"Ari." Langkah Ari terhenti saat Laras memanggilnya. Ia baru saja pulang dari rumah sakit dan sengaja pulang sebentar untuk mandi dan berganti pakaian sebelum ia kembali lagi ke rumah sakit. Ari menatap tajam wanita yang tadi memanggilnya. Namun ia tetap memutar tubuhnya menatap ibu kandung Cia itu. Laras berjalan tertatih ke arahnya, "Ba--bagaimana kabar Cia?" "Baik." Jawab Ari cepat. Namun bukan itu jawaban yang Laras mau. Ia tak puas dengan jawaban Ari. "A--apa ada yang bahaya?" "Tidak." "Ari, jawablah dengan serius." "Aku serius. Dia baik dan tak ada yang bahaya. Anda peduli?" Tanya Ari dengan nada meremehkan. "Jangan seperti itu Ari. Bagaimana pun dia itu anakku. Darah dagingku." Kalimat yang Laras ucapkan berhasil membuat perut Ari terasa geli. Bahkan sangat geli membuatnya la

