10. Omelan Cinta

1400 Words
Ella tidak mempermasalahkan ketidak cakapan Bambang dalam urusan pekerjaan. Meski Ardi sudah sering bercerita tentang berbagai missed yang dilakukan Bambang salam urusan pekerjaannya. Namun tidak untuk urusan mendasar bahkan sampai menyangkut keselamatan Ardi. Tentu saja Ella tidak bisa tinggal diam. Sebagai contoh yang membuat Ella tidak bisa mentolerir adalah karena kealpaan Bambang waktu menjadi panitia honeymoon Ardi dan Ella. Bayangkan saja, Bambang lupa memberitahukan pihak hotel bahwa Ardi memiliki alergi parah terhadap kelengkeng. Padahal sudah jelas terpampang di menu khas hotel itu ada mixed juice yang Makai bahan buah Kelengkeng. Sehingga tak terelakkan lagi, Ardi meminum jus itu. Hal yang sampai membuat Ardi nyaris meregang nyawa dan harus dilarikan ke UGD. Bahkan keadaanya masih belum stabil sampai saat ini. "Ma, maaf Bu Ella ..." Bambang hanya bisa menunduk meminta maaf kepada Ella, merasa sangat bersalah. "Bisa bisanya kamu, Mbang! Tega banget kamu sama mas Ardi. Kamu ada dendam ya sama dia, haah? Terus sengaja kamu biarkan dia jadi kayak gini sebagai balas dendam?" Cerocos Ella panjang kali lebar. "Pemberian obat tiga kali sehari itu berarti setiap delapan jam sekali. Artinya masa efek obat maksimal cuma delapan jam. Dan mas Ardi tadi terakhir minum obat jam tujuh pagi. Berarti maksimal dia harus minum obat sebelum jam tiga sore." Ella lanjut dengan menjelaskan tentang obat dan aturan minumnya. Sudah seperti kuliah farmakologi yang sangat detail. "Terus tadi jam berapa kamu ngasih dia obatnya?" "Jam setengah lima Bu," jawab Bambang, ingat benar waktu ketika dirinya membawa masuk Ardi ke kamar ini. "Astagaaaa, Bambang! Berarti satu jam setengah dia sudah menderita! Tanpa pengaruh anti nyeri, anti demam serta obat untuk menaikkan tensi darahnya. Pantesan saja dia langsung demam nge-drop dan kesakitan begitu. Jahat banget kamu, Mbang!" Ella lanjut ngomel panjang kali lebar setengah histeris pada Bambang. "Asisten dodol kayak gini kok dipelihara sih? Harusnya kamu dibuang ke Kutub Utara aja, biar main sama pinguin!" Saking marahnya Ella mengakhiri dengan kalimat yang sedikit absurd. "Waduh Bu Ella ini omelannya bahkan lebih tajam dan ngeri daripada Bu Kartika kalau soal kesehatan pak Ardi," batin Bambang. Berasa dikuliahi sekaligus ceramah agama oleh Ella. Bambang diam saja tanpa berkutik, tak sanggup untuk memberikan jawaban. Sadar benar kalau memang dirinya yang bersalah. Bahwa Ardi celaka sekali lagi karena kecerobohannya. Bambang takut untuk bersuara, takut salah omong terus semakin kena semprot lagi. "Yaudah kamu ambilin bekal makan malam mas Ardi di mobil, bawa kesini. Abis itu kamu urus dan siapkan semua keperluan mas Ardi. Biar dia nginep disini saja malam ini." Ella sudah pasrah menghadapi Bambang ini. Mau diomelin terus juga kasian, dan capek sendiri jadinya karena Bambang tetep diam saja. Setelah Bambang pergi dari kamar, Ella kembali mendekat dan mengamati Ardi dengan seksama. Ella mendapati suaminya itu mulai bergerak-gerak badannya. Sepertinya baru bangun dari tidurnya. "Hubby, gimana keadaan kamu? Udah enakan?" Ella langsung menghambur mendekat kepada Ardi, duduk di sebelah ranjangnya. Senang dan lega sekaligus mengetahui Ardi sudah bangun dan terjaga. Berarti sudah aman keadaanya. "Honey?" tanya Ardi dengan nada masih lemah dan mengantuk. Sedikit kaget mendapati wajah cantik Ella berada di hadapannya. Bukankah aku sedang di kantor? Kok bisa Ella ada di kantor juga? "Iya, Mas. Ini aku." Ella menjawab, menyakinkan Ardi akan kehadirannya dengan meraih sebelah tangan Ardi. Ella tersenyum dan meraih jemari tangan Ardi. Menggenggamnya dengan sangat erat, seakan tak ingin melepasnya lagi. "How do you feel?" tanya Ella ingin memastikan keadaan Ardi. "I'm Ok ... " Ardi membalas dengan senyuman dan anggukan ringan. Merasa sangat bahagia karena Ella ada disini untuknya. Dia merasa sudah kangen untuk bisa bertemu istrinya itu. Ingin memeluk dan menciumnya sampai puas. Perlahan Ardi bangkit dari posisi berbaringnya. Duduk bersandar di sandaran ranjang. "Jam berapa ini?" tanya Ardi kehilangan orientasi waktu. "Sudah hampir jam 8 malam," jawab Ella. "Sudah malam ternyata," Ardi tak mengira dirinya bisa tertidur selama itu di sini. Tapi setelah tidur tadi keadaan tubuhnya sekarang terasa jauh lebih mendingan. Lebih segar dan tidak lemas seperti sebelumnya. "Tadi kayaknya ada seseorang yang janji bakal langsung pulang deh? Secepatnya begitu rapat berakhir dia bilang?" Ella!sedikit menyindir Ardi dengan nada ketus. "Maaf ya Honey, aku telat pulang." Ardi hanya bisa nyengir mendengar sindiran Ella. Memilih untuk meminta maaf pada istrinya agar tidak berbuntut panjang. Ardi juga merasa bersalah karena telah mengingkari janjinya sendiri. Meski karena tidak sengaja. Karena keadaanya tubuhnya tadi yang ngedrop tiba-tiba. Mana kuat tadi kalau langsung pulang sehabis rapat? Untuk sekedar bangkit dari kursi aja aku gak sanggup. "Kamu itu ya Mas ..." Ella semakin kesal mendengar ucapan Ardi. Bisa-bisanya dia ngomong kayak gak punya dosa begitu? Gak tahu apa yang disini sudah kalang kabut, galau kronis dan cemas banget akan keadaanya? "Aku kan tadi sudah bilang sama kamu, jangan berangkat ke kantor. Kamu malah maksa pergi dan gak mau dengerin omongan aku. Kondisi badanmu itu masih belum bener-bener fit. Kamu bandel banget si jadi orang?" Ella melanjutkan mengomeli Ardi, omelan cinta. "Kamu itu keras kepala banget. Aku gak tahu harus bagaimana lagi menghadapi kamu ..." Kemudian Ella berhenti sebentar dan tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah, menjadi seperti mau menangis. Ardi yang dapat melihat perubahan mimik wajah Ella menjadi semakin merasa bersalah. Tak mengira telah membuat Ella sampai begini karena terlalu mencemaskan dirinya. "Aku itu cuma gak kepengen kamu kenapa-kenapa lagi, Mas. Sudah cukup kejadian tragedi kelengkeng itu yang sampai bikin nyaris jantungan." "Kamu harus ingat kalau kita ini barusan nikah loh, baru juga seminggu. Tapi sudah berapa hari kamu sakit dan bikin khawatir kayak begini? Kamu mau bikin aku jadi janda?" Saking emosinya Ella sudah meneteskan air mata sekarang. Namun merasa lega juga karena telah menumpahkan segala emosi dan kekesalannya pada Ardi. Keseeeel dan geram banget rasanya! Pengen aku bungkus kamu biar anteng di rumah! "Maaf ..." Ardi sekali lagi hanya bisa meminta maaf, tak tega melihat air mata berlinang di wajah Ella. "Kamu itu sudah menikah sekarang, Mas. Kamu bukan hanya seorang Ardi Pradana sekarang. Tapi juga seorang suami, suamiku. Kamu harus ingat bahwa ada seorang istri yang selalu menantikan dan mencemaskan dirimu di rumah.Kamu sudah gak bisa lagi egois dan seenaknya seperti saat masih bujangan." "Apa kamu gak kasian sama aku? Kalo kamu sakit terus kayak gini, aku harus bagaimana Mas?" Ella terus mengomel menyuarakan isi hati dengan air matanya yang mengalir semakin deras saja. Ella adalah sosok wanita mandiri dan kuat yang tidak mudah menangis. Namun jika sudah terlanjur air matanya menetes pasti bakalan lama dan susah dihentikan. Ella sendiri juga tak mengira bahwa dirinya bisa bersikap klise dan dramatis seperti ini. Mungkin karena tumpukan rasa cemasnya sejak tadi siang. Ditambah dengan akumulasi kecemasan dan kekhawatiran karena Ardi yang tiba-tiba sakit di hari-hari pertama pernikahan mereka. Atau bisa karena efek pengantin baru juga. Pengantin baru yang seharusnya bisa mesra-mesraan malah harus menghadapi berbagai syok. Karena suami yang tiba-tiba sakit dan selemah itu keadaanya. "Udah-udah ... Cup, cup, cup! Please jangan nangis lagi ya, Honey." Ardi mencoba untuk menghibur Ella. Ardi meraih wajah Ella, menghapus air mata Ella yang mengalir di kedua pipinya dengan lembut. Lalu mengulurkan sebelah tangannya untuk menepuk ringan puncak kepala Ella. Berharap bisa meredakan tangisan istrinya itu. "Maaf ya, maaf banget ... Aku tadi cuma mikir bagaimana caranya biar cepet selesai masalah perusahaannya." "Kamu tau sendiri kan bagaimana beban dan tanggung jawab yang harus aku emban? Aku ini membawahi ribuan karyawan." "Kalau sampai perusahaan bisnis park Pradana goyah, semua pasti akan kena imbasnya. Tidak hanya perusahaan Pradana, namun nasib perusahaan lainnya di kawasan juga ikut tergantung pada keputusanku sebagai pimpinan." Ella terdiam saja tak menjawab. Masih sibuk menyeka air mata yang terus mengalir di pipinya tanpa bisa berhenti. "Tapi sekarang masalahnya udah beres kok, kamu tenang aja. Jangan khawatir lagi ya." Ardi mengakhiri penjelasannya. "Kamu selalu saja memikirkan nasib ribuan karyawanmu, Mas. Terus kalau kamu sampai sakit dan colaps begini siapa yang perduli? Mana seribu karyawan itu?" Ucapan Ella yang sangat relate terasa bagai belati tajam yang menusuk jantung Ardi. Membuatnya tidak bisa membantah ataupun menyanggah. "Gini aja deh, mulai sekarang aku bakal nurut sama kamu. Aku bakal istirahat total sampai bener-bener sembuh." "Aku ambil cuti ya? Aku juga gak bakal ngurusin kerjaan lagi selama seminggu." Ardi berusaha merayu Ella untuk tidak terus ngambek lagi kepadanya. "Gak ada, Mas! Para karyawanmu gak akan perduli sama keadaan kamu. Mereka cuma perduli kapan dan berapa kamu ngasih mereka gaji saja." "Cuma ada aku, cuma aku sendirian yang terus saja khawatir akan keadaanmu seperti orang gila." Ella meneruskan omelan tanpa tergoyahkan rayuan Ardi. Yaampun ini anak serem banget kalau ngambek. Gak bisa ya dibelokkan dikit?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD