“ Kami siap kalau kalian semua mengijinkan. “
Raisa memejamkan mata sejenak, menatap Luke seakan minta dukungan, dan angkat suara saat Luke mengeluskan ibu jari pada punggung tangannya “ Bukan cara yang biasa, tapi tetap saja pernikahan kami membutuhkan restu semuanya. “ ujarnya pelan.
Sam menghentakkan kakinya, kendati sedikit lega melihat gerakan kecil ditangan mereka , “ Aaaah, kalian gak harus mengorbankan diri seperti ini. “
“ Saat ini mungkin terlihat seperti pengorbanan. Tidakkah kamu berpikir ini memang jalan yang dituliskan untuk kami ? “ Sahut Luke tenang ,” Saat ini kamu kehilangan Jessy, tapi tidak akan pernah kehilangan Raisa. Dia akan tetap jadi sahabatmu, dan bahkan jadi seorang kakak yang selalu mendukungmu.”
Sam memeluk Raisa, merasakan dukungan seperti yang selalu diterimanya. Terlepas dari rasa sakit, malu dan marah yang berkecamuk dalam dirinya … Sam merasa lega bahwa Raisa tidak akan pernah jauh darinya dan keluarganya. Seketika ia memahami dan mensyukuri keputusan Luke, karena ia tahu jika tidak menerima jalan keluar yang ditawarkan Luke, gadis ini akan menjauhkan diri atas nama harga diri.
“ Setidaknya kami sudah komit untuk menjaga hubungan ini. Cepat atau lambat rasa itu hadir … hanya waktu yang akan menjawab. “ Bisik Raisa sambil mengusap bahu Sam.
Tidak akan lama … sahut Sam dalam hati, secercah harapan sedikit mendinginkan hatinya. “ Kamu selalu ketakutan berdekatan dengannya. “ Sam menjauhkan tubuhnya.
“ Siapa yang tidak ?” Melirik sekilas pada Luke dan mengkerut saat lelaki itu menatap sambil mengangkat alisnya ,”Aku takut, tapi bukan penakut. “
Beberapa senyum tersungging.
“ Kamu perempuan paling kuat dan pemberani yang aku kenal. “ sekali lagi Sam memeluknya erat.
Luke menyetujuinya dalam hati.
“ Aku akan jadi pendampingmu, sekarang tambah sedikit make up yang luntur. Kamu mau menikah bukan ke pasar. “ Sam meluruskan tubuhnya mencoba tersenyum
Raisa tersenyum canggung, menatap neneknya yang akhirnya mengangguk dengan mata basah. Menatap orang tua dan Kakek yang memberikan restu dengan senyum dan tatapan matanya. Gusti … .setidaknya kami memulainya dengan benar dan dengan restu.
“ Gaun Jessy ada disitu … “ guman ibunya ragu.
“ Gak usah ganti, dia sudah cantik pakai gaun itu.” Sergah Luke, selain bahwa gaun Jessy sama sekali bukan gaya Raisa, ia yakin gadis itu lebih nyaman memakai miliknya sendiri , “ bisa make up sendiri ? Atau … “ diedarkannya pandangan..
Sam meraih ponsel memanggil salah satu stafnya , “ Ada Dina disini ? Kami butuh bantuannya. “ di dorongnya pelan Raisa ke kamar ganti , “ Ada Dina, make up artist kita. Dia akan membantumu. Dan … ibu, make upmu juga luntur. Tunggulah didalam bersama Raisa. “ ditariknya lengan Luke.
“ Apa ? “
“ Peke jas ku ? “
Luke tertawa pendek , “ Sudahlah aku pakai ini saja.” Dirapikannya jas hitamnya.
Sam memeluk kakaknya , “ Jaga dia baik baik. “ ujarnya dengan raut muka tak terbaca.
“ I’ll do my best. “ ditepuknya bahu Sam , “ Ketenanganmu bikin aku kuatir. “
“ Aku berusaha tenang hari ini, jauhkan Raisa dariku untuk beberapa hari kedepan. Aku bakalan tantrum sejenak. Aku tidak ingin melihat dia merasa lebih bersalah lagi … karena sesungguhnya dia sudah memperingatkan aku, bahkan terus terang memperingatkan Jessy dan Mike. Aku yang berkeras. “ Sam menghela nafas, memeluk kakaknya sekali lagi , “ Aku akan meminta paman Yo dan keluarganya untuk menjaga nenek selama kalian pergi. Ambillah villa terbaruku, anggap saja itu hadiah pernikahanku untuk kalian.” Ditinggalkannya Luke sendiri