05. Tanggung Jawab seorang CEO

1134 Words
Ella kembali membawa nampan bekas sarapan Ardi ke dapur di lantai bawah. Sengaja meletakkan di sink serta mencucinya disana dengan tangannya sendiri. "Lho Nyonya Ella, taruh saja disana nanti saya yang mencuci." Ujar Ijah panik, merasa tak enak melihat majikannya mencuci piring. Ijah adalah kepala pelayan yang ada di Pradana Mansion tempat Ella dan Ardi tinggal. Wanita paruh baya yang sudah sejak lama bekerja untuk keluarga Pradana dan melayani Ardi sejak kecil. "Gak pa-pa Bi, aku sudah biasa mencuci piring sendiri kok." Ella tak keberatan untuk sedikit membantu pekerjaan di rumahnya sendiri. "Jangan Nyonya, nanti kami yang dimarahin Bu Kartika kalau ketahuan." Ijah tidak ingin membuat majikannya kerepotan. Buat apa ada tiga orang pelayan di rumah ini kalau nyonya mereka harus ikut mengotori kedua tangannya sendiri? "Sudah gak pa-pa," Ella meyakinkan Ijah. "Oiya nanti untuk makan siang mas Ardi gak usah masak bubur lagi. Buatkan nasi tim halus saja. Untuk kuahnya, tolong bikinkan soto ayam sesuai permintaan dia. Tapi jangan banyak-banyak kaldunya ya, biar gak eneg." Lanjut Ella memberikan arahan perintah. "Baik Nyonya," Ijah menurut tanpa banyak bertanya lagi. Dia sudah hafal bagaimana rasa soto yang disukai Ardi. Selanjutnya Ella menghabiskan waktu paginya dengan kelas memasak. Yah benar kelas memasak, kelas yang sama sekali tak pernah terbayangkan akan diikuti oleh Ella sebelum menikah. Sejak kejadian tragedi kelengkeng yang menghebohkan beberapa hari yang lalu, mama Kartika menjadi sangat berhati-hati tentang menu makanan Ardi. Mama Kartika adalah mama Ardi yang sudah terkenal sangat cerewet dalam segala urusan kesehariannya. Beliau ingin memastikan benar-benar apa saja yang dimakan oleh putranya. Ingin memastikan keamanan dan kandungan gizinya. Seakan tak ingin kejadian mengerikan yang nyaris mencelakakan Ardi terulang lagi. Beliau bahkan sampai memanggilkan chef profesional dari Hotel J.W Melati untuk memberikan kelas memasak khusus kepada Ella. Menurut mama Kartika, paling tidak Ella harus bisa membuatkan makanan bekal untuk Ardi. Kalau Ella sendiri yang membuat untuknya, Ardi pasti tak akan keberatan membawanya ke kantor. Siapa yang akan menolak 'bekal cinta' bikinan istri coba? Ella pribadi sama sekali tidak keberatan dengan tindakan mertuanya ini. Mumpung dirinya juga masih dalam cuti bekerja untuk acara honeymoon. Dan karena acara honeymoon mereka berakhir dengan tidak indah, jadilah Ella tak ada kerjaan. Alasan lainnya tentu saja jauh dari lubuk hatinya, Ella juga ingin bisa memasak untuk Ardi. Mempersembahkan masakan rasa cinta untuk suaminya itu. Akan tetapi, nyatanya memasak itu tak semudah yang terlihat pada acara-acara memasak di televisi. Sudah dua hari ini kelas memasak berlangsung, namun sepertinya skill memasak Ella tetap begitu-begitu saja. Yah mungkin masih perlu banyak latihan. Tepat tengah hari Ella sudah siap dengan semangkuk soto ayam dan nasi tim diatas sebuah nampan. Masakan siapa? Tentu saja masakan Bi Ijah yang tadi dipesannya untuk Ardi. Hasil masakan Ella selama kelas memasak masih belum layak untuk disajikan buat tuan besar Pradana. Kasihan suaminya itu kalau harus memakan hasil masakannya yang belum jelas arah rasanya kemana, gak ngalor dan gak ngidul. Ella membawa nampan berisi makanan itu ke lantai dua, menuju ke kamar utama mereka berdua. Betapa kagetnya Ella saat mendapati Ardi sudah tidak ada di ranjangnya. Sudah bangun kah dia? Ella meletakkan nampan makanan itu di meja dan berkeliling kamar mencari-cari di mana sosok Ardi. Ella semakin kaget lagi saat mendapati Ardi yang sedang dalam proses berpakaian. Pria itu sedang mengancingkan kemeja putihnya, work suit yang biasa dia pakai untuk bekerja. "Mas Ardi? Kamu mau ke mana?" tanya Ella pada Ardi menyelidik. "Ke kantor sebentar Honey," Ardi menjawab sambil meneruskan kegiatan memakai pakaiannya. "Gak boleh! Kamu kan masih belum sembuh, Mas? Suruh saja anak buahmu ke sini kalau ada urusannya mendesak. Kamu gak perlu datang langsung ke sana." Ella tidak suka mendengar jawaban dari Ardi. Mau pergi ke kantor? Dengan tubuhnya yang masih selemah itu? Big No! "Sorry Honey, kali ini beneran mendesak banget. Aku cuma datang rapat sebentar terus pulang lagi kok." Ardi berusaha meyakinkan Ella untuk tidak khawatir. "Ngapain aja sih kerjanya Bambang, Cindy dan anak buah Mas Ardi yang lainnya? Sudah tahu bosnya masih sakit kok masih disuruh kerja saja?" Ella sudah ngomel-ngomel saking kesalnya. Menyebutkan dua nama asisten Ardi yang sudah dia kenal dengan baik. "Mereka berdua sudah keteteran selama beberapa hari ini aku absen. Masalah penurunan nilai saham masih belum kelar, bahkan makin parah keadaanya. Nasib ribuan karyawan Pradana Grup dipertaruhkan, El. Aku harus pergi." Ardi menjelaskan alasannya untuk bersikeras pergi kepada Ella. Menjelaskan tentang kewajiban seorang CEO yang harus Ardi tanggung. Sebagai pimpinan dari group perusahaan raksasa Pradana, Ardi memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Yang menyangkut nasib serta hajat hidup bagi ribuan karyawan di bawah naungan Pradana Group. Ardi mengambil sebuah dasi dan jas berwarna navy dari almari. Lalu dia berkutat memasang jas serta dasinya di leher kemeja. "Kenapa kamu gak kasih instruksi dari sini saja? Kan bisa by phone?" Ella menghampiri suaminya itu, masih berusaha merayu agar tidak pergi. Dia membantu untuk memasangkan dan merapikan dasi serta jas Ardi. "Kayaknya aku cuma perlu hadir dan duduk saja di sana, ngasih keputusan. Kalau bukan aku yang memberikan titah langsung, gak bakal dituruti oleh semua devisi." Ardi menjelaskan peranan pentingnya sebagai seorang pemimpin. "Yaudah, tapi nanti langsung pulang ya setelah urusan selesai. Kamu jangan memaksakan diri." Ella menepuk ringan bagian depan tubuh Ardi setelah memastikan kerapiannya. Masih tak rela rasanya untuk melepas kepergian Ardi kali ini. "Okey, Honey." Ardi mengecup ringan kening Ella sebagai ucapan terimakasih atas sifat pengertian istrinya itu. "Makan siang dan minum obatnya dulu ya sebelum berangkat, Mas." Ella menunjuk menu makan siang yang tadi sudah dia letakkan di meja. Ardi menurut saja menghampiri sofa dan menikmati menu makan siangnya. "Untuk obat dibungkus aja, Honey. Nanti aku minum setelah rapat selesai, biar gak ngantuk." Ujar Ardi sambil terus mengunyah makanannya. "Iya, tapi jangan sampai telat lho ya minumnya." Ella mengingatkan dan mempersiapkan satu dosis minum obat Ardi dalam sebuah drug box mini. "Aku akan minta Pak Hasan siapin mobil buat nganter kamu." Ella mengirimkan pesan ke pak Hasan, salah satu supir yang stand by di Pradana Mansion ini. Ardi hanya mengangguk menanggapi. Senang dengan pelayanan dari Ella yang sangat memuaskan baginya. Setelah Ardi menghabiskan lebih dari separuh porsi menu makan siangnya, pria itu beranjak. Ella dengan siaga membantu Ardi berjalan, memegangi lengan suaminya erat-erat. Ella merasa masih terlalu berbahaya bagi Ardi untuk menuruni tangga sendirian, takut tiba-tiba oleng dan tergelincir jatuh. "Aku berangkat dulu ya, Honey" Ardi menepuk ringan puncak kepala Ella sebagai pamitnya di teras rumah. "Take care, jangan memaksakan diri. Obatnya aku taruh sini, nanti jangan lupa diminum." Ella meraih tangan kanan Ardi dan menciumnya. Entah mengapa rasanya masih tidak rela melepas kepergian Ardi kali ini. Ella memasukkan drug box berisi obat Ardi ke saku jasnya. Ardi hanya mengangguk sebagai jawaban untuk Ella, sebelum akhirnya memasuki mobil yang sudah siap menantinya di sana. Kemudian mobil BMW hitam yang dikemudikan oleh Pak Hasan langsung melaju meninggalkan kediaman Pradana begitu Ardi memasukinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD