Tiga : Menjauh karena dia

1217 Words
Suara gemiricik air dari pancuran tradisional berbahan bambu yang menenangkan menjadi latar tempat mereka berada saat ini, sebuah rumah makan khas Sunda yang lumayan terkenal didaerah tak jauh dari kantor tempat Jasmine bekerja. Sementara Rhein memberikan pesanan makanan mereka kepada pelayan, Jasmine menatap ke sekeliling mereka dengan pandangan kagum. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali ia mengunjungi restoran untuk makan, beberapa hari sebelum ayahnya meninggal kalau ia tidak salah ingat. Setelah itu ia tidak pernah lagi makan di restoran. Tentu saja karena ia tidak mampu membayar menu sekali makan yang ia bisa manfaatkan buat beberapa hari.  " Aku laper banget..." Suara Rhein memecahkan lamunan Jasmine. Ia melirik pemuda itu yang kini sedang menatapnya dengan tampang lucu. " Kenapa nggak makan dari tadi? Kamu kan bisa telepon July, dan kalau tahu dia tidak ada di kantor, bisa makan sendiri kan? " Pemuda itu memajukan bibirnya satu senti sebelum bicara.  " Kamu kan tahu aku nggak suka makan sendirian. Lagian aku nggak tahu dimana July, hapenya nggak aktif. Ditelepon, di BBM nggak ada respon semua. "  Jasmine mengangguk kecil. Ia tahu sekali kebiasaan pemuda itu. Agak sedikit menyedihkan saat ia menyadari Rhein mengajaknya makan bersama hanya karena tidak ada July disampingnya. " Kamu tambah kurus ,Jas. Apa kamu makan dengan baik? Kamu tinggal dengan siapa sekarang?" Jasmine yang tadinya setengah tertunduk, menatap Rhein sambil tergagap. Pemuda itu pun balas menatapnya dengan penuh selidik, dan raut wajahnya tampak cemas. "Aku ngontrak kok, Rhein. Tinggal sendiri. Tempatnya satu kali naik angkot dari sini. " Jasmine merasa malu sekali menjawab pertanyaan ini. Entah kenapa, ia tidak tahu alasannya. Apakah terlihat kurus atau karena tinggal di kontrakkan, ia tidak bisa memutuskan. " Kamu tinggal sendiri?" Tanya Rhein Jasmine mengangguk lemah. " Nggak ada teman sekamar?" Tanyanya lagi.  " Nggak ada. Aku tinggal sendiri. " Jasmine tambah merasa kikuk menghadapi pertanyaan pemuda itu. ia juga merasa bahwa Rhein sedang menatapnya dari ujung kaki hingga kepala. Kembali Jasmine merasa minder. Ia hanya memakai seragam OGnya, yang ditutupi jaket rajutan tipis berwarna biru gelap. Sangat tidak sinkron dengan penampilan Rhein yang modis.  " Kamu nggak takut sendirian?" tanya Rhein. Jasmine menggeleng. Ia sudah lama kehilangan rasa takut. Dulu hal yang ia takutkan adalah hantu dan sebangsanya. Sejak ayahnya meninggal, hal yang paling ia harapkan adalah ayahnya kembali datang. Jasmine ingat sekali, saat ia diusir oleh ibunya, ia menghabiskan beberapa waktu mengunjungi makam ayahnya bahkan saat malam demi mengharapan kehadiran sang ayah, karena ia ingin sekali membuktikan perkataan orang-orang. Namun ayahnya tak kunjung datang. Ia tahu bahwa semua kisah tahayul dan penampakan itu tidak benar. Namun pada saat itu, kondisinya berada di titik terendah untuk bisa mempercayai siapapun sampai ia nekat memutuskan untuk mengakhiri hidupnya walau gagal. " Udah biasa, Rhein. Dikantor aku sering sendirian. OB sama OG kadang terakhir pulangnya. Kami kan harus beresin kantor. Kadang kalau nemenin pegawai yang lembur, jatuhnya lebih lama. Walo ada shift juga sih." Rhein terlihat cemas setelah mendengar jawaban Jasmine. Tapi nampaknya gadis itu tidak tampak peduli. " Aku nggak apa-apa, Rhein." katanya berusaha meyakinkan pemuda itu. Dalam hatinya, Rhein tahu Jasmine sama sekali tidak ingin dikasihani. Tapi melihat kondisi gadis itu saat ini, mau tak mau ia merasa terenyuh. Ia tahu gadis seperti apa yang ia hadapi sekarang. Hampir sebagian besar hidupnya mereka habiskan bersama. Maka detik itu juga Rhein memutuskan tidak akan menyinggung tentang keadaan Jasmine sekarang.  Tak lama, pesanan mereka datang. Saat pelayan menyajikan hidangan, mata Jasmine sedikit berbinar. Mau tak mau liurnya terbit tatkala melihat makanan yang jarang ia sentuh. Aroma yang menguar dari masing-masing menu membuat perutnya menari-nari. Namun, ia menahan diri agar tidak terlalu terlihat seperti orang kelaparan didepan Rhein. Sungguh memalukan kalau sampai pemuda itu tahu,pikirnya. Setelah para pelayan berlalu, Rhein segera menawarkan sebuah piring kepada Jasmine, dan mengambil satu buah untuk dirinya, setelah itu mengambil sendok nasi dan menyendokkan nasi ke piring Jasmine dengan semangat hingga membuat gadis itu tertegun sebelum ia kemudian menghentikan pemuda itu.  " Sudah, Rhein jangan banyak-banyak. Nanti nggak habis." Sadar, Rhein segera menghentikan kegiatannya sambil menatap Jasmine heran.  " Kamu kurus banget sih, aku jadi gak sadar mau ngasih nasi banyak-banyak. Ayo cepetan makan, nih ambil ikan bakarnya, gede banget ini. Sambelnya juga enak." Jasmine yang masih tampak syok dengan ulah Rhein, kemudian mengambil seiris kecil ikan yang langsung saja ditambah sepotong ikan berukuran besar oleh Rhein.  " Kamu tuh,ya. Coba deh cicip dulu. Nanti bakal ketagihan kayak aku." Mata Jasmine membulat mendngar ucapannya.  " Kamu sering makan disini?" Sambil mengunyah nasi yang baru saja ia masukkan ke dalam mulut, Rhein menjawab. " Baru kemaren sih, makan nasi bakar disini sama July. Tapi langsung ketagihan ". Tenggorokan Jasmine terasa tercekat saat nama July disebut. Tentu saja, Rhein pastilah mengajak July makan disini. Dirinya malah merasa konyol terlalu ge er mengharapkan hal yang lain. Sadar, Jas. Hari ini dia meminta kamu ikut karena July nggak ada disampingnya. Jasmine lalu menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya, yang entah kenapa jadi tidak bersemangat mengunyah. Namun demi kesopanan, dipaksanya juga kunyahan itu meluncur ketenggorokannya. *** Hari sudah lewat pukul delapan malam saat Jasmine menyalakan lampu kamar kontrakannya. Hari ini terasa panjang saat ia menyadari bahwa Rhein sebenarnya tidak mendekati dirinya dengan sengaja. Ketiadaan July menyebabkan ia tiba-tiba saja dibutuhkan dan sungguh bodoh dirinya berharap hal selain itu.  Ia masih ingat kelakuan Rhein yang sengaja memaksanya ikut pulang bersama dengan mobil sport mewahnya. Entah apa yang ada dipikiran pemuda itu, padahal Jasmine sudah dengan susah payah menolak. Ia memutuskan tidak ingin terlibat lebih jauh lagi. July pasti akan merasa kecewa saat tahu mereka kembali akrab. Lagipula saat ini Jasmine bukanlah siapa- siapa bagi Rhein. Semua yang telah terjadi di masa lalu tidak pernah berarti apa-apa lagi.  Benar. Sejak Rhein memilih July, dan Jasmine dengan sengaja menjauh, bukankah sudah jelas posisinya.  Jasmine menghela napasnya dengan berat. Ia sudah memutuskan tak akan lama larut dalam kesedihan tentang Rhein atau July lagi. Bukankah selama ini dirinya sudah berhasil hidup tanpa pemuda itu? Ia hanya perlu menutup matany dan mengenyahkan pikiran tentang Rhein. Kalau perlu selamanya.  ******* Satu minggu berlalu sejak kejadian itu, Jasmine kini mengatur shift kerjanya dengan hati-hati. Setiap waktu istirahat, dimana ia menyadari bahwa Rhein akan datang menjemput July, ia akan menghilang dari kantor. Bersyukur ada banyak staf perusahaan yang membutuhkan bantuannya di saat istirahat, maka ia selalu dengan sukarela mengajukan diri untuk membelikan titipan makan siang. Ia tahu, walaupun July bekerja diperusahaan ini, dia hampir tidak pernah berbaur dengan staf lain. Sekretaris direktur biasanya menghabiskan waktu di ruangan khusus yang terpisah dari staf. Maka July pun dipastikan tidak pernah ikut rombongan yang suka menitip makan siang kepada OB atau OG.  Sejak Rhein kembali, maka mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Sehingga sudah pasti, Jasmine akan berusaha menghindar apabila terpaksa harus bertemu.  Ia tahu ini tak adil buat Rhein. Mereka pernah menjadi sahabat, dan mungkin sekarang pemuda itu masih berpikir seperti itu. Tapi Jasmine tidak sanggup membayangkan pemuda itu tanpa memikirkan July juga.  Ia sudah memutuskan menyerah. Tidak ada gunanya terus memikirkan sesuatu yang mustahil. Ia hanya pemimpi bila mengharapkan pemuda itu berpaling padanya, sementara ada seseorang yang lebih layak daripada seorang gadis tukang sapu seperti dirinya. Jasmine terus saja melamun sekembali ia dari sebuah rumah makan khas Jepang, hingga tidak menyadari suara klakson memperingatkan dirinya sampai suara tabrakan terdengar dan ia tiba -tiba saja terhempas ke bahu jalan.  Setelah itu semua menjadi gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD