07. Teman Sejati

1282 Words
"Terima kasih atas semua pendapat dan saran dari anda sekalian." Ujar Ardi setelah beberapa waktu lamanya berlalu. Mengakhiri sesi mengemukakan pendapat, setelah seluruh perwakilan perusahaan mendapat giliran bicaranya. "Saya telah mendengar semua pendapat anda sekalian. Oleh karena itu dengan segala pertimbangan, saya memutuskan bahwa cabang perusahaan Wismail akan tetap berada dalam naungan Pradana Bisnis Park. Dan tentu saja dengan segala hak dan kedudukan yang semestinya." Ardi membuat keputusan mantap. Semua hadirin langsung terdiam seketika untuk beberapa saat demi mendengar ucapan Ardi. Tak mengira bahwa Pimpinan Pradana Group masih berpihak pada Wismail Group setelah bahkan sebagian besar suara menolak untuk memberikan dukungan. "Bagi yang tidak setuju dengan keputusan saya atau berniat untuk mengundurkan diri dan mencabut sahamnya dari Pradana Bisnis Park, silahkan anda lakukan. Anda dapat menghubungi dan berurusan dengan kedua asisten saya nanti." Ardi semakin memperjelas keputusan mutlaknya. Seluruh ruangan langsung gaduh demi mendengar keputusan Ardi. Berbagai protes dilontarkan, berbagai pendapat mulai dari yang sopan sampai yang kasar dilayangkan. Bahkan tak ketinggalan umpatan ketidakpuasan khas Suroboyoan juga ikut memenuhi ruangan. Membuat Suasana semakin runyam, memanas dan bikin pusing saja. Akan tetapi Ardi sama sekali tidak perduli dengan semua itu. Biar saja dirinya dibilang gila dan serampangan dalam mengambil keputusan. Biar saja orang berkata apa tenang dirinya. Karena memang begitulah kenyataannya. Justru karena kegilaannya ini, Pradana Bisnis Park berhasil didirikan. Siapa yang membantu Ardi waktu itu? Saat sebagian orang mencemooh ide dan gagasan nekatnya? Tentu saja para rekan dan sahabat yang sama gilanya. Dan Irza Wismail adalah salah satu dari sedikit rekan gilanya itu bersama para pemegang saham terbesar lainnya. Jadi sekarang, di saat Irza sedang dalam masalah seperti ini, mana mungkin Ardi akan melepaskan tangan dari rekannya itu. Justru Ardi akan terpanggil untuk memberikan dukungan penuh dan membantu sebisanya. Karena kepercayaan yang telah terbentuk diantara dirinya dan Irza sudah sangat erat terjalin. Bagi Ardi, bodoh amat dengan para pemegang saham kecil yang sok berkuasa. Mereka yang hanya numpang tenar dan mendompleng nama Pradana Bisnis Park. Mau pergi? Silahkan saja, Ardi pasti dapat mendapatkan ganti mereka tanpa susah payah. Tapi untuk mendapatkan rekan dengan kapasitas seperti seorang Irza Wismail? Tak akan bisa. Seorang teman sejati bernilai lebih dari seribu orang teman yang palsu. Teman sejati bukanlah yang membuat masalah kita menghilang. Namun mereka tidak akan menghilang saat kita menghadapi masalah. Suasana semakin gaduh tanpa bisa terkendali. Berbagai protes dari segala pihak bersautan dari segala penjuru. Kepala Ardi menjadi semakin pusing dan sakit dibuatnya. Ardi sedikit panik saat menyadari keadaan tubuhnya yang terasa mulai memburuk, bahkan dia dapat dirasakan suhu tubuh mulai meningkat, dan napasnya berat. Serta keringat dingin mulai terasa mengucur deras di sekujur tubuhnya. 'Gawat, aku harus bisa bertahan sedikit lagi. Gak lucu kan kalau harus mundur atau terlihat lemah setelah langkah nekat yang aku tempuh barusan.' Ardi membulatkan tekad untuk dapat bertahan mengikuti jalannya rapat. Mencoba bertahan untuk tetap duduk tegak di kursinya, sampai nanti dirinya memberikan keputusan akhir dan mengakhiri rapat dewan direksi hari ini. Irza tercengang mendengar keputusan Ardi yang sepertinya sudah sangat bulat. Keputusan yang sangat berani dengan mendukung dirinya serta melawan begitu banyak suara. Irza merasa terharu atas kepercayaan yang diberikan Ardi padanya dan kepada perusahaannya. Benar dugaan Irza bahwa Ardi ini tipe teman sejati yang dapat dia percaya dan diandalkan. Tak akan pernah mungkin untuk mengkhianati dirinya. Sekali lagi Irza mengamati wajah Ardi, sahabatnya itu lekat-lekat. Wajah Ardi kali ini terlihat pucat, lemah dan sedikit gelisah. Jauh berbeda dari wajah dingin, tenang, penuh wibawa yang biasa selalu diperlihatkan oleh Tuan Muda Pradana itu. Memang Irza sudah mendengar kabar bahwa Ardi sedang sakit, bahkan beberapa hari terakhir tidak dapat datang ke kantor. Gosip lebih jauh bahkan mengatakan kalau Ardi terpaksa membatalkan honeymoon di Bali yang telah dijadwalkan selama seminggu penuh setelah dirinya menikah. Kenapa dia? Bisa sakit juga ternyata? Sejauh yang diketahui oleh Irza, memang Ardi jarang sekali sakit. Tapi mau tak mau Irza jadi penasaran dan cemas juga dengan apa sebenarnya penyakit Ardi. Perasaan beberapa hari yang lalu masih seger buger waktu acara pernikahannya? Kenapa sekarang bisa dia jadi selemah ini? Bukan sakit parah kan? Satu hal yang membuat Irza semakin salut adalah, bahkan dengan kondisi tubuhnya yang jelas masih lemah itu Ardi tetap mau datang menghadiri rapat dan membela dirinya. Irza menjadi semakin terenyuh dan terharu dibuatnya. 