Hari ini adalah hari rapat yang akan membicarakan mengenai beberapa hal yang terjadi di Kampus. Semua dosen dan staff berkumpul untuk membahas semua persoalan satu persatu sejak pagi. Cukup melelahkan namun mereka disuguhi oleh makanan dan cemilan yang beraneka ragam walau itu tak mengibur Nora Clark yang sudah hampir mati karena bosan.
Ditambah Nora masih memikirkan pemandangan yang ia lihat dua hari yang lalu. Nora paham walau mereka memiliki hubungan tapi masih ada privasi diantara dirinya dan Benjamin. Nora tak ingin melampau terlalu jauh walau dirinya sangat amat terganggu dengan teman perempuan Benjamin.
Apalagi mengingat Benjamin pernah mengaku bahwa perempuan itu mencintainya. Nora menggigit ujung bolpoinnya saat sikunya disenggol pelan oleh Coach Seul Ji.
Perempuan bermata elang itu memberikan signal bahwa Nora harus kembali pada kesadarannya. Nora melihat kemana Seul Ji memberikan isyarat dan tepat saat itu Nora seperti terpental dari kenyataan.
Aura yang gelap yang hanya bisa dirasakan y/n pun menguap diudara saat tatapan matanya beradu dengan mata biru musim dingin milik Alexander.
Diakah orangnya yang selama ini selalu dipuja-puja di seni Tari sebagai donatur tetap kampus ini. Walau Nora sudah bertahun-tahun menjalin kasih memang Alexander selalu menutup rapat apapun urusan mengenai perusahaan keluarganya.
Nora tak percaya karena Alexander tidak pernah memberitahunya yang notabenenya adalah penari. Alexander bahkan sempat membicarakan bahwa ia lebih memilih minat yang lain. Alex tidak pernah ada keinginan untuk membantu Nora walau Nora juga tak pernah berharap.
Lelaki itu berdiri dengan gagah, memberi salam pada beberapa petinggi kampus. Nora tentu duduk cukup jauh dari jangkauannya. Disini posisinya hanya seperti keset, tak ada yang peduli karena ia hanya seorang pelatih yang dibayar.
Seul Ji kembali menyenggol lengan Nora, membuatnya kembali tersadar dan memutuskan pandangannya.
"Wowww aku tidak menyangka bahwa donatur kita selama ini sangat tampan. Mereka tak pernah bersedia ikut gabung dalam rapat apapun!" Seul Ji itu seperti mesin informasi tanpa harus digali, Nora saja jarang bertanya tapi ia selalu memberitahu.
Tentu ekspresi wajah yang dihasilkan Seul Ji 180 derajat berbeda dengan yang dihasilkan Nora sekarang. Rasanya oksigen disekitarnya menurun bagi Nora. Ia tercekat dengan paniknya sendiri namun Nora tak bisa melakukan apa-apa. Tidak dihadapan semua orang. Ia tak ingin karirnya hancur disini hanya karena lelaki gila yang sekarang duduk dengan sombong di samping Ketua Dekan yang begitu bangga mempernenalkannya.
Seul Ji menyadari bahwa wajah Nora terlihat begitu pucat sekarang, "Apa kau baik-baik saja?" ia meraih botol air mineral dan memberikannya pada Nora yang langsung menenggaknya.
Setelah selesai dengan pembicaraan mengenai agenda dan juga seberapa banyak yang akan diberikan oleh Alexander. Di club tari, mereka memiliki lima team. Kelima team ini, termasuk team Seul Ji dan Nora, akan bersaing untuk mendapatkan sponsor itu karena bilangannya yang sangat besar. Bahkan mereka dipersilahkan untuk membuat pertunjukan sendiri. Siapa yang tak tergiur.
Seul Ji mulai menentukan strategi namun sedari tadi Nora hanya diam saja. Ia tak habis fikir dengan alasan Alexander yang bersedia mendukung hal ini. Nora memainkan buku jarinya dibawah meja.
Menonton Nora pentas saja ia tak pernah dengan seribu satu alasan. Lalu sekarang, dengan kedermawanan yang menjijikan ia akan menjadi sponsor utama selama satu tahun.
