“Ini kurang gula. Buat ulang.”
“Ini kurang panas, ulang!”
“Ini kopinya kurang. Ulang!”
“Apa kamu tidak bisa membuat kopi? Ini rasanya hambar. Ulang!”
“Ini terlalu panas! Kamu ingin membuat lidah saya melepuh? Ulang lagi!”
“Ck, kamu ini tidak becus sekali! Ini kebanyakan gula! Ulang!”
Fara menarik napas dalam, lalu tersenyum gemas menatap Liam. Entah sudah keberapa kalinya ia membuatkan kopi untuk sang CEO, tapi sedari tadi tak usai-usai. Alasannya tentu saja karena Liam terus memintanya mengganti dan membuat ulang kopi-kopi itu. Liam memiliki berbagai alasan untuk menyalahkan Fara, padahal semuanya sudah sesuai takaran yang diminta Liam.
“Kenapa masih bengong? Buat ulang sana!” Liam menatap Fara yang masih berdiri di samping mejanya.
Fara kembali tersenyum paksa kepada Liam. “Baik, saya akan buatkan yang baru, Pak.”
Liam memperhatikan pergerakan Fara keluar dari ruangannya. Setelah pintu ruangannya tertutup, Liam tertawa puas melihat sang mantan tak bisa berkutik, padahal Fara pun sadar jika Liam sengaja mengerjainya.
“Haah, ternyata ini cukup menyenangkan. Tidak disangka, akan ada hari di mana aku akan tertawa selama bekerja seperti sekarang,” gumam Liam sangat nakal.
Bayu yang melihat Fara lagi-lagi keluar membawa cangkir berisi kopi masih penuh, hanya bisa mengembuskan napas pelan. “Sepertinya pikiranku terlalu jauh. Aku mengira Fara ini bisa membuat pekerjaanku berkurang, karena tidak perlu lagi mencari sekretaris baru. Tapi—melihat bagaimana Liam memperlakukannya, sepertinya ini jauh lebih buruk. Aku harus bersiap mencari kandidat sekretaris baru untuk Liam yang bisa datang besok ke kantor. Melelahkan sekali setiap hari harus cari kandidat sekretaris tahan banting yang cocok untuk menghadapi orang seperti Liam,” gerutunya tak kalah lelah melihat Fara bolak-balik dari tadi.
Perlahan Bayu masuk ke dalam ruangan Liam sembari membawa beberapa dokumen. “Permisi, Tuan CEO.”
Liam yang tadinya sempat senyum-senyum, langsung berubah datar ketika mendengar suara seseorang. Ia mendongak, lalu menatap malas kedatangan Bayu. “Sudah kubilang, ketuk pintu sebelum masuk. Bonusmu saya potong!”
Bayu melotot. “Maaf, Pak CEO! Kalau begitu saya keluar lagi, saya ulangi.”
Liam menggulir bola matanya melihat tingkah teman sekaligus asisten pribadinya itu. “Jangan membuang waktuku, Bayu.”
Bayu tersenyum lebar. “Bonusku tidak jadi dipotong ‘kan?”
Liam berdecak. “Cepat.”
Bayu cengengesan, ia meletakkan dokumen yang perlu dicek oleh Liam. “Oh, iya. Aku sudah minta kandidat sekretaris lain untuk datang besok.”
Pergerakan tangan Liam terhenti. Ia langsung mendongak dan menatap Bayu dengan mata memicing. “Kandidat sekretaris lain untuk datang besok? Bukannya sudah ada sekretari hari ini? Kenapa akan ada lagi sekretaris lain lagi?”
“Ya, karna sekretaris hari ini pasti tidak akan datang lagi besok.”
Liam menegakkan tubuhnya. Matanya semakin memicing menatap Bayu. “Kenapa dia tidak akan datang lagi besok? Apa dia mengundurkan diri? Padahal dia sudah menandatangi kontrak tadi! Kalau dia ingin mengundurkan diri sebelum waktu kontrak habis, maka dia harus membayar seratus juta!”
Bayu tercengang. “Kapan dia tanda tangan kontrak?”
“Tadi, ini.” Liam melemparkan dokumen kontrak kerja Fara ke arah Bayu. “Kalau dia memang ingin mengundurkan diri, peringatkan dia harus bayar denda seratus juga!”
Bayu menganga menatap kontrak kerja yang sudah ditandatangani oleh Fara juga ada tanda tangan Liam. “Ini tanda tangan asli Anda, Pak CEO?” tanyanya tak percaya.
“Menurutmu?”
Bayu menggeleng tak percaya. “Aku kira kamu akan memecatnya seperti sekretaris lain yang baru satu hari percobaan sudah kamu suruh pergi dan ganti. Aku lihat, bahkan kamu memperlakukan Fara lebih gila dibanding sekretaris sebelum ini. Masih lebih baik sekretaris lain, hari pertama kerja sudah kamu suruh handle dokumen, sebagaimana pekerjaannya seorang sekretaris. Lah ini, Fara kamu suruh bolak-balik membuat kopi dan dari tadi belum kelar-kelar. Bahkan ini hampir jam makan siang. Aku kira, kamu akan langsung menyuruhnya pergi. Ternyata ... kamu bahkan sudah memintanya untuk tandatangan kontrak kerja?” celotehnya tak percaya.
Liam mengerutkan kening. “Jadi bukan Fara yang mengundurkan diri?”
Bayu menggeleng. “Tidak, dia tidak bilang ingin mengundurkan diri.”
Liam tersenyum sembari mengembuskan napas lega. Ia mengira Fara akan mengajukan surat pengunduran diri. “Bagus ‘lah.”
Bayu semakin terkejut dan tak percaya. “Bagus? Ja-di kamu benar-benar sudah fix dengan pilihan sekretaris sekarang?”
“Hem.” Liam kembali fokus dengan dokumen di meja kerjanya.
Bayu memiringkan kepalanya, masih bingung dengan jalan pikiran Liam. “Kalau begitu, kenapa sedari tadi kamu hanya menyuruhnya membuat kopi, tidak kelar-kelar? Aku saja lelah melihatnya bolak-balik naik turun membuat kopi.”
“Keluar ‘lah, berisik!” Liam melemparkan beberapa dokumen yang sudah ia cek dan tandatangani.
***
Berada di lantai bawah, Fara sedang misuh-misuh dengan ekspresi begitu kesal. Kakinya sudah begitu lelah karena sedari tadi bolak-balik atas-bawah hanya untuk membuat secangkir kopi.
“Benar-benar pria kurang ajar! Dia sengaja mengerjaiku. Mentang-mentang seorang atasan, dia mempermainkan aku seperti ini? Dia kira tidak capek apa, bolak balik atas bawah?” Fara terus menggerutu.
Wanita itu tak langsung membuatkan kopi baru. Ia sengaja duduk dulu untuk menenangkan kaki, bahkan meregangkan otot lengan. Tengah menggerutu, mata Fara terfokus kepada sebuah botol kecil satu deretan dengan gula.
Perlahan senyum nakal Fara terbit. Ekspresinya penuh dengan keinginan untuk membalas dendam. “Dari tadi masih tidak sesuai dengan rasa yang dia inginkan, padahal sudah aku buatkan sesuai dengan takaran yang dia minta. Berarti dia butuh ini.”
Fara mengambil kotak kecil itu, lalu menyendok isi kotak itu. Senyum nakal Fara terus mengiringi pergerakan tangan wanita itu, hingga kopinya jadi.
“Rasakan! Tadi katanya tidak manis, terus kurang manis, terus hambar. Ini, aku berikan perisa yang lebih mantul dari pada gula.” Fara cekikikan sembari terus mengaduk kopi.
Setelah kopinya jadi, Fara kembali ke lantai atas untuk memberikan kopi itu kepada sang atasan. Wanita itu menyembunyikan senyum nakalnya dengan senyum profesional, meski sebenarnya Fara cukup kesulitan menahan tawa.
“Ini kopi Anda, Tuan CEO.” Fara meletakkan cangkir kopi tadi di samping tangan Liam.
Liam memperhatikan kopi itu dengan ekspresi tenang, tak merasa curiga. Perlahan ia mengambil pegangan cangkir, dan setiap pergerakan itu diperhatikan dengan tawa nakal Fara dalam hati.
Fara tersenyum lebar melihat bibir Liam siap menyentuh ujung bibir cangkir. Matanya pun semakin berbinar, siap menunggu ekspresi Liam menyeruput kopi tersebut.
Slurp ...
Meski hanya sedikit cairan berwarna hitam itu masuk mulut dan menyapa lidahnya, tetapi mata Liam sukses dibuat terbelalak.
Puuftt ...
Seketika Liam langsung menyemburkan kopi yang baru saja ia seruput. Hidung Fara kembang kempis melihat adegan itu. Ia bahkan mengalihkan wajah sembari cekikikan pelan, merasa puas sudah membalas dendam kepada sang mantan.
“Pfft, mampus. Enak ‘kan? Kopi pakai garam 4 sendok makan?” gumam Fara begitu pelan.
Liam berdiri dari duduknya, lalu bergegas meminum air mineral yang tak jauh dari sana. Fara melipat bibir, menahan tawa melihat sang CEO kelabakan karena keasinan.
Liam mendelik ke arah Fara yang sedang melipat bibir menahan tawa. “Kamu sengaja, Fara? Kamu balas dendam, ya?”
Fara berdeham pelan, lalu berpura-pura tak paham. “Apa maksud Anda, Tuan? Saya tidak paham? Apa ada yang salah lagi dengan kopi buatan saya? Oh, apa mungkin kurang manis lagi ya, Tuan? Atau malah kemanisan? Tadi saya kasih gulanya 3 sendok, soalnya tadi Anda bilang kopinya kurang manis, jadi saya tambahkan satu sendok, jadinya 4 sendok.” Fara tersenyum tanpa dosa ke arah Liam.
Mata Liam membulat. “4 sendok garam?! Pantas lidahku hampir mati rasa!”
“Hah? Garam? Bukan, Tuan, yang saya masukkan itu gula, kok. Bukan garam, loh.” Fara kembali tersenyum kepada Liam, dan itu terlihat menyebalkan di mata Liam.
Liam memicing, lalu mendekat ke arah Fara. “Berani ya kamu sama atasan? Kamu harus dihukum!”