'You've done your part, bro. Now it's time for me to take my own part. Kamu sudah melalukan bagianmu. Sekarang tiba waktunya bagiku untuk membereskan bagian kami sendiri.' Gumam Irza di dalam hatinya. Irza berdeham sedikit keras dan dramatis untuk menarik perhatian semua hadirin di ruangan rapat. Mengalahkan keributan yang sedang terjadi di segala ruangan. Irza ingin menjadi pusat perhatian sebelum dirinya mengumumkan sebuah keputusan. Irza akan bertanggung jawab sepenuhnya atas segala kekacauan yang terjadi akibat dari konflik internal di perusahaan miliknya. Dengan segala gengsi dan harga dirinya sebagai pimpinan Wismail Grup, Irza akan membuat pernyataan di rapat ini. "Tiga bulan." Irza mengawali ucapannya dengan mengacungkan tiga jemari tangannya. "Kalau Wismail tidak bisa bangkit dan stabil lagi dalam tiga bulan, kami akan pergi. Akan kami cabut semua saham dan kepemilikan di Pradana Bisnis Park sesuai keinginan kalian. Dan akan kami berikan kompensasi atas semua kerugian kalian yang disebabkan oleh keadaan perusahaan kami." Lanjut Irza Lantang dan penuh percaya diri. Semua yang hadir langsung terdiam kembali demi mendengar ucapan pimpinan Wismail Group itu. Sebagian besar masih tak dapat mempercayai bahwa Irza akan dapat menyelesaikan kekacauan besar ini hanya dalam tiga bulan saja. Sungguh mustahil rasanya. "Tidak perlu sampai begitu, aku percaya kepadamu," jawab Ardi sambil menghela napas panjang. Memang dirinya percaya sepenuhnya bahwa Irza dapat melakukan segala yang telah dia ucapkan. Untuk membereskan kekacauan dalam tiga bulan dari sekarang. Tetapi tetap saja terlalu beresiko, Ardi tak ingin kehilangan mitra kerja setangguh Irza Wismail. "Tidak apa-apa. Saya hanya ingin mereka semua tahu dan ingat bagaimana kekuatan dari Wismail Group. Serta apa saja yang dapat kami lakukan dengan segala kekuatan yang kami miliki." Irza mengatakan dengan nada suara yang congkak dan intimidatif. Beberapa hadirin yang dari tadi menentang langsung terdiam membisu. Tak sanggup berkomentar atau melakukan protes lagi. Tidak jika Grup raksasa sekelas Wismail akan menjanjikan ganti rugi bagi segala kerugian yang diderita perusahaan mereka. "Saya percaya kepada Grup Wismail." Maheswara Hartanto ikut memberikan suaranya kali ini mewakili Hartanto Group. Mahes yang merupakan seorang dokter merasa tidak tenang melihat keadaan Ardi yang terlihat semakin pucat dan mengkhawatirkan. Mahes merasa rapat ini harus segera diakhiri secepatnya, agar Ardi dapat segera beristirahat. 'Jadi dia masih belum sembuh? Ngapain maksa datang? Dasar sembrono.' Batin Mahes kesal mengingat sifat Ardi yang sangat keras kepala. "Saya juga setuju untuk mendukung Irza Wismail," Tyo Sampoerna kali ini ikut memberikan suara bagi Sampoerna Group. Dia merasa bosan dengan perdebatan tanpa ujung di rapat ini. "One vote from me for Irza, My Bro." Nick Marcus, salah satu pemegang saham tertinggi berwarga kenegaraan Amerika ikut memberikan suaranya juga untuk mendukung Irza. "Apa sih yang nggak buat Irza Wismail? Ciputra Group juga mendukung Wismail Group untuk tetap menjadi bagian dari Pradana Bisnis Park." Ceicillia Tang ikut memberikan dukungannya dengan nada suara yang lebih santai. Ardi tersenyum lega mendengar jawaban kompak dari para pemegang saham terbesar lainnya. Para sahabat baiknya, sekaligus teman seperjuangannya. "Apa masih ada lagi yang merasa tidak puas?" Tanya Ardi memastikan tidak ada yang berani protes lagi. "Saya rasa kita sudah menemukan hasil dan kesepakatan akhir dari rapat hari ini. Karena semua jajaran pemegang saham terbesar sudah menyatakan setuju untuk mendukung Wismail. Berarti sudah dapat dipastikan suara dukungan untuk Wismail Group menjadi mutlak sesuai jumlah voting." "Dengan ini saya putuskan bahwa anak perusahaan Wismail masih tetap dalam naungan Pradana Bisnis Park dan akan kita tinjau lagi tiga bulan mendatang." "Sekian dari saya, rapat hari ini dibubarkan. Terima kasih," Ardi mengerahkan tenaga terakhirnya untuk mengakhiri rapat hari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD