"Sekian dari saya, rapat hari ini saya nyatakan selesai. Terima kasih," Ardi mengerahkan sisa tenaga terakhirnya untuk mengakhiri rapat hari ini.
Ardi sudah merasa sangat lemas sekujur tubuhnya. Keringat dingin juga sudah mengucur sangat deras di tubuh. Serta yang paling parah adalah kepalanya yang semakin pusing karena banyaknya suara serta keributan di sekitar ruangan.
Para peserta rapat satu persatu pergi meninggalkan ruang pertemuan besar itu. Berjalan berdua atau bertiga untuk membahas hasil rapat hari ini yang menuai kontroversi dan diluar dugaan. Tak berapa lama kemudian ruangan telah kosong, tinggal tersisa Ardi dan Irza saja yang masih ada di dalam ruangan.
Ardi yang sudah sangat lemas, tak kuat lagi rasanya untuk melakukan apapun. Bahkan dia juga tak sanggup untuk sekedar bangkit berdiri dari kursinya. Ardi memilih untuk menyandarkan tubuh ke sandaran kursi yang tinggi dan empuk. Berusaha agar bisa memberikan sedikit kenyamanan pada tubuhnya yang sudah terasa remuk redam.
"Makasih ya, Ardi. Maaf banget, gara-gara aku kamu sampai bela-belain ke sini walau keadaan kamu masih belum fit begitu." Irza mengucapkan rasa terima kasih yang tak terkira pada Ardi.
Ardi diam saja tak menjawab ucapan Irza, tak sanggup menjawab lebih tepatnya. Tubuhnya serasa sudah melayang-layang di udara, sudah nyaris pingsan dan kehilangan kesadaran.
"Ardi? Are You OK, Bro?" Irza bertanya curiga karena Ardi hanya diam saja tak menjawab ucapannya.
"Kamu kok pucet banget, Di?" Tanya Irza sambil mendekati dan mengamati Ardi dengan lebih seksama. Kok kayaknya kondisi Ardi sedang tidak baik-baik saja. Something wrong with him.
Irza dapat melihat tubuh Ardi yang sangat pucat, jauh lebih pucat daripada sebelumnya. Wajahnya juga terlihat sedang gelisah dan kesakitan. Irza coba menghampiri dan meletakkan telapak tangannya ke kening sahabatnya itu.
"Astaga, badanmu panas banget!" pekik Irza kaget setelah memeriksa suhu tubuh dari kening Ardi.
Dengan panik Irza buru-buru keluar dari ruangan, mencari sosok yang kira-kira bisa dimintai pertolongan. Irza mengedarkan pandanga ke seluruh koridor lantai tiga yang mulai sepi. Irza dapat melihat sosok Mahes yang sedang berdiri di depan lift sambil menelpon seseorang. Menanti kedatangan lift.
'Mahes kan seorang dokter, pasti bisa ngasih pertolongan pada Ardi,' pikir Irza.
"Hes, cepet kesini sebentar. Tolong liatin kondisi si Ardi." Panggil Irza pada Mahes yang hendak memasuki lift.
"Haaah? Ardi kenapa?" Tanya Mahes kaget, mengurungkan niatnya memasuki lift. Bahkan dia langsung menutup panggilan telponnya dan berjalan cepat kembali masuk ke ruang rapat.
"Gak tahu, badannya panas banget. Coba kamu periksa deh, takutnya dia kenapa-kenapa." jawab Irza panik.
Irza mengedarkan pandangannya lagi dan mendapati Bambang dan Cindy yang sedang membereskan beberapa dokumen di atas meja depan ruang rapat.
"Mbang, Bos-mu aneh tuh keadaanya. Kamu gimana si sebagai asistennya? Kok gak jagain dia baik-baik?" Hardik Irza kesal pada asisten Ardi yang satu ini.
"Bos? Pak Ardi kenapa?" Bambang kaget mendengar ucapan Irza yang bernada marah kepadanya. Segera menghentikan kegiatannya mengurus dokumen. Dia baru ingat kalau bos-nya tadi memang masih sakit dan lemah keadaannya.
Irza, Bambang dan Cindy bergegas ke ruangan rapat untuk melihat keadaan Ardi. Disana mereka mendapati Mahes yang sudah memeriksa Ardi yang merupakan kakak iparnya itu dengan sangat cekatan.
"Ardi kenapa, Hes?" tanya Irza khawatir.
"Kayaknya dia nge-drop lagi. Tensi darahnya turun drastis, dia juga demam sangat tinggi." Mahes menjawab setelah melakukan beberapa pemeriksaan kepada tubuh Ardi.
"Mbang, Ella tadi nitipin sesuatu gak sama kamu?" tanya Mahes menyelidik. Tahu benar bahwa Ella tidak mungkin membiarkan Ardi pergi dalam keadaan sakit tanpa persiapan matang.
"Sesuatu? Sesuatu apa itu pak?" tanya Bambang kebingungan, perasaan tadi Bu Ella gak menitipkan apapun kepadanya.
"Kamu tahu gak Ardi kesini dalam keadaan kurang fit kayak gini?" Mahes lanjut memberondong Bambang dengan berbagai pertanyaan.
"Tahu pak, tadi bu Ella sudah menelpon dan memberikan informasi ke saya."
"Terus Ella titip pesen apa lagi sama kamu?" Mahes semakin tidak sabaran.
"Bu Ella minta tolong kepada saya buat jagain pak Ardi. Untuk menuntun kalau berjalan jauh, naik turun tangga atau lift biar tidak jatuh. Terus beliau juga minta saya untuk mengingatkan Pak Ardi buat minum obatnya jangan sampek telat."
"Lalu? Ardi sudah minum obat belum tadi?" Irza ikutan tidak sabaran mendengarnya. Kalau asisten Irza kayak begini sudah pasti dia pecat sejak dulu. Bisa bikin darah tinggi saking dodolnya.
"Be, belum. Maaf Pak saya lupa ..." Bambang menepuk jidatnya karena melupakan instruksi dari Ella padanya.
"Astagaaaa Bambaang!" Baik Mahes, Cindy dan Irza sekaligus langsung berteriak marah kepada Bambang.
"Bambang! Kamu itu kok gak pinter-pinter sih jadi orang? "Mau sampai kapan kamu begini Mbang?" Bentak Cindy marah. Kesal sekali karena keteledoran Bambang yang lagi-lagi sampai mencelakakan bos mereka.
Masih lekat dalam ingatan Cindy bahwa beberapa hari yang lalu Ardi juga nyaris meregang nyawa karena tragedi kelengkeng. Dan kenapa kejadian nahas itu bisa terjadi kepada bos mereka? Tentu saja karena Bambang yang lupa memberitahu pihak hotel tempat Ardi dan Ella merayakan honeymoon, tentang alergi kelengkeng yang diderita Ardi.
"Kan tadi Pak Ardi datang langsung sibuk ngurusin rapat. Jadi saya gak sempet mengingatkan beliau ..." Bambang coba beralibi untuk membela diri.
"Ayo cepet mana obatnya?" Desak Mahes pada Bambang. Sudah lelah dengan segala kebodohan fatal dari Bambang.
"Di saku jasnya pak Ardi." Bambang bergegas menghampiri dan merogoh saku jas Ardi. Dia menemukan sebuah kotak obat kecil disana.
Cindy dengan siap siaga sudah menyiapkan segelas air mineral untuk Ardi. Gadis itu membantu bos mereka untuk meminum obatnya.
"Kalau Bu Ella atau Bu Kartika tahu soal kecerobohan kamu kali ini, abis kamu Mbang!" Ujar Cindy saking geramnya pada Bambang.
"Haduuuh mati aku!" Bambang meratapi nasibnya yang lagi-lagi ketiban apes.
"Ardi gak pa-pa kan, Hes?" tanya Irza ingin memastikan keadaan Ardi.
"Iya, kita tunggu saja obatnya bereaksi." Mahes memeriksa sekali lagi keadaan Ardi. "Kita pindahin dia ke kamar peristirahatannya dulu deh. Biar dia bisa tiduran di sana." Lanjutnya memberikan saran.
Dengan saran dari Mahes mereka memindahkan tubuh Ardi ke kamar pribadinya di ruang kantor. Merebahkan tubuhnya di ranjang dan menyelimuti dengan bed cover tebal untuk bantu menghangatkan tubuhnya yang terasa dingin.
"Sebaiknya kita semua pulang sekarang, biar Bambang saja yang jagain Ardi." Mahes memberi saran lain beberapa saat kemudian. Karena memang tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali hanya melihat dan menunggu. Menunggu sampai Ardi sadar dengan sendirinya.
"Jagain dia baik-baik, Mbang. Kalau dia sudah bangun dan enakan baru kamu anterin pulang." Mahes memberikan perintah sebelum beranjak pergi.
"Iya, siap Pak Mahes." Jawab Bambang menyanggupi.
"Jangan sampai kamu bikin pak Ardi celaka lagi, Mbang. Atau aku bakal laporin ke Bu Kartika biar kamu dipecat!" Ancam Cindy ikut pamit pergi juga.
"Semoga lekas pinter ya, Mbang." Irza juga ikutan pamit sambil menyindir Bambang terang-terangan.
Kini tinggallah Bambang sendirian yang menunggui Ardi di kamar itu. Hanya bisa duduk menanti seperti kata Mahes tadi. Menanti Ardi bangun dengan sendirinya.
"Maaf ya Pak Ardi, Bapak jadi sakit lagi gara-gara kecerobohan saya." ujar Bambang dengan penuh penyesalan.
Ardi diam saja tidak menjawab, entah dia sedang tidur atau pingsan.
"Saya janji bakal menjadi asisten yang lebih baik lagi buat Bapak. Saya janji gak bakal ceroboh lagi. Tapi tolong jangan pecat saya ya, Pak." ujar Bambang dengan penuh penyesalan mengungkapkan jeritan hatinya.