4. Kesal

1143 Words
Sett ... Fara melotot ketika kedua tangan kekar Liam memegang bahunya, lalu mendorongnya ke meja kerja itu. Fara mendongak, lalu memicing menatap Liam. “Apa yang ingin Anda lakukan, Tuan Collan?” bisiknya setengah kesal. Liam menyeringai. Perlahan pria itu meregangkan dasi yang melilit lehernya. “Menurutmu?” bisiknya nakal. Fara meneguk ludahnya kasar. Ia mencoba mendorong d**a Liam yang hampir menempel pada tubuhnya. “Sepertinya Anda terlalu lelah, Tuan. Saya akan keluar, Anda silakan istirahat, nanti saya akan antarkan dokumen yang perlu Anda periksa.” Liam menahan pergelangan tangan Fara, lalu menunduk memandangi wajah cantik sang mantan. “Kamu yang lebih dulu memancingku. Lagi pula, apa salahnya saling mengecup sebentar?” Fara menggeram. “Jangan macam-macam, Liam!” Sebelah alis Liam terangkat, ia pun tersenyum miring. “Tidak macam-macam, kok. Hanya satu macam. Aku ingin ini.” Dengan wajah menyebalkan itu, Liam menunjuk bibir Fara. “Aku merindukannya.” Lagi-lagi Fara menggeram. “Anda mungkin seorang atasan, Tuan Collan. Tapi hal seperti ini sama sekali tidak sopan! Ini termasuk pelecahan! Lepaskan saya!” “Kita masih pacaran, Fara. Apa salah melakukan ini bersama pacar sendiri? Ini bukan pelecahan.” Fara mendongak, lalu memicing menatap Liam dengan sorot kesal. “Pacaran? Rasanya sudah aku tekankan masalah ini tadi. Kita sudah lama putus, Liam Collan! Semuanya sudah berakhir 7 tahun lalu, dan sekarang kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa kecuali sebagai atasan dan bawahan. Paham? Jadi hargai saya sebagai sekretaris Anda, Tuan Collan yang terhormat.” “Tidak ada kata putus di antara kita, Fara Shamira! Jika pun ada, aku tidak pernah setuju putus denganmu. Kita pacaran karena keinginan dan rasa suka antara kedua belah pihak. Jadi, untuk mengakhiri hubungan itu, juga harus ada persetujuan antara kedua belah pihak. Kamu tidak bisa menyelesaikan hubungan kita hanya karena menyukai orang lain. Oh, atau kamu sebenarnya sedari awal sudah mengkhianati hubungan kita?” Plak! Satu tamparan mendarat sempurna di pipi kiri Liam. Fara menatap Liam dengan sorot marah. “Apa ini yang namanya lempar batu sembunyi tangan? Oh, atau lebih tepatnya, lempar batu dan tunjuk orang lain sebagai pelaku. Pelaku teriak pelaku, maling teriak maling. Aku tidak menyangka, ternyata seorang CEO Collan Group yang katanya begitu bermartabat adalah seorang pick me boy. Pelaku yang bertingkah seolah-oleh sebagai korban.” Kedua alis Liam hampir bertaut. “Pelaku? Bukannya memang aku yang menjadi korban di sini? Kamu—” Bugh! “Akkh!” Liam memekik sembari memegangi benda pusakanya yang baru saja ditendang oleh Fara menggunakan lutut. Dada Fara naik turun, hidungnya kembang-kempis menahan gemas, marah dan kesal menyatu menjadi satu. “Benar-benar memalukan! Kalau aku jadi kamu, aku akan sangat malu mengaku sebagai pria! Lebih baik jadi banci saja sana!” Liam merintih pelan, merasakan ngilu dan sakit menjadi satu. “Berani sekali kamu melakukan kekerasan kepada atasanmu. Apa kamu tidak takut dipecat?” celoteh Liam sembari menahan sakit. “Pecat saja! Bagus, cepat pecat aku!” Fara melotot ke arah Liam, bahkan ia bertolak pinggang seperti ibu-ibu memarahi anaknya. “Huh, membuat kesal saja.” Liam melongo tak percaya melihat Fara melangkah ke arah pintu ruangannya sembari misuh-misuh. “Ka—” “Satu lagi!” Fara membalikkan badan, membuat Liam terkejut. “Aku ini sekretaris, bukan pelayan untuk membuatkanmu kopi!” Liam menganga melihat Fara kembali melanjutkan langkah menuju pintu. “Ini siapa yang jadi atasan sebenarnya? Aku atau dia? Kenapa bawahan malah lebih galak?” gumamnya bodoh. Brak! Liam terlonjak kaget ketika pintu ruangannya ditutup begitu kasar oleh Fara. Ia memejamkan mata, lalu mendengkus pelan. “Temperamennya ternyata masih saja, mudah emosi dan mengerikan kalau sedang marah begitu. Apalagi matanya itu, melotot-melotot kalau sedang marah.” Fara sendiri masih misuh-misuh melangkah ke meja kerjanya. “Kalau dia mau pecat aku, malah bagus! Aku sudah terlanjur tandatangan kontrak, kalau aku mengajukan pengunduran diri, jelas saja harus bayar penalti kontrak. Kalau dia yang pecat aku, jadi aman. Ck, menyesal sekali aku tandatangan kontrak tadi. Padahal aku sudah tahu, dia pasti akan melakukan hal-hal menyebalkan,” gerutunya. Bayu memicing melihat ekspresi Fara. Ia berdiri dari duduknya, lalu mendekat ke arah Fara. “Ekhm, Mbak Fara.” Suara berat Bayu menarik perhatian Fara. Ia mendongak, dan mendapati Bayu berdiri di samping meja kerjanya. Meski tengah kesal, Fara masih bisa tersenyum kepada Bayu. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Fara pun berdiri dari duduknya. “Ini dokumen yang perlu kamu cek, tidak harus selesai hari ini semua, kok. Dua paling atas saja yang harus diurus hari ini, sampai ditandatangani sama Tuan Collan.” Bayu menyerahkan beberapa map ke atas meja kerja Fara. Fara pun tersenyum paksa. Ia menatap tumpukan map itu dengan sorot kesal. “Dua map harus ditandatangani hari ini? Ck, berarti aku masih harus berusaha tersenyum manis di depan si b******k itu. Kalau tidak, dia pasti lagi-lagi akan mempersulitkan untuk dua dokumen ini. Huh, menyebalkan sekali. Sepertinya aku harus lebih memperbanyak stok sabar,” batinnya kesal. “Mbak Fara.” Fara terkejut ketika Bayu menepuk pelan bahu kirinya. “E-eh, iya? Maaf, Pak, saya tadi terlalu kelelahan bolak-balik atas bawah. Saya akan segera kerjakan ini, Pak.” Bayu tersenyum santai. “Masalah membuat teh-nya sudah kelar, ya?” Fara kembali kesal saat diingatkan masalah teh. Ia tersenyum paksa ke arah Bayu. “Sudah, Pak.” Bayu mengangguk-angguk. “Kalau begitu, semangat, ya. Semoga kamu bisa menyelesaikan dua dokumen ini dengan baik, supaya tidak dipersulit lagi sama CEO kita.” “Emm, Pak. Apa selama ini para sekretaris baru di sini juga diperlakukan seperti itu, ya, Pak? Makanya selama ini tidak ada sekretaris yang bertahan lama di sini?” tanya Fara penasaran. Bayu melirik pintu ruangan CEO, seakan hati-hati takut nanti Liam tiba-tiba keluar. “Kalau sekretaris-sekretaris yang dulu, mereka tidak pernah disuruh membuat teh seperti kamu, sampai bolak-balik berkali-kali.” Fara menggerutu dalam hati. “Sudah aku duga, dia memang sengaja mengerjaiku.” Bayu masih melanjutkan kalimatnya. “Mereka semua tidak bisa bertahan karena kemampuan mereka disebut tidak cocok dan tidak sesuai sama Tuan Collan. Jadi—” “Sejak kapan kantor menjadi tempat bergosip?” Fara dan Bayu terlonjak kaget mendengar suara berat Liam. Bayu melongo melihat Liam berdiri dekat daun pintu. “Nah, ini, dia selalu seperti setan, suara langkahnya bahkan tidak terdengar,” bisiknya kepada Fara. Liam memicing, ia menggeram melihat Bayu terlihat begitu berdempetan dengan Fara. “Bonusmu bulan ini dipotong 5 juta, Bayu!” Bayu melotot. “Jangan, dong! Aku akan segera kembali ke mejaku!” Liam menatap datar pergerakan Bayu yang berlari cepat ke dalam ruangan kerjanya. Ia beralih menatap Fara yang masih bengong. “Kamu, segera ke ruangan saya.” Fara menatap Liam dengan ekspresi malas. “Ada apa, Tuan? Saya—” “Satu bantahan, satu juta potongan bonusmu.” Mata Fara terbelalak. “Baiklah, Tuan Collan yang terhormat.” Ia tersenyum paksa, senyum penuh tekanan. “Ingin sekali aku tempeleng kepalanya itu,” gerutunya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD