06. Rapat Besar Bisnis Park

1143 Words
Ardi menghubungi Bambang dan Cindy saat mobil yang dikemudikan oleh Hasan, supir pribadinya sudah hampir tiba di kawasan Pradana Bisnis Park. Mereka berdua adalah orang-orang kepercayaan Ardi yang bisa dianggap seperti asisten pribadinya. Ardi meminta Bambang untuk menjemputnya di lobi kantor. Sementara Cindy, Ardi meminta wanita itu untuk menunggunya di ruangan pertemuan mini. Pradana Bisnis Park adalah suatu kawasan industri milik keluarga Pradana yang digagas dan dipimpin langsung oleh Ardi. Prinsip yang dianut seperti menyewakan dan menyediakan tempat serta fasilitas perkantoran untuk perusahaan lainnya. Sampai saat ini sudah ada belasan perusahaan baik yang berukuran besar maupun kecil sudah tergabung dalam kerjasama bisnis di kawasan itu. Ardi ingin sekedar untuk briefing singkat sebelum menghadiri rapat dewan direksi yang sedang berlangsung di ruang pertemuan besar perusahaan Pradana nanti. Ingin tahu secara detail apa saja yang sebenarnya telah terjadi di perusahaan mereka selama dirinya absen beberapa hari. Selama hampir seminggu Ardi memang mengambil cuti dan tidak hadir di kantornya. Cuti untuk acara pernikahan, ditambah dengan honeymoon ke Bali. Namun apesnya masih ditambah lagi dengan cuti karena tragedi kelengkeng yang menyebabkan dirinya sakit dan harus bed rest total. Bambang ternyata sudah mendapatkan panggilan telpon dari Ella bahkan sebelum Ardi mengirimkan pesan untuknya. Nyonya muda Pradana itu, meminta tolong kepadanya untuk menjemput Ardi di lobi kantor. Untuk membantu bosnya agar bisa berjalan sampai ke ruangan rapat di lantai tiga. Sepertinya Ella takut kalau Ardi tiba-tiba merasa pusing atau oleng dengan kondisi tubuhnya saat ini. Lebih jauh lagi Ella juga menjelaskan kepada Bambang tentang obat-obatan untuk Ardi yang sudah disiapkannya di drug box dalam saku jas. Dokter cantik itu meminta pula kepada Bambang untuk mengingatkan Ardi agar tidak lupa meminum obat-obatan itu secepatnya, sebelum jam dua siang. Ella memberikan instruksinya kepada Bambang dengan sangat detail karena menyangkut masalah kesehatan suaminya. 'Benar-benar istri yang sangat baik, pengertian dan perhatian. Beruntung sekali Pak Ardi mempunyai istri seperti Bu Ella ini, paket komplit beneran.' Batin Bambang mau tak mau jadi iri dan ingin punya istri seperti Ella. Saat mobil BMW hitam milik Ardi tiba di drop off poin lobi kantor, Bambang langsung membukakan pintu mobil untuk bosnya itu. Sedikit kaget melihat wajah Ardi yang pucat dan gestur tubuhnya yang terlihat tidak sehat. Tidak setegap, sekokoh dan secerah biasa kesannya. Sepertinya anda memang masih belum sembuh ya, Pak Bos? Bambang menyambut dan membantu Ardi berjalan dengan memegangi sebelah lengannya dengan hati-hati. Ardi tidak menolak kali ini, tahu diri akan keadaan tubuhnya sendiri. Padahal dalam keadaan sehat, Ardi tak akan mau dipegang oleh Bambang begitu. Bambang membawa dan mengarahkan Ardi ke lantai tiga. Berakhir di ruangan pertemuan mini tepat di sebelah ruang rapat besar. Dimana Cindy sudah menunggu mereka di sana. Bambang membantu mendudukkan Ardi di salah satu kursi berlengan yang mengelilingi meja pertemuan. "Bagaimana situasinya?" tanya Ardi langsung to the point. "Rapat sudah berlangsung dengan sangat alot, dan masih ribut pak. Tak ada yang berani mengambil keputusan." Cindy menjelaskan situasi ruang rapat. "Jelaskan garis besar masalahnya," pinta Ardi pada Cindy. Sengaja memilih Cindy untuk bercerita daripada Bambang karena, yah begitu deh. Tambah pusing nanti nanti kalau Bambang yang cerita. "Masih berkaitan dengan skandal besar yang menerpa Wismail Group. Dimana tiba-tiba tersebar di berbagai media foto-foto tidak senonoh dari Kika Wismail yang merupakan figure penting di perusahaan itu. Masalah ini sebenarnya sudah dibereskan oleh Pak Irza Wismail dengan konferensi pers serta mengerahkan 'anjing penjaga - hacker kepercayaan perusahaan' untuk membersihkan semua kekacauan di sosial media. Bahkan pelaku dari segala kekacauan juga sudah tertangkap." Cindy mulai menjelaskan duduk persoalannya. "Ini masalah nama baik, citra perusahaan serta kepercayaan. Memang masalah utama sudah dibereskan dan semua yang harus dilakukan sudah dilakukan. Tetapi tetap saja untuk masalah seperti ini membutuhkan waktu untuk bisa mereda, tidak bisa secara instan. Time Will heal." Cindy berhenti sebentar. "Seperti kita ketahui, Wismail merupakan salah satu founder dan pemegang saham yang cukup besar dari Pradana Bisnis Park kita. Sehingga goncangnya Wismail Group secara otomatis pasti akan mempengaruhi sentra bisnis kita juga. Semua perusahaan lain yang berada di bawah naungan Pradana Bisnis Park mau tak mau menjadi ikut goncang. Dan dampak yang tidak bisa dihindari adalah penurunan nilai saham semua perusahaan secara signifikan." "Bagi perusahaan besar seperti Pradana mungkin tidak begitu terasa dampak dari peristiwa ini. Tapi untuk perusahaan kecil lainnya tentu sangat berpengaruh besar. Akibatnya, beberapa perusahaan yang berada di naungan kita ingin mencabut sahamnya dari Pradana Bisnis Park. Sebagian lain meminta Wismail mundur dari posisi pemegang saham kita." "Untuk menghadapi Krisis kepercayaan ini, para pemegang saham sepakat mengadakan rapat hari ini. Inti dari rapat adalah kita harus bisa memutuskan langkah apa yang harus diambil, Pak." Cindy mengakhiri penjelasannya. "Ok, I got it." Ardi dapat mengerti tentang apa yang telah dijelaskan oleh Cindy dengan gamblang dan rinci. Sangat jelas di kepala Ardi apa yang sedang terjadi serta segala kemungkinan dan tindakan yang harus diambil olehnya nanti. Ardi tahu benar bahwa Irza Wismail, pimpinan Wismail Grup ini pria yang seperti apa. Dan Ardi percaya seratus persen bahwa sahabatnya itu pasti mampu membereskan segala kekacauan dalam perusahaannya sendiri dengan baik. Ardi beranjak perlahan dari tempat duduknya, berjalan santai ke ruangan rapat yang ada di sebelah ruangannya sebelumnya. Dengan Bambang dan Cindy, kedua asisten pribadi yang setia mengikuti dibelakang langkah. Suasana gaduh yang terjadi di dalam ruangan rapat langsung berubah menjadi sunyi seketika saat Ardi memasuki ruangan. Kesunyian terus berlanjut sampai Ardi mengambil tempat duduk di kursi pimpinan rapat, sejajar dengan kursi kelima pemegang saham tertinggi lainnya yang turut hadir disana. Maheswara Hartanto dari Hartanto Group, Tyo Sampoerna dari Sampoerna Group, Ceicillia Tang dari Ciputra Group, Nick Marcus dari MarcusGo Group serta yang terakhir tentu saja Irza Wismail dari Wismail Group, yang menjadi topik bahasan rapat direksi. Kelima pimpinan Group raksasa itu kompak memberikan senyuman di bibirnya menyambut kedatangan Ardi. Senyum kelegaan yang jelas tersungging di wajah mereka. Mereka percaya bahwa kedatangan Ardi pasti bisa memberikan penyelesaian untuk rapat tanpa direksi yang berlangsung alot ini. "Pimpinan rapat saya ambil alih." Ardi berkata dengan suara setegas mungkin. Setegas dan selantang yang dia bisa dengan keadaan tubuhya sekarang tidak begitu baik. "Silahkan perwakilan dari setiap perusahaan untuk mengemukakan pendapatnya masing-masing." Ardi mempersilahkan kepada belasan pimpinan perusahaan untuk bergantian berbicara atas nama perusahaannya. Satu persatu direktur perusahaan itu berbicara dan berpendapat. Sebagian besar meminta keadilan atas kerugian yang menimpa perusahaan mereka. Sebagian lain malah menyalahkan Wismail Group yang dinilai lalai dan tidak dapat menjaga nama baik. 'Dasar perusahaan kelas teri, rugi dikit nyari kambing hitam buat dijadikan alibi.' Umpat Ardi dalam hatinya dengan kesal. Sebagai seorang CEO handal dari sebuah perusahaan raksasa, Ardi tahu benar bahwa semua ini hanya masalah persaingan bisnis. Karena jelas banyak pihak yang ingin menjatuhkan Wismail. Dan Ardi sama sekali tidak gentar hanya karena masalah kecil begini. Karena Ardi percaya Irza, sebagai pimpinan Wismail Group pasti bisa mengatasi semuanya. "Terima kasih atas semua pendapat dan saran dari anda sekalian," ujar Ardi mengakhiri sesi mengemukakan pendapat setelah seluruh perwakilan perusahaan mendapat giliran bicaranya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD