“Selamat atas berhasilnya melewati hari pertama bekerja, Mbak Fara.”
Fara tersenyum ke arah Bayu. “Makasih, Pak Baju.”
“Tenang, ini baru permulaan. Belum apa-apa dibanding hari berikutnya. Semangat, ya.” Bayu tersenyum tanpa beban, entah sedang meledek atau benar-benar memberi Fara semangat. “Saya pulang duluan, Mbak Fara.”
“Oh, iya, Pak Bayu.” Fara memperhatikan kepergian Bayu ke arah lift kantor. Setelahnya ia mengembuskan napas kasar, lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. “Sepertinya ini hari terpanjang yang pernah aku rasakan. Bagaimana bisa satu hari, rasanya selama ini? Pasti karna diisi dengan kekesalan,” gerutunya.
“Kamu sedang mengata-ngataiku, ya?”
“Setan!” Fara memekik sembari mengusap dadanya karena terlalu terkejut atas kedatangan Liam yang tiba-tiba.
Liam menatap Fara dengan ekspresi datar, tetapi sorot matanya tampak kesal. “Manusia setampan ini kamu bilang setan? Sepertinya 7 tahun ini matamu tidak diberi nutrisi dengan baik, Nona Fara Shamira.”
Fara tersenyum paksa. “Manusia tampan? Cih, tidak aku sangka, ternyata manusia satu ini sungguh narsis,” batinnya gemas.
“Aku tahu, sekarang kamu sedang mengata-ngataiku dalam hati ‘kan?” celetuk Liam dengan wajah datarnya.
Fara kembali tersenyum paksa. “Kalau Tuan punya bukti, silakan ajukan, supaya saya juga bisa memberikan bukti jika saya tidak begitu.”
Liam menggulir bola matanya. “Ayo.”
Kedua alis Fara hampir bertaut. “Ayo? Ayo ke mana, Tuan? Maaf, ini sudah jam pulang, jadi pekerjaan saya untuk hari ini telah usai. Kalau Anda masih punya perintah, bisa dilanjutkan besok saja. Sekian, terima kasih.”
Liam menatap Fara yang melenggang pergi begitu saja, meninggalkannya di sana. “Heh! Ekhm, padahal aku sedang mengajaknya pulang bersama.”
Pulang bersama? Entah metode dari mana pula cara Liam mengajak wanita pulang bersama, terlalu kaku dan terlihat jelas terlalu gengsian seperti pria.
“Masa aku harus mengutarakannya secara jelas? Padahal dia harusnya yang minta tumpangan padaku ‘kan? Dari pada naik taksi atau kendaraan umum? Itu harus keluar duit lagi,” celoteh Liam di sela langkahnya.
Liam mempercepat langkahnya menyusul Fara ke arah lift. Tepat ketika Fara ingin masuk ke dalam lift khusus karyawan, Liam menarik kerah baju wanita itu hingga tubuhnya terbentur ke d**a bidang Liam.
Fara terkejut, ia mendongak dan menggeram kesal karena pintu lift tadi kembali tertutup. “Kamu apa-apan, sih? Apa kamu juga tidak akan mengizinkanku naik lift? Apa aku hanya diperbolehkan naik tangga, begitu?” gerutunya kesal.
Liam tak menyahut, ia malah kembali menarik kerah belakang Fara dan mengajak wanita itu masuk ke dalam lift khusus CEO. Fara sempat tersandung sepatu Liam karena berjalan mundur. Beruntung Liam sigap menahan pinggang gadis itu supaya tak terperosok ke lantai.
Fara menepis kesal kedua tangan Liam pada pinggangnya. Lalu ia mendongak menatap Liam dengan sorot permusuhan. “Ini sudah jam kerja, jadi aku tidak perlu lagi berlaku sopan sama kamu sebagai atasan ‘kan? Atau kalau kamu ingin memecatku karena tidak sopan kepada atasan, juga tidak masalah. Aku malah senang, silakan pecat aku sekarang juga!”
Liam dengan santai memperhatikan Fara berceloteh sembari bertolak pinggang di depannya. Pria itu masih tenang dengan wajah datarnya, ia berdiri cool—kedua tangan masuk ke dalam saku celana.
“Kenapa diam? Kamu sengaja menerimaku kerja di sini sebagai sekretarismu, supaya kamu bisa mempermainkanku dengan sengaja seperti hari ini ‘kan? Besok-besoknya akan terus begitu? Jangan mentang-mentang kamu atasan, seenaknya menindas bawahan, ya! Kalau kakiku kenapa-napa, aku akan meminta pertanggungjawaban darimu!” celoteh Fara lagi.
Liam menunduk, menatap kedua kaki Fara. “Memangnya kakimu kenapa? Aku tidak melakukan apa-apa kepada kakimu, kenapa aku harus tanggung jawab? Apa kakimu hamil?”
Mata Fara membulat mendengar itu. Ia mencoba menarik napas dalam, untuk mengumpulkan kesabaran serta kewarasan. “Kamu kira, berjalan bolak-balik dari lantai bawah ke lantai atas tidak lelah? Aku juga pakai sepatu hak cukup tinggi. Tumitku sudah sakit, betisku pun serasa mau pecah, urat-urat kakiku mungkin akan segera keluar seperti para atlit angkat beban. Itu semua karnamu. Jadi atasan itu tolong jangan seperti penjajah! Kamu kira aku robot? Robot saja bisa error, apalagi manusia!”
Liam menganga mendengar Fara berceloteh cepat dan panjang lebar. “Ternyata kemampuan nge-rap kamu belum hilang, malah semakin bagus.”
Kening Fara berkerut. “Nge-rap?” Setelah paham maksud kata nge-rap dari kalimat Liam, Fara pun menggeram kesal. “Pria b******k,” gumamnya kesal.
Liam menaikkan sebelah alisnya melihat Fara tak lagi melanjutkan celotehannya. Wanita itu malah membelakanginya sembari misuh-misuh tak jelas.
“Kamu bilang tumitmu sakit, betismu hampir pecah. Tapi kamu masih kuat jalan, tuh,” cetus Liam kembali bersuara.
“Terus aku harus lompat gitu dari lantai atas untuk turun ke bawah? Ya, terpaksa jalan ‘lah!” ketus Fara kesal.
Liam menunduk, memperhatikan kaki Fara dan baru menyadari bagian belakang kaki sang mantan sedikit gores karena sepatu. “Apa itu karna jalan bolak-balik atas ke bawah tadi? Kakinya benar-benar sakit?” batinnya sedikit terkejut.
Rasa bersalah Liam pun hadir. Ia tak bermaksud membuat Fara terluka atau kesakitan seperti itu. Liam hanya ingin membuat Fara kesal, tetapi ternyata tanpa sengaja ia malah membuat sang mantan terluka.
“Aku—” Kalimat Liam belum selesai, tetapi Fara sudah keluar dari lift. Dengan gerakan cepat Liam menyusul Fara. “Buka sepatumu,” ucapnya dari belakang.
Fara berdecak. “Apa lagi, Tuan CEO? Bahkan kamu juga menginginkan sepatuku? Kamu ingin aku ceker ayam, begitu? Sengaja ingin mempermalukanku?” celotehnya sembari terus melangkah.
“Kakimu terluka, kalau terus jalan pakai sepatu, kakimu akan semakin lecet. Cepat buka sepatu itu,” ujar Liam terus mengikuti langkah Fara.
Fara menggulir bola matanya. “Kenapa? Merasa bersalah atau merasa kasihan? Ck, tidak perlu, aku ingin segera pulang. Melihat wajahmu malah lebih membuatku penat.”
“Apa kamu begitu membenciku? Bukannya harusnya aku yang—ah, sudah ‘lah. Sekarang buka sepatumu.”
“Tidak mau!” ketus Fara.
“Buka.”
“Tidak mau!” Fara mendelik ke arah Liam yang berjalan di sampingnya. “Kok, maksa, sih? Menjauh ‘lah!”
“Buka dulu sepatumu.”
“Aku tidak mau!” Fara melotot ke arah Liam, lalu ia mempercepat langkahnya.
Liam menggeram gemas. Ia ikut memperlebar langkah, lalu langsung menggendong Fara ala karung beras di bahu bidangnya.
“Kyaaaa!” Fara memekik terkejut ketika tubuhnya tiba-tiba melayang dan mendarat di bahu lebar Liam. “Turunkan aku! Apa kamu gila?!” teriaknya kesal.
Kehebohan sepasang insan itu sedari tadi sudah cukup menarik perhatian orang-orang di loby perusahaan. Para karyawan sudah ternganga bengong, melihat dengan ekspresi bodoh aksi atasan dingin mereka kepada sekretaris barunya.
“Sepertinya hari ini Tuan CEO kita sedang sakit. Dia beda dari biasanya.”
“Itu sekretaris barunya ‘kan? Dia diperlakukan seperti itu, karna hal baik atau hal buruk, ya?”
“Aku juga tidak tahu, coba kita lihat besok, apakah sekretaris itu masih akan datang besok atau tidak?”
Mereka tak tahu jika sebenarnya Fara sudah tak ingin datang lagi ke perusahaan itu. Namun, ia sudah terlanjur tanda tangan kontrak. Dan, itu adalah penyesalan terbesarnya.
“LIAAM BRENGSE-EK! Turunkan aku sekarang jugaaa!”