“Kinan jangan dibuka!” Aku langsung bangkit dan mengambil kertas itu dari tangan Kinan. Gadis itu pasti masih bertanya-tanya sampai akhirnya dia membuka suara. “Kinan sudah baca, Pak,” katanya lirih. Aku menggeleng lemah. Aku tak tahu apakah Kinan benar-benar membacanya atau belum. Yang jelas, sebagai gadis yang sekolah jurusan kesehatan mudah saja memahami tulisan yang ada di dalamnya. Iya, ini tentang statusnya yang jelas bukan anakku. Aku lantas mendekatinya dan langsung memeluk gadis itu. Kinan geming. Dia hanya mematung dan tidak melakukan apa-apa. “Jelaskan biar Kinan paham, Pak,” katanya kemudian. Aku membuang napas kasar, lalu melepas dekapan. Bagas juga mendekat, kemudian menatap Kinan lekat. “Mbak Kinan akan selalu jadi Kakaknya Bagas walau apa pun yang terjadi,” katanya.

