Sehari setelah kepergian Kinan, kuhubungi gadis itu demi memastikan bahwa dia sampai dengan selamat menemui Sri. Aku juga bicara dengan wanita itu dan Sri bilang bahwa dia paham situasi yang terjadi. “Ndak apa-apa, Mas. Aku terima kasih selama ini Mas Pram sudah mau merawat dan menerima Kinan seperti anak sendiri. Mungkin Allah memang mau jalannya seperti ini,” kata Sri. “Iya, minta dia sekolah yang bener, ya, Sri. Dia mau jadi bidan katanya.” Sri mengiakan dan telepon kepada mantan pacar itu pun kuputus setelah puas dengan kabar mengenai Kinan. Aku menoleh pada Nurma yang masih kelihatan bersedih sejak kemarin. Wanita itu benar-benar merasa bersalah karena katanya dia yang ceroboh menyimpan hasil tes DNA itu. Nyatanya, mungkin Allah memang mau begini. Kinan mungkin memang harus kembali

