“Selamat malam, Tuan Riens.”
Sambutan kepala Maid didapatnya ketika tiba di kediaman utama Mackenzie. Rumah mewah itu sunyi.
“Di mana ayah?”
“Beliau berada di ruang kerjanya.”
Riens mengangguk, lalu bergegas pergi ke lantai dua. Menyusuri lorong berarsitektur gaya Eropa, sampai tiba di depan sebuah ruang. Tiga kali ketukan diberikan, setelah mendapat sahutan dari dalam barulah dia masuk.
“Riens! Kukira kamu tidak datang, jadi bagaimana?”
“Semuanya selesai seperti biasa,” balas Riens.
“Tidak, aku tidak membicarakan itu. Kudengar kamu mengunjungi kediaman Morgan Antonio,” ujar pria yang duduk tenang tanpa sekalipun berbalik.
Riens melirik sekilas, dan kembali memandang kosong ke arah meja di mana tumpukan berkas berada. Termasuk foto-foto mengenai keberadaannya di kediaman Morgan.
“Dia memang terobsesi menggantikan ayahnya, tapi dia tidak seceroboh itu menerima kontrak dari kita. Meski tahu kontrak kerja sama ini akan sangat menguntungkan perusahaan keluarganya."
Kursi kerja itu akhirnya berbalik, seorang pria paruh baya dengan pakaian tidur dan tembakau di tangan tampak datar menatapnya.
Seperti akan dikuliti hidup-hidup, tatapan pria itu tak pernah bisa Riens tebak. Bahkan senyum tipisnya yang kini diperlihatkan, bukan berarti karena kepuasan akan kinerja yang dia lakukan.
“Bagaimana dengan perempuan itu? Wira Maheswari sangat menyayangi putrinya,” papar Yamaa. “Aku rasa ini akan jadi tugas sulit untukmu, tapi pasti kamu tidak mau mengecewakanku, 'kan?”
“Ya, Ayah.”
Embusan asap rokok pekat membumbung tinggi mengudara di langit-langit ruang, suasana sunyi yang tercipta bagai hitungan waktu kematian.
“Bermalamlah di sini, dan ikut aku besok ke kediaman Maheswari.”
Riens menoleh cepat, tapi tak bersuara.
“Aku hanya ingin berjumpa kawan lamaku, melihatnya hidup baik-baik saja sampai sekarang membuatku bertanya-tanya.” Yamaa duduk bersandar, pikirannya kini berkelana.
Kemudian dia beralih menatap Riens. “Apa kamu tidak penasaran juga kenapa? Melihat dalang utama kehancuran hidup kalian, hidup seakan tanpa beban.”
Riens memilih bungkam, walau nyatanya hati sudah tak karuan. Dia mengambil napas pelan-pelan. “Apa saja yang perlu aku persiapkan untuk besok?”
“Tidak ada, cukup kehadiranmu saja. Kembalilah ke kamarmu,” papar Yamaa kembali memutar kursinya.
“Ini akan lebih mudah andai saja si Antonio itu tidak bergerak lebih cepat menikahi putri si bajingan.”
Sayup-sayup masih Riens dengar kalimat yang terlontar dari mulut Yamaa. Keheningan larut dalam dendam emosi yang membara. Riens membiarkannya sendirian.
Melewati satu persatu ruang, sampai tiba di kamarnya. Masih sama rapi sekalipun dia hanya berkunjung sesekali. Lalu dengan terburu-buru, pakaian yang bau asap itu dilepas.
Jas dan kemeja hitam tersebut lantas dilemparnya sembarang, mengabaikan rasa lelah yang mendera, pikiran Riens justru melambung. Meski yang terlihat hanya ingatan acak yang membuat pening.
Getar ponsel di saku celana membuatnya tersentak. Namun, sudut bibirnya naik melihat nama si penelepon.
“Hei, Riens.” Suara lembut menyapa, di antara keremangan cahaya ruang, Riens masih dapat melihat jelas sosok manis di seberang sana.
***
Gemuruh petir silih berganti terdengar, hujan yang sudah mengguyur sejak sore tadi menyisakan udara dingin yang menembus tulang. Ketukan pintu akhirnya menjadi sunyi. Liz berbaring meringkuk di atas ranjang, selimut putih membungkus sempurna seluruh tubuh.
Ia memeluk tubuhnya sendiri, mengingat kembali kejadian siang tadi, dan berakhir merutuki dirinya. Masih teringat jelas tatapan serta sentuhan ringan pria itu yang membuat air matanya semakin tumpah.
Riens Mackenzie. Liz hanya tahu namanya, tapi sudah menjadi trauma baru untuknya. Usai meninggalkan rumah itu, ia kembali ke apartemen Morgan. Wajah rupawan Riens justru tak kunjung hilang dari ingatan, terutama tatapan kosongnya.
Riens mungkin salah satu b******n seperti Morgan, dan jatuh dalam pesonanya adalah sebuah kesalahan yang harus cepat dimusnahkan.
Harapan Liz hanya satu, berharap agar proses perceraian dengan Morgan segera menemukan titik terang.
***
“Pergi saja sendiri!”
Lagi-lagi kalimat itu yang Liz dengar, ia menghela napas. “Papa mengundang kita untuk datang bersama, setidaknya lakukanlah sebagai permintaan terakhirku.”
Morgan mendelik tajam, lalu meletakkan gelas kristal di tangannya dan berdiri. “Kamu sendiri tidak becus melakukan satu pekerjaan, dan kini berharap dapat imbalan?”
“Jadi tidak masalah untukku memberitahu mereka tentang perceraian kita?”
Tidak. Seharusnya Liz berhenti bicara, karena memancing emosi Morgan adalah pilihan buruk untuk mengawali hari. Bahkan pukulan sisa semalam masih membekas sakitnya.
Lelaki itu tertawa aneh, dia mengapit sisi wajah Liz kembali memaksanya mendongak. “Lakukan saja, karena ada atau tidak adanya dirimu tidak akan mempengaruhi hidupku. Penolakan yang Riens Mackenzie lakukan adalah bukti bila memang kamu tidak berguna.”
Wajah itu menoleh paksa, ketika satu tamparan mendarat mulus di sana. Liz merasa napasnya memberat, sesak dirasa membuatnya tak sanggup berkata.
Melarikan diri dari Morgan dalam emosi yang kini meluap-luap, Liz meninggalkan apartemen. Memasuki mobil yang telah disiapkan, dan pergi dari sana.
Melintasi jalanan yang sudah dipadati kendaraan, ditemani alunan musik piano dari radio, dan sekelumit kisah yang tak seindah negeri dongeng. Terlalu larut dalam lamunan.
Mobil berhenti di kawasan perumahan elite. Tepat ketika kakinya menginjak tanah, kediaman Maheswari kedatangan tamu lain.
Liz mengernyit, memandang mobil hitam asing di depannya. Sampai sosok yang keluar dari kemudi, membuat Liz terperanjat.
“Sudah datang?”
Suara ringan pemilik rumah kembali membuatnya terkejut, bergegas Liz menghampiri pria paruh baya yang menyambutnya dengan senyum.
“Hai, sayang. Kamu pergi sendiri? Di mana Morgan?” Wira merangkul pundak putrinya.
“Dia ... Dia memiliki pekerjaan penting, jadi hanya bisa menitip salam.” Liz kembali melirik ke depan, di mana sosok yang paling ingin ia hindari, justru muncul di hadapannya.
“Riens Mackenzie?” Wira kembali bersuara, diam melepaskan rangkulan pada Liz, dan menghampiri Riens.
“Selamat pagi, Pak Wira. Saya Riens,” sapa pria itu.
Wira menepuk-nepuk pundak Riens sambil tersenyum lebar. “Kamu sudah sebesar ini, dulu kamu bahkan lebih kecil dari Liz.”
Liz menoleh cepat. Lebih kecil darinya? Apa mereka pernah bertemu? Kapan? Di mana? Pertanyaan-pertanyaan itu silih berganti muncul. Diperhatikannya wajah Riens, tampak begitu asing dan tak ramah.
“Masuklah, sudah lama aku ingin melihatmu.” Wira berjalan lebih dulu, bersama tongkat yang setia menemani langkahnya yang tertatih.
Liz menyusul sembari memapah papanya. Sesekali melirik ke belakang, di mana Riens bergeming.
“Bagaimana dengan Yamaa? Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya, apa dia masih sibuk dengan bisnisnya di Italia? Padahal dia yang menghubungiku lebih dulu kemarin, tapi ternyata hanya kamu yang datang.”
Riens berdeham, lalu mengangguk. “Ya, beliau masih sibuk di sana.”
Wira mengangguk-angguk, pandangannya beralih pada Liz yang sedari tadi duduk membeku di sampingnya. “Liz, kamu pasti tidak ingat dengan Riens. Tapi dulu kalian pernah bertemu_”
“Di mana?” potong Liz yang sontak menutup mulut. “Maaf,” gumamnya menunduk.
Wira terkekeh. “Saat umurmu enam tahun, kamu sering memaksa untuk ikut ke panti. Riens salah satu anak di sana, dan kamu bilang kamu suka permainan pianonya.”
Liz melirik ke arah Riens. Tubuh kekar dan tinggi yang tersembunyi apik di balik pakaian serba hitamnya, serta luka di wajah tanpa ekspresinya menjadi perhatian Liz.
“Liz adalah penari balet yang cukup hebat, tapi dia tidak sesering dulu melakukannya. Kapan-kapan kalian bisa sama-sama tampil di panggung,” papar Wira.
Liz kembali menatap sang papa, ada luka di tatapannya yang tampak lelah. Sensasi nyeri kembali dirasa membuat ia menunduk, meremas kuat lutut kirinya yang pernah melalui meja operasi.
“Dengan senang hati saya lakukan,” kata Riens dengan suara beratnya yang khas.
Mereka bertemu tatap, terpaku lama oleh rasa asing menghantarkan harap.
“Tapi sayangnya bermain piano bukan sesuatu yang saya nikmati lagi,” lanjut Riens.
Tatapannya mampu membius Liz. Dari banyaknya luka dan sunyi, tatapan itu adalah perpaduan sempurna dari sebuah penderitaan.