“Ada keperluan apa?”
Seorang lelaki bertubuh tinggi dan kekar membuka pintu, wajahnya dipenuhi tato. Tampak melirik penampilan Liz dari atas ke bawah, lalu menoleh ke belakang.
“Hei, ada yang memesan wanita?!”
Teriakannya mampu membuat Liz gelagapan. “Tidak,” potongnya membuat lelaki itu menoleh lagi.
“Aku ... Aku ingin bertemu Tuan Mackenzie.”
“Ayah? Untuk apa bertemu dengan ayah? Dan Anda salah alamat, Nona. Atau mungkin salah orang,” balas lelaki itu.
Liz mengernyit, kembali mengingat-ingat nama yang tertulis dalam berkas-berkas itu. “Riens Mackenzie, aku ingin bertemu dengannya.”
Wajah lelaki itu semakin bingung, seakan-akan Liz mengatakan sesuatu yang aneh. Suasana ini pun semakin membuatnya tak nyaman, terlebih dengan pakaian terbuka yang kini ia kenakan di balik mantel bulunya.
“Siapa?”
Suara lain terdengar. Seorang pria dalam setelan jas kerja rapi terlihat berdiri menatapnya, sama seperti yang lain, lelaki itu menatap heran.
“Masuklah,” katanya kemudian.
Liz tersentak. Masih mencerna jawaban yang didengarnya, sampai lelaki tadi menoleh lagi.
“Kenapa diam? Bukannya ingin ketemu dengan Riens?”
Bergegas Liz masuk, dan langsung disuguhi pemandangan rumah yang didominasi warna gelap seperti hitam dan abu-abu tua.
“Bertemu bos? Apa dia yakin? Tapi untuk apa? Bos 'kan_”
“Diamlah, dan kembali latihan.” Lelaki berpakaian rapi memotong, sesekali melirik ke arah Liz yang beberapa langkah di belakangnya.
***
Bunyi ledakan senjata api terus terdengar, peluru yang keluar berhasil mengenai target yang berada jauh dari jarak berdiri. Riens tampak fokus, panasnya matahari justru membuatnya bersemangat.
Peluh membasahi, membuat kaos hitam lengan pendek itu basah dan menekan kuat tubuhnya yang terukir sempurna.
Sekelebat bayang wajah yang muncul, membuat peluru menembus sisi lain target. Riens berdecap, lantas melepas kaca mata pengaman sebelum meneguk habis air dalam kemasan botol.
“Ada apa?”
Tanpa menoleh, Riens bertanya.
“Perempuan itu ada di ruang tamu, dia ingin menemuimu.”
Barulah Riens menoleh. “Perempuan? Siapa?”
Jeff terdiam sejenak, lantas memicing curiga. “Hei, Riens. Kamu serius dengan semua ini? Maksudku, apa boleh kita melibatkan orang polos sepertinya? Dia bahkan tidak tahu apa pun.”
Riens menatap lama, lalu tanpa kata pergi dari halaman belakang rumah. Jeff mendengus, sebelum akhirnya menyusul. Sementara Riens tampak tergesa-gesa, terlebih ingin memastikan semuanya sendiri.
Sampai dia tiba di ruang tamu, bibirnya tak kuasa menahan senyum tak percaya. Perempuan itu berada di sana, duduk di sofa dan terlihat tengah gelisah. Pandangan penghuni lain bagai melihat mangsa, jelas saja tak pernah ada perempuan yang datang ke mari.
“Ikut denganku,” ujarnya membuat perempuan itu menoleh.
Riens mengernyit, alis tebalnya turut menyatu. Kulit putih terlukiskan semburat keunguan di beberapa titik, terekspos sempurna saat Liz berdiri.
“He—Hei!” suaranya gemetar.
Riens menoleh ke sekitar, lalu menghela napas. “Jeff, urus mereka. Jangan biarkan seorang pun masuk ke ruang kerjaku.”
Dia berbalik dan pergi, tapi berhenti lagi dan menoleh ke belakang. “Kenapa?”
Liz terperanjat, lalu dengan cepat menyusul. Sampai mereka tiba di sebuah ruang. Riens mendekat ke arah coffee machine, tak berapa lama membawa dua cangkir kopi dan meletakkannya di meja kaca.
“Jadi? Ada apa?”
Perempuan itu tak jua beranjak, dan memilih berdiri di ambang pintu. Riens memperhatikan dengan lekat sambil melipat tangan di d**a.
“Apa dia memaksamu untuk pergi?”
Gotcha!
Riens tepat sasaran, melihat respons tubuh kurus itu yang sontak membeku. Kemudian dia duduk dengan tenang, memandang lurus pada Liz yang enggan balik menatapnya.
“Jadi, apa saja yang dia katakan?”
“Aku hanya ingin mengembalikan ini!” Setelah sejak tadi diam, perempuan itu akhirnya bersuara.
Riens mengernyit melirik bingung pada benda yang disodorkan Liz.
“A—Aku tidak membutuhkannya, ambil itu kembali dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!”
Pertama kalinya Riens mendengar suara perempuan itu dengan jelas. Ada keraguan yang tertutup sempurna di balik netra bening yang kini tengah menatapnya tajam.
“Lakukanlah.”
Melihat wajah bingung itu. Riens melanjutkan, “lakukan apa yang orang itu katakan. Bukankah kamu lebih takut dipukuli, di banding dengan merendahkan dirimu.”
Tubuh itu gemetar, pun dengan tangan yang kini masih mengambang di udara. Riens menikmatinya, setiap ekspresi yang dikeluarkan Liz. Dia sering menemui orang sepertinya, berusaha tidak terlihat rapuh walau nyatanya sudah terlalu jatuh.
“Simpan saja ponselnya,” ujar Riens. “Masih ingat letak pintunya, 'kan?"
Kemudian Riens mulai disibukkan oleh ponselnya, mengecek pesan dan email yang masuk sebelum menghubungi salah satu nomor. Namun, dia mengernyit. Ketika perempuan itu sudah berdiri di depannya.
Tubuhnya seketika membeku, terlalu terkejut kala tubuh ringan itu duduk di pangkuannya. Tampak kaku. Jemari lentik yang gemetar itu mencoba menyentuh rahang tegas Riens. Dapat dia rasakan sensasi dingin di wajahnya.
“Apa ini?”
Liz masih diam, enggan mendongak untuk sekadar menatap. Perempuan itu duduk menyamping. Tangannya yang dingin merambat menyentuh rahang yang terasa kasar di permukaan kulitnya.
Riens menatap lekat, masih tidak bergerak, dan memilih memperhatikan ekspresi Liz di antara surai lebatnya. Tubuh kaku perempuan itu jelas dirasakannya, pun dengan kecanggungan dan ketakutannya.
“Jika seperti ini, dia akan kecewa dan tak puas dengan hasil kerjamu.”
Riens menarik tubuh ramping Liz mendekat, membuat perempuan itu tersentak dan sontak meletakkan kedua tangan di masing-masing pundak kekar miliknya.
Aroma manis menguar membuat Riens mengerutkan kening, aroma asing yang justru membuatnya tenang. Matanya bergulir, memperhatikan wajah yang dipenuhi riasan tebal yang kembali membuat hatinya memanas.
Namun, tidak mampu menyembunyikan sembab di mata sendu itu. Pandangan Riens turun, memperhatikan semburat keunguan yang tersembunyi rapi di beberapa titik. Goresan warna yang dirinya benci.
Riens menunduk.
"Jangan pernah lakukan ini kepada siapa pun,” bisiknya. Dia menggeram, dadanya memanas tanpa sebab.
Kemudian Riens menarik tangan Liz memaksa perempuan itu ikut berdiri.
“Sakit! Lepas!” Perempuan itu memberontak. Namun, Riens menariknya mendekat.
Dia berbisik lirih, “menjauhlah, dan jangan pernah_”
Kalimatnya terhenti, kala mata itu menatap sengit. Cengkeramannya melemah, lantas Riens melepas tangan Liz, dan bergegas menuju jendela. Tak berapa lama, dia mendengar derap langkah menjauh dan pintu yang ditutup kencang.
Napas tertahannya berembus bersama helaan napas panjang. Di bawah sana tampak perempuan itu terburu-buru memasuki sebuah mobil putih yang disadarinya menunggu di luar gerbang.
“Kamu mengusirnya?” Sebuah suara menyapa.
Riens hanya membalas dengan gumaman tak jelas. Masih memperhatikan mobil putih yang perlahan meninggalkan kediaman mewahnya. Barulah dia berbalik, mendapati Jeff sudah duduk di sofa sambil meneguk kopi.
“Kukira dia akan menjadi perempuan pertama yang menghangatkan ranjangmu.”
Riens melirik sekilas, dan memilih mengecek ponselnya kembali. “Malam ini kirim Tim 1 untuk pergi ke klub, bersiaplah. Karena sepertinya akan ada pembersihan besar-besaran.”
