Long Distance Relationship? Or Long Distance Relationshit?
.
Jamin mengusap wajahnya setelah membaca salah satu buku random yang ia ambil dari rak perpustakaan. Buku yang menceritakan kisah cinta recehan namun tetap membuat Benjamin gugup.
Tidak biasanya Jamin mau membuka buku romance remaja dengan latar belakang modern seperti itu. Itu bukan seleranya namun setelah mendengar Bella menceritakan spoiler dengan menggebu-gebu di group chat mereka, Jamin jadi penasaran.
Fikirannya melayang mengenai Nora yang akan terbang jauh darinya. Mereka akan terpisah jarak dan juga waktu dengan perbedaan jam yang begitu jauh. Namun menyerah akan semua yang ada disini walaupun tawaran Nora yang menggiurkan tetap saja membuat Jamin tak bisa mengambil keputusan untuk menyetujuinya.
Malam ini Nora mengajaknya untuk makan di Kedai Mie sejak beberapa lama mereka tak pernah menghabiskan waktu dengan intens walau mereka tetap bercinta namun rasanya Nora sedang menarik diri padanya dan tetap sibuk walau sekarang masih dalam suasana liburan. Jamin meninggalkan perpustakaan yang juga akan tutup sebentar lagi.
Saat ia keluar dari sana, seseorang menghalau langkahnya. Orang itu lebih tinggi dari Benjamin dengan perawakan barat yang kental. Ia tersenyum sembari mengulurkan tangannya.
"Alexander. Dan kau benar Benjamin?".
Nama yang tidak asing dan begitu pun dengan wajahnya.
Holy s**t.
"Untuk apa kau bertemu denganku?", Jamin masih ingat lelaki sial yang ia pukul malam dimana pertama kali ia bertemu dengan Nora. Walau wajah lelaki itu sekarang seratus persen sadar dan penampilannya tentu sangat berbeda.
Tipikal pria berdasi dengan fikiran picik namun tak akan ada yang menyadari fikiran itu bersarang dibalik topengnya.
"Untuk memberitahu satu dua hal untuk karir baletmu karena kau yang diusulkan oleh kampusmu sendiri. Apa kau keberatan jika kita minum kopi?".
Jamin mengirim pesan pada Nora bahwa ia akan telat mungkin setengah jam karena ada urusan penting. Ia pun mengikuti Alex ke kedai kopi yang tak jauh dari perpustakaan kampus. Mereka duduk bersebrangan dengan suasana dingin diantara mereka. Jamin tak suka bagaimana perawakan Alex mengingat ia memukul wanitanya walau pada saat itu mereja belum kenal.
"Jadi Benjamin ... kau bisa memulai menjadi trainee disalah satu agensi yang perusahaanku sponsori".
Alex tersenyum melihat mata Jamin membulat mendengar tawarannya, "kau memiliki talenta yang sangat disayangkan jika tak digunakan dengan baik. Kau tahu Oie dance group? Kau akan menjadi trainee disana jika kau mematuhi beberapa peraturan tentunya".
Jamin tahu betul bagaimana reputasi dance group yang disebut Alexander itu. Ia pun memiliki target setelah lulus akan melamar disana dengan mengikuti audisi. Namun ia tak percaya bahwa kesempatan besar itu berada didepan matanya dan diberikan oleh yang ia benci.
"Peraturan apa?".
"Kau tidak boleh berhubungan dengan pasanganmu selama kontrak itu mengikatmu!", Alex berbicara dengan sungguh-sungguh dan ia menyerahkan sebuah map, hal itu mengundang tawa sinis Jamin yang tentu tahu maksud dari kontrak ini.
"Lalu kau akan mengikat Nora Clark dengan dirimu jika aku melepaskannya demi ini semua, benarkan?"
Alexander mengambil cangkir kopi dengan tangan kanannya, ia terlihat relaks karena ternyata Benjamin jauh lebih pintar daripada dugaannya yang berfikir bahwa Benjamin hanyalah seekor tikus jalan.
"Masa depanmu sangat cemerlang Ben, aku tahu itu."
Benjamin mengepalkan tangannya, merasa begitu malu karena seseorang yang menjadi bagian masa lalu orang yang ia cinta kini menerka kehidupannya.
"Selain balet, kau juga pasti tertarik dengan pembacaan masa depan."
"Kau akan menyesal melepaskan kesempatan emas hanya untuk hypersex woman sepertinya. Kau akan lelah setelah tahu bagaimana gilanya Clark diranjang".
Benjamin tahu bahwa tak seharusnya ia mendengarkan semua omong kosong Alexander.
"Hanya aku yang bisa mengontrol dirinya dibawah lututku, membuatnya memohon untuk berada dipuncak kenikmatannya. Kau? kau hanya mainan untuk wanita sepertinya."
"Berhentilah menghina wanita seperti kau menghina ibumu sendiri!", Jamin pun pergi dan berlari menuju Nora yang sekarang pasti sudah menunggu di Kedai Mie.
Ia tak bisa melakukan apapun, hatinya hancur selama ia melangkah untuk menemui Nora. Apakah Nora membohongi dirinya selama ini? Apakah hubungan yang mereka jalani tak berarti bagi Nora? Pertanyaan demi pertanyaan menyesakkan d**a Benjamin.
Namun semuanya runtuh saat Benjamin melihat Nora yang sedang duduk menunggunya. Rambut panjang yang ia gelung ke atas, tengkukunya dan bagaimana cara duduk perempuan itu yang Jamin sadari akan membungkuk ketika tidak ada yang memperhatikannya.
Apakah pundak itu terlalu berat?
Bagaimanapun Nora tak pantas mendapatkan perlakuan hina dari manusia menjijikan seperti Alex. Terlepas dari apapun yang terjadi. Benjamin merasakan ada sesuatu dari wanita itu yang bisa percaya.
Nora menoleh dan melambaikan tangan pada Jamin, memberitahu ia duduk dimana. Langkah Jamin begitu pasti. Setelah ia menaruh tasnya. Ia duduk begitu dekat dengan Nora dan mencium bibirnya. Lumatannya begitu memabukkan Nora yang terkejut.
Jamin mengejutkan Nora sekarang. Ia tak pernah melakukan hal ini didepan umur. Bukan hal aneh sebenarnya namun Jamin hanya Jamin. Tak suka bermesraan didepan umum namun sekarang ia begitu pasti mencium Nora. Setelah selesai meluapkan perasaannya, Jamin mengecup ujung hidung Nora dan tersenyum.
"Aku sangat lapar honey," gumamnya mengundang kekehan Nora dan mereka pun makan malam dengan memesan budae jiggae porsi besar.
Perbincangan cukup bergulir dengan baik kali ini. Nora sedikit tersadarkan bahwa seharusnya ia menghargai keputusan apapun yang dibuat oleh Benjamin.
Nora memberikan sebuah foto di layar handphonenya, "apakah kau mau membuat tattoo berpasangan? aku tidak ingin kehilanganmu Min-ah."
Jamin termangu, Nora terlihat begitu tulus. Jauh dari perkataan Alexander mengenainya. Sebenarnya apa yang Nora tutupi darinya dan bagaimana Benjamin menggali kuburnya agar Nora bisa bernafas lega.
.
.
Keduanya berada di bis terakhir malam ini. Nora mendaratkan kepalanya dipundak Jamin yang masih berfikir keras mengenai Alex. Bersama Alex pasti Nora duduk didalam mobil mewah. Saling memegang tangan dan mendengarkan musik dengan damai. Bukan seperti ini, duduk didalam bus. Berjalan kaki ditengah hawa dingin yang tak pernah berhenti.
"Apa kita sudah sampai?", tanya Nora, ia meregangkan tubuhnya dan melihat keluar jendela. Halte mereka sebentar lagi sampai.
"Honey."
Nora menatap kekasihnya yang kini memandangnya dengan sungguh-sungguh.
"Kapan kau akan membeli tiket pesawat?"
Nora mengingatnya, "tiga hari lagi. Aku sudah mengurus semuanya dikampus dan kampus membantuku mengurusnya dengan kantor Imigrasi. Kenapa? Kau mulai kembali ragu denganku?"
Setiap hari Jamin selalu mempertanyakan perasaan Nora. Ia tak pernah berhenti setiap menatap wajah Nora. Tak rela membiarkan Nora pergi namun yang membuat Nora kesal. Ia pun tak bisa ikut. Jadi untuk apa selalu mempertanyakannya.
"Belikan untukku dan mulai besok tolong urus kepindahanku juga."
Suara bell bis menandakan akan berhenti dihalte terdengar. Jamin berdiri dan pergi lebih dulu, meninggalkan Nora yang masih terdiam. Ia masih melumat ucapan Jamin barusan.
"Honey ... ayo turun."
.
.
Nora baru selesai mandi. Ia benar-benar masih bingung, kenapa Jamin memutar keputusannya dengan mudah. Ia menghampiri sang kekasih yang sedang melakukan peregangan tubuh sebelum tidur. Nora menyilakan kakinya dan menatap Jamin dengan lekat.
"Ada apa? Hm?", tanya Jamin sembari menaikkan kakinya ke atas, ia memang sangat lentur. Ia bisa melakukan apapun dengan tubuhnya.
"Kau tidak gila atau melakukan prank padakukan?".
Jamin bergumam, "kalau gila sih ya sedikit, namun prank. Itu bukan gayaku. Kau tahu itu."
"Lalu apa kau yakin untuk ikut denganku? Oh yeah ... tawaranku sangat menggiurkan bukan? Masuk Elizabeth Agency haha tentu kau akan mengikutiku."
Suara Nora terdengar kecewa dan itu bukan hal yang Jamin harapkan. Ia menghentikan gerakannya dan mematikan musik instrumental dari handphonenya. Suasana jadi sunyi.
Jamin membawa Nora duduk dipangkuannya dengan mengangkat pinggangnya, "Apa aku terlihat menjual diri padamu untuk masa depanku? Begitukah aku dimatamu?".
Nora gugup dengan telusuran mata Jamin yang seakan melihat kedalam jiwanya. Nora menggelengkan kepalanya. Ia hanya takut bahwa ekspektasinya ternyata membunuhnya nantinya.
"Aku hanya tak percaya semuanya bisa terjadi ... kau akan mengikutiku dan melepas semuanya disini."
Jamin mengusap pinggang Nora, wanita didepannya selalu membuatnya tergiur entah pada saat apapun. Apalagi
melihat Nora gugup seperti ini. Nora sangat menggemaskan.
"Aku tidak akan memgambil apapun disini tanpamu honey ... aku mencintaimu dan dimanapun tempatnya, semua akan sangat indah jika ada dirimu disana", Jamin mengecup dagu Nora, "jadi jangan ragu lagi ... kita akan bersama seperti yang kau mau. Apa kau senang?"
Linangan air mata membendung dipelupuk mata Nora, ia memeluk Jamin dengan erat. Merasa begitu bersyukur atas semua yang Jamin lakukan untuknya. Mencintainya dan sekarang mengikutinya.
"Aku tidak akan membiarkan Alex merusakmu jika aku tak berada disisimu", bisik Jamin dan Nora langsung menatapnya.
"Apa maksudmu? Kenapa kau sebut Alex?".
Jamin menceritakan tentang semuanya di cafe dan itu membuat Nora semakin membenci Alex berkali-kali lipat. Bagaimana ada orang sejahat itu. Ia merusak semuanya dan sekarang tak rela melihat Nora bahagia bersama Jamin. Alex sakit dengan caranya memperlakukan orang disekitarnya.
Melihat Nora gugup dan gelisah, Jamin kembali merengkuh tubuhnya. Ia akan menjadi tempat teraman untuk hidup Nora. Tak peduli apapun alasannya. Jamin akan terus bersama Nora walau itu berarti ia akan mengorek luka lamanya. Ia tak tahu bagaimana nantinya rasa sakit itu menghajarnya namun ia tak bisa melihat Nora pergi dengan beban itu sendirian.
Pergi ke Korea Selatan seperti mengambil belati dari dalam lemari yang sudah Benjamin kunci. Suatu waktu mungkin belati itu akan menancapnya tapi Benjamin rela. Ia rela bunuh diri untuk hal yang lebih ingin ia perjuangkan daripada dirinya sendiri.
Cinta memang membahayakan, sekuat apapun Benjamin ingin mengelak tapi benar kata orang-orang. Walau kau atlet lari, kau tak akan bisa lari tembakan cinta. Sekalipun kau atlet angkat besi, kau pun akan tumbang ketika cinta membekukan ototmu dengan berat dan bebannya. Walau kau atlet renang, kau pun bisa tenggelam dalam samudera cinta. Namun saat semuanya berjalan, siapapun akan menikmati untuk mengarunginya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Malam minggu ini Benjamin meminta izin pada Nora untuk berkumpul bersama sahabat-sahabatnya distudio dimana Hals sedang berlatih. Didekat studionya ada restaurant china yang lezat dan Benjamin ingin mentraktir mereka bertiga.
Nora mengantar Benjamin yang sedang memakai sepatunya, Nora memutuskan hanya akan beristirahat karena waktu mereka packing dan mengurus surat-surat cukup melelahkan.
Selesai mengikat tali sepatu, Jamin menghampiri Nora yang sedang menyandar dikonter dapur. Nora terkejut sedikit karena sedang asik melamun dan Jamin mengangkatnya agar duduk diatas konter.
Nora menggoyangkan kakinya dan menunduk, jujur, ia gugup. Nora menggigit bibir bawahnya.
"Semua akan baik-baik saja Honey."
Nora mengangkat wajahnya, perkataan Jamin yang sederhana seperti memiliki kekuatan magis yang kadang membuat Nora juga bingung kenapa ia mudah sekali tersihir. Padahal dulu ia sesulit itu mempercayai Alexander walau ia tetap menurut pada lelaki itu.
Memang rasa percaya itu diramu tanpa bisa dijelaskan dengan konkret. Hanya hati yang bisa meramalkan mantranya. Nora mencium bibir Benjamin, menandakan bahwa ia adalah miliknya. Jamin membalasnya lembut dan mereka berhenti.
"Istirahatlah, aku tidak akan pulang larut. Aku janji."
Nora mengangguk dan membiarkan Benjamin pergi dari hadapannya. Nora menghela nafas, sebentar lagi ia akan memiliki Benjamin dan semua yang lelaki itu pertaruhkan. Nora tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan yang lelaki itu lakukan untuknya.
.
.
Hals terkejut mendengar penuturan Benjamin padanya dan juga dengan Bella dan Jacob.
"Kau dengan pelatihmu?" Bella mengulang ucapan pengakuan Jamin. Ia menoleh pada Hals yang matanya sudah memerah sekarang.
"Dan aku akan pindah ke Korea Selatan, ia telah mengurus semuanya mengenai perpindahan kami".
Hals semakin terperosok sekarang, butuh waktu baginya menerima bahwa Jamin menolaknya dan sekarang melepas Jamin kepelukan serta pindah bersama wanita lain.
"Kau bercanda Min-ah ... kau bilang denganku semua cita-citamu disini dan kau akan pergi dengan wanita yang bahkan baru kau kenal beberapa bulan", Hals akhirnya membuka suara dengan nada begitu menyalahkan Jamin dan tak percaya dengan yang ia dengar.
Jamin tersenyum, sekali lagi ia menyakiti Hals tapi benar apa yang dikatakan Hals. Semuanya sangat lucu jika difikirkan. Tangannya meraih tangan Hals dan menggenggamnya.
"Hals ... terima kasih atas segalanya. Aku sangat bahagia bisa bersamamu sebagai teman, maaf karena aku membuatmu sakit dan kuharap setelah aku pergi ... kau bisa menemukan seseorang yang mencintaimu juga. Jangan biarkan dirimu jatuh untuk orang sepertiku".
Air mata Hals jatuh dan Jamin meraih pundaknya. Bella dan Jacob hanya bisa diam melihat adegan didepan mereka. Hals menangis dipundak Jamin. Ia begitu sedih sekarang. Penolakan Jamin begitu sempurna meremukkan hatinya.
Bahkan lelaki itu tak akan menonton pertunjukan yang telah Hals siapkan. Lagunya sudah sangat sempurna. Semua begitu gagal.
Tapi itulah Benjamin, sejujurnya. Ia tak pernah peduli dengan perasaan orang lain. Namun berbeda jika itu Nora Clark.
Ia akan melakukan apapun untuknya.
I am so sorry Hals
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Sangat disayangkan bahwa pelatih berbakat seperti Nora Clark memutuskan untuk mengundurkan diri. Namun Nora meminta kepergiannya dirahasiakan karena alasan pribadi. Nora tidak ingin bahwa Alexander mengetahuinya. Beruntung instansi di negara ini cukup bisa dipercaya untuk menjaga kerahasiaan para warga negaranya. Jika mereka melanggar, siapapun bisa menuntut.
Seul Ji yang akhirnya mengetahui kabar itu menunjukkan ekspresi sedih. Nora hanya tersenyum saat sedang merapihkan barang-barangnya dibantu oleh Seul Ji.
"Walau kita belum berteman baik tapi aku sangat mengagumimu Coach." ujar Seul Ji memasukkan sticky notes yang selalu Nora buat dan tempelkan disudutsudut mejanya sebagai pengingat. Ia memang orang yang sangat teliti. Tak ada satu info yang ia lewatkan dan Seul Ji mengagumi hal tersebut.
Nora mengulurkan tangannya, dalam hati ia meminta maaf karena tak membiarkan Seul Ji masuk sebagai lebih dari teman. Nora begitu takut akan hal itu jadi yang hanya bisa ia lakukan adalah berbuat sesuai dengan kewajibannya saja. Tidak ada alasannya ia harus memperlakukan Seul Ji jahat namun tak ada alasan juga baginya untuk menjalin hubungan pertemanan karena mereka hanya partner kerja.
Seul Ji memeluk Nora membuatnya sedikit terkejut, "aku harap Korea bisa membantumu untuk berbahagia. Jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri, kau sudah pantas untuk merasakan hal itu. Kudoakan hubungan kalian berhasil."
Nora melepas pelukan Seul Ji, "hubungan siapa?"
Seul Ji terkikik, "kau fikir aku bodoh haha maaf tapi aku tak semudah itu dikelabui hahaha."
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apakah ini keputusan yang tepat untuk Benjamin mengikuti jejak Nora Clark?
Antara cinta dan trauma, sulit.
CHI