"Coach...", akhirnya suara Seul Ji memecahkan lamunan Nora, "ada apa denganmu? Kau bilang baik-baik saja, tapi kurasa tak begitu!", protesnya yang sudah hampir berbusa bicara tapi tak ada respon.
Nora menghela nafasnya, sedikit merasa bersalah, "maaf ... aku harus ke toilet".
Rapat pun selesai, semua orang saling berjabat tangan, merapihkan berkas-berkas dan membubarkan diri termasuk Nora dan Seul Ji yang masih akan rapat dengan pelatih yang lain.
Saat diperjalanan ia bertemu dengan Ketua Konsentrasi Tari dan juga Alexander yang sepertinya sedang berkeliling kampus. Mau tak mau Nora harus menyapa sang Ketua Konsentrasi dengan sopan. Seorang lelaki paruh baya bernama Dominique yang langsung riang membalas sapaan Nora.
"Perkenalkan ini adalah salah satu pelatih terbaik kami, belum ada enam bulan anak didiknya sudah mendapatkan posisi yang hebat", ucap Dominieque memperkenalkan Nora pada Alexander.
"Sudah lama tak berjumpa Miss Clark", ucap Alexander membuat Dominique dan Nora terkejut, "kami teman semasa kuliah, bukan begitu Miss?".
Nora mengangguk pelan dan Dominique merasa begitu antusias. Nora tidak tahu mengapa Alexander selalu berkata demikian. Dahulu saja Alexander selalu menyembunyikannya. Ia bahkan membuang muka jika bertemu dengan Nora saat dia dengan rekan bisnisnya.
"Tuan Dominique, bisakah saya melakukan tour dengan Miss Nora sebagai reuni personal," pinta Alex tanpa memperhatikan wajah Nora yang sama sekali tak setuju dengan permintaan tersebut.
Nora kembali membulatkan matanya, berharap pria tua ini menggelengkan kepalanya namun tak ada jalan lain selain mengiyakan karena Dominique begitu bahagia sekarang dan ia pun pamit keruangannya.
Alexander membuka jalan agar Nora jalan lebih dulu. Senyumannya membuat Nora merasa takut sekarang. Ia berusaha menjaga jarak dari pria bertubuh tinggi dan tegap dengan setelan jas mahal yang selalu ia gunakan. Aromanya masih sama maskulinnya seperti dulu dan auranya lebih menyeramkan walaupun sedaritadi ia tersenyum dengan beberapa orang yang menyapanya.
Nora tak kuasa lagi, ia menarik tangan Alex dan menggiringnya ke sebuah ruangan yang kosong.
"Apa maumu?", tanya Nora dengan nada menusuk. Ia menaruh tangannya dipinggang.
"Bukan basa-basi yang bagus Miss Nora".
"Alexander! Sudah cukup bermain denganku. Apa maumu?".
Alex merapihkan jasnya, langkahnya menakutkan dengan sorot mata tajam yang menatap Nora begitu dalam. Ia menghapus jarak dan berdiri tepat didepan Nora.
"Kau yang sudah cukup bermain dengan anak kecil itu. Membuatku malu saat seseorang memberikanku ancaman!".
Mata Nora membulat, ia tidak mengerti maksud Alex sekarang.
"Hei ... tidak ada yang tahu bahwa kita pernah berhubungan jadi untuk apa kau mencampuri kehidupanku sekarang?"
"Kufikir demikian, tapi nyatanya tidak. Jadi aku ingin kau menjauhinya sebelum semuanya hancur berantakan termasuk karirmu."
Tidak bisa dipungkiri bahwa Nora takut sekarang. Ia bisa kehilangan semuanya dengan satu jentikan jari milik Alex. Tapi ia tidak bisa kehilangan Benjamin. Lelaki itu yang membuat Nora tersenyum dan melambung bahagia dengan cara sederhana.
"Jangan bilang, kau juga yang mengusir Jamin dari tempat tinggalnya?!"
Alexander tertawa dengan nada menyeramkan, ia terasa seperti orang psikopat daripada seorang dermawan yang mensponsori biaya club mereka. Topeng yang Alexander gunakan sangat sempurna.
"Kau mengenalku dengan baik", Alex menjatuhkan tangannya pada wajah Nora, mengusap wanita yang selalu membuatnya menggila. Alex sangat rindu setiap desah nafas Nora dibawah permainannya. Bagaimana Nora akan mengeluarkan airmata dan meminta ampun, Alexander ingin merasakan itu lagi sekarang.
Nora langsung melempar tangan Alex, ia benci tangan sial itu menyentuhnya lagi. Membawa ingatan kerendahan diri Nora saat masih bersamanya.
Alex langsung mencengkram lengan Nora dengan keras, membuat perempuannya gemetar sekarang, "kau bisa menolakku sekarang tapi tidak nanti my baby," bisiknya di telinga Nora dan ia mengecupnya.
Lalu ia meninggalkan Nora yang langsung terjatuh. Nora begitu ketakutan sekarang. Ia tidak bisa melanjutkan semuanya hari ini. Ia tahu bagaimana temperamen Alex dan kekuasaannya di kota ini. Melawannya sama saja bunuh diri apalagi Nora bukan siapa-siapa. Ia hanya pelatih bayaran. Air matanya mengalir memikirkan kemungkinan yang akan menghampirinya.
Rasa takut menyelimutinya dengan erat.
.
.
Jamin baru saja pulang. Keadaan apartemen Nora sangat gelap. Ia mencari stop kontak dan lampu mulai menerangi ruangan namun Jamin terperanjat saat ia mendapati Nora sedang menekuk lututnya dan membenamkan kepalanya disana.
Jamin melepas tasnya dan duduk disamping Nora. Ia sangat khawatir sekarang namun perempuan itu menjauhi Jamin dan saat mengangkat kepalanya, ia begitu pucat dan matanya memerah. Benjamin tahu bahwa ia pasti habis menangis.
"Honey, ada apa denganmu?"
"Bukankah aku yang harusnya bertanya, jadi itu semua alasanmu selalu menghabiskan waktu diluar? Agar bisa menghabiskan waktu dengan wanita itu?"
Pertanyaan Nora mengejutkan Jamin sekarang. Mungkinkan wanita didepannya memikirkan hal-hal yang selama ini Benjamin fikir bahwa Nora baik-baik saja.
"Honey, sayang ... semuanya tidak seperti yang kau fikir dan aku tidak ..."
"Cukup Benjamin! Aku muak dengan caramu yang tak bisa membedakan dirimu didepan wanita yang bisa saja memeluk dan menciummu, dan apa yang akan kau lakukan? Tersenyum manis dan berkata terima kasih? Hahaha f**k for that s**t".
Ini pertama kalinya Jamin mendengar ucapan kasar dari bibir manis Nora. Itu berarti wanita itu sangat kecewa dan Jamin tak mau membuatnya sakit padahal Jamin memang tak pernah ada fikiran untuk mengkhianatinya.
"Honey ... maaf tapi aku tak akan bersikap seperti itu. Aku hanya mencintaimu sayang, aku minta maaf", Jamin berusaha memeluk Nora.
"Aku tidak mau lagi melihatmu mengumbar bahkan satu garis senyummu, kau tahu? Karena itu aku mencintaimu, karena dirimu begitu sederhana, karena dirimu begitu indah jadi kumohon ... aku lelah mengatasinya sendirian."
Benjamin menatapnya, "sendirian? Apa maksudmu?".
"Kau fikir perempuan mana yang diam saja melihat perempuan bermesraan dengan kekasihnya sendiri? Dan apa ini?", Nora menarik tangan Jamin, "kau senang seseorang menservicemu dengan barang murahan begini? Hahaha aku bisa membelikan yang jauh lebih baik dari ini. Maaf karena aku tak punya inisiatif tinggi. Nikmatilah semua yang mereka berikan untukmu!"
Ucapan Nora benar-benar membuat Jamin hanya bisa diam, menatap nanar Nora. Namun yang Jamin tahu, ia tak ingin kehilangan kekasihnya. Walaupun ucapannya menyakitinya. Jamin langsung menarik Nora yang sedang berjalan kekamar. Ia memeluknya dari belakang.
"Aku minta maaf ... aku tidak akan mengulanginya, kumohon. Jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa tanpamu", suaranya begitu putus asa. Tak pernah Jamin berfikir bahwa ia akan menggantungkan harapannya pada seseorang seperti ini.
"Aku akan pindah ... jika kau ingin bersamaku, kau harus ikut."
Jamin melonggarkan pelukannya, "pindah? Apa maksudmu?".
"Aku dapat tawaran hebat di Korea Selatan dari salah satu kenalanku, jika memang kau benar-benar mencintaiku. Kita akan pindah bersama dan aku akan mengurusmu untuk pindah kuliah dan juga masuk dalam sebuah agensi. Setelah kau lulus disana, kita akan kembali lagi kesini dan kau akan masuk ke Elizabeth Agensi. Tapi jika kau tidak mencintaiku, tetaplah disini, akan kuberikan apartemen ini untukmu tapi aku tidak bisa bersamamu lagi."
Rasanya Jamin jatuh kedalam sebuah lubang gelap saat kalimat itu keluar dari mulut Nora dengan mantap. Ia tak bisa menerimanya dengan baik. Korea Selatan? Ia akan mati jika menghirup udara disana. Ia begitu membenci semuanya yang berada disana.
.
.
Setelah pertengkaran malam itu. Nora semakin menjauhi Jamin. Ia ingin memberikan Jamin waktu sendiri untuk berfikir. Jamin begitu bimbang sekarang. Bagaimana mungkin ia mengikuti Nora sedangkan ia bersusah payah untuk pindah dari negara menyakitkan itu.
Begitu banyak hal buruk yang Jamin rasakan disana. Ia benci itu, bahkan setiap mimpi buruk itu selalu mengenai dirinya yang masih tinggal di Korea Selatan. Walaupun Jamin akui, sejak ia bersama Nora. Mimpi buruk itu tak pernah muncul.
Jamin duduk dikursi saat Nora baru bangun.
"Tumben kau belum berangkat," ucap Nora berusaha merapihkan rambut berantakannya.
"Untuk menjaga hati seseorang," gumam Jamin. Ia tidak pernah datang pagi karena untuk bertemu Hals itu hanya kebiasaannya. Jamin selalu menyukai udara pagi di Kampus. Berbeda dengan udara pagi di Korea yang membuatnya takut untuk memulai hari.
Nora tetap melakukan rutinitas tanpa mempedulikan Jamin yang terlihat murung. Nora memotongkan apel untuk Jamin dan memberikannya dengan s**u dingin yang ia tuang dari kulkas.
Jamin menahan pergelangan tangan Nora dan membuatnya duduk dipangkuannya.
"Jangan jauhi aku lagi honey ... aku sangat rindu denganmu", ucapnya merengek. Ia menciumi leher Nora dengan candu. Jamin tidak bisa diperlakukan begini lagi jika memang Nora akan pindah.
"Aku harus terbiasa tanpamu Min-ah".
"Berapa kali kubilang hm? Panggil aku honey, apa kau tidak mencintaiku?".
Nora menghela nafasnya dalam-dalam, Jamin benar-benar membuatnya lumpuh jika sudah clingy seperti ini. Ia seperti anak anjing yang tersesat dan membutuhkan afeksi lebih.
"Lalu apa maumu?", tanya Nora masih tetap tidak berani menghadapi wajah Jamin yang bisa terukur bagaimana tampan dan manisnya Jamin dengan kemeja biru yang kancingnya dilepas dua. Memamerkan leher dan tulang selangkanya yang menggoda.
"Kau ... aku mau dirimu honey, aku sangat rindu dan kufikir kita harus menggunakan waktu dengan baik sebelum ... kau pergi."
Y/n terhenyak dipangkuan Jamin, "jadi kurasa itu sebagai jawaban tidak darimu?"
"Aku akan menunggumu disini", Jamin mendempetkan dirinya dengan Nora, tangannya menguatkan pelukannya dipinggang Nora.
Nora memberanikan dirinya yang kecewa menatap Jamin. Kekasihnya yang lugu namun menawan. Ia akan kehilangan kepolosan Benjamin namun tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. Alex begitu mengancam, ia tak mau hidupnya atau hidup Jamin berantakan ditangan lelaki berhati seperti iblis itu namun memberitahu Jamin juga tak ada gunanya.
Senyum putus asa menghiasi wajah Nora yang mulai menunjukan kesedihan. Ia menyesali pertemuan mereka sekarang. Seharusnya ia memilih ke Korea Selatan sejak dulu untuk menghindari Alex daripada bertemu dengan Benjamin.
Jamin menangkup wajah y/n, "honey ssshhh jangan menangis kumohon."
Nora tak mungkin tak menangis sekarang apalagi setelah suara lembut Jamin kembali keluar. Namun bibir Jamin sekarang mulai mengganggu fokusnya. Ia mencium Nora dengan pelan dan pasti. Tangannya mengeratkan paha Nora diatas pangkuannya. Ia memijit pelan b****g Nora dan menghasilkan desah pada suaranya yang haus akan Nora.
"Ini masih pagi", kata Nora disela ciuman Jamin.
"Apa itu masalah? Aku akan bercinta denganmu kapanpun mulai sekarang sampai kau pergi. Aku tidak bisa melepasmu dengan mudah Coach."
Jamin menelusuri tubuh Nora sekarang. Menghasilkan sensasi nikmat saat jemarinya mulai bermain pada dadanya. Nora tak bisa mengelak lagi. Letupan didadanya mulai berisik dan ia menyetujui keinginan Jamin pagi ini.
Ia langsung menyerang leher Jamin yang sedari tadi menggodanya. Nora menghisap dan menggigit kecil, menghasilkan kissmark pada leher Jamin. Lelaki itu tak peduli. Ia mengangkat Nora dan membawanya kedalam kamar mereka.
Pergumulan pagi yang begitu panas membuka hari mereka. Keputusasaan mengenai perpisahan menjadi energi tak terbendung saat penyatuan mereka lakukan. Seperti tak ada hari esok. Jamin dan Nora menghabiskan hari itu dengan bercinta. Mereka tak datang kekampus.
Untuk pertama kalinya Jamin tak berniat untuk latihan.
"Kau milikku honey", ucapnya sembari tiduran bersama Nora diatas sofa, mereka menonton netflix walaupun sebenarnya terbalik. Jamin mengecup pundak Nora. Mereka hanya terbalut selimut seharian ini.
Jamin mengusap semua inci tubuh Nora yang sudah ia cicipi hari ini tanpa ampun. Nora begitu sempurna baginya, ia tak bisa menghentikan dirinya. Senyum wanita itu begitu memabukkan.
"Jadi inikah yang kau maksud? Bercinta kapanpun? Kuharap besok akan kembali normal ya", kata Nora lalu ia memeluk Jamin dengan erat. Menerima ciuman dikeningnya begitu dalam.
"Aku juga mencintaimu Benjamin".
.
.
Nora sedang menyilangkan kakinya diatas kursi menatap balkon dari kamar tidurnya. Langit musim dingin itu terlihat begitu sangat gelap seperti perasaannya sekarang. Apartemen yang baru saja menemani hidupnya harus ia tinggalkan.
Benjamin menyampirkan selimut diatas pundaknya. Ia takut Nora masuk angin karena ia sudah cukup lama hanya ingin duduk disini. Jamin menaruh dagunya dan memeluk Nora dari belakang, "apakah kau ingin keluar?"
Nora tersenyum pahit, "keluar? aku bukan seperti teman perempuanmu yang bisa melakukan itu."
Benjamin menghela nafasnya lagi, "kau masih membahas masalah Hals?"
Hals tersenyum sengit, "lupakan saja."
Benjamin mengecup pipi Nora, "aku akan menunggu sampai kau mau? mungkin ini bisa menjadi kencan pertamaku dengan kekasih pertamaku."
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Hal yang wajar jika seseorang tidak mau menghampiri rasa traumanya? Itu sama saja bunuh diri dan Benjamin tidak ingin menyelesaikan hidupnya walau karena Cinta.
Apakah kalian setuju?
Jangan lupa dukungannya :)
- CHI