Jeff mengernyit. “Apa aku harus ikut?!”
“Ya, itu 'kan tugasmu.”
Mengabaikan seruan tak terima Jeff, Riens bersiap untuk pergi.
“Ke mana?! Jangan lupa pakai pengaman!”
Tawa mengejek Jeff mendapat delikan tajam dari Riens, tapi memilih mengabaikan dan pergi dari sana.
“Dasar, percuma saja punya segalanya. Apa dia benar-benar tidak punya gairah pada wanita?!”
***
Aroma anyir darah dan asap pekat dari rokok menyebar ke segala penjuru ruang. Tubuh yang saling meliuk itu kini terkapar di lantai, musik memekakkan telinga tergantikan raungan penuh kesakitan.
“Di mana Rodrigo?” tanya Riens.
“Dia kabur, aku rasa kedatangan kita sudah terendus olehnya. Ingat julukan dia? Si anjing gila.” Jeff menjawab dengan mata yang mengedar mengawasi.
Riens menghela napas, lalu melepas sarung tangan hitam yang dikenakan dan melemparnya. Sebelum mengganti dengan sarung tangan baru.
“Urus mereka sebelum polisi datang, setelah itu kembalilah.”
“Hei, Riens. Jangan terlalu hanyut, aku akan menyusulmu nanti.”
Riens melirik sekilas, sebelum pergi dari klub. Udara malam kota Jakarta terasa hangat, rintik-rintik hujan tak memudarkan kepadatannya. Berlari melalui gang-gang sempit dan gelap, dia akhirnya tiba di sebuah bangunan bekas pabrik tak terpakai.
Di sanalah si anjing gila itu berada, terlihat kalut melihat keberadaannya, dan langsung naik ke lantai dua bangunan. Riens menyusul, melewati tangga lapuk, sampai tiba di sana.
Matanya mengedar, dalam posisi siaga dengan senjata api di tangan. Satu peluru berhasil meruntuhkan salah satu pilar penyangga. Aksi kejar-kejaran pun terjadi, Jakarta yang sibuk, semakin dibuat ricuh oleh adu senjata api.
“Sialan!” sentak Rodrigo yang kini terkapar dengan Riens yang mendudukinya.
“Berhenti memberontak, karena percuma saja. Tuan tetap akan menemukanmu,” ujar Riens sambil berusaha mengikat tangan Rodrigo ke belakang tubuh.
Namun, pria berambut pirang itu justru tertawa keras. “Sampai kapan kamu mau menjadi anjingnya? Dia itu tidak peduli dengan kita, karena baginya perusahaan adalah harga dirinya.”
Riens memilih diam usai memastikan ikatan di lengan Rodrigo sudah cukup kuat. Pesan yang dikirimkan Jeff juga dengan bunyi sirene yang terdengar nyaring, membuatnya berdiri.
Dia bersiap pergi.
“Tunggu di sini, akan ada anak-anak lain yang datang.”
Selepas itu berbalik dan melangkah.
“Sungguh, Riens? Meski aku membencimu, tapi aku lebih benci melihat pria itu berada di atas puncak kekuasaan.”
Perkataan Rodrigo membuat Riens terdiam.
“Jangan terlalu tunduk hanya karena rasa balas budimu, karena yang membuat kita kehilangan satu-satunya rumah dan keluarga adalah dia sendiri. Percaya atau tidak, tapi aku sudah tahu semuanya.”
Riens berbalik, menatap wajah pasrah Rodrigo yang dipenuhi darah. Lelaki itu sudah terluka sejak awal, sebuah keberuntungan masih bisa bertahan.
“Riens!”
Suara Jeff membuatnya menoleh.
“Kita harus pergi,” sambung Jeff dengan napas terengah.
Riens mengangguk, lantas keduanya pergi dari sana. Meninggalkan Rodrigo bersama anak-anak tim 1 lainnya.
“Pikirkan baik-baik yang kukatakan, Riens!” seruan Rodrigo masih terdengar.
Jeff melirik ke belakang, lalu beralih menatap Riens.
“Memang apa yang dia katakan?” tanyanya.
“Bukan apa-apa,” sahut Riens. “Aku akan pergi ke rumah utama, kalian langsung saja kembali.”
Jeff berhenti, memandang punggung Riens yang perlahan menjauh. Jika Rodrigo disebut anjing gila, maka Riens adalah kegilaan yang sesungguhnya.