Fara menggeram pelan, tangannya pun terkepal. Ia menatap Liam dengan tatapan cukup tajam.
“Padahal dia sendiri yang mengkhianati hubungan kami. Sekarang dia bilang begitu? Cukup dengan hatinya yang masih terpaut pada cinta masa kecilnya itu, maka semuanya sudah jelas. Tidak perlu kata putus pun, semuanya usai,” desis Fara dalam hati.
Melihat Fara diam, Liam mengembuskan napas, lalu mendekat mencoba berbicara baik-baik. “Fara, saat itu, 7 tahun lalu, di bandara ... kenapa kamu tidak—”
“Cukup, Liam,” tukas Fara cepat. Wanita itu menarik napas dalam, lalu mendongak menatap Liam sembari tersenyum paksa. “Saya rasa Tuan Collan sangat profesional. Saya sudah menyapa Anda sebagai atasan baru saya, saya juga sudah memperkenalkan diri. Harusnya sekarang saya bisa langsung bekerja, bukan? Apa yang perlu saya kerjakan, Tuan CEO?”
Ekspresi Liam berubah datar. Ia menatap Fara yang terlihat tak ingin membahas masalalu, padahal Liam ingin sekali mengkonfirmasi semua hal secara langsung kepada orangnya. Ada banyak pertanyaan yang tak terjawab di dalam benak Liam selama 7 tahun ini.
“Dia sengaja tidak ingin membahas masalah 7 tahun? Aku sudah menunggunya berjam-jam di bandara saat itu, tapi dia tidak datang. Aku malah mendapat kiriman foto kalau Fara sedang bersama Bram yang katanya hanya seorang abang. Cih, bullshit,” batin Liam sinis.
Fara pun menunduk, ia ikut bermonolog dalam hati. “Apa dia memang sengaja ingin mengungkit luka lamaku? Dia membahas kejadian 7 tahun lalu di bandara? Apa dia ingin memperjelas hubungannya dengan kekasih masa kecilnya itu di depanku? Padahal aku sudah bersusah paya menerjang hujan deras demi bisa menyusulnya ke bandara waktu itu, tetapi aku malah melihatnya berpelukan mesra dengan wanita lain. Dia ingin menekankan padaku jika aku ini hanya kekasih pengganti alias wanita pengganti, begitu ‘kan?”
Entah ada masalah apa di antara mereka. Tampaknya memang ada berbagai kesalahpahaman di antara Liam dan Fara 7 tahun lalu hingga sekarang.
“Keluar.”
Fara melipat bibirnya mendengar suara datar Liam. Tanpa berbasa-basi lagi, ia langsung melangkah melewati Liam begitu saja.
Liam menarik napas dalam, lalu memukul meja kerjanya dengann ekspresi marah. Perlahan pemuda itu menatap pintu ruangan kerjanya yang sudah tertutup. “Fara—kamu kira bisa lepas dariku begitu saja? Kamu tidak boleh menjadi milik orang lain, kecuali aku sendiri yang melepaskanmu,” desisnya.
Liam melangkah tenang ke arah kursi kebesarannya. Ia mengurut batang hidungnya sembari merebahkan punggung di sandaran kursi.
Cklek ...
Bayu yang baru masuk, mengerutkan kening melihat ekspresi Liam seakan tengah frustasi. Ia menoleh ke belakang, melirik Fara di depan ruangan kerja, sebelum pintu itu benar-benar tertutup.
“Ekhm.” Bayu berdeham pelan, mencoba menarik perhatian Liam.
“Bonus tahunanmu sepertinya butuh dipotong, Bayu.”
Bayu melotot. “Apa lagi salahku?”
Liam membuka matanya, lalu menatap Bayu dengan ekspresi datar. “Apa kau tidak punya tangan untuk mengetuk pintu?”
Bayu tersenyum kikuk. “Maaf, Pak CEO. Lain kali saya akan ketuk pintu.”
Liam dan Bayu sudah berteman sedari SMA. Jadi hubungan mereka sudah begitu dekat, maka dari itu, Bayu terkesan cukup santai saat bekerja meski Liam adalah atasannya. Meski begitu, ada masanya mereka berdua sama-sama serius dan profesional saat bekerja.
“Ini dokumen yang harus kamu tandatangani. Cek dulu, sudah sesuai atau belum. Setelah ini kita ada meeting.”
Liam mendongak menatap Bayu yang berdiri di seberang meja. “Meeting? Bukannya itu tugas sekretaris untuk memberitahuku? Kenapa jadi kau?”
“Karna sekretaris baru ‘kan baru masuk. Jadi dia belum tahu jadwalmu hari ini. Dia mulai beradaptasi untuk jadwalmu besok. Jadi untuk sekarang—”
“Tidak bisa,” tukas Liam datar, “suruh dia urus semua kegiatanku hari ini, mulai hari ini, bukan besok.”
Bayu mengembuskan napas pasrah. “Ya-ya, baiklah. Sepertinya sekretaris baru ini juga akan angkat kaki hari ini.”
“Tidak akan.”
Bayu mengerutkan kening. “Tidak akan?”
Liam tak menyahut, ia melemparkan dokumen tadi kepada Bayu. “Keluar, suruh dia ke sini.”
“Dia?”
Liam melipat bibir, menahan umpatan untuk Bayu. “Kau ingin pensiun dini, Bayu Lenggara?”
“Eh-eh? Tidak-tidak, ha-ha! Baiklah, aku akan minta Buk Fara masuk. Sabar, Pak CEO.” Bayu langsung membalikkan badan, lalu bergerak ke arah pintu. “Ck, dia sepertinya lebih badmood hari ini. Sedikit-sedikit marah. Kasihan sekali Buk Fara harus menghadapi karakternya itu. Haah, aku jamin, Buk Fara juga tidak akan bertahan lama,” gumamnya pelan.
Tak berselang lama, pintu ruangan CEO itu diketuk dari luar.
“Masuk,” ucap Liam datar.
Fara pun masuk, lalu berdiri di seberang meja kerja Liam. “Anda memanggil saya, Pak?”
Tanpa mengangkat kepalanya, Liam menyahut. “Buatkan saya kopi.”
Fara tersenyum paksa. “Baik, Pak.”
“Kopi hitam.”
“Baik, Pak.” Fara membalikkan badan, berniat pergi dari sana.
“Suhu airnya 92 derajat Celcius.”
Langkah Fara terhenti, ia kembali membalikkan badan, lalu tersenyum paksa. “Baik ‘lah, saya mengerti, Pak.”
“Gula 1 setengah sendok.”
Lagi-lagi langkah Fara terhenti. Ia melipat bibir, lalu berdeham pelan. “Oke, baik.”
Beberapa saat Fara tak bergerak, sengaja menunggu Liam berbicara memberi komando lagi. Namun, Liam sudah tak bersuara, sehingga Fara kembali membalikkan badan.
“17 gram air untuk 1 gram kopi.”
Fara memejamkan mata, lalu menarik napas kesabaran. Lagi-lagi ia membalikkan badan, lalu menatap Liam yang masih sibuk dengan dokumen di atas meja. “Baik ‘lah, ada lagi, Pak?”
Liam mengangkat kepalanya, lalu menatap Fara dengan ekspresi datar seperti biasa. “TPL.”
Kedua alis Fara hampir bertaut. “TPL? Ekhm, maaf, apa artinya itu, Pak?”
“Tidak pakai lama.”
Fara bengong sejenak, lalu berdeham menahan tawa. “Sejak kapan seorang Liam Collan jadi seperti ini?” batinnya.
“10 menit. Kalau telat, bonusmu saya potong.”
Seketika mata Fara terbelalak. “P-potong? Bagaimana bisa begitu, Pak?”
Liam tersenyum angkuh. “Kenapa tidak bisa? Saya bos-nya.”
Fara menggigit bibir bawahnya, ingin sekali rasanya ia mengumpati Liam yang tampak menyebalkan. Meski begitu, Fara hanya bisa tersenyum paksa. “Baik ‘lah, Pak CEO.”
Liam tersenyum puas melihat Fara berlari cepat keluar dari ruangannya. Ia seakan sengaja ingin mengerjai sang mantan, itu karena Fara membuatnya kesal saat pertemuan pertama mereka setelah 7 tahun berpisah.
11 menit kemudian.
“Ini kopinya, Pak.” Fara meletakkan cangkir kopi di atas meja dengan d**a naik turun setelah sempat berlari demi mengejar waktu.
Liam mengangkat pergelangan tangannya, melirik jam tangan. “Telat 1 menit, bonusmu dipotong.”
Mulut Fara ternganga. “Cuma 1 menit doang, kok, Pak.”
Liam mendongak, ia tersenyum tenang kepada Fara dan senyum itu terlihat sangat menyebalkan di mata sang sekretaris. “Ini perusahaan besar, waktu adalah uang.”
Fara menarik napas dalam, mencoba tetap tenang dan sabar. “Kalau begitu saya kembali ke meja, Pak,” ucapnya sedikit ketus.
“Tunggu.”
Fara menoleh malas. Ia menatap Liam yang sedang memegang cangkir kopi yang tadi ia buatkan. “Ada apa, Pak?”
“Ganti.”
Kening Fara berkerut. “Apanya ganti, Pak?”
“Kopinya. Kau memasukkan terlalu banyak gula. Sudah saya katakan, gulanya 1 setengah sendok.”
“Itu satu setengah sendok, kok, Pak,” jawab Fara.
“Satu setengah sendok apa? Satu setengah sendok nasi?” ejek Liam.
Fara melipat bibirnya. “Sabar, Fara, sabar. Demi gaji besar,” batinnya.
“Cepat ganti.”
Fara tersenyum paksa. “Baik, Pak.” Ia menyambar cangkir di atas meja cukup kasar karena kesal. Fara bahkan sempat mendelik ke arah Liam yang tersenyum mengejek ke arahnya. “Dia sengaja ‘kan? Dia sengaja ingin mengerjaiku. Liam b******n,” umpatnya dalam hati.