‐-------------------------------------‐-------------------------------------‐----------------- Hari ini Benjamin memutuskan untuk pergi ke perpustakaan umum di pusat kota sementara Nora pergi bersama rekan kerjanya untuk acara makan-makan menyambut liburan natal dan akhir tahun. Jamin hanya memintanya agar tidak pulang dalam keadaam mabuk. Jamin menghabiskan waktu membaca-baca sejarah mengenai balet. Balet membuat Jamin merasa hidup setelah kehidupannya terasa begitu mati sebelumnya. Suatu saat, ia ingin menikah dengan pertunjukan indah itu pada pesta pernikahannya seperti Raja Joyeuse dan Ratu Louise pada Tahun 1581. Pernikahan yang indah dan penuh dengan hasrat seni yang tinggi. Benjamin tersenyum pahit ketika memikirkan kata tersebut. Menikah, bisakah ia melakukannya disaat ia tak pernah merasakan manisnya berada dipelukan seseorang yang disebut Ibu, tak tahu rasanya dilindungi oleh Ayah. Yang ia pernah rasakan hanya menjadi tempat marah orang tua dari orang-orang sebayanya yang merasa terancam dengan keberadaannya. Walau ia dulu hidup serba kekurangan tapi kelebihan Benjamin adalah ingatannya. Tanpa harus mengikuti les yang akan mengeluarkan uang banyak atau bahkan belajar kelompok -- tak ada yang mau mengajaknya untuk belajar bersama karena ia terlalu miskin dan akan menyusahkan -- Jamin selalu menduduki posisi juara umum di sekolahnya. Itu mengapa Kepala Sekolahnya diam-diam mendukungnya walau ia tetap harus bersikap adil. Pria tua berkumis itu selalu Benjamin ingat bahkan sampai hari dimana beliau menghembuskan nafas terakhir. Benjamin tak bisa menemuinya karena ia sudah tinggal di Paris. Surat terakhir yang beliau kirimkan adalah surat mengenai bahwa ia begitu bangga dan berharap Benjamin bisa menggapai mimpinya. Itulah salah satu Benjamin berusaha sangat keras disini, tak membiarkan dirinya membuang-buang waktu walau ia akui Nora Clark adalah distraksi terkuat sepanjang hidupnya. Benjamin menelusuri rak buku mengenai fantasi untuk menghiburnya, begitulah dirinya. Fikirannya terlalu rumit untuk anak lelaki seumurannya dimana mereka semua akan menghabiskan waktu minum-minum, menghisap ganja sembari bercinta, atau minimal nongkrong bersama teman-teman untuk menjalin bisnis kecil-kecillan tapi Benjamin masih berada dalam dunia yang ada untuk dirinya sendiri. Ia keluar dari lorong-lorong dan tersenyum saat melihat Hals sudah sampai, kali ini perempuan itu membawa sebuah keyboard. "Apa kau tidak lelah?" Jamin duduk disamping Hals, ia khawatir dengan pundak perempuan itu. "Haha ini bukan apa-apa. Otakku lebih lelah daripada tubuhku, percayalah." Benjamin hanya tersenyum, ia membuka bukunya mengenai dunia astral, tentang makhluk yang dapat merubah dirinya menjadi angsa. Hals melirik gelang yang masih senantiasa melingkar dipergelangan tangan Benjamin, ia menikmati pemandangannya. Ini bukan hal baru bagi mereka berdua. Hals memang sering menamni Jamin berada diperpustakaan walau dirinya benci sekali dengan buku. Bau kertas membuatnya mual namun Benjamin adalah penawarnya. Setelah selesai dan Hals tertidur diatas meja selama satu jam penuh, Benjamin membangunkannya dan mereka pun pergi mencari camilan sebelum Benjamin memutuskan untuk pulang. "Bagaimana dengan lagu-lagumu?" "Sangat baik dan akan kupentaskan untuk festival tahun baru, kau harus datang." "Betulkah? Kau terpilih?" Benjamin menghentikan potato wedges yang akan masuk kedalam mulutnya dan menaruhnya saat Hals berkata sesuai dengan harapannya. Jamin mengusap kepala Hals sebagai tanda selamat, "I am so proud of you Hals." "Mercie, Min-ah," Hals merasa wajahnya semakin bersemi. Ini memang musim dingin namun setiap ia bersama Benjamin, musim semi sepanjang hari bisa ia rasakan. Hangat, indah dan juga menenangkan. Hals sudah mempersiapkan lagu dimana itu semua mengenai Benjamin. Walau Hals tahu tak akan ada tempat untuknya saat ini tapi Hals yakin, suatu saat nanti mereka bisa bersama karena Hals hanya satu-satunya yang dekat pada Benjamin. Hals berfikir ini semua hanya masalah waktu. Terkadang cinta memang harus merajut bernang bersama tanpa tahu apa hasilnya, apakah menjadi sweater atau syall. Hals menyesap minumannya, sedikit kesulitan menyembunyikan kebahagiaannya. . . Sejak Nora mengetahui bagaimana circle pertemanannya bersama Alexander begitu tidak sehat, mereka semua tahu bahwa Alex itu pria tak berhati dan bahkan dengan terang-terangan sering membawa perempuan lain. Nora memutuskan hubungan dan berfikir bahwa ia akan berhenti untuk mengenal kata teman. Namun Seul Ji seakan menariknya, memaksanya terus menerus. Sudah sering Nora menolak partner kerjanya itu untuk makan diluar Kampus namun kali ini sepertinya Nora gagal. Saat dirinya melihat kekasihnya sedang makan bersama temannya yang berambut nyentrik itu, mereka tertawa bersama disebuah restaurant itali. Nora langsung menarik Seul Ji keluar dan mengajaknya untuk pergi ke bar saja. Nora bahkan memastikan bahwa Benjamin yang sedang memanggil pelayan itu memakai gelang yang Nora sudah sembunyikan. Rasanya sakit. "Aku tidak mengerti!" suara gelas ditabrakkan diatas meja kaca terdengar dan membuat Seul Ji terkejut. Ia memberikan anggukan sopan pada sang bartender yang sedikit was-was. "Apa ini mengenai temanmu itu?" Nora mengangguk, "Iya! Betul, mengenai dia." Seul Ji meneggakkan duduknya dan Nora menghadapnya, ia juga sama seriusnya walau matanya hanya terbuka setengah karena sudah hampir mabuk kali ini. "Dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjauhkan kekasihnya dari pengganggu. Kau bilang, angin dan air bisa membawa pergi si pasirkan tapi tetap saja, angin dan air itu tetap kembali datang." Seul Ji membuat tanda silang dengan tangannya, "Jika kau fikir dengan menjaga genggaman itu mereka aman, salah besar. Kita hidup tak bisa tanpa udara dan air bukan?" Nora mengangguk, sedikit kencang hingga rambutnya juga ikut terayun kuat. "Nah begitu juga dengan hubungan." Nora menghela nafas dalam-dalam, "LALU BAGAIMANA CARANYA?" Seul Ji tersenyum, "katakan batasan mana yang kau tidak suka," Seul Ji menunjuk d**a Nora dengan telunjuknya, "Jangan menyimpannya disini sendirian. Kau hanya akan sakit sendirian, bodoh!" Nora menghempaskan tangan Seul Ji dan ia pun bangkit dari kursinya. Ia memilih ke toilet, jika tidak. Mungkin ia akan menangis. Nora benci hal ini walau ia tahu Benjamin dan perempuan itu hanya bersahabat. Nora tak ingin yang ia miliki kali ini diambil lagi. Nora akan menjaga Benjamin, melakukan apapun yang ia bisa untuk melindungi permatanya kali ini. Nora tersenyum pada pantulan dirinya, Nora membuka kuncirannya dan mengagumi dirinya sendiri. Alexander benar, tak ada yang sama dengannya dan Benjamin harus tahu hal itu. ------------------------------------------------------------------------------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD