Ardi menghela napas panjang untuk memasukkan oksigen banyak-banyak ke dalam paru-paru. Berpikir sejenak cara apa yang sekiranya efektif untuk meredakan kemarahan Ella yang terasa meledak-ledak saat ini.
Sebagai Pimpinan tertinggi Pradana Group, Ardi sudah terbiasa memikirkan tindakan paling aman tanpa resiko. Dan kali ini pun dia akan melancarkan strategi ini kepada Ella.
Menyelesaikan masalah tanpa masalah! Udah kayak iklan layanan masyarakat aja ya?
"Sini deh, Honey ... Kamu jelek banget lho kalau mewek begitu." Ujar Ardi dengan nada menggoda Ella. Bahkan dia juga memegang dagu wanita cantik itu untuk memandanginya lekat-lekat.
Ella terus melancarkan aksi ngambeknya tanpa menanggapi rayuan gombal Ardi. Dia malah semakin mengerucutkan kedua bibirnya sebagai tanda marah.
"Senyum dikit please ..." Ardi lanjut menggoda istrinya itu dengan nada lebih menggeleyot manja.
Ella tetap tak tergoyahkan, sama sekali tidak juga menanggapi ucapan Ardi.
Ardi yang tak tahu harus berkata apa lagi akhirnya memutuskan untuk bertindak. Dia meraih tubuh Ella dan memeluknya erat. Bermaksud memenangkan Ella sambil menepuk-nepuk dan mengusap lembut punggungnya. Untuk memberikan rasa nyaman dan ketenangan.
Harus dihentikan atau bakal makin panjang kalau dibiarin ngambek terus si Ella ini.
"Makasih ya, Honey. Makasih banget karena kamu sudah perduli dan khawatir sama aku." Ujar Ardi setelah cukup lama mereka berpelukan, dan Ella juga bisa sedikit lebih tenang.
"He-em." Ella akhirnya luluh dengan perlakuan lembut Ardi kepadanya.
Dalam hati, Ella menyalahkan dirinya sendiri yang terkesan terlalu lemah dan tidak bisa melawan terhadap Ardi. Selalu saja dia luluh, terkalahkan oleh rasa nyaman, dan hangat yang diberikan Ardi kepadanya.
Dengan pelukan dan berbagai tindakan lemah lembut yang selalu Ardi berikan kepadanya di saat kalut. Tindakan yang selalu saja membuat nya merasa bahagia. Aman, damai dan tentram saat bersandar pada d**a bidang suaminya itu.
Kalau kamu seperti ini, mana bisa aku bisa belama-lama marah sama kamu, Mas Ardi?
"Kamu tahu El, aku cinta banget sama kamu." Ujar Ardi setelah mengakhiri sesi berpelukan mereka selama beberapa saat.
"Aku sebel banget sama kamu, Hubby." Ella masih terlalu gengsi untuk balas menyatakan cintanya kepada Ardi.
"Kok begitu sih? Sini peluk lebih erat biar makin sayang." Ardi tidak senang dengan jawaban Ella. Dia kembali merangkul tubuh istrinya itu, kemudian semakin membenamkan wajah Ella ke dalam dekapan d**a bidangnya.
"Huuft, huuuuft ... Mas Ardi, aku gak bisa napas tahu! Bau kecut ini!" Protes Ella atas perlakuan mendadak yang diberikan Ardi kepadanya.
"Ehh masa sih bau? Bukannya bau seger ya, hehehe." Ardi malah semakin mempererat pelukannya pada tubuh Ella. Gemes banget mendengar reaksi istrinya itu atas tindakan yang dilakukannya.
"Kecut banget, asli ini mah. No hoax!" Ella berusaha memberontak melepaskan diri dari pelukan Ardi. Memukuli ringan d**a suaminya dengan kedua kepalan tangannya.
"Pasti karena kurang lama ciumnya ... cobain cium lagi deh biar makin terasa." Ardi menjadi keasikan untuk terus menempelkan wajah Ella ke dadanya.
"Udah-udah, aku gak tahan lagi! Gak bisa napas! Bisa-bisa pingsan aku karena keracunan aroma limbah medis dari tubuhmu." Ella mengeluarkan reaksi dan ekspresi wajah seolah megap-megap kehabisan napas.
"Hahahaha," Ardi tergelak hebat tak tertahankan lagi melihat reaksi Ella.
"Yaampun kamu lucu banget sih, El. Masa suami sendiri dibilang limbah medis? Sungguh teganya, teganya dirimu!" Ardi perlahan mengendurkan pelukannya dan membiarkan Ella terbebas dari Kungkungan kedua lengan kokohnya.
"Jadi makin lope-lope deh sama kamu." tambahnya memberikan kecupan ringan di kening istrinya yang manis itu, cute to the max.
"Dasar nakal, kamu itu kan keringetan banyak banget tadi karena demam. Gak kebayang deh baunya yang udah kayak limbah medis." Ella kembali menggerutu dengan sedikit mendramatisir.
Aslinya si tidak terlalu bau seperti itu, malah sebaliknya masih wangi dan segar. Karena pengaruh parfum mahal beraroma greens yang biasa selalu dipakai oleh Ardi. Akan tetapi Ella terlalu gengsi untuk mengakui hal itu.
"Justru aroma segar keringat suami itu bisa bikin istri terangsang katanya." Bisik Ardi ke ke telinga Ella sambil sedikit memberikan tiupan ringan.
Ella sudah bergidik dan merinding bulu romanya karena tiupan di telinganya yang sensitif. Buru-buru mendorong tubuh Ardi untuk menjauh darinya.
"Enggak! Yang namanya bau kecut ya kecut! Mana ada bau kecut Yanga seger!"
"Ada tuh wangi pengharum ruangan rasa jeruk. Kecut tapi seger kan?"
"Eehhh? Iya ya?"
"Sama ini aroma suamimu sendiri, Ardi Pradana yang seger!"
"Mana ada!"
"Hahahahaha!" Ardi kembali tergelak, tak ada bosannya untuk menggoda istri cantiknya yang kadang sangat lugu itu.
"Ehem ... Maaf Pak Ardi, Bu Ella. Apa saya sudah boleh masuk sekarang?" Bambang berdeham ringan untuk memberitahukan kehadirannya di kamar itu sebagai orang ketiga. Sebagai obat nyamuk yang terbakar karena panasnya api cinta diantara pengantin baru itu.
Apes bener dah nasib gue! Bambang merasa terjebak dalam situasi yang bagaikan buah simalah kama. Maju kena, mundur juga bakal kena.
Gimana nggak, Bambang sejak tadi sudah buru-buru mengambilkan kotak makanan untuk Ardi yang dikatakan Ella di mobil. Tapi begitu kembali ke kamar malah mendapati kedua pasangan uwu itu sedang berpelukan dengan mesranya.
Mau menyapa takut mengganggu pada waktu yang tidak tepat, mau pergi juga takut salah. Takut nanti dicariin makanan buat Ardi yang diambilkan olehnya tadi. Jadinya Bambang hanya bisa berdiri diam di pintu masuk kamar, menunggu sampai adegan mesra mereka berakhir. Dengan jiwa jomblo yang semakin meronta-ronta rasanya, mupeng asli.
Begitu menyadari adanya orang ketiga, Ella buru-buru menjauhkan dirinya dari Ardi. Dia beranjak dari ranjang, dan mengambil kotak makanan dari tangan Bambang. Berkutat mempersiapkannya di meja untuk mencari kesibukan dan mengatasi kecanggungan yang tiba-tiba terjadi.
"Mbang!" ujar Ardi sambil mendengus kesal.
Ini anak kok selalu saja datang di saat menyebalkan kayak gini? Ganggu aja!
"Ya Pak?" tanya Bambang dengan siap siaga. Bersiap menerima perintah dari atasannya itu.
"Minggat sana!" usir Ardi dengan nada geram yang tidak ditutup-tutupi.
"Minggat ke mana, Pak?" dengan dodolnya Bambang masih saja bertanya.
"Ke Kutub Utara!"
"Ba, baik Pak." Bambang akhirnya mengerti akan kemarahan Ardi. Tanpa banyak komentar lagi, dia langsung menurut dan bergegas pergi dari kamar itu. Kemudian menutup pintu kamar rapat-rapat dari luar.
Waduh gawat, kayaknya kesal banget Pak Ardi, maaf ya Pak.
"Hubby, makan malam dulu yuk." Ujar Ella setelah menata dan menyajikan hasil masakan Ijah di atas meja.
"Aku mandi dulu deh gerah banget rasanya." Ardi bangkit perlahan dari ranjangnya. Melepaskan jas dan dasi yang masih dipakainya dari tadi.
Dengan cekatan Ella menghampiri dan mengambil jas serta suaminya itu. Mengamankan di laundry box.
"Nanti saja mandinya abis makan malam. Biar anget dulu badanmu. Ini supnya juga mumpung masih hangat." Ella memberikan saran opsional.
"Ok deh," Ardi menurut saja menghampiri sofa sambil membuka beberapa kancing kemejanya.
"Makan yang banyak ya, biar cepet sehat dan gak lemes-lemes lagi." Ella menyodorkan semangkuk nasi tim plus sup daging, bayam dan kacang merah untuk suaminya.
"Kamu yang masak?" tanya Ardi penuh harap.
"Bi Ijah lah," Ella mengakui sambil mengambil seporsi lagi makanan untuk dirinya sendiri.
"Yah kirain masakan kamu," ujar Ardi pura-pura kecewa.
"Tadi sebenarnya aku masak Chap Cay goreng buat mas Ardi."
"Wah pasti enak tu, kok gak dibawa ke sini sekalian?"
"Rasanya ancur hehe ..."
"Haaah? Kok bisa ancur?" Ardi jadi penasaran.
"Aku salah mengenali lengkuas sebagai jahe. Mau ambil merica juga salah ambil ketumbar. Gak jelas deh jadinya rasa masakanku." Ella mengakui kegagalan memasaknya dengan malu-malu.
"Hahaha yaampun, Honey." Ardi sudah tak dapat menahan tawanya yang sejak tadi dia tahan.
Kamu itu Lucu banget asli, El! Selalu gemesin dan bikin makin cinta aja.
"Gara-gara siapa coba? Gara-gara kamu gak ada kabar, aku jadi gak bisa konsen masaknya tahu!" Ella memasang muka cemberut manja pada Ardi.
"Bukan memang karena skill masakanmu yang parah ya?" Ardi malah keasikan menggoda Ella.
"Jahat banget sih bilang parah."
"Emang nyatanya begitu kan?"
"Iya juga sih."
"Hahhaha." Ardi kembali tertawa geli.
"Lihat saja ya, bentar lagi aku bakalan jadi koki profesional!" lanjut Ella bertekad, tak mau kalah.
"Wow jadi gak sabar pengen nyobain hasil masakan chef Ella. Tapi kapan ya realisasinya?" tantang Ardi.
"As soon as possible!"
"Iya-iya percaya Hahahaha," jawab Ardi lanjut tertawa. Sesegera mungkin? Secepat apa, El?
Keduanya pun melanjutkan menyantap makan malam mereka dalam suasana penuh kehangatan.